14/09/2026
Culture Opini Prose & Poem

Mari Bertanya seperti Anak Kecil lewat Buku ‘Kisah 1001 Tanya’

Noor H.Dee meramu cerita pendek dari pertanyaan-pertanyaan kawan kecil yang polos, ganjil, sekaligus penuh rasa ingin tahu dalam buku Kisah 1001 Tanya.

  • September 14, 2026
  • 7 min read
  • 7 Views
Mari Bertanya seperti Anak Kecil lewat Buku ‘Kisah 1001 Tanya’

Rasa ingin tahu merupakan bagian yang lekat dengan masa kanak-kanak, ketika berbagai hal sederhana di sekitar bisa memunculkan pertanyaan tanpa ujung. Anak-anak dapat bertanya mengapa populasi manusia begitu banyak di dunia, mengapa manusia yang memimpin Bumi, bukan hewan, atau mengapa manusia lebih sering memelihara anjing dan kucing dibandingkan hewan lain. Pertanyaan semacam itu juga bisa menyentuh hal-hal sehari-hari, seperti alasan anak-anak memiliki jam tidur malam yang ketat sementara orang dewasa lebih bebas menentukan waktu tidurnya sendiri.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan cara anak memandang dunia tanpa selalu merasa perlu menemukan jawaban yang praktis. Rasa ingin tahu mendorong mereka untuk terus menggali penjelasan, bahkan ketika pertanyaan yang muncul terdengar sederhana atau sulit dijawab. Namun, memasuki usia dewasa, pertanyaan semacam itu perlahan dapat bergeser menjadi persoalan yang lebih pragmatis dan berkaitan dengan kebutuhan hidup.

Pertanyaan yang muncul kemudian lebih sering berkisar pada cara mengatur gaji agar tetap memiliki tabungan di tengah pengeluaran bulanan, mencari pendapatan tambahan untuk mengurangi beban orang tua, atau menyusun rencana pensiun yang aman. Pertanyaan “mengapa” (why) yang dahulu digunakan untuk memahami dunia bergeser menjadi “bagaimana” (how) yang lebih berorientasi pada cara menyelesaikan persoalan. Perubahan cara bertanya inilah yang menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami buku Kisah 1001 Tanya: Cerita-Cerita dari Rasa Ingin Tahu karya Noor H. Dee.

Buku tersebut menghadirkan kembali pertanyaan-pertanyaan khas anak melalui kumpulan cerita pendek yang berangkat dari rasa ingin tahu para kawan kecil. Alih-alih memberikan jawaban langsung, Noor H. Dee mengolah pertanyaan-pertanyaan itu menjadi cerita yang memberi ruang bagi imajinasi. Hasilnya adalah buku yang mempertemukan dunia anak dengan cara berpikir pembaca dewasa tanpa memaksa keduanya berada dalam logika yang sama.

Baca juga: ‘Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu’: Kekerasan Perempuan dan Jejak Pembantaian ’65-66

Mengembalikan Sisi Anak dalam Diri Melalui Narasi

Dibuat berdasarkan ide seorang kawan kecil bernama Alifah Sakhi Qotrunnada (10), akrab disapa Nada, buku ini berisi kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh penulis buku anak-anak kawakan Noor H.Dee. Berbeda dengan kumpulan cerita pendek (cerpen) pada umumnya yang ditulis dari ide awal penulisnya, cerpen di buku ini ditulis berdasarkan pertanyaan-pertanyaan para kawan-kawan kecil. Pendekatan tersebut membuat pertanyaan anak menjadi titik awal sekaligus penggerak bagi setiap cerita yang hadir di dalam buku.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam buku ini mewakili kepolosan sekaligus kedalaman observasi anak-anak. Beberapa di antaranya berbunyi: “Kenapa alis mata tidak bertumbuh panjang seperti rambut manusia?”, “Kenapa orang dewasa sering marah-marah?”, “Kenapa anak-anak tidak bekerja juga?”, hingga “Kenapa aku harus sekolah?”. Pertanyaan yang tampak sederhana tersebut justru membuka kemungkinan cerita yang jauh lebih luas daripada jawaban faktual semata.

