11/09/2026
Issues Opini

Daycare Bukan Kemewahan: Menilik Sejarah Crèche di Prancis

Kasus kekerasan di Daycare Little Aresha mengingatkan kita bahwa negara dan masyarakat perlu memastikan tersedianya daycare yang aman, terjangkau, dan berkualitas.

  • September 11, 2026
  • 5 min read
  • 13 Views
Daycare Bukan Kemewahan: Menilik Sejarah Crèche di Prancis

Kasus kekerasan terhadap anak di Daycare Little Aresha, Yogyakarta, memasuki babak baru. Dalam sidang perdana pada 18 Agustus lalu, jaksa penuntut umum membacakan dakwaan terhadap 13 terdakwa. Menurut dakwaan, kekerasan yang terjadi bukan semata tindakan individual atau kelalaian, melainkan bagian dari praktik pengasuhan sehari-hari di tempat tersebut.

Anak-anak, termasuk bayi dan balita, diduga diikat agar tidak banyak bergerak, ditempatkan berdesakan di ruangan sempit, dan diberi sisa makanan anak lain. Sejumlah anak juga mengalami kekerasan fisik, mulai dari dicubit dan dipukul hingga kepalanya dibenamkan ke dalam bak mandi ketika dianggap rewel. Dalam sidang lanjutan pada 31 Agustus, para saksi menyebut sebagian anak kini mengalami trauma berat.

Kita tentu marah karena kekerasan itu terjadi di tempat yang seharusnya menjaga keselamatan dan mendukung tumbuh kembang anak. Namun, kasus ini juga menunjukkan masalah yang lebih luas: di tengah meningkatnya kebutuhan akan layanan penitipan anak, pengawasan, standar layanan, dan dukungan negara belum cukup kuat untuk memastikan setiap daycare menjadi ruang yang aman.

Daycare sering dipandang sekadar tempat menitipkan anak ketika orang tua bekerja. Padahal, sejarahnya berkaitan erat dengan perubahan dunia kerja, kemiskinan, dan kebutuhan perempuan akan pengasuhan kolektif.

Baca juga: Kesopanan itu Perlu, Tapi Bukan Bukti Kompetensi: Pelajaran dari Kasus Little Aresha

Crèche dan kebutuhan perempuan pekerja

Salah satu cikal bakal daycare modern berkembang di Prancis pada abad ke-19, saat Revolusi Industri menarik banyak perempuan miskin dari daerah ke kota untuk bekerja di pabrik atau sebagai penjahit. Anak usia dua hingga enam tahun dari keluarga miskin saat itu dapat mengakses salles d’asile, semacam layanan pendidikan anak usia dini gratis. Namun belum ada tempat yang layak bagi bayi dan anak di bawah dua tahun.

Jean-Baptiste Firmin Marbeau, seorang pengacara dan filantropis, menemukan kesenjangan itu ketika mempelajari kondisi keluarga pekerja di Paris. Ia bertemu Madame Gérard, seorang buruh cuci yang harus membayar perempuan lain untuk mengasuh anaknya selama bekerja, dan ia menghabiskan sekitar sepertiga penghasilannya. Perempuan yang dibayar itu pun mengasuh beberapa bayi dari keluarga pekerja lain sekaligus, dalam kondisi yang jauh dari layak. 

Pilihan lain bahkan lebih berbahaya: sebagian ibu terpaksa meninggalkan anak sendirian atau mengikat mereka agar tidak berkeliaran selama ditinggal bekerja. Situasi ini memperlihatkan bagaimana absennya layanan pengasuhan membuat ibu dan anak sama-sama menanggung risiko.

Pada 1844, Marbeau mendirikan crèche bagi bayi dan anak keluarga miskin. Namanya merujuk pada palungan dalam kisah Natal — gambaran tempat yang sederhana tetapi aman. Bangunannya tidak megah, tetapi kebersihan dijaga dan anak-anak dirawat oleh tenaga yang ditunjuk. Layanan dibuka sejak pukul 05.30 hingga 19.30, mengikuti panjangnya jam kerja buruh. 

Biaya operasional berasal dari sumbangan orang kaya, sementara para ibu tetap membayar, hanya dengan tarif yang lebih rendah daripada pengasuhan informal. Kepada calon donatur, Marbeau tidak hanya berbicara soal kemanusiaan, tetapi juga ekonomi: menyelamatkan anak-anak miskin berarti menjaga calon tenaga kerja yang kelak menambah kekayaan negara.

