16/10/2026
Lifestyle

Underconsumption Core: Mengurangi Belanja Tanpa Harus Hidup Serba Terbatas, Emang Bisa?

Di tengah banjir konten haul dan produk viral, underconsumption core mengajak kita meninjau ulang kebiasaan belanja. Namun, mengurangi konsumsi tak harus berubah menjadi tuntutan untuk hidup serba terbatas.

  • October 16, 2026
  • 9 min read
  • 10 Views
Underconsumption Core: Mengurangi Belanja Tanpa Harus Hidup Serba Terbatas, Emang Bisa?

Di media sosial, kita sering melihat video haul, unboxing, koleksi skincare yang terus bertambah, sampai pakaian baru yang seolah tak ada habisnya. Di tengah budaya belanja ini, muncul tren underconsumption core yang justru menampilkan hal sebaliknya: sepatu yang sudah dipakai bertahun-tahun, produk perawatan yang tinggal sedikit, atau pakaian lama yang masih jadi andalan.

Tren yang ramai di TikTok ini mengajak orang melihat kembali kebiasaan belanja mereka. Barang baru memang bisa menarik, apalagi ketika terus muncul di linimasa. Namun, apakah kita benar-benar membutuhkannya, atau sekadar tergoda karena sedang tren?

Di Indonesia, tren ini juga mendapat perhatian. Dalam artikel The Jakarta Post, Why buy it, ask Indonesians as ‘underconsumption’ trend takes hold, tren underconsumption dibahas dalam konteks kebiasaan masyarakat membeli dan menggunakan barang. Alih-alih terus mengejar produk terbaru, tren ini mengajak orang memanfaatkan apa yang sudah dimiliki sebelum memutuskan untuk berbelanja lagi.

Baca Juga: Potensi ‘Sustainable Fashion’ di Indonesia

Apa Itu Underconsumption Core?

Underconsumption core adalah tren gaya hidup yang menekankan penggunaan barang secara optimal dan mengurangi pembelian yang tidak diperlukan. Istilah ini menggabungkan kata underconsumption, yang merujuk pada konsumsi lebih sedikit, dengan core, istilah yang populer di media sosial untuk menggambarkan estetika atau gaya hidup tertentu.

Tren ini muncul sebagai respons terhadap budaya konsumsi yang mendorong orang terus membeli barang baru. Di media sosial, keinginan tersebut bisa tumbuh melalui video belanja, rekomendasi influencer, produk viral, atau konten yang menampilkan koleksi barang dalam jumlah besar.

Dalam artikel The Guardian, It is OK to be content with your simple life’: is ‘underconsumption core’ the answer to too much shopping?, tren ini dibahas sebagai bentuk respons terhadap konsumerisme. Artikel tersebut juga mengangkat pertanyaan kritis: apakah kebiasaan menggunakan barang lama dan memperbaiki barang yang rusak memang sesuatu yang baru, atau justru praktik sehari-hari yang kini dikemas sebagai tren media sosial?

Pertanyaan tersebut penting karena kebiasaan konsumsi yang lebih sadar tidak harus selalu memiliki label atau estetika tertentu. Seseorang bisa menerapkan prinsip ini dengan menghabiskan produk perawatan sebelum membeli yang baru, memperbaiki barang yang rusak, atau menggunakan ponsel selama perangkat tersebut masih memenuhi kebutuhan.

Baca Juga: Benarkah Membayangkan Skenario Terburuk Bikin Hidup Bahagia?

Perbedaan Underconsumption Core dan Minimalisme

Sekilas, underconsumption core mirip dengan minimalisme karena keduanya mendorong seseorang lebih sadar terhadap barang yang dimiliki. Namun, penekanannya berbeda.

Minimalisme umumnya dikaitkan dengan upaya menyederhanakan kehidupan dan mengurangi kepemilikan barang agar ruang dan perhatian dapat diarahkan pada hal yang dianggap penting. Sementara itu, underconsumption core lebih berfokus pada pola konsumsi sehari-hari, termasuk keputusan untuk tidak membeli barang baru ketika barang lama masih berfungsi.

Seseorang tidak harus mengosongkan lemari atau membatasi jumlah pakaian agar bisa menerapkan tren ini. Memiliki banyak barang juga tidak otomatis berarti konsumtif, terutama jika barang-barang tersebut memang dibutuhkan dan digunakan.

Ukuran yang lebih relevan adalah bagaimana seseorang mengambil keputusan sebelum membeli, merawat barang yang dimiliki, dan menilai apakah suatu pembelian benar-benar diperlukan. Dengan begitu, underconsumption core dapat diterapkan tanpa harus mengubah seluruh gaya hidup.

Ciri-Ciri Gaya Hidup Underconsumption Core

Ada beberapa kebiasaan sederhana yang mencerminkan prinsip underconsumption core:

  • Menggunakan barang sampai masa pakainya selesai. Produk perawatan dihabiskan sebelum membeli yang baru, selama masih aman digunakan. Pakaian dan perangkat elektronik juga tidak perlu diganti hanya karena muncul model terbaru.
  • Memperbaiki barang yang masih layak. Tas dengan jahitan lepas atau pakaian dengan kancing yang hilang bisa diperbaiki jika biaya dan kondisinya memungkinkan.
  • Memanfaatkan barang yang sudah tersedia. Sebelum berbelanja, seseorang memeriksa isi lemari, persediaan produk perawatan, atau bahan makanan agar tidak membeli barang serupa secara berlebihan.
  • Mempertimbangkan kebutuhan sebelum mengikuti tren. Produk yang sedang viral tidak otomatis harus dimiliki. Keputusan membeli sebaiknya didasarkan pada fungsi, prioritas, dan kemampuan finansial.
  • Tidak menjadikan kesederhanaan sebagai ajang pembuktian. Seseorang tidak perlu memamerkan barang lama atau membandingkan jumlah belanja dengan orang lain untuk membuktikan dirinya tidak konsumtif.

Kebiasaan memakai barang lebih lama juga berkaitan dengan konsumsi berkelanjutan. Dalam publikasi Sustainable Consumption and Production Policies, United Nations Environment Programme (UNEP) membahas pentingnya menggunakan sumber daya secara lebih efisien dan mengurangi dampak lingkungan dari produksi hingga pembuangan barang.

Dalam keseharian, ini bisa dimulai dari hal sederhana: memperbaiki tas yang rusak, memakai pakaian yang masih layak, atau tidak buru-buru mengganti ponsel yang masih berfungsi. Kebiasaan ini memang tidak serta-merta menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi bisa membantu mengurangi pembelian yang sebenarnya belum diperlukan.

Bagaimana Media Sosial Memengaruhi Kebiasaan Belanja?

Konten haul, rekomendasi produk viral, dan promosi influencer bisa membuat kita tergoda membeli barang yang sebenarnya belum dibutuhkan. Apalagi kalau produk yang sama muncul berulang kali di linimasa, sampai kita merasa ikut memilikinya akan membuat kita tidak ketinggalan tren.

Hal ini juga diteliti Komal Shamim dan Muhammad Azam dalam jurnal Humanities and Social Sciences Communications, lewat studi berjudul The Power of Social Media Influencers: Unveiling the Impact on Consumers’ Impulse Buying Behaviour. Penelitian terhadap 481 pengikut influencer itu menemukan bahwa kredibilitas komunikasi influencer berkaitan dengan kepercayaan pada unggahan bermerek dan dorongan untuk membeli secara impulsif. Pengetahuan konsumen tentang strategi persuasi juga berperan dalam hubungan tersebut.

Temuan ini memberi gambaran mengapa keputusan belanja bisa dipengaruhi oleh konten yang kita lihat sehari-hari. Bukan berarti semua rekomendasi influencer harus dihindari, tetapi kita bisa berhenti sejenak sebelum ikut membeli. Apakah barang itu memang dibutuhkan, atau kita baru menginginkannya setelah melihat orang lain memakainya?

Di tengah derasnya rekomendasi produk, underconsumption core menawarkan sudut pandang berbeda: kita bisa tetap menikmati konten fashion dan kecantikan tanpa harus menjadikan setiap barang yang lewat di linimasa sebagai daftar belanja.

Apakah Underconsumption Core Selalu Baik?

Meski begitu, underconsumption core bukan berarti semua barang harus dipakai selama mungkin. Smartphone yang masih berfungsi tentu tak perlu buru-buru diganti hanya karena model terbaru sudah keluar. Namun, kalau perangkat itu sudah tak bisa menunjang pekerjaan, menggantinya bisa jadi kebutuhan. Begitu pula dengan sepatu yang solnya sudah aus atau produk perawatan yang kedaluwarsa. Memaksakan diri mempertahankan barang dalam kondisi seperti itu justru bisa merugikan.

Tren ini juga punya sisi lain. Dalam artikel The Guardian ‘It is OK to be content with your simple life’: is ‘underconsumption core’ the answer to too much shopping?, Sara Radin membahas bagaimana underconsumption core menjadi bagian dari perbincangan tentang kebiasaan belanja dan gaya hidup sederhana di media sosial. Ketika kebiasaan sehari-hari ikut menjadi tren, ada risiko perhatian bergeser dari apa yang benar-benar dibutuhkan ke bagaimana gaya hidup itu ditampilkan. Memakai baju lama, misalnya, tak harus menjadi cara untuk membuktikan bahwa kita tidak konsumtif.

Kita juga tak harus merasa bersalah setiap kali membeli barang baru. Selama barang itu memang dibutuhkan dan anggarannya memungkinkan, membelinya bukan berarti gagal menerapkan underconsumption core.

Baca Juga: Cari Validasi dari Diri, Bukan Instagram Story

Cara Menerapkan Underconsumption Core Tanpa Berlebihan

Menerapkan underconsumption core tidak berarti berhenti berbelanja sepenuhnya. Kamu bisa memulainya dengan kebiasaan kecil yang realistis dan sesuai dengan kebutuhan sehari-hari.

1. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan

Sebelum membeli sesuatu, pertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya menarik karena sedang populer. Sepatu baru mungkin diperlukan ketika sepatu lama sudah rusak, tetapi belum tentu dibutuhkan jika sepatu yang sekarang masih nyaman digunakan.

Kamu juga bisa membuat daftar belanja dan memberi jeda sebelum melakukan transaksi. Selama menunggu, pertimbangkan apakah barang tersebut akan sering digunakan, apakah kamu sudah memiliki barang dengan fungsi serupa, dan apakah pembeliannya sesuai anggaran.

2. Maksimalkan Barang yang Sudah Dimiliki

Periksa kembali barang-barang di rumah sebelum membeli yang baru. Kamu bisa mencoba kombinasi pakaian berbeda, memanfaatkan bahan makanan yang tersedia, atau menghabiskan produk perawatan yang masih sesuai dengan kebutuhan.

Jika barang rusak, pertimbangkan apakah barang tersebut masih bisa diperbaiki dengan biaya yang masuk akal. Tidak semua barang harus dipertahankan, tetapi barang yang masih berfungsi juga tidak perlu diganti hanya karena sudah lama dimiliki.

3. Kurangi Belanja karena FOMO

Fear of missing out (FOMO), atau rasa takut tertinggal, dapat mendorong seseorang membeli barang hanya karena orang lain memilikinya. Paparan konten produk viral dan rekomendasi influencer yang berulang dapat membuat barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan terasa penting.

Untuk mengurangi pengaruhnya, kamu bisa membatasi notifikasi promosi, menyimpan produk ke daftar keinginan tanpa langsung membelinya, atau berhenti mengikuti akun yang memicu dorongan belanja berlebihan. Kamu tetap bisa menikmati konten fashion dan kecantikan tanpa harus membeli setiap produk yang muncul.

4. Buat Anggaran yang Realistis

Coba cek pengeluaran bulanan untuk mengetahui kategori belanja yang paling sering membengkak. Jika pembelian pakaian atau produk perawatan kerap tidak direncanakan, tentukan batas pengeluaran yang sesuai dengan kondisi keuangan.

Namun, anggaran bukan alat untuk menghukum diri sendiri ketika harus membeli sesuatu di luar rencana. Sisakan ruang untuk kebutuhan mendadak dan hiburan. Tujuannya bukan menghilangkan semua pengeluaran yang menyenangkan, melainkan memastikan uang digunakan sesuai prioritas.

5. Ganti Barang Ketika Memang Diperlukan

Jangan memaksakan diri menggunakan barang yang sudah tidak layak hanya demi mengikuti tren. Sepatu yang berisiko menyebabkan cedera, perangkat yang tidak lagi mendukung pekerjaan, atau produk yang sudah kedaluwarsa perlu ditangani sesuai kondisi dan tingkat keamanannya.

Jika barang masih bisa diperbaiki secara wajar, memperbaikinya bisa menjadi pilihan. Namun, jika sudah tidak aman atau tidak berfungsi, membeli pengganti merupakan keputusan yang masuk akal.

6. Terapkan Secara Bertahap

Kamu tidak perlu mengubah seluruh kebiasaan konsumsi sekaligus. Mulailah dari satu kategori, seperti pakaian, produk perawatan, atau perlengkapan rumah. Setelah beberapa minggu, evaluasi apakah perubahan tersebut membantu mengurangi pembelian impulsif dan membuat pengeluaran lebih terarah.

Jika suatu aturan terasa tidak sesuai dengan kebutuhan, kamu boleh menyesuaikannya. Tidak ada kewajiban untuk mengikuti cara orang lain menerapkan underconsumption core secara persis.

Kita tidak harus membeli barang baru setiap kali muncul tren, tetapi bukan berarti setiap pembelian juga perlu disertai rasa bersalah. Kalau barang yang kita punya masih berfungsi, tidak ada salahnya memakainya lebih lama. Sebaliknya, kalau memang sudah perlu diganti, kita tidak perlu merasa gagal menerapkan underconsumption core. Yang penting, keputusan belanja enggak melulu ditentukan oleh apa yang sedang viral atau apa yang dimiliki orang lain.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

Ilustrasi oleh Karina Tungari

About Author

Kevin Seftian

Kevin merupakan SEO Specialist di Magdalene, yang sekarang bercita-cita ingin menjadi dog walker.

Click to access the login or register cheese

Royal ID adalah kunci utama akunmu. Di situs top up royal dream yang benar, Royal ID hanya dipakai untuk mengirim koin ke karakter yang tepat, bukan untuk mengakses akun. Tidak ada alasan bagi layanan mana pun untuk meminta password, PIN, atau kode OTP yang kamu terima lewat SMS. Kalau ada yang meminta hal itu, itu tanda bahaya dan sebaiknya segera ditinggalkan.