Kepemimpinan Mama Papua: Saling Jaga, Lestarikan Laut lewat Tradisi Sasi
Foto: Yayasan Konservasi Alam Nusantara
Mama Almina, 64, tahu betul bagaimana laut memberinya kehidupan. Sebagai perempuan yang tinggal di pesisir Kampung Kapatcol, Distrik Misool Barat, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, ia melihat laut seperti diri sendiri yang jadi sumber kehidupan, sekaligus penjaga anak keturunan.
Karena itu, ia meyakini pelestarian kawasan laut adalah hal penting yang wajib dilakukan. Saat ditemui dalam acara Pertukaran Pembelajaran Kelompok Sasi Perempuan dari Tiga Kampung di Kabupaten Raja Ampat di Ubud, Bali (11/4), Mama Almina mengatakan penjagaan tersebut merupakan upaya untuk meneruskan kehidupan.
“Laut itu seperti Mama, dan biota-biota yang ada di dalamnya adalah anak yang harus dijaga. Karena kalau tidak kita jaga pasti habis saja entah dengan bom atau apa. Karena kita ambil hanya satu tahun sekali, biota-biota itu bisa berkembang. Laut aman, hasil (pendapatan) cukup,” ungkapnya.

Selaras dengan Mama Almina, Mama Ribka, 50, juga memiliki pandangan serupa ketika berbicara soal laut. Perempuan yang tinggal di Kampung Aduwei, Distrik Misool, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, itu memandang pelestarian laut sebagai kewajiban yang harus dijalankan. Sebagai masyarakat pesisir, laut adalah sumber penghidupan, katanya.
“Kalau Mama dorang kan orang di pesisir pantai, jadi laut itu harus dijaga. Kehidupan sehari-hari itu ada di dalam laut,” kata Mama Ribka.
Mama Almina dan Mama Ribka merupakan dua pemimpin kelompok perempuan di Pulau Misool. Mama Almina memimpin kelompok Waifuna di Kampung Kapatcol, sedangkan Mama Ribka memimpin kelompok Joom Jak di Kampung Aduwei.
Bersama anggota yang juga mayoritas perempuan, para mama memimpin kelompok yang menjalankan tradisi bernama Sasi. Warisan adat ini berisi aturan mengenai pengambilan hasil alam tertentu, baik di laut maupun darat, dalam jangka waktu tertentu guna memulihkan ekosistem.
Baca juga: Kenapa Kita Butuh Perempuan Jadi Pemimpin di Desa?
Tentang Sasi dan Hidup Selaras dengan Alam
Secara harfiah, sasi adalah pembatasan ruang dan waktu yang diberlakukan pada suatu kawasan sumber daya alam. Di Pulau Misool, tradisi ini diterapkan pada wilayah laut untuk memberi kesempatan hewan dan tumbuhan tertentu tumbuh serta berkembang dengan baik.
Dalam periode tertentu, masyarakat tidak diperkenankan mengambil hasil alam apa pun dari laut. Barulah saat masa panen tiba, mereka dapat mengambil hasil laut tersebut dengan aturan konservasi yang sebelumnya telah disepakati bersama.
Berdasarkan catatan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), sasi diyakini telah ada sejak lama dan menjadi bagian dari adat masyarakat di berbagai daerah, khususnya di Pulau Misool. Pelaksanaannya pun tidak hanya melalui ritual adat, tetapi juga melibatkan tokoh agama seperti pendeta gereja.
Masih merujuk catatan YKAN, sasi memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem dan sumber daya alam. Melalui pengaturan masa panen, populasi ikan dan sumber daya laut lain dapat terlindungi serta memiliki kesempatan untuk pulih dan beregenerasi secara alami. Pada akhirnya, tradisi ini berkontribusi terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya alam secara berkelanjutan.

