Rio Putra Pratama: Kesetaraan Gender Bisa Dimulai dari Mengolah Sampah
Di banyak kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah desa, Rio Putra Pratama, 23, kerap mendapati peserta didominasi perempuan. Saat penyuluhan digelar, laki-laki justru sering kali absen dan meminta istri atau anak perempuan mewakili mereka.
“Biasanya bapak-bapak kalau ada agenda sosialisasi, yang disuruh datang perempuan (istri atau anak perempuan). Sementara peserta laki-laki sedikit yang datang,” ceritanya.
Pengalaman itu ditemui Rio saat bekerja sebagai fasilitator desa bidang pengelolaan sampah berkelanjutan “Banyuwangi Hijau”. Program ini sendiri berfokus pada pengelolaan sampah berkelanjutan di wilayah setempat.
Menurut Rio, kondisi tersebut mencerminkan anggapan yang masih mengakar di masyarakat, bahwa pengelolaan sampah adalah tanggung jawab perempuan. Dari sanalah Rio melihat isu lingkungan tidak bisa dilepaskan dari pembahasan kesetaraan gender.
Pengalaman itu ia temui setelah bekerja sebagai fasilitator desa dalam program Banyuwangi Hijau yang berfokus pada pengelolaan sampah berkelanjutan. Di balik isu lingkungan, ia melihat persoalan yang terus berulang, yakni pengelolaan sampah masih dipandang sebagai tanggung jawab perempuan. Cara pandang itu, menurut Rio, menunjukkan pembahasan soal lingkungan tak bisa dipisahkan dari isu kesetaraan gender.
Sejak kecil, Rio sudah akrab dengan persoalan tersebut. Ia tumbuh berdampingan dengan perempuan-perempuan yang termarjinalkan secara ekonomi. Mayoritas dari mereka bekerja sebagai pekerja seks. Pengalaman menyaksikan diskriminasi yang mereka alami membuat Rio mempertanyakan banyak hal, terutama tentang keadilan sosial dan bagaimana perempuan kerap menjadi pihak yang paling dirugikan dalam sistem yang ada.
Ketertarikan terhadap isu sosial kemudian membawanya memilih jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia rutin mengunjungi perpustakaan sekolah untuk membaca buku-buku ilmu sosial. Namun, koleksi yang tersedia saat itu lebih banyak membahas Science, Technology, Engineering, Mathematics (STEM).
Keterbatasan tersebut tak menyurutkan minatnya. Rio melanjutkan studi di Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jember. Di sana, ia bergabung dengan berbagai komunitas dan organisasi sosial, salah satunya Lembaga Swadaya Masyarakat Organisasi Gaya Warna (LSM OGAWA), yang semakin memperkuat keterlibatannya dalam advokasi isu gender.

Baca juga: Dari Tongkrongan hingga ‘Barbershop’, Cara Muh. Agus Syam Advokasi Kesetaraan
Dari Ruang Pendidikan ke Program Pengelolaan Sampah
Pada 2024, Rio terpilih sebagai salah satu peserta fellowship Youth Leadership Camp (YLC), bagian dari kampanye #WaveForEquality yang diselenggarakan Magdalene. Selepas mengikuti program capacity building tersebut, ia bersama rekan-rekannya di LSM OGAWA mengembangkan program Community Involvement and Development (CID).
Salah satu kegiatan yang mereka jalankan ialah pendampingan penulisan skripsi bagi mahasiswa yang mengangkat isu gender, disabilitas, dan queer. Mereka juga mengembangkan perpustakaan online sebagai ruang diskusi yang menghubungkan buku dengan persoalan di sekitar, sekaligus memanfaatkan kampanye digital untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
“Kami percaya untuk mengubah kondisi jalur utamanya dari pendidikan,” ucap Rio (2/7).
Perspektif yang dibangun melalui ruang advokasi itu kemudian ia bawa ke pekerjaannya sebagai fasilitator desa. Rio bercerita, mayoritas pekerja yang terlibat dalam program pengelolaan sampah berkelanjutan adalah perempuan. Di satu sisi, kondisi tersebut membuka lebih banyak akses pekerjaan bagi perempuan. Namun, di sisi lain, ia mempertanyakan apakah pekerjaan mengelola sampah masih dianggap lebih cocok dilakukan perempuan.
Pandangan tersebut tidak bisa dilepaskan dari peran gender tradisional yang menempatkan perempuan di ranah domestik. Perempuan kerap dianggap sebagai penghasil sampah rumah tangga terbesar karena mereka yang memasak, mengurus rumah, dan merawat keluarga. Akibatnya, tanggung jawab mengelola sampah pun lebih sering dibebankan kepada perempuan.
