15/09/2026
Culture Environment Issues Opini Prose & Poem

Menggemburkan Tanah, Menggemburkan Pembaca

Lewat memoar ‘Yang Datang Setelah Jawaban’, Lian Gogali mengajak pembaca menyelami proses pengorganisasian perempuan di Poso — dari konflik agama, kritik atas kekakuan NGO, hingga ekofeminisme Mosolo.

  • September 15, 2026
  • 5 min read
  • 630 Views
Menggemburkan Tanah, Menggemburkan Pembaca

Review dari buku: Gogali, Lian. 2026. Yang Datang Setelah Jawaban. Nemu Publishing.

Mengawali buku dengan krisis masa muda dan konflik agama di Poso, aku kira Lian Gogali akan mengantarkanku pada sebuah gerbang definitif—tentang bagaimana ia bertahan dan mengorganisasi. Namun, lebih dari itu, penulis buku Yang Datang Setelah Jawaban ini benar-benar bagian dari klan cacing tanah yang gemar berburu bahan organik di bawah kaki: penggembur. Dan aku merasa menjadi pembaca yang turut digemburkan setelah membaca buku ini.

Mengutip pertanyaan paling favorit dari sang penulis, tiap membuka lembaran baru, Lian membuatku bertanya-tanya, “lalu apa?”

Secara umum, buku ini adalah autobiografi yang ditulis oleh seorang fasilitator sekaligus salah satu pendiri Institut Mosintuwu. Layaknya etalase, bagiku, membaca buku ini adalah proses observasi bersama di laboratorium tanah yang digemburkan oleh Lian dan berbagai perempuan Mosintuwu. Dengan kemampuan menggemburkan tanah itu, para perempuan ini menantang pembaca: memulai segala ide dengan membongkar kembali konsep-konsep yang sudah ada, menamai ulang kegiatan mereka, memikirkan ulang skala, dan membangun proses belajar yang reflektif, di mana setiap orang adalah subjek.

Buku ini terasa seperti kritik keras atas laboratorium tanah di permukaan bumi lainnya yang sering kali melupakan dua hal utama: perspektif komunitas akan organisasi sosial dan logika waktu yang perlu disepakati bersama oleh alam dan manusia.

Baca Juga: Saat Kepemilikan Buku Jadi Bukti Kejahatan

Ketika LSM Bergerak Kaku, Mosintuwu Bergerak Organik

Sebagaimana berkembangnya lembaga swadaya Masyarakat (LSM) di akhir masa Orde Baru, hingga detik ini berbagai program penguatan komunitas—terutama terkait isu kebebasan beragama, demokrasi, hingga masyarakat terdampak pembangunan—telah menjamur di berbagai komunitas, tak terkecuali di Poso dan Mosintuwu. Meski sudah lama berjalan, kehadiran LSM sering kali bergerak kaku dengan garis waktu linear, seolah pertemuan akan pasti menghasilkan aksi, dan aksi akan pasti menghasilkan perubahan sosial.

Kekakuan ini kerap luput melihat bahwa manusia di titik nadir konflik tengah marah, kecewa, dan kalut. Mereka ingin membuka jalan menuju keadilan, tetapi perlu waktu untuk memahami fenomena yang mereka hadapi. Untuk membersamai proses itu, buku ini menawarkan premis penting: organisasi sosial dimulai dari perempuan yang berdaya bersama. Dan untuk mewujudkannya, kita perlu ribuan kerikil guna membangun jalan perubahan dan keranjang berisi panen buah-buahan segar, sebab perjuangan ini bukan hal yang instan.

Melalui buku ini, Lian bersama kawan-kawan di Mosintuwu menangkap politik LSM-isasi lebih baik daripada buku-buku manual tentang pengorganisasian sosial yang ditulis oleh organisasi mana pun. Berangkat dari merespons konflik, mereka menghasilkan aksi langsung: sebuah parade klakson yang organik di depan kantor kepolisian. Buku ini membawa kita berputar-putar pada bagaimana proses setelahnya dilakukan, mulai dari serangkaian penguatan, pembuatan kurikulum belajar, perbaiki, lakukan, ulangi, perbanyak, perbaiki, sebarluaskan, ulangi, pertukaran, sebarluaskan. Setiap orang yang sejak awal dilibatkan dalam proses ini juga memiliki putaran belajarnya sendiri. Hal ini mengingatkanku bahwa perjuangan (perempuan) tidak pernah menjadi satu paralel yang mutlak.

