‘We Are Not Numbers’: Ada Cerita di Balik Statistik Korban Genosida Palestina
Ahmed Alnaouq baru berusia 19 tahun ketika saudaranya, Ayman, gugur akibat serangan udara Israel pada 2014. Menurut data Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), lebih dari 2.251 warga Palestina tewas pada tahun itu, dengan 70 persen di antaranya merupakan warga sipil. Bagi banyak orang, Ayman mungkin hanya menjadi bagian dari statistik korban jiwa, tetapi bagi Ahmed, kehilangan itu berarti kehilangan sosok sandaran hidup sekaligus harapan.
Dalam wawancaranya bersama The Guardian 11 tahun kemudian, Ahmed mengungkapkan bagaimana peristiwa tersebut membuatnya mengalami depresi berat. Selama berhari-hari, ia hanya duduk diam dan termenung di samping makam Ayman.
“Rasanya saya ingin mati. Saya benar-benar menanti momen ketika saya mati agar bisa menyusul saudara saya dan terbebas dari kehidupan ini,” ungkapnya.
Di tengah masa-masa kelam itu, jurnalis dan aktivis asal Amerika Serikat yang pernah ditemuinya di Gaza beberapa tahun sebelumnya, Pam Bailey, menghubungi Ahmed melalui pesan Facebook. Ahmed awalnya menjawab singkat bahwa ia baik-baik saja. Namun, Bailey menyela, “Tidak, ceritakan sesuatu yang nyata padaku. Ceritakan bagaimana perasaanmu setelah kehilangan saudaramu.”
Dorongan untuk menceritakan pengalaman personal itu kemudian membuat Ahmed menulis sebuah esai tentang kehilangan Ayman. Proses tersebut menjadi katarsis baginya dan tidak lama kemudian melahirkan gagasan untuk membentuk We Are Not Numbers (WANN).
Pada 2015, WANN hadir sebagai ruang bagi generasi muda Gaza untuk menyuarakan kisah paling personal mereka dalam bahasa Inggris kepada audiens global. Selama satu dekade, WANN melahirkan lebih dari 1.500 kisah dan puisi hingga 2025. Memasuki 2026, kumpulan cerita dan puisi pilihan tersebut resmi dikurasi dan diterbitkan menjadi buku dengan judul yang sama.
Baca Juga: ‘Invisible Women’: Data Laki-laki yang Utama, Perempuan Nanti Saja
Hal-hal yang Sering Kita Anggap Biasa
Salah satu elemen paling kuat dalam buku ini adalah cara para anak muda Gaza menggambarkan realitas keseharian yang bagi sebagian orang mungkin dianggap biasa, tetapi memiliki makna berbeda ketika dialami di tengah konflik.
Hal tersebut tergambar dalam salah satu esai berjudul “The Nightmare that is Online Shopping (in Gaza)”. Ketika belanja daring telah menjadi bagian dari gaya hidup global, dengan sepertiga populasi dunia atau sekitar 2,86 miliar orang aktif berbelanja setidaknya seminggu sekali, warga Gaza justru menghadapi pengalaman yang bertolak belakang. Bagi mereka, belanja daring tidak hanya soal transaksi, tetapi juga berhadapan dengan pembatasan dan penghapusan identitas.
Nama Palestina sering kali tidak tercantum dalam daftar negara tujuan pengiriman. Jika pun tersedia, barang yang dipesan harus melalui rute panjang dengan biaya tinggi serta melewati berbagai blokade militer Israel.
Kesulitan tersebut belum berhenti ketika barang yang telah ditunggu justru dihancurkan di perbatasan. Akram pernah menunggu pesanan buku serial Game of Thrones selama dua bulan, tetapi buku itu tidak pernah sampai karena telah dimusnahkan.
Tidak menyerah, ia kembali memesan buku The Study Quran karya Seyyed Hossein Nasr melalui Amazon. Namun, barang tersebut kembali tidak sampai ke tangannya. Saat melayangkan komplain kepada pihak ekspedisi, ia mendapat jawaban bahwa hanya dokumen resmi seperti paspor dan kartu identitas yang diizinkan masuk ke Gaza.
“Israel sedang sibuk menghapus keberadaan kita, bahkan saat kita berbelanja online,” tulis Akram.
Perbedaan realitas juga diceritakan oleh Haya Abu Shammala melalui pengalamannya tentang atap rumah. Bagi banyak orang, atap adalah tempat berlindung dari hujan, panas, maupun ancaman di luar rumah. Namun, bagi warga Palestina, atap juga dapat menjadi pengingat betapa tipisnya batas antara hidup dan mati.
Haya bercerita sejak 2014 ia selalu menyapa atap rumahnya seolah-olah benda hidup. “Apakah kau akan roboh menimpaku?” begitu pertanyaan yang ia ucapkan kepada atap rumahnya setiap malam.
Pertanyaan tersebut mungkin terdengar tidak masuk akal bagi sebagian orang, tetapi bagi Haya, itu menjadi cara untuk menjaga kewarasannya. Menurut Komite Nasional untuk Korban Hilang (National Committee for Missing Persons), lebih dari 10.000 warga Palestina diperkirakan masih tertimbun di bawah reruntuhan Gaza. Mereka hilang tanpa identitas setelah tertimbun oleh bangunan yang runtuh.
Di tengah ancaman dengungan drone dan reruntuhan akibat serangan bom, Haya kerap merasa iri kepada mereka yang telah gugur. Bagi Haya, mereka tidak perlu lagi menunggu ajal dalam kecemasan di bawah atap rumah sendiri.
