Women Lead
August 20, 2021

Terbelahnya Fans Jerinx Lihat Idola Divaksin

Saat sosok yang diidolakan ‘mengkhianati’ idealisme, para penggemar Jerinx mempertanyakan keberpihakannya pada polemik COVID-19.

by Aurelia Gracia, Reporter
Issues
Share:

Kolom komentar Instagram @true_jrx milik musisi I Gede Ari Astina—atau Jerinx, ramai oleh pro kontra penggemarnya, usai menerima suntikan vaksin Sinovac pertama di Polda Metro Jaya, (15/8). Mereka menilai idealisme Jerinx sudah luntur, mengingat pada April 2020 ia “mengedukasi” pengikutnya di Instagram, dengan teori konspirasi vaksin COVID-19.

Selain menyangkut idealisme, kebanyakan penggemar berasumsi idolanya rela divaksin demi membahagiakan istri, Nora Alexandra, yang sedang menjalani program hamil. Oleh karena itu, Jerinx pun menarik diri dari polemik COVID-19 per Juli lalu, untuk fokus berkeluarga. 

Berdasarkan komentar mereka di Instagram Jerinx maupun Nora, secara tidak langsung para penggemar menyudutkan sang istri, lantaran dianggap memaksa vaksin dan mengubah sosok yang diidolakan mati-matian itu, baik yang pro atau kontra terhadap keputusan Jerinx.

“Sudah waktunya Bli Jerinx membahagiakan istri dan keluarganya, karena saat peristiwa buruk menimpa, hanya orang terdekat yang susah dan merasa sedih.” 

“Ini memang hak Jerinx dan saya menghargai keputusan itu, tapi saya kecewa dengan pilihannya. Saya rindu Jerinx yang berkoar-koar membangkitkan semangat di dunia maya, tapi sekarang berubah 180 derajat. Semoga kalian berdua hidup bahagia.”

Kalimat tersebut adalah contoh komentar penggemar di Instagram. Mereka tampaknya berusaha menyangkal, karena belum bisa menerima alasan Jerinx untuk divaksin. Sementara, berkali-kali Jerinx menegaskan di media sosial, ia divaksin atas keinginannya sendiri dan membutuhkan surat vaksin untuk berbagai administrasi, setelah berkonsultasi dengan seorang virolog kepercayaannya. Namun, hal tersebut tampaknya belum cukup kuat bagi para penggemar untuk menerima perubahan ideologi figur publik pujaannya, sehingga mereka berada dalam pemikirannya sendiri.

Baca Juga: Histeria Anti-Vaksin Perempuan dan 4 Mitos di Baliknya

Dalam Encyclopedia of lying and deception (2014), T.R. Levine, akademisi asal Amerika Serikat menjelaskan, penyangkalan merupakan bentuk pertahanan diri dari ancaman, yang berujung pada rasa tidak nyaman. Dalam konteks penggemar Jerinx, mereka sedang berusaha mendamaikan perbedaan persepsi antara yang diinginkan, dengan realitas yang baru terjadi.

Namun, di antara penggemar yang menunjukkan perseteruannya, “Malik” justru menganggap Jerinx mengambil langkah tepat, karena ia adalah figur publik yang memiliki pengaruh besar. 

Saat diwawancara Magdalene, (16/8), ia menyebutkan, Jerinx adalah role model, sehingga pilihannya akan memengaruhi banyak orang untuk mengikuti jejaknya, dan membantu Indonesia agar cepat pulih.

“Apalagi tahun lalu dia selalu ngomongin konspirasi dan bikin masyarakat terpecah. Keputusannya ini kan diambil dari hati nurani, bukan endorse atau paksaan, jadi bisa mendorong anak muda,” tuturnya. 

Idola Membentuk Konstruksi Diri Penggemar

Akademisi Grace Leung dalam penelitian berjudul “Study on The Influence of Media on Youth” (1999) mengatakan, penggemar muda umumnya tertarik dengan idola mereka karena penampilan di atas panggung, penampilan fisik, karakternya dinilai baik, dan berbagai kualitas diri lainnya.

Dalam wawancara bersama Magdalene, (18/8), “Iqbal”, 23, memaparkan alasannya mengidolakan Jerinx. Menurutnya, zaman sekarang tidak banyak figur publik yang berani menyuarakan pemikirannya secara lantang, terutama jika pemikiran tersebut berbeda dari kebanyakan orang.