Refleksi penting lainnya dari Lian adalah menyoroti ruang tabu yang enggan diperdebatkan: dapur organisasi — soal mengelola peran individu, mendinamiskan irama diskusi, dan kesejahteraan pegiat. Pada bagian ini, penulis mencoba mendudukkan kembali Institut Mosintuwu sebagai organisasi mandiri di komunitas, dalam konstelasi ide di mana orang-orang mengenali NGO sebagai tempat kerja. Ia menguraikan mandat organisasi dan merespons ide-ide NGO seperti fasilitator, per diem, upah, program, dan “outcome harvesting” dalam kerangka organisasinya sendiri. Hal ini kelak juga membedakan pendekatan organisasi terhadap donor dan acara-acara yang dirasa strategis untuk mendukung individu berdaya.

Sebagai pembaca yang menggemari proses membaca “catatan kaki” dari sebuah diskusi, ada hal yang menurutku belum banyak dibahas: bagaimana ide awal Lian tentang pengorganisasian perempuan, dan bagaimana perempuan di kampung merespons ide-ide itu. Pertama, walaupun disebut memiliki kedekatan geografis dan identitas, seperti apa sebenarnya visi Lian muda akan pembebasan perempuan — bagaimana ia menemukenalinya, dan apa pengaruhnya terhadap pendekatan serta konten Sekolah Perempuan, perlu lebih banyak dilihat. Layaknya membongkar koper, aku ingin tahu apa saja yang ada di bagasi Lian ketika ia memutuskan “mudik” ke kampungnya.

Kedua, sebagaimana telah diceritakan bahwa Sekolah Perempuan mampu menggerakkan perempuan melalui ruang diskusi hingga melahirkan aksi spontan, menularkan keresahan ke titik-titik lain, dan melibatkan perempuan dalam organisasi, menarik untuk membaca lebih banyak potret pertemuan itu. Ke depannya, akan menarik untuk mengetahui bagaimana proses bongkar-pasang mencari kata kunci untuk memantik diskusi bisa terjadi.

Baca Juga: Buku Asli Tak Terbeli Bajakan Diminati, Apa Solusinya? 

Bagian tentang koper berisi hasil bumi yang diperiksa di Jerman, dan bab setelahnya yang menjelaskan habitat ikan masapi, jika dibaca berurutan akan membawa getir. Setelah bertahun-tahun kerja pengorganisasian perempuan ditujukan untuk membuat perempuan berani bersuara, nyatanya perjuangan perempuan tidak bisa berakhir begitu saja. Itu hanyalah awal dari rentetan kisah perjuangan perempuan di frontier energi, dalam menentang narasi pembangunan “hijau” yang menggusur dan membendung riak-riak sungai tempat ikan masapi bermigrasi demi produksi listrik. Kisah ini adalah salah satu potret dampak pembangunan PLTA.

Pada akhirnya, Lian menutup buku dengan “ovarium alam” yang mengantarkan pembaca berpulang pada gagasan ekofeminisme khas Mosolo — yang memandang tubuh sebagai teritori alam. Melalui pendekatan ini, cerita-cerita dari Mosolo mengajarkan kita dua hal. Pertama, untuk memulai dari hal sederhana: menyehatkan kembali relasi manusia dengan tanah yang ia pijaki, dan yang selama ini disandarkan sebagai alat produksi untuk ribuan tahun lamanya. Kedua, untuk menjadikan perubahan, perjuangan, dan pertanyaan akan kehidupan layaknya air dan angin: bagian dari kehidupan itu sendiri.

Salma Rizkya Kinasih (she/her/ceu) adalah pembelajar antropologi dan peneliti di Dala Institute serta bagian dari kolektif Sawit Wxmen Educational Group (SWEG). Ia berfokus mempelajari kepenulisan etnografi dan metode feminis partisipatoris dalam ruang belajar bersama buruh dan kawan-kawan di lingkar perkebunan.

About Author

Salma Rizkya Kinasih