Women Lead
April 22, 2021

Perempuan Tak Perlu ‘Jinak-Jinak Merpati’, Pahami Bahwa ‘No Means No’

Ajaran bahwa perempuan harus jinak-jinak merpati hanya memicu kesalahpahaman, yang terpenting kedua belah pihak sama-sama jujur.

by Iqna Syuhada Putri
Lifestyle
Perempuan Tak Perlu ‘Jinak-Jinak Merpati’, Pahami Bahwa ‘No Means No’
Share:

Pembahasan pagi ini ternyata tertinggal di kepalaku lebih lama dari yang kukira.

No means no,” kataku saat membahas tentang bagaimana aku yang tidak suka kucing selalu berhasil mengundang kucing-kucing untuk selalu mendekatiku di tempat apa pun.

Dia bilang, mungkin ketidaksukaanku itu dimaknai oleh kucing sebagai rasa ketertarikan. Karena itu, dia menganggap kucing sama seperti asap rokok, yang cenderung mendekati orang yang tidak menyukainya.

Spontan saja keluar dari mulutku, “Oh, berarti kucing seperti lelaki,” yang disambut tawanya yang tentu saja, masih selalu bisa membuatku terpesona.

Perempuan Mesti Jinak-jinak Merpati

Pikiranku yang kemudian tidak bisa menghilangkan “no means no” tadi dengan mudah, melayang ke ingatan masa kecil saat orang tuaku sering sekali memberikan nasihat tentang interaksi sesama manusia. Tentu saja orang tuaku, yang hanya meyakini heteroseksual sebagai satu-satunya orientasi seksual yang ada di semesta ini, mencontohkan bagaimana relasi antara lelaki dan perempuan dimulai.

Ayahku selalu bilang, perempuan itu harus jinak-jinak merpati, “Semakin kukejar semakin kau jauh”. Hal ini langsung diamini ibuku dengan menimpali, “Dengarkan itu,” atau terkadang berupa anggukan cepat pertanda setuju.

Aku yang tidak tahu apa-apa tentu saja mengiyakan dan menyimak segala sesuatu yang mereka sampaikan dengan saksama. Kalau kata orang tuaku, supaya bisa jadi perempuan yang “mahal”.

Pengajaran di masa kecilku tadi tidak hanya tertuju pada anak-anak perempuan, tapi juga lelaki. Aku masih ingat jelas bagaimana orang tuaku juga memberikan pengajaran soal hal yang sama pada adik lelakiku.

Ayah dan Ibu bergantian mengatakan padanya bahwa ia harus mencari perempuan yang “susah dikejar”. Semakin sulit ia mendapatkan hati perempuan itu dan bisa dekat dengannya, maka semakin tinggi “harga” perempuan itu. Jangan mau dengan perempuan yang malah lebih dahulu mendekatimu, apalagi “mengejar-ngejar” dirimu untuk mendapatkan hatimu.

Aku masih ingat jelas bagaimana Ayah menyampaikan apa yang menurutnya pengajaran paling berharga itu kepada adik lelakiku. Tentu saja, penyampaian itu terjadi tidak hanya satu atau dua kali.

Aku yakin bukan hanya di rumah kecil kami saja hal yang digembar-gemborkan oleh orang tuaku itu diturunkan, tapi juga kepada anak-anak dan cucu-cucu di rumah-rumah lainnya di luar sana.

Baca juga: Perempuan PDKT Duluan, Kenapa Tidak?

Bersikap Jujur Lebih Penting dalam Pedekate

Alhamdulillah, aku tumbuh hingga saat ini dengan keistimewaan bisa mengenyam pendidikan yang layak. Hal itu kemudian membuatku menyadari bahwa sesuatu yang diputarbalikkan itu tidak sehat. Menjadi manusia adalah menjadi jujur tentang segala hal, terlebih lagi soal perasaan dan caramu mengungkapkan apa yang kamu rasakan dan pikirkan.

Aku tidak mau menyalahkan siapa-siapa, apalagi teman-teman perempuan di luar sana. Hanya saja, aku berpikir sudah seharusnya kita sebagai perempuan bisa memilih dan menentukan sikap dengan layak. Nasihat mengenai merpati yang disampaikan orang tuaku yang dulu hanya aku iyakan itu, tentu saja sekarang, puluhan tahun kemudian, kusadari sangat problematik dan tidak seharusnya dipupuk.

Sudah sepatutnya kita semua menyampaikan apa yang kita rasakan dalam interaksi sesama manusia sebagaimana adanya. Kalau kamu mau, bilang mau. Kalau kamu tidak ingin, katakan tidak ingin.

Sekarang saat aku menulis ini, aku paham dan sadar betul penggunaan kata perempuan yang mahal adalah kesalahan. Implikasi dari kenangan masa kecilku itu kemudian menjadi gambaran perempuan tidak boleh memperlihatkan kemauan dan keinginannya. Kalaupun mau, kamu harus berlagak tidak mau. Karena seakan-akan jika tidak jual mahal, kamu adalah perempuan yang gampangan. Entah siapa yang membuat standar macam itu, yang jelas kemudian hal ini jadi acuan bagi manusia menjalani kehidupan sosialnya, khususnya saat hendak menjalin hubungan romantis.

Padahal, baik lelaki maupun perempuan sudah seharusnya menyadari, relasi yang sehat terbangun dengan kejujuran dan keterbukaan. Bukankah komunikasi yang berhasil adalah komunikasi yang mencapai kesamaan makna? Bagaimana mungkin bisa terdapat kesamaan makna jika seandainya, pengajaran “perempuan mesti bersikap jinak-jinak merpati” yang problematik seperti itu tetap diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya atau dibagikan oleh beberapa orang kepada orang-orang lainnya?

Baca juga: Perempuan Nyatakan Perasaan: Bicara Sekarang Atau Tertekan Selamanya

No Means No!

Aku merasa butuh untuk selalu mempertanyakan banyak hal yang dari dulu aku ketahui. Aku kira banyak sekali hal-hal yang harus dimaknai ulang supaya kita bisa sama-sama jadi manusia yang lebih baik dan punya kesadaran.

Sadar, bahwa ada batas yang jelas antara bercanda dengan merendahkan. Ada batasan yang jelas tentang rasa hormat dan menghormati orang-orang. Sadar bahwa apa pun yang kita lakukan pasti ada konsekuensinya. Sadar bahwa sebagai manusia, baik lelaki atau perempuan, kita punya hak yang sama untuk mengungkapkan, mengiyakan, dan menolak.

Bagi perempuan di luar sana, aku merasa kita harus berusaha tidak lagi membiasakan diri melanggengkan pengajaran “menyesatkan” tadi. Dengan kata lain, kita harus berani bersikap jujur apa adanya.

Sementara bagi para lelaki, penting sekali untuk benar-benar memahami bahwa saat seseorang berkata iya, artinya iya dan no means no!

Iqna Syuhada Putri yang biasa dipanggil Iqna, lebih memilih dipanggil ‘na’ dibanding ‘iq’ dan paling kesal kalau orang-orang menulis namanya dengan huruf atau ejaan yang salah. Ia adalah perempuan pertengahan 20an yang sudah tiga tahun menetap dan bekerja di Kuala Lumpur. Ia jatuh cinta pada menulis dan bangga jika ada yang menjulukinya feminis. Ia bisa dikontak di akun Instagram @iqnasyuhada.