30/09/2026
Environment People We Love

Yasmin dan Yayasan Lohjinawi: Pemberdayaan Perempuan yang Dimulai dari Sampah

Sampah bisa jadi pintu masuk pemberdayaan perempuan. Yasmin membuktikannya lewat Yayasan Lohjinawi.

  • September 12, 2026
  • 5 min read
  • 314 Views
Yasmin dan Yayasan Lohjinawi: Pemberdayaan Perempuan yang Dimulai dari Sampah

Foto: Rose Hendrika/Magdalene

Pemberdayaan perempuan merupakan langkah penting agar perempuan memiliki kemandirian dan daya tawar dalam keseharian. Upaya tersebut tak selalu dimulai dari ruang formal, tetapi bisa tumbuh dari hal yang dekat, termasuk hal yangkerap dianggap sepele seperti sampah. Bagi Yasmin, sampah justru menjadi pintu masuk untuk membuka ruang pemberdayaan bagi perempuan sekaligus membangun kepedulian lingkungan.

Yasmin adalah Ketua Yayasan Lohjinawi dan sudah terlibat dalam program pengelolaan sampah di Surabaya sejak 2005. Perjalanannya dimulai ketika ia dipercaya untuk mengajak masyarakat terlibat dalam memilah dan mengelola sampah di tengah persoalan sampah yang kala itu terjadi di kota tersebut.

Pada awal tahun 2000-an, Surabaya tengah menghadapi krisis sampah. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Keputih ditutup dan terjadi transisi pembuangan sampah ke TPA Benowo.

Akibatnya, banyak sampah berserakan di jalan dan tak jarang dibakar warga.

“Nah saat itu, saya berangkat kerja pagi melihat ini sampah kok berserakan ya. Di sepanjang jalan itu selalu ada sampah menggunung, dibakar, dan lain-lain,” ungkap Yasmin.

Kondisi tersebut membuatnya melihat sampah sebagai “musuh bersama” warga Surabaya. Ia kemudian mengajak masyarakat mengelola sampah dari lingkungan terdekat agar persoalan sampah tidak hanya dipandang sebagai urusan petugas kebersihan.

Baca juga: Rio Putra Pratama: Kesetaraan Gender Bisa Dimulai dari Mengolah Sampah

Perubahan Dimulai dari Para Ibu Rumah Tangga

“Bu, Ibu mau tah pemandangan kotanya kayak begini?” kisah Yasmin saat memberikan sosialisasi programnya kepada masyarakat. Yasmin menjadikan perempuan, khususnya ibu rumah tangga, sebagai target awal program karena mereka menjadi pihak yang paling sering berhadapan dengan sampah rumah tangga. Dari ruang domestik tersebut, perempuan kemudian diajak terlibat dalam proses memilah sampah sekaligus mengenali nilai ekonomi dari sampah yang mereka kelola.

Mulanya, hanya lima orang yang bergabung dalam program tersebut. Jumlah itu kemudian bertambah seiring pesertamengajak anggota keluarga dan orang-orang di lingkungan sekitar untuk ikut memilah sampah. 

Program tersebut akhirnya tidak hanya menjadi upaya pengelolaan sampah, tetapi juga berkembang menjadi pemberdayaan ekonomi, khususnya bagi ibu rumah tangga. Sampah yang sebelumnya dibuang kemudian menjadi sesuatu yang dapat dikelola dan memiliki nilai bagi keluarga maupun lingkungan.

Berawal dari keberhasilan di satu kelurahan, Yasmin kemudian memperluas program ke kelurahan-kelurahan lainnya di Jawa Timur. Ia mendatangi satu per satu lurah dan kepala desa untuk memperkenalkan program tersebut sekaligus mendorong masyarakat agar mulai memilah sampah dari rumah.

“Dulu saya ketok-ketok (sosialisasi ke setiap lurah/kepala desa), akhirnya sekarang malah setiap hari mereka yang nanya: ‘Mbak bisa gak dibantu sosialisasi?’, ‘Mbak bisa dampingi gak?’, dan lain-lain. Akhirnya ini memang jadi satu kebutuhan dan warga Surabaya sendiri ngerasa kalau gak milah (sampah) juga gak enak karena memang sudah terbiasa,” ucap Yasmin.