Dari pertanyaan-pertanyaan yang acap kali diabaikan atau dijawab seadanya oleh orang dewasa ini, Noor H. Dee meramu cerita pendek yang beroperasi sepenuhnya di luar konstruksi kaku logika manusia dewasa. Itulah mengapa pertanyaan yang sebenarnya bisa dijawab dengan penjelasan berbasis fakta biologis atau sosiologis justru dibiarkan mengalir, jenaka, dan dibangun lewat imajinasi. Dengan cara tersebut, tanda tanya tidak berhenti sebagai persoalan yang harus segera diselesaikan, tetapi menjadi awal dari sebuah cerita.

Pertanyaan soal alis mata, misalnya, dijelaskan Noor melalui kisah pemuda miskin yang berdoa agar dirinya rela memiliki alis sepanjang tiga meter, asalkan ia menjadi kaya raya. Sepanjang cerita, pembaca diperlihatkan bagaimana kekayaan yang melimpah ruah nyatanya tidak sebanding dengan penderitaan sang pemuda yang kerap tersandung alisnya sendiri saat menjalani hari. Jawaban atas pertanyaan tersebut pun hadir bukan melalui penjelasan biologis, melainkan melalui situasi absurd yang memperluas kemungkinan imajinasi.

Begitu pula dengan pertanyaan mengenai alasan orang dewasa gemar marah-marah. Noor meresponsnya dengan cerita tentang “Spybot”, sebuah robot berbentuk lebah yang diciptakan oleh anak berusia 13 tahun bernama Zinma. Robot ini ditugaskan untuk memata-matai dan mencari tahu akar penyebab kemarahan orang dewasa.

Alih-alih bertindak layaknya ensiklopedia mini yang sekadar menjejalkan deretan fakta, narasi yang dibangun dalam buku ini memberi ruang bagi pembaca untuk ikut merenung dan menafsirkan cerita secara mandiri. Di dalam buku ini, sebuah pertanyaan tidak dipandang sebagai “lubang” ketidaktahuan atau ketidaksempurnaan yang menuntut untuk segera ditambal dengan jawaban mutlak. Sebaliknya, setiap tanda tanya dirawat dan diperlakukan layaknya pintu masuk menuju penjelajahan imajinasi yang baru.

Gaya penceritaan semacam ini secara tidak langsung membuka ruang dialog yang lebih setara. Bagi pembaca dewasa, buku ini menawarkan jeda dari pola pikir sistematis, serba efisien, dan kaku yang kerap digunakan dalam keseharian. Pembaca diajak melihat realitas melalui sudut pandang yang lebih terbuka, tanpa selalu menempatkan orang dewasa sebagai pihak yang memiliki seluruh jawaban.

Pesan tentang kebebasan berpikir ini semakin dihidupkan oleh ilustrasi beraliran surealis goresan Aprilia El Shinta. Pilihan gaya visual surealisme ini bekerja sangat selaras dengan teks karena mendobrak batas-batas kelogisan fisik. Ilustrasi tersebut memperkuat dunia cerita yang sejak awal dibangun melalui pertanyaan dan imajinasi.

Gambar-gambar yang disajikan seolah memberikan validasi visual terhadap cara kerja otak anak-anak: Di dalam luasnya bentang dunia ide, tidak ada satu pun pertanyaan yang pantas dicap konyol, dan tidak ada imajinasi yang terlalu absurd untuk diwujudkan. Hubungan antara teks dan ilustrasi membuat pertanyaan-pertanyaan dalam buku tidak hanya dibaca, tetapi juga dapat dibayangkan secara visual. Dengan demikian, kebebasan imajinasi menjadi bagian penting dari pengalaman membaca buku ini.

Cara berpikir yang lentur juga berkaitan dengan karakter dasar anak-anak yang cenderung belum menghakimi berbagai hal berdasarkan pengalaman sebelumnya. Dalam ilmu psikologi kognitif, orang dewasa sangat bergantung pada heuristik, jalan pintas mental untuk mengambil keputusan cepat berdasarkan pengalaman. Pola tersebut membantu proses pengambilan keputusan, tetapi juga dapat memengaruhi cara seseorang menilai sebuah fenomena.

Heuristik dalam Judgment under Uncertainty: Heuristics and Biases (1974) dinilai efisien, tetapi melahirkan prasangka. Sebaliknya, anak-anak melihat fenomena tanpa jalan pintas mental tersebut. Ketika mereka bertanya mengapa orang dewasa sering marah, mereka tidak melabeli orang dewasa sebagai sosok antagonis, melainkan melakukan observasi atas sebuah anomali emosional.