Baik di Kampung Aduwei maupun Kampung Kapatcol, para mama memiliki aturan tersendiri dalam menjalankan tradisi sasi. Menjelang masa panen, mereka rutin melakukan pemantauan kondisi laut dengan menyelam setidaknya satu kali setiap bulan.
Saat masa panen tiba, mereka juga tidak serta-merta mengambil seluruh hasil alam yang ada di dasar laut. Pada teripang, misalnya, hanya yang sudah siap panen yang diambil, yakni berukuran di atas 15 sentimeter. Teripang yang ukurannya masih di bawah itu akan dikembalikan ke habitatnya agar dapat tumbuh dan berkembang biak.
Baca juga: Sejarah Membuktikan Muslimah Dilarang Jadi Pemimpin, Benarkah?
Memimpin Sekaligus Merawat Satu Sama Lain
Keterlibatan perempuan dalam praktik sasi di sejumlah wilayah Pulau Misool bukanlah perjalanan yang mudah. Pada awalnya, sasi dipimpin oleh laki-laki dengan pengelolaan keuangan yang dinilai belum serapi sekarang. Selain itu, praktik sasi yang sepenuhnya dijalankan laki-laki membuat perempuan nyaris tak memiliki posisi dalam pengelolaan sumber daya alam. Kondisi ini membuat mereka kesulitan memanfaatkan hasil laut pada masa itu.
Kelompok Waifuna yang kini dipimpin Mama Almina merupakan kelompok sasi perempuan pertama di Pulau Misool. Sebelum Mama Almina, kelompok ini dipimpin mendiang Mama Bestina sejak 2010. Wilayah kelola mereka mencakup sekitar 32 hektare yang diperuntukkan bagi teripang dan lobster. Hak kelola perempuan atas kawasan tersebut juga telah mendapat pengakuan dari pemerintah kampung, gereja, dan pemegang adat.

Meski tergolong baru, praktik sasi yang dijalankan kelompok perempuan ini menunjukkan kegigihan besar. Hal itu disampaikan Hilda Lionata (Oda), Indonesia Oceans Program Manager Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Sebagai pendamping program, Oda mengatakan kelompok sasi yang dipimpin perempuan memiliki kekhasan tersendiri dalam pengelolaannya. Salah satunya adalah kuatnya budaya saling merawat di antara anggota kelompok sasi perempuan di Pulau Misool.
“Selama mendampingi, kelompok yang dipimpin perempuan ini bisa dibilang sangat berfokus pada kebutuhan sosial ketika membicarakan keuntungan dari laut. Jadi, ketika dapat uang, mereka akan fokus dengan kebutuhan sesama warga yang ada di kampung tersebut,” kata Oda saat ditemui di Ubud, Bali (11/4).
Di Kampung Aduwei, Mama Ribka menjelaskan hasil panen saat buka sasi memang tidak langsung masuk ke kantong pribadi. Setelah membayar para mama penyelam, pendapatan tersebut dimasukkan ke kas kelompok Joom Jak. Selanjutnya, hasil panen didistribusikan untuk berbagai kebutuhan bersama. Mulai dari kegiatan keagamaan hingga biaya kesehatan warga, semuanya mendapat bagian dari hasil buka sasi.
“Sasi ini penting karena di kampung mama dorang ini banyak anak-anak yang sekolah. Kalau buka sasi kan nanti itu dibagi, dibagi berkelompok-kelompok. Ada yang untuk (kegiatan) pemuda, anak sekolah, buat gereja, buat orang sakit, itu nanti semua dapat amplop,” jelas Mama Ribka.

Baca juga: Mundurnya Jacinda Ardern dan 4 Tantangan Perempuan Pemimpin
Sebuah laporan bertajuk “Women’s leadership in resilience” (2017) menunjukkan kepemimpinan perempuan memang berkontribusi pada resiliensi sosial. Hal ini berkaitan dengan gaya kepemimpinan perempuan yang lekat dengan perawatan, pengorganisiran relasi, serta distribusi sumber daya yang adil.
Dalam laporan tersebut, kepemimpinan perempuan juga disebut lekat dengan collective care, yakni praktik merawat kesejahteraan fisik dan mental secara bersama-sama dalam kelompok atau komunitas. Praktik ini tidak hanya terlihat pada hasil akhir kelompok, seperti pembagian keuntungan panen di kelompok Joom Jak, tetapi juga dalam proses pengambilan keputusan yang mempertimbangkan kesejahteraan bersama.
Saat ini, baik Mama Ribka maupun Mama Almina berharap tradisi yang mereka jalankan dapat diteruskan ke generasi berikutnya. Sebab, melalui sasi, para perempuan tidak sekadar menjaga alam, tetapi juga merawat warisan leluhur sekaligus memastikan keberlanjutan komunitas.





