Rio juga melihat cara pandang serupa masih muncul dalam proses edukasi kepada masyarakat. Menurutnya, sejumlah petugas perempuan terkadang menyampaikan materi dengan pendekatan yang menempatkan ibu rumah tangga sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas sampah rumah tangga.
“Kita kan perempuan yang menghasilkan sampah (rumah tangga),” ucap Rio menirukan perkataan petugas.
Menurut Rio, pemahaman tersebut justru melanggengkan stereotip gender yang selama ini berkembang di masyarakat. Karena itu, ia tak ragu memberikan evaluasi kepada petugas yang bertugas melakukan sosialisasi.
“Aku sering memberikan evaluasi kepada petugas yang ditugaskan memberi edukasi, jangan menggunakan pemahaman karena kita perempuan (ibu rumah tangga) sebagai penghasil sampah, tapi karena sampahku itu tanggung jawabku. Dan setiap orang adalah penghasil sampah tidak memandang gendernya apa,” terangnya.
Selama mendampingi enam kecamatan dengan total 56 desa, Rio mengaku pengalaman serupa bukan hanya terjadi sekali dua kali. Meski harus berulang kali menyampaikan evaluasi yang sama, ia melihat proses tersebut sebagai kesempatan memperkenalkan perspektif gender kepada lebih banyak pihak.
“Aku harus selalu mengulang evaluasi ini dengan banyak petugas, tapi aku ambil sisi positifnya secara gak langsung aku bisa melakukan pendekatan gender ke banyak orang di puskesmas atau pegawai kedinasan,” kata Rio.

Baca juga: Kisah Novita Yuliana Yewen Advokasi Kekerasan Gender ke Orang Terdekat
Menegur Candaan Seksis, Mengajak Lelaki Berbagi Peran
Membawa perspektif gender ke ruang birokrasi desa bukan perkara mudah. Rio mengaku kerap berhadapan dengan aparatur desa maupun pegawai dinas yang masih melontarkan candaan seksis saat kegiatan sosialisasi.
“Saya berani negur meski diucapkan dengan alasan ‘bercanda’. Saya bilang, itu termasuk kekerasan karena menyinggung dan menyindir. Kan ada yang bilang, kalau mau menegur jangan di tempat nanti bikin malu, ya mereka malu kalau dia salah (seksis),” ceritanya.
Menurut Rio, membuka ruang diskusi dengan warga memang sering diawali melalui obrolan santai. Namun, hal itu bukan berarti candaan seksis dapat dianggap lumrah.
“Terkadang bercanda seksis itu ke petugas perempuan, mereka memang diam saja, ikut tersenyum, tapi tersenyum getir,” ucap Rio.
Selain terus mendorong keterlibatan laki-laki dalam pengelolaan sampah berkelanjutan, Rio juga aktif memberikan masukan kepada pemerintah desa agar perempuan selalu dilibatkan dalam setiap proses pengambilan keputusan. Upaya tersebut tak jarang mendapat penolakan.
“Sempet dikatain, ‘Kamu adalah pengkhianat laki-laki, kamu membuat (seolah-olah) perempuan di atas kita’ gitu,” cerita Rio.
Meski begitu, ia memilih tetap membuka ruang dialog dan menjelaskan pandangannya.
Baca juga: Ghevin Agung Nugraha: Perjalanan Lawan Stigma hingga Advokasi ke Sesama Lelaki
“Bukan, Pak. Perempuan itu adalah mitra yang setara dengan kita, kita membangun kemitraan bukan saling bersaing. Bukan siapa yang ditinggikan, tapi siapa yang bebannya awalnya tinggi disamakan, tanggung jawab yang awalnya tidak diberikan, aksesnya yang diminimkan juga disetarakan. Jadi akses dan tanggung jawabnya sama-sama setara.”
Baginya, memperjuangkan kesetaraan gender tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya ia merasa lelah ketika berhadapan dengan orang-orang yang menolak pembahasan mengenai kesetaraan gender. Namun, kelelahan itu tidak membuatnya menghentikan upaya yang telah ia jalani.
“Kadang pengen balek (pulang), tapi kalau balek nanti gimana,” katanya sambil tertawa. “Tapi kalau pulang nanti takut justru tidak tersampaikan,” tutupnya.





