Perkembangan inisiatif tersebut mendorong Yasmin mendirikan Yayasan Lohjinawi pada tahun 2012 dan menjalin kemitraan dengan Unilever Indonesia untuk mengembangkan berbagai program edukasi dan pengelolaan sampah. Lewat edukasi, Yasmin mengajarkan masyarakat cara memilah sampah organik dan anorganik, kemudian sampah yang telah dipilah akan dikumpulkan ke Lohjinawi untuk diolah kembali.

Hingga kini, Lohjinawi berhasil mengumpulkan dan mereduksi 25 ton sampah per bulan. Yayasan ini juga telah membentuk lebih dari 500 bank sampah dan memiliki 25 ribu penerima manfaat yang mayoritasnya merupakan perempuan.

Baca juga: Kepemimpinan Mama Papua: Saling Jaga, Lestarikan Laut lewat Tradisi Sasi

Tantangan Ada, tapi Manfaatnya Lebih Besar

Besarnya cakupan program tidak membuat proses pemberdayaan berjalan tanpa tantangan. Yasmin tidak menampik adanya tantangan dalam menjalankan programnya, terutama soal konsistensi, sehingga pendampingan kepada masyarakat menjadi bagian penting agar kegiatan memilah dan mengelola sampah tetap berjalan.

“Pendampingan itu penting banget. Jadi ketika kita masuk ke suatu wilayah, kita harus berkomitmen. Kita harus monitoring juga setelah masyarakat berhasil memilah sampah jangan sampai habis itu selesai. Harus ada pendampingan. Nah, pendampingan itu yang susah. Kadang ada warga yang malas, ada juga yang tidak disetujui oleh RT/RW setempat,” tuturnya.

Proses rekrutmen peserta juga masih menghadapi tantangan. Sebagian perempuan, terutama ibu rumah tangga, beberapa masih ragu mengikuti program karena harus membagi waktu dengan pekerjaan domestik, sehingga keterlibatan mereka membutuhkan penyesuaian dengan aktivitas sehari-hari.

Namun, Yasmin meyakinkan mereka bahwa program tersebut dapat dilakukan dengan mudah, tidak membutuhkan banyak modal, dan bisa menghasilkan uang sebagai tambahan penghasilan.

Pendekatan tersebut membuat pengelolaan sampah tidak hanya dikenalkan sebagai kegiatan menjaga lingkungan, tetapi juga sebagai aktivitas yang dapat memberi manfaat ekonomi.

Yasmin terus mengajak masyarakat, khususnya para ibu rumah tangga, untuk berpartisipasi dalam program tersebut. Pengelolaan sampah menjadi ruang bagi perempuan untuk terlibat langsung dalam menjaga lingkungan sekaligus memperoleh penghasilan dari sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.

Ketika perempuan diberi kesempatan untuk mengelola sampah, mereka tidak hanya ikut menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga dapat memperoleh penghasilan dan menikmati hasil dari kerja mereka sendiri. Bagi Yasmin, manfaat itu hadir dalam bentuk yang dekat dengan keseharian: rumah bersih, kampung bersih, sekaligus perempuan punya uang untuk dirinya sendiri.

“Nah, ketika mereka mau jalan-jalan, bisa pakai duit (dari pengolahan) sampah. Jadi rumahnya bersih, kampungnya bersih, dapat duit. Bisa healing, bisa jalan-jalan,” tutup Yasmin.

About Author

Muhammad Rifaldy Zelan

Muhammad Rifaldy Zelan adalah penyuka makanan pedas tapi gak suka berkeringat. Ia juga suka duduk-duduk di taman dengan pikiran kosong.

Click to access the login or register cheese

Royal ID adalah kunci utama akunmu. Di situs top up royal dream yang benar, Royal ID hanya dipakai untuk mengirim koin ke karakter yang tepat, bukan untuk mengakses akun. Tidak ada alasan bagi layanan mana pun untuk meminta password, PIN, atau kode OTP yang kamu terima lewat SMS. Kalau ada yang meminta hal itu, itu tanda bahaya dan sebaiknya segera ditinggalkan.