Women Lead
July 26, 2021

Persatuan Antaragama Kunci Lawan Pandemi Bersama

Ketika COVID-19 kian genting dan kita tak bisa lagi berharap pada pemerintah, solidaritas lintas agama barangkali adalah jawabannya.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Issues
solidaritas agama saat pandemi covid
Share:

Agama kerap jadi merek dagang yang digunakan orang untuk membenarkan perilaku mereka yang “menyimpang”. Kampanye anti-vaksin COVID-19 misalnya, kerap mencatut dalih-dalih agama, tak peduli seberapa genting pagebluk di Indonesia kini.

Muhammad Machasin, Kepala Institut Dialog Antara Iman di Indonesia (Institut Dian atau Interfidei) mengatakan, masyarakat yang menolak vaksin beranggapan virus Corona adalah makhluk Tuhan dan melakukan vaksinasi sama saja menolak kehendak-Nya. Selain itu, manusia tidak harus melakukan apapun karena telah dilindungi oleh Tuhan. 

“Hal ini menunjukkan dua sisi dari memeluk agama: Memberi pencerahan dan membuat seseorang melakukan aksi yang naif. Mereka menolak pengetahuan dengan keyakinan yang bersifat fatalistik,” ujarnya dalam Serial Webinar HUT Ke-30 Institut Dian/Interfidei Seri IV, (22/7). 

Untuk menyelesaikan masalah tersebut, imbuhnya, seluruh masyarakat beriman perlu bertanggung jawab. Mereka perlu mengawasi ajaran agama dengan pandangan yang sehat. Maka dari itu, dibutuhkan solidaritas lintas iman untuk mengawal dan memberi pengetahuan ke masyarakat yang memiliki miskonsepsi isu kesehatan yang dikaitkan dengan ajaran agama. 

“Saya percaya, dengan bersama-sama kita bisa mengawal situasi pandemi ini ke arah yang lebih baik dalam kehidupan. Dengan pandangan agama yang solid dan penuh cinta, (kita) bisa membantu berdiri melawan banyak kesulitan,” ujarnya. 

Senada, Robert Catalano, Co-director untuk International Office for Interreligious Dialogue of the Foodfare Movement di Italia mengatakan, untuk keluar dari mimpi buruk pandemi ini harus dilakukan bersama-sama antara masyarakat lintas iman. Dalam contoh paling sederhana di bidang kesehatan, semua orang beriman mesti mendukung vaksinasi untuk kemaslahatan bersama.

Catalano mengatakan, persatuan antara agama juga dibutuhkan untuk membentuk gerakan membantu masyarakat yang terdampak COVID-19. Misalnya, kerja sama dalam membagikan makanan maupun melawan informasi yang salah tentang kesehatan tersebut. Selain itu kita juga tidak harus mengikuti budaya atau kebiasaan agama tertentu karena yang ditekankan adalah inisiatif untuk kebaikan bersama.

“Di situasi seperti ini, orang yang secara spiritual sensitif bisa saling bersatu untuk menciptakan dan menyebarkan inisiatif untuk kebaikan. Agama harus menjadi faktor untuk menginspirasi gerakan itu agar perlahan-lahan kita bisa bangkit bersama,” ujarnya.

Baca juga: Bagaimana Agama dan Pemimpin Agama Berperan Atasi Pandemi

Kegiatan Antaragama Latih Kepemimpinan

Nelly Van Doorn-Harder akademisi dari Center for The Islamic Theology Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda berujar, dalam skala yang lebih besar kegiatan lintas iman dapat mengembangkan kemampuan memimpin seseorang. Kepemimpinan yang baik kemudian membentuk keadilan bagi masyarakat secara luas, termasuk dalam bidang kesehatan.

Ia melanjutkan, menstimulasi kepemimpinan seseorang dalam kegiatan lintas iman juga memberikan penguatan dan validasi bahwa pengalaman dan sudut pandangnya penting. Kepemimpinan tersebut di sisi lain, melatih seseorang untuk melakukan refleksi atas diri sendiri dan hal-hal yang membentuk identitasnya. Pun, kita juga diajarkan untuk memandang dunia secara inklusif untuk keadilan dan kebaikan bersama

“Pemimpin tidak harus tentang menjadi pemimpin di sebuah perusahaan dan semua orang bisa menjadi leader di manapun  mereka berada. Oleh sebab itu, narasi tentang kepemimpinan ini penting karena membuat orang memikirkan cara melihat diri dan membantu orang lain juga menjadi pemimpin,” kata Doorn-Harder.

Baca juga: Wajah Paradoks Islam di Tengah Pandemi

Hapus Pola Pikir yang Etnosentris

Elga Sarapung, Direktur Institut Dian Yogyakarta mengungkapkan, kegiatan hingga dialog lintas agama menjadi cara efektif untuk menuju perdamaian dan harmoni satu sama lain tanpa memandang gender, etnis dan ras. 

“Untuk maju, mendukung satu sama lain untuk hidup dalam damai dan memikirkan perubahan dunia kita butuh komitmen serta integritas untuk mencari perdamaian itu,” ujarnya. 

Meskipun begitu, Syafa’atun Almirzanah, akademisi Ushuluddin dan Pemikiran Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta mengatakan, kebersamaan dalam perbedaan agama, ras, dan etnis menjadi sangat krusial di Indonesia karena aksi intoleransi semakin marak beberapa tahun terakhir. 

Baca juga: Kesempatan Kedua untuk Agama

Agama, tambahnya, bisa menjadi kekuatan untuk membangun dan kadang bisa menjadi kekuatan yang merusak. Agar toleransi tersebut bisa bertahan, masyarakat harus menumbuhkan kesadaran dan membangun dialog antara agama untuk menciptakan perdamaian dengan masyarakat berbeda agama.

“Indonesia pernah menjadi contoh negara toleran, sekarang di sorotan media menjadi pusat dari intoleransi karena perkembangan kelompok agama yang konservatif. Maka dari itu, kita harus sepakat untuk memahami agama satu sama lain,” ujarnya. 

Dalam kesempatan yang sama, Sumanto Al-Qurtuby, akademisi antropologi di King Fahd University of Petroleum & Minerals di Saudi Arabia mengatakan, cara lain satu untuk menumbuhkan rasa toleransi dengan orang yang memiliki kepercayaan berbeda ialah memandang dunia tidak dengan kacamata etnosentrisme atau sikap yang meremehkan masyarakat dan kebudayaan lain. 

“Ini yang saya terapkan di ruang kelas. Mahasiswa tidak mengenal dunia lain, selain Islam. Maka dari itu, saya memberikan mereka tugas mendiskusikan agama, kepercayaan, dan budaya untuk menghormati satu sama lain,” kata Sumanto. 

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.