Women Lead
November 11, 2020

Pendidikan Islam Konservatif yang Keras dan Ketakutan Anak

Pengalaman mendapatkan pendidikan Islam konservatif yang keras membuatku selalu dibalut ketakutan.

by Ghina Furqan
Lifestyle
Tarbiyah_Pendidikan_Sekolah_Konservatisme_Radikalisme_SarahArifin
Share:

Ketika aku memikirkan mengenai apa yang telah membentukku menjadi aku yang sekarang, aku mengingat diriku sewaktu kecil yang sangat ingin dicintai. Aku tumbuh dalam sebuah keluarga muslim yang konservatif, di mana kata “cinta” bukanlah sesuatu yang diajarkan kepadaku secara eksplisit untuk diterapkan kemudian.

Dalam sebuah tipikal keluarga Asia dan Muslim, para orang tua sangat kaku dan memiliki cara yang “aneh” dalam menunjukkan bagaimana mereka mencintai anak-anaknya.   

Orang tua Asia juga sangat terobsesi mengontrol hidup anak-anak mereka, dan dalam sebuah keluarga muslim yang konservatif, mereka akan menggunakan kewajiban agama untuk mengontrol anak-anak mereka.

Walau pengalaman pribadiku mengecap pendidikan Islam tersebut tidak tergolong kasus ekstrem, bukan berarti aku tidak membutuhkan sebuah pemulihan. Aku tidak benar-benar sadar bahwa aku telah mengalami trauma masa kecil sampai aku membaca sebuah buku yang membantuku menyadari, bahwa aku butuh untuk memulai pemulihan, dan aku bukalah satu-satunya yang membutuhkan hal tersebut. Buku yang telah mengubah persepsi dan hidupku itu adalah sebuah buku yang ditulis oleh aktivis feminis dari AS, bell hooks, All About Love: New Vision.

Keseluruhan isi buku tersebut meresap dalam diriku. Buku itu adalah salah satu buku yang berbicara langsung kepadaku karena penulisnya menemukan kata-kata yang sangat ingin kukatakan, tetapi aku tak pernah tahu bagaimana menyampaikannya sampai aku membacanya.

Namun, bab yang paling menohok adalah bab mengenai masa kecil. “Keadilan: Pelajaran-pelajaran mengenai Cinta Masa Kecil” adalah bab kedua, di mana bell hooks menjelaskan bagaimana didikan masa kecil membentuk pemahaman kita tentang cinta.

Baca juga: Konservatisme Agama di Sekolah dan Kampus Negeri Picu Intoleransi

Ada dua sisi spektrum dari bacaan itu: Di satu sisi, anak-anak didisiplinkan hingga suatu titik mereka percaya bahwa hukuman juga bisa menjadi sebuah bentuk cinta. Di sisi lain, ada pola asuh orang tua di mana keinginan anak selalu dipenuhi, dan anak diajarkan bahwa cinta adalah sesuatu yang diberikan kepada mereka, bukan sesuatu yang seharusnya mereka berikan.

Aku merasa terhubung dengan sisi spektrum yang pertama, dan aku menemukan bahwa beberapa orang temanku yang juga mendapatkan pendidikan konservatif Asia dan muslim sangat berkenaan dengan hal tersebut.

“Aku melakukan ini karena aku menyayangimu” dan “hal ini lebih menyakitkanku dibanding kamu” adalah kalimat-kalimat yang sering kali dikatakan oleh kedua orang tuaku, tepat sebelum aku dihukum setelah melakukan sesuatu yang nakal di mata mereka. Sebagai seorang anak, hal tersebut membuatku bingung tidak berkesudahan.

Dengan tegas aku katakan bahwa aku tidak pernah secara rutin dipukuli kedua orang tuaku. Tetapi aku memiliki cerita dihukum yang sama dengan teman-temanku di sekolah yang juga memiliki orang tua yang bersikap keras.

Kami akan tertawa bersama ketika menemukan bahwa kedua orang tua kami cenderung berubah skala dari nol menjadi seratus. Ada sesuatu yang sangat lucu bagi seorang anak menyaksikan orang dewasa berperilaku seperti itu,

Aku merasa lega ketika kami dapat melihatnya sebagai sesuatu yang lucu walaupun bersumber dari hal yang menyakitkan. Tertawa bisa menjadi terapeutik, tapi satu hal yang tidak dibahas secara terbuka adalah tentang penggunaan manipulasi dalam sebuah didikan.

