November 11, 2020

‘Tsundere’ dalam Drama Korea dan Lagu Agnez Mo

Karakter tsundere dalam drama Korea tampak mengagumkan, tapi nyatanya bisa membuat bingung, seperti dalam lagu Agnez Mo.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle
Share:

Karakter Jung-hwan dalam drama Korea (drakor) Reply 1988 masih melekat erat dalam benak saya setelah berminggu-minggu lalu saya tuntas menontonnya. Sosok cowok jutek yang doyan berkomentar padas pada si pemeran utama Deok-Sun, padahal dia cinta banget sama cewek itu, adalah satu dari deretan karakter tsundere dalam budaya pop yang bikin saya kepincut. Bertahun-tahun sebelumnya, saya tertarik pada karakter Lee Young Jae dalam drakor Full House, Lee Mong Ryong dalam drakor Sassy Girl Chun Hyang, juga Eguchi Tappei dalam komik Hai, Miiko! 

Istilah tsundere sendiri artinya karakter seseorang yang awalnya terlihat dingin, bahkan kadang kasar, kepada seseorang yang dia sukai, lalu kemudian beralih menjadi lebih hangat dan bersahabat. Kata ini berasal dari terminologi bahasa Jepang tsun tsun yang dalam Urban Dictionary diartikan “turn away in disgust” dan dere dere yang berarti “lovey dovey”. Intinya kira-kira nyebelin di depan, naksir di belakang. Tak hanya laki-laki yang bisa diidentikkan dengan karakter tsundere, perempuan pun juga bisa demikian.

Saya mungkin hanya satu dari banyak orang yang suka dengan karakter tsundere ini. Di luar sana, saya yakin ada para penggemar karakter Dao Ming Si (Jerry Yan) sang pentolan F4 meskipun dia doyan sekali nge-bully San Chai. Atau orang-orang yang suka banget sama relasi Mamoru Chiba dan Usagi Tsukino di Sailormoon meski waktu enggak berseragam pahlawan, Mamoru doyan sekali mengejek Usagi.

Baca juga: Pasangan dalam Film yang Tak Seharusnya Jadi #CoupleGoals

Kenapa karakter tsundere disukai?

Fakta bahwa karakter tsundere ini terus muncul dalam berbagai karya menunjukkan banyak yang menyukainya. Dalam Tofugu, sebuah situs yang membahas tentang budaya dan bahasa Jepang, disebutkan bahwa ketertarikan kepada karakter tsundere ini mungkin berhubungan dengan prinsip untung-rugi, bahwa perasaan seseorang akan bergantung pada ekspektasi mereka di awal terhadap orang lain. Kalau ekspektasinya “orang ini membenciku” sejak awal, akan muncul ketertarikan yang lebih saat orang yang bersikap buruk kepadanya itu memberinya pujian. Ini tidak lepas dari adanya hal positif di luar ekspektasi tersebut dan secara psikologis, hal positif itu lebih dirasa menguntungkan dan memuaskan.

Sementara bagi saya sendiri, karakter tsundere lebih mengesankan karena saya jenuh dengan tipikal jalan cerita cowok yang kesengsem dengan seseorang, melakukan bermacam usaha dan menunjukkan hal baik kepadanya, lantas jadian. Saya lebih suka ketika melihat jalan cerita yang memuat transisi atau dua sisi pribadi seseorang yang kontradiktif, walaupun ujung ceritanya bisa ditebak karena saya telah berulang kali menonton cerita cinta yang melibatkan sosok tsundere. Bisa jadi juga karena saya senang menertawakan dan memaki kebodohan atau blunder yang dilakukan karakter tsundere dalam kisah-kisah fiksi yang saya lihat.

Hanya indah dalam fiksi

Seperti banyak karakter fiksi, tsundere ini kelihatannya cuma asyik diamati dalam film atau komik. Saya sih ogah jadi seperti San Chai, misalnya, yang sampai luka-luka gara-gara bermasalah dengan Dao Ming Si, enggak peduli seberapa populer, ganteng, dan kayanya laki-laki itu. Banyak karakter tsundere ini yang perilakunya sebetulnya problematik.

Baca juga: Celana Rangkap di Balik Seragam Tanda Mengakarnya Pelecehan Seksual

Tapi tidak jarang yang suka berkata, “Cowok yang doyan ngisengin lu itu tandanya dia suka sama lu”. Lantas, si perempuan jadi membiarkan perlakuan buruk dari si laki-laki terjadi kepadanya karena percaya pada ungkapan itu.

Ucapan misleading yang mendukung tsundere ini bisa jadi problematik. Pasalnya, tidak ada yang tahu agenda atau isi hati seseorang kecuali mereka adalah penonton kisah cinta fiktif. Mana tahu kalau laki-laki itu memang berengsek dan tidak ada niat sama sekali memacari si perempuan? Mana tahu kalau semua hal yang dilakukan si laki-laki itu semata-mata pelecehan saja, bukan tanda perhatian dan cinta yang dibungkus kejailan? Akan jadi makin miris kalau si perempuan sudah ngarep-ngarep bakal kejadian seperti di film bertokoh tsundere, eh tahunya si laki-laki memang doyan saja mem-bully perempuan dan ternyata bukan hanya dia yang di-bully.  

Fun fact: Barangkali ada yang lupa, kita ini bukan sutradara dalam kisah cinta kita di realitas.

Sikap-sikap buruk atas nama glorifikasi tsundere menjadi hal yang dinormalisasi sampai orang perlahan melek tentang bullying dan pelecehan seksual. Ya kali, deh, anak cowok ABG yang doyan menarik tali beha teman ceweknya dibilang romantis dan mengindikasikan dia suka sama cewek tersebut. Masa iya, cewek yang hampir saban hari ngatain kolega laki-lakinya gendut dan enggak laku-laku pasti menandakan dia naksir laki-laki itu atau sekadar “bercanda biasa”?

Baca juga: Sulitnya Mencintai Orang yang 'Toxic'

Tidak saya mungkiri juga bahwa ada pasangan-pasangan menikah yang awalnya juga bermusuhan dengan suami atau istrinya pada awal perkenalan. Toh jalan cerita cinta setiap individu unik dan yang satu tidak secara mutlak lebih indah dibanding lainnya. Namun, saya lebih menyoroti tentang perlunya kritis menghadapi situasi. Jangan sampai romantisasi tsundere dalam fiksi membuat kita terbuai dan percaya bahwa itu yang sedang terjadi pada kita dan orang yang saat ini sering mengerjai atau bersikap buruk pada kita.

Seindah apa pun relasi dengan sosok tsundere yang digambarkan dalam film, novel, dan komik, akan jadi hal yang disayangkan bila hal tersebut membuat seseorang melupakan batasan tentang apa yang pantas atau tidak pantas dilakukan orang lain kepadanya. 

Bisa saja tsundere hanya indah dalam fiksi. Bisa jadi kita hanya perlu “menembak” langsung orang di dekat kita yang tidak jenuh menjaili dengan pesan Agnez Mo dalam lagunya, “Bilang saja bila kau mau, bilang saja bila tak mau”. Disangka kege-eran? Biar saja.

Kalau dia tidak suka kita, toh tak ada yang rugi di kedua pihak dan kita justru bisa dengan tegas memintanya menyetop kejailan yang tidak kita inginkan. Kalau dia sebenarnya suka dan masih bilang tidak, it’s his/her loss kalau ujungnya kita jadian dengan orang lain. Kalau dia bilang suka dan gayung bersambut, silakan memulai bab baru dalam cerita cinta berikutnya.

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop