16/10/2026
Issues Politics & Society Safe Space

#MerawatIngatan65: Senandung Dialita, Menjaga Cerita, Melawan Lupa

Lewat lagu, Dialita melawan penghapusan sejarah kekerasan negara dan mewariskan kisah para penyintas kepada generasi muda.

  • October 16, 2026
  • 7 min read
  • 17 Views
#MerawatIngatan65: Senandung Dialita, Menjaga Cerita, Melawan Lupa

Kerinduan terhadap ibu tak lagi dapat dibendung oleh Utati Koesalah, 82 atau akrab disapa Tati. Setahun sejak ditahan di Penjara Bukit Duri pada 1967, ia tak pernah sekali pun bertemu atau berkirim pesan dengan sang ibu.

Cemas menyelimutinya, ia selalu bertanya-tanya bagaimana keadaan ibu di kampung, dan apakah sang ibu sudah tahu bahwa dirinya ditahan sebagai tahanan politik di Jakarta. Perlahan-lahan, kecemasan itu mulai memakan pikiran Tati. Kewarasannya diuji saat ia diisolasi dari dunia luar selama bertahun-tahun.

Namun, Tati berusaha menjaga kewarasannya lewat musik. Untuk mengalihkan pikiran cemas tersebut, Tati mulai merangkai kata-kata dan nada di dalam ingatannya karena pensil dan kertas dilarang di penjara. Sesekali ia mencuri kesempatan menulis lirik atau nada ketika meminjam pensil dan kertas dari kepala blok penjara.

Dari keresahannya itu, lahirlah lagu berjudul “Ibu” yang menggambarkan kerinduannya.

Terkenang selalu kasihmu nan sejati

Cintamu yang abadi ikhlas dan murni

Teringat selalu belai sayangmu Ibu

Kata dan nasihatmu terngiang selalu

Harapanku padamu, sehatlah selalu

Sejak remaja Tati memang gemar menyanyi. Hobinya itu mendorongnya bergabung ke organisasi Pemuda Rakyat. Namun, pasca peristiwa 1965, organisasi tersebut dituduh terlibat peristiwa G30S. Mereka dipaksa mengakui keterlibatannya dalam peristiwa Lubang Buaya. Tati menolak tuduhan itu karena ia mengaku tidak tahu-menahu soal peristiwa Lubang Buaya.

“Saya menolak semua (tuduhan) itu karena memang tahu saja enggak kejadian-kejadian itu. Saya bingung ya, kenapa kok jadi begini?” ujarnya saat diwawancara Magdalene (8/10). Tati mengalami kebingungan, begitu pun teman-temannya yang tergabung di Pemuda Rakyat. Mereka tidak pernah terlibat peristiwa yang dituduhkan, tetapi dipaksa mengaku.

“Bingung karena saya merasa teman saya baik-baik kok, (dan) jujur. Kami itu (di organisasi) seruan pertama yang kita harus jaga adalah baik belajar, baik bekerja, dan baik moral,” ucapnya.

Hal yang sama menimpa anggota Pemuda Rakyat lain, yakni Mujiati (77). Saat ditangkap, Mujiati masih berusia 17 tahun. Sebelum ditangkap, rumah Mujiati digeledah oleh pihak militer pasca peristiwa 1965.

“Di rumah didatangi dari Koramil, pertama bapak saya. Rumah kami digeledah, dicari-cari alat pencungkil mata. Ya, enggak ada apa-apa (enggak ditemukan bukti),” kisahnya kepada Magdalene.

Kendati demikian, ia dan ayahnya tetap diseret ke Kodim Air Mancur (sekarang Bank Indonesia), Jakarta Pusat, untuk dipaksa mengaku bahwa mereka terlibat peristiwa Lubang Buaya. Mujiati dengan tegas menolak tuduhan itu, tetapi justru siksaan yang ia dapat.

Setelah diperiksa di Kodim, Mujiati dipindahkan ke Penjara Bukit Duri dan ditugaskan mengurus dapur, sebelum akhirnya dipindah ke Plantungan, Jawa Tengah pada 1971.

Baca juga: #MerawatIngatan65: “Anak Orang Terlibat”: Saat Cinta dan Cita Terhalang Stigma Negara

Dari Penjara ke Panggung

Tati baru menghirup udara bebas pada 1978, setelah menjalani 11 tahun masa penjara. Sementara Mujiati dibebaskan pada 1979, ia merupakan bagian dari gelombang terakhir tahanan politik perempuan yang dibebaskan dari Plantungan.

Kendati sudah bebas, mereka masih dijerat stigma, cibiran, dan pengawasan dari pemerintah. Muji bercerita, setelah bebas para eks tahanan politik (tapol) masih diwajibkan melapor secara rutin ke Koramil setempat. Selain itu, KTP milik para eks tapol juga diberi tanda khusus.

“Dan di KTP-nya ada tandanya (ET/Eks Tapol) itu lah. Pasti tetangga-tetangga itu ya tahu siapa kami. Kami tidak bisa bebas seperti orang-orang lain. Kita harus bisa membatasi diri,” ujarnya.

Tati mengatakan, sejak bebas ia harus berjuang mencari nafkah dan bertahan hidup di tengah masyarakat. “Bagaimana caranya hidup di luar, mencari makan, juga bertahan dengan semua cibiran,” cerita Tati.

Sembari membangun kembali kehidupan, Tati dan Muji berusaha mengingat dan menuliskan nada serta lirik lagu-lagu yang dulu dirangkai atau dihafalkan bersama sesama tahanan. Pada sekitar tahun 2000, Tati bertemu dengan Uchikowati Fauzia atau Uchi, yang juga penyintas tragedi 1965. Bersama-sama mereka menginisiasi pengumpulan lagu-lagu yang diciptakan eks tapol di dalam penjara untuk mengabadikan sejarah.

Kemudian Pasca-Reformasi, para penyintas dan keluarga berkumpul dalam Komunitas Peduli Ibu dan Anak untuk membantu sesama penyintas yang sakit atau kesulitan ekonomi dengan menjual pakaian dan barang bekas.

Saat berkumpul memilah baju dan barang bekas, para perempuan penyintas gemar bernyanyi lagu-lagu lama bersama. Dari kebiasaan itu muncul ide membentuk grup vokal untuk mengamen guna mencari dana bantuan sosial.

“Ketika kami berkumpul memilah-milah pakaian, karena sebagian ada yang senang bernyanyi, semua senang bernyanyi, kami menyanyi-nyanyi lagu zaman dulu. Terus ada yang mengusulkan gimana kalau kita membentuk vocal group, tujuannya untuk ngamen mencari uang membantu ibu-ibu yang membutuhkan,” kisah Nasti Nukramawati, 79, salah satu keluarga penyintas yang tergabung di Paduan Suara Dialita.

Pada 4 Desember 2011 di Bogor, Tuti Hartoyo mengusulkan nama Dialita (Di Atas Lima Puluh Tahun), yang kemudian ditetapkan sebagai hari lahir paduan suara ini.

Awalnya, Dialita hanya menyanyikan lagu-lagu nasional saat mengamen. Namun, dari arsip yang berhasil dikumpulkan Tati dan penyintas lainnya, mereka mulai menyanyikan lagu-lagu yang diciptakan eks tapol di penjara.

Ingrid Irawati atau Ira, Manajer Dialita, menerangkan Dialita hadir sebagai alat rekonsiliasi sejarah melalui jalur budaya.

“Untuk perjuangan kawan-kawan dan keluarga ’65 itu kan ada perjuangan politik, ada perjuangan hukum, ada berbagai jalur. Nah, kalau dari kami di Dialita kemudian menggunakan jalur yang lain untuk perjuangan yang sama, yaitu rekonsiliasi budaya, rekonsiliasi sejarah, rekonsiliasi keluarga. Ini satu pendekatan yang dipilih sebagai satu alat yang strategis untuk bisa meraih semua sampai generasi muda,” paparnya.

Dialita sendiri saat ini telah memiliki dua album. Album pertamanya bertajuk Dunia Milik Kita (2016) dan Salam Harapan (2019). Lagu Ibu yang diciptakan Tati, masuk ke dalam album Salam Harapan.

Baca juga: #MerawatIngatan65: Saya Melihat Diri Saya dalam Sudjinah, Jurnalis dan Anggota Gerwani

Merawat Ingatan di Tengah Pemutihan Sejarah

Nasti menambahkan, tujuan lainnya dari Paduan Suara Dialita ialah menuturkan sejarah kepada generasi muda melalui musik.

“Tujuan (Dialita) yang tadinya hanya untuk membantu penyintas yang membutuhkan, akhirnya berkembang menjadi menceritakan peristiwa ‘65 pada generasi muda,” ujarnya.

Ketua Paduan Suara Dialita Uchikowati Fauzia mengatakan upaya merawat sejarah penting dilakukan, berkaca dari upaya-upaya rezim saat ini yang ingin memutihkan sejarah kekerasan masa lalu. Misalnya penyangkalan peristiwa perkosaan massal Mei ‘98 oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

“Dan ini sudah jelas ya dengan Fadli Zon menolak atau menyangkal peristiwa ‘98. Kalau ‘98 saja itu bisa disangkal, apalagi ‘65 yang sudah terjadi 61 tahun yang lalu. Oleh karena itu, kami korban peristiwa tahun ‘65 tetap mendukung upaya yang dilakukan oleh teman-teman gerakan masyarakat sipil menggugat di PTUN, walaupun gugatan ditolak tapi tetap itu adalah sebuah bentuk perjuangan, merawat ingatan, menolak lupa,” ungkap Uchi.

Uchi juga menilai situasi sosial-politik hari ini seperti menariknya kembali ke masa sebelum Reformasi. Ditandai dengan pembungkaman suara kritis, pemenjaraan demonstran, hingga kembalinya militer ke ruang sipil.

“Pada era saat ini, saat pemerintahan Prabowo-Gibran saya melihat kemunduran bagi demokrasi di Indonesia. Pembungkaman terhadap suara kritis makin brutal ditandai dengan penangkapan pemenjaraan terhadap demonstran pada Agustus 2025 hingga saat ini belum dibebaskan. Rakyat direpresi sedemikian rupa hingga menimbulkan ketakutan,” ucap Uchi.

“Jabatan publik banyak dipegang militer/polisi. Revisi UU Militer memberi ruang bagi militer untuk berkuasa. Sikap militeristik diterapkan di sekolah-sekolah yang dibikin pemerintah sekarang,” tambahnya.

Oleh karena itu, bagi Uchi, merawat ingatan tentang tragedi 1965 tidak bisa dilepaskan dari upaya melawan penyangkalan sejarah dan melawan kemunduran demokrasi yang terjadi hari ini. Penghapusan kisah korban dapat membuat generasi berikutnya kehilangan pemahaman tentang kekerasan yang pernah negara lakukan.

“Pemutihan-pemutihan sejarah yang dilakukan oleh negara dengan berbagai cara adalah sebuah kekejaman kemanusiaan, bukan hanya terhadap korban pelanggaran HAM berat, tetapi juga kepada bangsa Indonesia. Karena mereka telah membohongi bangsa ini, membohongi generasi-generasi berikutnya sehingga mereka tidak tahu sejarah masa lalu,” tegasnya.

Baca juga: #MerawatIngatan65: Jalan-jalan ke Rumah Para Jenderal dan Sejarah yang Berhenti di Malam 30 September ‘65

Lewat lagu, Dialita berjuang melawan pemutihan sejarah itu. Bagi Dialita lagu-lagu yang diciptakan para tahanan politik bukan sekadar cara untuk bertahan di tengah penahanan, tetapi juga menjadi arsip pengalaman yang berusaha dihapus dari sejarah.

Dengan terus menyanyikannya, Dialita menjaga agar kisah para penyintas tetap hidup dan dapat dikenali oleh generasi berikutnya. Sebab, setiap lagu menyimpan cerita tentang orang-orang yang pernah kehilangan kebebasannya, sekaligus mengingatkan pendengar pada sejarah yang melatarbelakanginya.

“Karena tidak akan ada yang pernah lupa, karena akan selalu ada yang ingat semua lagu-lagu ini. Dan kalau orang ingat lagu, kan otomatis kita selalu ingat latar belakangnya.” Pungkas Ira.

About Author

Muhammad Rifaldy Zelan

Muhammad Rifaldy Zelan adalah penyuka makanan pedas tapi gak suka berkeringat. Ia juga suka duduk-duduk di taman dengan pikiran kosong.

Click to access the login or register cheese

Royal ID adalah kunci utama akunmu. Di situs top up royal dream yang benar, Royal ID hanya dipakai untuk mengirim koin ke karakter yang tepat, bukan untuk mengakses akun. Tidak ada alasan bagi layanan mana pun untuk meminta password, PIN, atau kode OTP yang kamu terima lewat SMS. Kalau ada yang meminta hal itu, itu tanda bahaya dan sebaiknya segera ditinggalkan.