Baca juga: Perisakan Anak Betul-betul Merusak

Memanipulasi perempuan

Dalam sebuah keluarga muslim dan Asia yang konservatif, aku menyadari bahwa kewajiban agama sering kali digunakan sebagai alat untuk memanipulasi perempuan dan anak-anak. Tidak sulit bagi anak-anak dengan orang tua muslim yang mendidik dengan keras untuk mengingat bagaimana orang tua mereka mendorong mereka melakukan berbagai hal, karena bukan hanya mereka akan masuk neraka apabila memilih untuk tidak melakukannya, namun orang tua mereka juga akan ikut dan disiksa api neraka karena mereka mengabaikan kewajiban agama itu.

Dilema mengenai akhirat ini disajikan kepadaku sewaktu kecil oleh kedua orang tuaku dan dalam berbagai ruang komunitas religi. Ketimbang diajari untuk menjalankan kewajiban agamaku berdasarkan rasa cinta kepada Sang Pencipta, aku malah dituntun untuk beribadah berbalut ketakutan.

Sebagai anak perempuan, aku diharapkan untuk melaksanakan kewajiban agamaku tanpa mempertanyakannya, sekalipun ini tampaknya berbeda ketika aku melihat anak-laki mengekspresikan religiositasnya. Dengan segera, aku melihat jelas bahwa aku bukan sekadar melaksanakan kewajibanku untuk Tuhan saja, tapi juga demi kehormatan keluargaku dan ekspektasi masyarakat.  

Dan aku? Tampaknya aku tidak dapat melakukan berbagai hal untuk kepentinganku sendiri karena hal tersebut dianggap egois, dan aku bukan siapa-siapa tanpa komunitas dan agamaku.

Aku mendambakan hari ketika aku akhirnya dapat terbuka kepada kedua orang tuaku tanpa takut mereka akan melihatku sebagai seorang muslim yang buruk. Setelah aku mencapai umur 20, aku mulai menyampaikan secara jujur mengenai berbagai hal yang kupikir tak akan pernah dapat kusampaikan secara lugas kepada orang tuaku. Aku akhirnya dapat bersikap jujur ketika mengobrol dengan mereka.

Tidak ada orang tua yang sempurna, demikian pula dengan anak. Ini adalah sebuah kenyataan yang harus kuterima, dan hari ini aku merasa cukup nyaman untuk menyampaikan hal apa pun kepada kedua orang tuaku tanpa rasa ketakutan.

Baca juga: Bagaimana Aku Berdamai dengan Agamaku Sendiri

Ada masa-masa saat aku memendam kemarahanku kepada orang tuaku. Aku merasa diperlakukan tidak adil dari cara mereka menghukum, menunjukkan kuasanya atas diriku, dan tidak memedulikan apa yang hendak kusampaikan. Aku tetap diharapkan untuk melakukan persis seperti apa yang mereka inginkan.

Kemudian, kusadari bahwa orang tuaku juga dibesarkan oleh orang tua mereka yang mendidik secara keras, dan mereka juga tidak memiliki hak istimewa untuk mengambil banyak pilihan dalam hidup mereka. Mereka hanya tahu bagaimana cara bertahan sehingga mereka melakukan banyak hal bukan karena mereka menginginkannya, melainkan karena mereka diajarkan mereka harus melakukannya.

Bagaimana mungkin aku tidak memaafkan orang tuaku, orang-orang yang paling mencintaiku di dunia ini, yang berjuang seperti orang tua lainnya dalam membesarkan anak, yang memberiku setiap pilihan untuk kuambil ketika mereka tidak lagi memilikinya, atas berbagai kesalahan mereka di masa lampau?

Cinta dimulai dari rumah, dan aku bersumpah untuk mengakhiri kutukan generasi, menghancurkan siklus kekerasan dan memulihkan diri setiap hari. Terima kasih kepada kedua orang tuaku yang telah berusaha dan tidak menyerah, untuk belajar dan melakukan yang lebih baik, untuk memulihkan diriku dan berada di sampingku.

“Tanpa keadilan, tak akan ada cinta” – bell hooks.

Artikel ini diterjemahkan oleh Bini Fitriani dari versi aslinya dalam bahasa Inggris.

Ghina Furqan adalah seorang penulis yang sekarang tinggal di Jawa Tengah dan memiliki gelar sarjana Kajian Internasional. Ia dibesarkan oleh orang tua Indonesia di Timur Tengah, dan ia telah mengeksplorasi identitas budaya ketiganya di antara topik tulisannya yang lain, yang bisa ditemukan di Instagramnya, @ghinafurqanwrites.