Politik Dapur dan Rindu yang Tak Lagi Bertemu dalam Memasak Harapan
Rabu pagi itu tanggal merah dan saya ingin tenang, duduk di kedai kopi, menenggak long black paling pahit sambil mengonsumsi esai-esai dalam Memasak Harapan. Buku kecil dan tipis ini sudah saya beli dua bulan sebelumnya, saat ia rilis. Tapi, sengaja disantap pelan-pelan, tidak ingin cepat habis.
Saya memutuskan membaca lagi esai Dewi Kharisma Michellia, seorang kawan lama yang sudah berteman sejak kami sama-sama masih jurnalis mahasiswa (di pulau berbeda). Mungkin lebih sedekade lalu.
Baca juga: #MerawatIngatan65: Cinta Selalu Berani Menantang Politik Rasa Takut
Mimi, panggilan akrabnya, adalah penulis andalan saya. Kekaguman pada pengetahuan dan keterampilannya meracik kata cum karya lebih dulu muncul, bahkan sebelum kami berteman. Selalu berhasil memercik inspirasi, kalau tidak pecutan untuk belajar menulis lebih tekun lagi. Di hari buruk, tulisan Mimi bisa bikin saya menyerah menulis karena sadar tidak akan bisa sekeren blio.
Esainya berjudul “Merawat Api Kartini”—jujur, judul paling tidak menarik di deretan tujuh hidangan itu. Aha, inikah tulisan jelek pertama Mimi? pikir saya.
Dapur Sebagai Ruang Politis
Lepas membolak-balik 11 halaman tersingkat yang pernah saya baca, esai Mimi malah bikin saya termenung. Ditarik ke memori-memori yang rasanya sudah jauh sekali: di dapur Umi (ibu dalam bahasa Arab), kakak sulung ayah, yang keluarga besar nobatkan sebagai koki andalan.
Dalam esainya, Mimi bercerita tentang pengalaman memasak bersama dua ibu semangnya (istilah yang biasa dipakai Mimi dalam tulisan-tulisannya sejak dulu), satu di Paris, lainnya di Jakarta. Ia menyadari bahwa, “Dapur adalah ruang kenangan, politik, dan kasih sayang yang tak pernah benar-benar sederhana. Ia kompleks dalam kesederhanaannya, ia sederhana dalam kekompleksannya.”
Mimi mengingatkan saya tentang pengalaman sebagai anak kecil laki-laki, yang duduk di dapur ramai, diisi gosip dan tawa tante-tante yang sedang masak besar. Di dapur Umi yang luas, ia biasanya mengomandani adik-adik, ipar, anak perempuan, dan ponakan-ponakan perempuannya bikin beberapa menu makan siang buat banyak sekali mulut.
Ada gosip, candaan, bahkan politik. Seperti obrolan tentang harga sayur, emas, selingkuhan bupati, alat dandan, bensin, bahkan cicilan baru tetangga. Tak jarang, mereka juga menurunkan pengetahuan tentang silsilah keluarga besar. Menyebut nama-nama keluarga jauh, yang mungkin hanya bertemu setahun sekali, atau sekali seumur hidup jika beruntung.
Lewat esainya, Mimi bukan cuma bicara tentang betapa politisnya dapur, ia juga berefleksi tentang kekuatan resep-resep yang disajikan redaktur-redaktur Api Kartini, majalah yang dikelola Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Post Press, penerbitan mandiri yang diasuh sepasang suami-istri, Maesy Ang dan Teddy W Kusuma, memang sengaja menjadikan majalah itu sebagai sumber inspirasi Memasak Harapan. Mereka dan para penulis lain memilih resep dari majalah itu, lalu menuliskan esai reflektif tentang perjuangan organisasi perempuan—yang konon pernah paling terbesar sedunia—itu.
Gerwani adalah gerakan perempuan yang menuntut dunia lebih adil. Kerja-kerja mereka mengorganisir perempuan tani dan buruh, mendirikan taman kanak-kanak, membuka pendidikan dan kursus, serta berusaha menaikkan umur boleh menikah bagi perempuan demi menghentikan praktik pernikahan paksa dan pernikahan anak.
