02/10/2026
Issues Prose & Poem

Polemik Pembatalan Diskusi ‘Memburu Muhammad’, Feby Indirani Buka Ruang Dialog

Dari diskusi yang batal hingga serangan di media sosial, polemik buku “Memburu Muhammad” menyeret penulisnya, Feby Indirani, ke pusaran perdebatan tentang tafsir, hingga perbedaan pendapat.

  • October 2, 2026
  • 6 min read
  • 6 Views
Polemik Pembatalan Diskusi ‘Memburu Muhammad’, Feby Indirani Buka Ruang Dialog

Foto: Mojok.co

Penulis Feby Indirani bekerja seperti biasa dan mengisi diskusi buku secara daring pada (18/9). Namun, pada siang hari, panitia Pekan Sastra Bogor mengirim pesan kepada Feby, menyampaikan organisasi masyarakat Front Persaudaraan Islam (FPI) tidak setuju dengan judul dan subjudul diskusi buku yang seharusnya terselenggara pada akhir pekan.

Panitia kemudian mengajaknya mengikuti rapat daring pukul 17.00 WIB untuk membahas persoalan tersebut. Rapat mendadak itu dihadiri panitia, pihak Perpustakaan dan Galeri Kota Bogor, serta perwakilan kurasi dari Kementerian Kebudayaan.

Feby kemudian mendengarkan cerita panitia saat beraudiensi dengan FPI yang dimediasi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Bogor. “Panitia berusaha untuk menjelaskan, bahwa ini acara sebenarnya tentang apa, dan bukunya tentang apa,” kata Feby kepada Magdalene melalui aplikasi perpesanan pada (28/9).

“Tapi dari pihak ormas tidak setuju. Dan menurut panitia, pihak ormas akan membawa 200 orang yang siap perang dan menyerang,” lanjutnya.

Setelah pembatalan tersebut, komentar negatif mulai bermunculan terhadap Feby. Orang-orang yang mengunggah dukungan untuknya juga tidak luput dari komentar bernada kekerasan di media sosial.

Pada saat yang sama, sejumlah institusi memberikan penilaian terhadap antologi cerita pendek karya Feby berjudul Memburu Muhammad. Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta masyarakat tidak terprovokasi, sementara Kementerian Agama (Kemenag) menilai buku tersebut berpotensi menimbulkan kegaduhan.

Baca juga: Menggemburkan Tanah, Menggemburkan Pembaca

Label “Provokasi” dan Upaya Membuka Dialog

Label provokasi datang dari Majelis Ulama Indonesia. Sekretaris Jenderal MUI, Amirsyah Tambunan, misalnya, meminta masyarakat tidak terprovokasi atas kemunculan buku Memburu Muhammad. Kementerian Agama juga menilai buku tersebut berpotensi menimbulkan kegaduhan.

“Kementerian Agama menyayangkan munculnya buku cerpen yang memuat materi sensitif dan berpotensi menimbulkan kegaduhan serta menyinggung keyakinan umat beragama,” ujar Kepala Biro (Kabiro) Humas dan Komunikasi Publik Kemenag Thobib Al Ashar, dilansir dari Detik.com pada 25 September.

Feby memahami dan menerima adanya perbedaan tafsir dan pendapat atas buku Memburu Muhammad. Ia bahkan membuka diri untuk menjalin komunikasi dengan pihak-pihak yang tidak sepakat dengan bukunya. Pertemuan dengan MUI, misalnya, sudah dijadwalkan dengan ditemani pihak penerbit Bentang Pustaka.

“Untuk bersilaturahmi dan menjelaskan duduk persoalannya seperti apa. Ya, sowan saja, duduk, ngobrol, membaca, saling mendengarkan sudut pandang yang berbeda, menurut aku itu sangat dibutuhkan hari-hari ini sih,” tuturnya.

Feby bilang, sulit untuk tidak tergesa-gesa dalam merespons sesuatu hari-hari ini. Ruang untuk berdialog, membaca, dan saling mendengarkan semakin sempit, sementara membaca memerlukan konsentrasi yang lebih dan aktivitas tersebut semakin sulit dilakukan dengan adanya distraksi gawai.

Feby sendiri mengakui mengalami kesulitan ini. Karena itu, ia menekankan penerimaannya terhadap reaksi dan tanggapan yang berbeda-beda terhadap antologi cerpennya. Bersama Bentang Pustaka, dia sedang menavigasi agar masalah ini bisa diselesaikan dengan cara musyawarah dan kekeluargaan.

“Artinya, kami juga ingin menjelaskan, silaturahmi, kepada semua pihak yang sudah ikut berkomentar, supaya kasus ini menjadi lebih jernih,” tuturnya.

Baca juga: Mari Bertanya seperti Anak Kecil lewat Buku ‘Kisah 1001 Tanya’

Serangan Digital Usai Pembatalan Diskusi

Di media sosial, serangan kepada Feby juga bermunculan setelah polemik pembatalan diskusi. Tidak hanya Feby, perempuan pembaca yang menunjukkan dukungan untuknya turut mendapat serangan.

Sedikitnya ada tiga perempuan pembaca yang meminta maaf karena harus menghapus jejak solidaritas. Mereka mengaku tidak kuasa menahan komentar bernada kekerasan berbasis gender online (KBGO). Menurut tangkapan layar yang dilihat Magdalene, balasan terhadap komentar solidaritas berisi suruhan untuk melepas jilbab dan mempertanyakan kewarasan.