Kesenjangan realitas itu juga terlihat dalam perjuangan warga Gaza mendapatkan makanan. Jika banyak orang dapat memperoleh makanan dengan mudah melalui meja makan atau layanan pengiriman, bagi warga Gaza, mencari makanan dapat menjadi pertaruhan nyawa.
Ahmed Dader mencatat kesaksiannya sebagai penyintas pembantaian tepung saat Ramadan. Dengan stok makanan keluarga yang tersisa hanya beberapa butir kurma, Ahmed dan ayahnya berjalan jauh menuju persimpangan Al Nabulsi sejak pukul 10 malam untuk menunggu bantuan.
Truk bantuan baru tiba pukul 04.20 pagi dan langsung diserbu ribuan warga yang sama-sama putus asa. Tanpa diduga, tembakan dilepaskan ke arah kerumunan. Ahmed menyaksikan orang-orang di sebelahnya tertembak di kepala, korban luka terinjak-injak oleh warga yang panik, dan seorang remaja laki-laki yang membawa kantong tepung dilindas oleh tank militer Israel.
Baca Juga: Getir Perempuan Palestina: Ditundukkan Israel dan Bangsanya Sendiri
Tempat Harapan Juga Tumbuh
Kisah warga Palestina dalam We Are Not Numbers tidak berhenti pada penderitaan. Di balik laporan berita maupun unggahan media sosial yang sering memperlihatkan kehancuran, buku ini juga merekam denyut kehidupan yang terus bertahan melalui harapan para anak muda Gaza.
Harapan menjadi salah satu cara mereka mempertahankan kehidupan. Nada Hammad dalam esainya menceritakan bagaimana serangan militer mengubah lanskap Gaza menjadi kelabu, dengan ribuan rumah roboh dan tanah subur tertutup abu serta genangan darah.
Menolak larut dalam warna abu-abu, para seniman muda Gaza meluncurkan gerakan Colours of Hope. Mereka mewarnai dinding-dinding karavan kusam yang menjadi tempat tinggal sementara warga terdampak genosida. Rona biru, jingga, dan merah menghiasi dinding dengan gambar burung nuri serta dedaunan.
Semangat mewarnai kota itu kemudian menyebar hingga ke pelabuhan al-Mina, ruang publik tempat warga Gaza beristirahat. Dipimpin koordinator kampanye Dalia Abdelrahman, para seniman dan nelayan setempat bergotong royong mengecat tembok retak serta batu-batu sisa operasi militer Israel. Pelabuhan tersebut kemudian dihiasi lukisan pelangi dan grafiti lirik lagu terkenal Marcel Khalife, “Ya Watani” (“Aku telah memilihmu, wahai tanah airku”).
Gerakan ini berlanjut melalui Lawwen Hartak (Colour Your Neighbourhood) menjelang Ramadan 2015 yang diprakarsai oleh Salsabeel Zeineddin bersama para perempuan muda Gaza. Gerakan tersebut mendapat respons positif dari warga dan menjadi titik balik bagi beberapa anak muda, termasuk Nada, untuk mulai memberi warna baru dalam kehidupan mereka.
Nada kemudian menghiasi barang-barang pribadinya seperti tas, buku, dan kotak pensil dengan berbagai ornamen penuh warna. Ia dan kawan-kawan sebayanya melihat kebahagiaan sebagai sesuatu yang terus diupayakan, sementara kampanye mewarnai menjadi salah satu cara masyarakat Gaza menghidupkan kembali harapan di tengah ketidakpastian.
Harapan juga terlihat dari kisah Amani Shaat, perempuan pertama di Gaza yang berani membuka kios makanan jalanan. Perjalanannya tidak mudah karena banyak orang di sekitarnya meragukan keputusannya dan mencoba menggagalkan impiannya. Mereka mencibir Amani dan mengatakan usahanya akan gagal seperti usaha-usaha sebelumnya.
Tanpa dukungan moral dan modal yang cukup, Amani sempat diliputi kecemasan. Namun, ia melihat peluang dari dua hal: hidangan burger sapi di Gaza biasanya hanya tersedia di restoran mahal, sementara ia memiliki resep burger buatannya sendiri.
Dengan menawarkan burger seharga tujuh syekel tanpa kentang dan sepuluh syekel dengan kentang, atau sekitar Rp41.000, usaha Amani berkembang. Meski rasa lelah sering muncul setelah bekerja seharian, pujian pelanggan terhadap makanannya menjadi penguat bagi Amani untuk terus menjalankan usaha yang ia bangun.
Baca Juga: ‘As Long As Lemon Trees Grow’: Trauma dan Perlawanan dalam Konflik Suriah
Ketika dunia membicarakan warga Palestina yang hidup di bawah pendudukan dan kamp-kamp pengungsian, narasi yang muncul sering kali berpusat pada angka. Berapa banyak korban tewas, terluka, mengungsi, kehilangan tempat tinggal, atau bergantung pada bantuan kemanusiaan.
Namun, angka tidak selalu mampu menggambarkan pengalaman personal seseorang. Di balik statistik terdapat kehilangan, kemarahan, kesedihan, tawa, mimpi, dan harapan yang dialami manusia dengan cara berbeda.
Kisah-kisah personal seperti yang dikumpulkan dalam We Are Not Numbers menunjukkan bagaimana warga Palestina kerap direduksi menjadi angka dalam pemberitaan konflik. Buku ini menghadirkan kembali sisi manusiawi dari pengalaman anak muda Gaza melalui cerita yang mereka tulis sendiri.
Melalui esai dan puisi yang terkumpul selama satu dekade, We Are Not Numbers memperlihatkan Gaza bukan hanya sebagai tempat konflik, tetapi juga ruang tempat manusia tetap hidup, bermimpi, dan mencari cara untuk bertahan.





