“Di buku Kuntilanak Wangi, Saskia Wieringa pernah menuliskan bahwa Api Kartini pernah dijadikan strategi untuk menarik lebih banyak perempuan borjuis untuk terlibat dalam pergerakan,” tulis Asri Pertiwi Wulandari, salah satu penulis Memasak Harapan, dalam “Ke Mana Hantu Pulang Setelah Hantu Bergentayang?”.
Citra, organisasi, dan masa depan keturunan perempuan-perempuan progresif ini lalu dihancurkan Soeharto lewat propaganda anti-komunis yang disemainya setelah 30 September 1965. Lewat film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI bikinan Arifin C Noer yang dibiayai negara, Gerwani bahkan digambarkan sadis lewat adegan menyayat kemaluan jenderal tawanan di Lubang Buaya, Jakarta Timur.
Esai Mimi menyadarkan saya tentang jarak antara Umi dan perempuan-perempuan dalam keluarga saya dengan para ibu-ibu Gerwani.
Baca juga: #MerawatIngatan65: Saya Melihat Diri Saya dalam Sudjinah, Jurnalis dan Anggota Gerwani
Mereka sangat jauh, sekaligus dekat sekali. Jauh karena Umi dan kebanyakan keluarga kami lebih dekat dengan politik anti-komunisme selama Orde Baru. Tapi, dekat sekali karena yang diperjuangkan perempuan-perempuan Gerwani adalah yang dibutuhkan Umi sampai perempuan generasi hari ini: yang masih dipaksa berpikir dapur adalah urusan perempuan, dan karenanya jauh dari meja politis pembuat kebijakan.
“Resep adalah sesuatu yang personal,” tulis Mimi. “…juga sesuatu yang politis. Kebanyakan perempuan akan menerima warisan resep dari ibunya dan/atau tambahan satu-dua hal dari mertuanya sebelum menikah. Resep itu bukan hanya selera keluarga, melainkan juga sejarah dari keluarga tersebut.”
Lewat Api Kartini, para redaktur menunjukkan perempuan dan dapur selalu politis. Resep masakan bisa berdampingan dengan gagasan tentang kesejahteraan keluarga, pendidikan, imperialisme, dan persoalan sosial. Dapur bukan ruang yang berseberangan dengan dunia politik; ia bahkan salah satu tempat paling politis karena permasalahan kehidupan sehari-hari, seperti harga bahan pangan, dimulai.
Sesuatu yang juga dikeluhkan dan disebarkan para perempuan di keluarga saya lewat gosip di dapur. Gosip dulu saya kira, memang sesuatu yang remeh, tidak produktif, bahkan identik dengan perempuan, sehingga sering dianggap tidak serius. Padahal, kata James C Scott (Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance, 1985), gosip adalah senjata kaum lemah.
Mereka yang berada di bawah kuasa tak selalu leluasa melawan secara terbuka. Perlawanan itu bergerak diam-diam lewat gosip, rumor, sindiran, atau humor. Sesuatu yang disebut Scott sebagai infrapolitik—perlawanan sehari-hari (everyday resistance) yang berlangsung di bawah permukaan, tanpa harus berhadap-hadapan dengan penguasa.
Selain tempat perlawanan, dapur tak bisa ditampik, juga tempat sebagian perempuan bekerja sampai lelah. Fakta yang mengingatkan saya pada Atam, tante—adik ayah—yang juga kami sekeluarga nobatkan sebagai koki andalan.
Rindu yang Tak Bisa Lagi Bertemu
Seminggu setelah ayah meninggal, Atam mengundang saya ke rumahnya. Saat itu ia sedang sakit, rematik dan gula darahnya tinggi. Tapi, dia memasakan acar ikan, satu menu favorit ayah dan saya. Waktu itu kami bertemu setelah bertahun-tahun tidak. Selain dipersatukan duka, kami ditubrukkan rindu menggebu-gebu.