Sejarah ini penting, tetapi tidak perlu diromantisasi. Crèche tidak semata lahir dari kepedulian terhadap perempuan; di dalamnya juga terkandung kepentingan menjaga produktivitas buruh, disiplin moral, dan ketersediaan tenaga kerja masa depan. Para ibu pekerja pun tetap harus membayar dan menyesuaikan diri dengan sistem kerja yang panjang serta eksploitatif.

Meski begitu, ada satu hal dari sejarah ini yang masih relevan hingga kini: kebutuhan pengasuhan anak tidak bisa terus dibebankan kepada ibu seorang diri. Ketika perempuan masuk ke dunia kerja, masyarakat memerlukan sistem yang memastikan anak tetap diasuh dengan aman, tanpa menghabiskan sebagian besar penghasilan keluarga.

Kini, crèche menjadi bagian umum dari sistem pengasuhan anak di Prancis dan dapat diakses keluarga dari beragam latar belakang, termasuk orang tua yang tidak bekerja di luar rumah. Pamela Druckerman, dalam Bringing Up Bébé, menulis tentang seorang ibu rumah tangga yang mendaftarkan anaknya ke crèche tanpa rasa bersalah — selain butuh waktu untuk dirinya sendiri, ia ingin anaknya memperoleh pengalaman berinteraksi di luar keluarga.

Baca juga: ‘Mother-Blaming’ di Kasus ‘Daycare’ Jogja: Salah Kaprah Publik Melihat Kerja Perawatan

Dari Paris ke Yogyakarta: Pengasuhan sebagai kerja kolektif

Keberadaan crèche menunjukkan bahwa pengasuhan anak dapat dilakukan secara kolektif melalui layanan daycare yang berkualitas. Indonesia sebenarnya juga memiliki tradisi serupa lewat keluarga besar, tetangga, dan komunitas. Masalahnya, kerja pengasuhan itu sering berlangsung tanpa dukungan memadai, dan bebannya tetap paling banyak jatuh ke perempuan.

Layanan daycare berkualitas memberi pilihan pengasuhan bagi orang tua yang bekerja, harus membagi waktu antara mengasuh anak dan merawat anggota keluarga lain, atau menghadapi tantangan lainnya di rumah. Daycare bukan pengganti orang tua sebagai lingkungan utama anak, melainkan pelengkap yang memberi anak kesempatan untuk bermain, belajar berinteraksi dan berbagi, serta membangun relasi di luar keluarga inti.

Kasus kekerasan di Daycare Little Aresha semestinya menjadi momentum untuk melihat kembali cara kita memandang daycare dan pengasuhan anak secara keseluruhan, bukan sekadar dorongan untuk memperbaiki pengawasan dan standar layanan semata. Dibandingkan sistem crèche di Prancis yang sudah mapan, kita memang tertinggal hampir dua abad dalam memenuhi standar daycare berkualitas. Namun dari sejarah panjang crèche itu, kita bisa belajar satu pola: bagaimana layanan daycare berkualitas bisa menjadi sesuatu yang “normal” hadir di tengah Masyarakat, bukan kemewahan.

Untuk sampai ke sana, Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar political will pemerintah, namun harus ada subsidi agar layanan dapat diakses semua kalangan, standar kompetensi bagi pengasuh dan pendidik, jenjang karier yang layak bagi profesi ini, serta standar nutrisi dan kebersihan tempat. Semua itu tidak mungkin dibangun oleh satu pihak saja. Dibutuhkan ekosistem yang melibatkan orang tua, penyedia layanan, tenaga pendidik dan pengasuh, pemerintah, serta masyarakat secara bersama-sama. Sebab, pada akhirnya, dibutuhkan satu “kampung” untuk membesarkan seorang anak.

Nyimas Gandasari adalah peneliti Asa Dewantara, lembaga riset pendidikan khususnya pada isu-isu pendidikan pada kelompok underprivileged dan marginal. Selama 15 tahun lebih terlibat dalam praktik, penelitian, inisiasi dan advokasi pendidikan kelompok underprivileged dan marginal.

About Author

Nyimas Gandasari