“Awalnya saya takut banget sama COVID-19. Setelah melihat Jerinx kasih perspektif lain di Instagram, saya pikir dia benar juga, virus ini enggak terlalu membahayakan,” ujar Iqbal.

Penelitian bertajuk “Idol Consumption and Identity Construction: A Study of the Young Fans of Popular Singers in Hong Kong” (2002) oleh Cheung Ka-Ki dari The Chinese University of Hong Kong menjelaskan, seseorang membangun dan merekonstruksi identitas berdasarkan citra idolanya, yang dianggap memfasilitasi pengembangan identitasnya.

Baca Juga: Adakah Cara Berduka yang Tepat Saat Pandemi?

Saat memuja sosok idola, penggemar cenderung menilai mereka sebagai proyeksi diri, dan mengidealkan nilai-nilai yang dimiliki idolanya sebagai representasi diri. Hal ini dilakukan oleh Iqbal yang mengaku senang mengunggah konten milik Jerinx ke laman Instagramnya.

“Dulu saya suka repost pendapatnya tentang COVID-19, sekarang malu karena dia divaksin,” tuturnya.

Sebagai penggemar, cara Iqbal berpikir dan gayanya mengonsumsi informasi terpengaruh oleh Jerinx, karena ia menginternalisasi citra diri idolanya hingga menjadi bagian dari dirinya.

Ia pun merasa “ditelantarkan”, dan semestinya Jerinx mengklarifikasi dan meminta maaf atas keputusannya ini.

“Ibaratnya, Jerinx ini udah membawa penggemarnya naik perahu, tapi kita ditinggal di tengah laut. Makanya menurut saya, dia perlu minta maaf dan klarifikasi di publik, kalo enggak ya keterlaluan sih karena enggak ada tanggung jawabnya,” jelas Iqbal.

Sikap berbeda ditunjukkan oleh Malik. Ia malah kecewa dengan pendukung yang memojokkan Jerinx dan Nora, bahkan sampai meninggalkan komentar kasar.

“Kalau memang penggemar, seharusnya mengerti keadaan Jerinx seperti apa. Mereka terlalu terbentur antara Jerinx dan konspirasi, seakan-akan dia anti vaksin, padahal dia enggak pernah bilang begitu. Jerinx hanya mengkritik kebijakan pemerintah dalam menangani pandemi,” terangnya.

Baca Juga: ARMY, Kamu Berharga, Begitu Juga Perasaanmu

Upaya Penggemar Memenuhi Pemikirannya

Jika dilihat dari bias kognitif, pemikiran para penggemar Jerinx disebut sebagai motivated reasoning. McIntyre dalam Post-Truth (2018), mendefinisikannya sebagai gagasan saat seseorang melihat realitas berdasarkan keyakinannya. 

Akibat kekecewaannya terhadap drummer SID tersebut, Iqbal merasa kehilangan sosok yang dapat mewakili opininya. Ke depannya, ia berencana tidak mengikuti opini Jerinx lagi, tapi beralih ke figur lainnya yang dapat memenuhi pemikirannya.

Merujuk pada psikolog sosial asal Israel, Ziva Kunda, dalam “The case for motivated reasoning” (1990), perilaku tersebut tergolong dalam salah satu aspek motivated reasoning, yakni accuracy goals. Aspek ini digambarkan saat seseorang memilih mengonsumsi informasi, yang dinilai membuat pemikirannya tampak lebih tepat, atau sebagai bukti pendukung kesimpulan dalam mempertahankan argumen.

Para penggemar umumnya sering terpapar unggahan tokoh pujaannya di media sosial, atau lewat berita di media massa. Oleh karena itu, pola pikir dan reaksi emosional mereka terbentuk berdasarkan intensitas dalam mengakses konten terkait idolanya, serta merasa telah mengenal mereka dengan lebih baik.

Berdasarkan peristiwa Jerinx divaksin beserta respons penggemarnya, kita dapat menyimpulkan untuk tidak menyandarkan perilaku, pemikiran, hingga idealisme pada satu tokoh, karena mereka hanya pemberi insight kehidupan. Pada akhirnya, yang bertanggung jawab atas diri kita adalah kita sendiri.

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.