Pada unggahan lain yang tidak berhubungan dengan dukungan terhadap Feby, terlihat pula komentar yang menggunakan kata ‘lonte’.

“Ada yang bikin konten, akhirnya juga dihapus, karena serangannya tuh cukup langsung menyerang dan terus-terusan,” ungkap Feby.

Ia mengaku tak masalah jika ada pihak yang tidak menyukai karyanya. Namun, serangan yang muncul ketika ia menyuarakan pembatalan diskusi membuat waktu dan energinya banyak terserap. Menurutnya, energi tersebut seharusnya dapat digunakan untuk kegiatan yang lebih produktif.

Feby juga mempertanyakan kehadiran pemerintah dalam kasus tersebut. Acara diskusi buku itu didukung oleh Kemendikbud, sementara ketika panitia melakukan audiensi dengan FPI, proses tersebut dimediasi oleh Badan Kesbangpol Kota Bogor.

“Tapi kok tetap tunduk sama ormas ya? Jadinya gimana?” kata Feby menirukan pertanyaannya di media sosial.

“Ini kan sama-sama warga, enggak ada yang menengahi, dan enggak ada yang melindungi warga sipil yang ingin berdiskusi,” tambahnya.

Tepat pada hari ia menyuarakan pertanyaan tersebut, (19/9), serangan belum muncul. Kolom komentar ketika itu hanya diisi pernyataan pro dan kontra yang tidak mengganggunya. Namun, gelombang komentar dan pesan langsung dalam jumlah besar muncul empat hari setelahnya.

Komentar dengan kata kunci yang seragam, seperti telanjangi, lesbian, LGBTQ, lonte, dan serangan fisik lainnya, muncul dalam hitungan menit. Pesan langsung yang berisi ancaman pembunuhan juga muncul di akun Instagram Feby. Ia menduga serangan tersebut tidak organik dan dikerahkan kepadanya.

“Kenapa aku merasa dikerahkan? Karena hanya dalam hitungan selisih menit saja, tau-tau sudah ada 100 komen baru, selisih menit sedikit lagi, sudah ada 60 komen baru,” terang Feby.

“Kan enggak mungkin kalau organik waktunya sama semua, habis itu kata-kata kuncinya itu berulang,” katanya.

Baca juga: ‘We Are Not Numbers’: Ada Cerita di Balik Statistik Korban Genosida Palestina

Tentang Apa Sebenarnya ‘Memburu Muhammad’?

Antologi cerpen ini sebenarnya sudah terbit sejak 2020. Penerbitnya, Bentang Pustaka, merupakan bagian dari Grup Mizan yang didirikan Haidar Bagir, cendekiawan Muslim terkemuka, yang banyak menerbitkan buku-buku pemikiran Islam sejak 1980-an.

Menurut Feby, Memburu Muhammad bersumber dari pengalaman sehari-hari sebagai umat Muslim di Indonesia. Karya tersebut mencerminkan dinamika dan kompleksitas kehidupan beragama masyarakat sehari-hari.

Salah satunya terdapat dalam cerpen Memburu Muhammad. Dalam cerita tersebut, Feby menggunakan sudut pandang tokoh fiktif Abu Jahal, musuh utama Nabi Muhammad SAW yang enggan mengakui kenabian Rasulullah, tetapi diam-diam tidak kuasa menyangkal keagungan-Nya.

“Dalam cerita tersebut, Abu Jahal heran melihat begitu banyak orang menyandang nama Muhammad, namun tidak meneladani akhlaknya,” jelas Feby.

“Apa yang sesungguhnya ‘diburu’ dalam konteks ini adalah sifat-sifat mulia sang Nabi—selaras dengan makna kata ‘memburu’ dalam KBBI, yakni berusaha keras untuk mendapatkan atau meraih sesuatu,” lanjutnya.

Antologi cerpen ini juga diluncurkan secara daring pada masa pandemi, dengan pembahasan oleh Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Gus Ulil Abshar Abdalla. Karya tersebut kemudian turut dibahas dalam kajian jurnal ilmiah Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Al-Hadid dan berbagai forum perguruan tinggi, termasuk di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Feby berkata, karya-karya tersebut lahir dengan niat baik dan menjadi ikhtiar kreatif untuk mengajak pembaca merenung, berdialog, dan memeriksa diri sendiri. Ia berharap perbedaan tafsir terhadap karyanya tidak menghilangkan ruang untuk membaca karya secara utuh dan mendiskusikannya secara langsung.

“Menghakimi karya sastra hanya dari judul atau potongan teks di media sosial yang dibingkai sedemikian rupa secara tidak berimbang, justru menjauhkan misi sastra sebagai bagian dari pendidikan dan kemaslahatan umat,” tutup Feby.

About Author

Andrei Wilmar

Andrei Wilmar bermimpi buat jadi wartawan desk metropolitan.

Click to access the login or register cheese

Royal ID adalah kunci utama akunmu. Di situs top up royal dream yang benar, Royal ID hanya dipakai untuk mengirim koin ke karakter yang tepat, bukan untuk mengakses akun. Tidak ada alasan bagi layanan mana pun untuk meminta password, PIN, atau kode OTP yang kamu terima lewat SMS. Kalau ada yang meminta hal itu, itu tanda bahaya dan sebaiknya segera ditinggalkan.