Waktu kecil, saya pernah tinggal bersama Atam yang masih belum menikah saat itu. Ayah dan ibu menitipkan saya karena sekolah saya dan usaha cuci mobil mereka jauh, tidak satu kota. Di hari pertemuan itu, ada satu memori yang tidak bisa tidak bikin nangis tiap mengingatnya. Sambil sesenggukan, ia curhat tentang keletihan yang dirasakannya karena mengurus suaminya yang sudah setahun terakhir lumpuh setengah badan karena saraf kejepit. Mereka punya PRT, tapi di tengah kondisinya yang juga sakit, kelelahan itu mustahil tidak menggerus tubuhnya.
Mereka hanya tinggal berdua, karena semua anak tirinya sudah berkeluarga. Kesepian juga jadi lapisan lain asal tangis itu. Seminggu kemudian, Atam meninggal.
Memori tentang salah satu perempuan paling saya sayangi ini berhamburan jadi tangis sesenggukan saat membaca “Agar-Agar Selalu Ingat”, tulisan Riz Adhima di buku ini.
Esai itu sebetulnya, mungkin, adalah yang paling sederhana dan santai. Riz menuliskan pengalamannya memasak agar-agar dari Api Kartini. Membacanya seperti menonton tutorial memasak di Youtube, sambil dua orang sahabat bercerita tentang sejarah Gerwani. Riz mengenalkan persahabatan tokoh-tokoh Gerwani: Mia Bustam, Fransisca Fanggidaej, SK Trimurti, Siti Rukiah, Umi Sardjono, Carmel Budiardjo, dan Charlotte Salawati Daud.
Baca juga: #MerawatIngatan65: “Hantu” Gerwani, Kenapa Perempuan Berani Selalu Dicurigai
Tangis saya pecah karena membayangkan pengorbanan perempuan-perempuan progresif itu untuk membebaskan lebih banyak perempuan, kesejahteraan mereka. Termasuk perempuan seperti Atam.
Buah pengorbanan itu adalah siksaan rezim lalim yang teramat mengerikan. Ada yang harus berpisah dari anaknya, ada yang berkelahi dengan sahabat sendiri, ada yang dipenjarakan berpuluh tahun. Bahkan seperti yang direkam buku-buku lain, macam Suara Perempuan Korban Tragedi ‘65 karya Ita F Nadia, Penghancuran Gerakan Perempuan: Politik Seksual di Indonesia Pascakejatuhan PKI karya Saskia Wieringa, siksaan fisik, kekerasan seksual, hingga penghapusan identitas telah tercatat.
Lewat percakapan santainya, Riz juga berhasil bikin nama-nama itu dikenang sebagai manusia, bukan tokoh semata.
Cerita-cerita dalam Memasak Harapan tidak cuma sedang mengingatkan kita lagi pada perjuangan Gerwani, dan sejarah mereka yang dihapus dan dipelintir Orba. Di saat bersamaan, esai-esai hidangan Post Press ini juga sedang menghangatkan lagi kesadaran kita tentang perjuangan-perjuangan yang tidak pernah basi, meski terus-terusan dihunjam represi. Betapa mudahnya kehidupan perempuan hilang, sementara kerja-kerja mereka terus dinikmati orang lain: makanan yang mereka masak, anak yang mereka rawat, rumah yang mereka jaga, pengetahuan yang mereka wariskan.
Memasak Harapan bukan cuma sedang menanak lagi ingatan-ingatan kita agar Gerwani, perempuan-perempuan yang kita cintai, dan kerja-kerja mereka tetap hangat. Sebab, ingatan memang perlu terus dirawat, meski mereka yang menyimpan sejarah itu telah lama pergi, meski upaya-upaya negara meniadakannya begitu keras dan keji, meski rindu kita pada mereka yang pergi tak bisa lagi bertemu.





