Baca juga: A.W. Prihandita, Pemenang Nebula Award yang Menentang AI

Terlibat dan Aktif

Selain rasa ingin tahu, Kisah 1001 Tanya juga menghadirkan pengalaman membaca yang mendorong pembaca untuk terlibat secara langsung. Buku ini tidak hanya menyajikan cerita untuk dibaca, tetapi menyediakan ruang bagi pembaca untuk menulis dan merespons isi bacaan. Pendekatan tersebut membuat aktivitas membaca bergerak dari sekadar menerima cerita menjadi proses menciptakan sesuatu.

Di beberapa bagian, buku ini menyediakan kolom kosong bagi pembaca untuk menulis. Aktivitasnya dirancang bertahap, mulai dari meminta pembaca memberi nama seekor burung dari cerpen yang telah dibaca, menjawab pertanyaan yang bersifat reflektif, hingga pada bagian akhir, pembaca ditantang untuk menuliskan pertanyaan yang melintas di benak mereka sendiri dan menyusun cerita pendek dari pertanyaan tersebut. Pola ini membuat pembaca tidak berhenti sebagai penonton dari cerita yang disajikan.

Bagi orang dewasa, format interaktif ini mungkin terlihat seperti permainan anak-anak semata. Namun, format tersebut menempatkan pembaca dalam posisi yang lebih aktif, terutama di tengah kebiasaan membaca berbagai teks digital dalam keseharian. Orang dewasa kini terbiasa berhadapan dengan beragam bacaan, mulai dari surel pekerjaan hingga lini masa media sosial, tetapi banyaknya teks yang dikonsumsi tidak selalu berarti keterlibatan dengan bacaan berlangsung secara mendalam.

Dalam buku Reader, Come Home: The Reading Brain in a Digital World (2018), Maryanne Wolf, pakar neurosains kognitif menjelaskan bagaimana kemampuan membaca, transisi ke format digital membuat manusia modern lebih sering melakukan pembacaan memindai (skimming). Ketika membaca dengan cara tersebut, perhatian pembaca dapat lebih mudah berpindah dari satu informasi ke informasi lain. Kondisi ini berbeda dengan proses deep reading yang membutuhkan keterlibatan lebih mendalam terhadap teks.

Ketika kita sekadar menggulir layar, otak hanya mengumpulkan informasi pada permukaan tanpa sempat mengaktifkan area yang bertanggung jawab atas pemikiran analitis dan empati (apa yang disebut sebagai deep reading). Dalam konteks tersebut, ruang kosong yang disediakan Kisah 1001 Tanya menjadi bagian penting dari pengalaman membaca. Kolom tersebut mengajak pembaca berhenti sejenak dari pola konsumsi informasi yang serba cepat untuk menulis, berpikir, dan merespons pertanyaan yang diberikan.

Baca juga: Queer and Palestine: Cara Priscilla Yovia Melawan lewat Bacaan

Saat pembaca diminta untuk menulis cerita sendiri atau merenungkan sebuah pertanyaan, buku ini mengubah posisi pembaca dari penerima menjadi pencipta. Pembaca tidak hanya mengolah informasi dan mencerna makna, tetapi juga diminta menghasilkan respons berdasarkan pertanyaan yang muncul. Proses tersebut sekaligus menghidupkan kembali rasa ingin tahu sebagai bagian dari kegiatan membaca.

Pada akhirnya, Kisah 1001 Tanya mempertemukan pertanyaan anak-anak dengan pengalaman membaca yang melibatkan imajinasi dan partisipasi. Jasmine kecil mungkin telah tumbuh menjadi orang dewasa yang disibukkan oleh tagihan dan rencana masa depan, tetapi ruang untuk bertanya “mengapa”, berimajinasi tanpa batas, dan terlibat dalam proses memahami dunia masih dapat ditemukan melalui bacaan. Buku ini menawarkan ruang tersebut lewat cerita, ilustrasi, dan aktivitas yang mengajak pembacanya kembali membuka pintu rasa ingin tahu.

About Author

Jasmine Floretta V.D

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.