Women Lead
August 05, 2021

Berlapis Tekanan, Kesehatan Mental Atlet Diabaikan

Atlet jadi profesi yang diliputi banyak tekanan untuk memenuhi target kejuaraan. Meski begitu, belum banyak pihak yang memperhatikan kesehatan mental mereka.

by Selma Kirana Haryadi, Reporter
Issues
pentingnya kesehatan mental bagi atlet
Share:

Keputusan pesenam putri asal Amerika Serikat Simone Biles untuk mengundurkan diri dari final all-around Olimpiade Tokyo 2020 sempat membuat dunia geger. Apalagi, sebenarnya Biles tampil memukau dalam babak semifinal. Tanda tanya banyak orang semakin bertambah begitu Biles membuat unggahan lewat Instagram yang menyatakan bahwa alasan mundurnya ialah kesehatan mental. Biles mengaku, ia memikul beban yang begitu berat selama ini, hingga membuatnya merasa sangat tertekan. Akhirnya, dengan alasan menjaga kesehatan mental dengan melindungi pikiran dan tubuhnya, Biles pun memutuskan untuk mundur.

“Pada akhirnya, kita semua hanya manusia,” ujar Biles.

Tak sedikit orang yang menyangsikan keputusan Biles, meremehkannya dengan mengatakan ia lemah dan hanya mencari-cari alasan. Padahal, atlet merupakan salah satu profesi yang dikelilingi dengan banyak tekanan, baik tekanan sosial, hingga profesional, dan itu membuat mereka rentan mengalami gangguan kesehatan mental.

Mereka diberikan berbagai target terprogram yang harus berhasil tercapai. Bukan hanya membebani fisik, hal itu juga mempengaruhi kerentanan kesehatan mental mereka. Menurut peneliti psikologi olahraga Kurniati Rahayuni, hal itu disebabkan karena atlet mendapatkan banyak tekanan psikososial yang berkaitan dengan beban citra untuk selalu meraih kemenangan dari berbagai pihak.

Menurut Kurniati, atlet sering kali hanya dipandang dan diperlakukan sebagai objek berita. Maksudnya, mereka hanya dilihat dari perspektif kemenangan dan kekalahan semata, sedangkan hakikatnya sebagai manusia biasa yang memiliki hak untuk bisa hidup tenang dan bahagia sembari menjalankan fungsi-fungsi sosialnya yang lain diabaikan.

“Kalau ia berperforma memenuhi harapan kita, menang dan mendapat medali, kita akan berlomba-lomba memberikan apresiasi, tapi saat ia kalah, kita seolah merasa berhak menghakimi. Ini tentu mempengaruhi kesehatan mental. Mereka bisa diliputi rasa ketakutan bila gagal dan terbebani karena konsekuensi sosial tersebut,” kata Kurniati kepada Magdalene pada (5/8). 

“Semakin tinggi prestasi seorang atlet, tuntutan targetnya akan semakin tinggi. Ketidaksiapan menanggung hal ini akan menimbulkan stres. Bila kalah, kekecewaan berkepanjangan juga bisa membekas seumur hidup. Hidup dengan dikelilingi ketakutan dan beban seperti itu tidak mudah. Dibutuhkan keberanian untuk bertahan dalam lingkungan seperti itu,” tambahnya. 

Baca juga: Nasib Seniman dan Atlet Saat Pandemi: Hilang Pendapatan, Ganggu Kesehatan Mental

Untuk mencapai tuntutan itu, usaha yang harus dikerahkan juga tak main-main. Tak sedikit atlet yang berlatih selama bertahun-tahun untuk menyempurnakan keahliannya. Mereka memiliki rutinitas berlatih setiap hari dengan risiko cedera yang besar dan siap menghampiri mereka sewaktu-waktu. Hal itu kemudian melahirkan kecenderungan atlet untuk menjadi individu yang perfeksionis dan berorientasi target, ujar Kurniati. 

“Belum lagi, mereka juga memiliki tekanan untuk bisa menjalankan fungsi-fungsi lain dan tuntutan peran yang berbeda dalam hidupnya. Misalnya, peran sebagai mahasiswa/pelajar. Atau peran keluarga, terutama pada atlet perempuan. Kondisi itu bisa sangat stressful dan mengarah ke gangguan kesehatan, termasuk kesehatan jiwa,” kata Kurniati. 

“Atlet berhak dilihat sebagai manusia dalam perspektif yang lebih utuh, tidak hanya dari perspektif medali yang mereka menangkan.”

Melengkapi perkataan Kurniati, Indri Natasya (21), seorang atlet basket yang telah berhasil menyabet berbagai kejuaraan pada tingkat Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, hingga nasional, mengatakan bahwa sistematika latihan sehari-hari merupakan faktor lain penentu kesehatan mentalnya sebagai atlet. Menurut Indri, kerap kali perasaan tertekan itu datang dari model latihan yang terlampau keras dan memberikan terlalu banyak tuntutan pada atlet. 

“Misalnya, pelatih yang terlalu keras. Ada beberapa pelatih yang saat melatih mengeluarkan kata-kata kasar, bahkan bersikap kasar karena ingin dipandang tegas dan disiplin. Tapi tidak semua atlet bisa diperlakukan dengan cara itu. Aku sendiri pernah punya pelatih yang keras saat Sekolah Menengah Pertama (SMP),” kata Indri.

Indri dan kebanyakan atlet memang memiliki rutinitas latihan sehari-hari. Ia mengatakan terkadang, tantangan terbesar dalam profesinya adalah melawan rasa lelah dan malas karena rutinitas yang berulang. Oleh karena itu, dibutuhkan iklim latihan yang suportif dan bersahabat, kata Indri.

“Padahal, kalau saat latihan merasa enjoy dan tidak tertekan, itu bisa membuat kesehatan mental atlet jadi baik. Jadi, sistem latihan itu harus diperhatikan cocok atau tidaknya dengan karakteristik atlet supaya jangka panjangnya kesehatan mental tetap terjaga,” lanjutnya.

Baca juga: Sepak Bola Perempuan Semakin Diminati, Namun Disparitas Tetap Ada

Kurniati membenarkan hal itu. Menurut pengamatannya, kebanyakan atlet di Indonesia belum mendapatkan lingkungan yang dia butuhkan untuk berperforma maksimal. Padahal, tekanan untuk mendapatkan medali sangat besar.

Kurniati berkata, mental atlet yang sehat bisa tercipta dengan adanya sebuah ekosistem yang suportif dan dapat memaksimalkan potensinya, meliputi peran pelatih, penggemar, partner, tim, juga fasilitas latihan dan pendukung yang memadai. Hal itu juga meliputi dimensi yang sebenarnya kompleks, seperti perhatian yang diberikan terhadap kondisi ekonomi atlet di masa depan setelah pensiun, ujar Kurniati.

Bila ekosistem itu terwujud, atlet akan mampu berlatih secara total, mengikuti program dengan baik, hingga kemudian mengeluarkan performa terbaiknya dalam pertandingan. 

“Manusia bisa melakukan sesuatu secara maksimal bila ia ada di lingkungan yang membuatnya nyaman, termasuk para atlet. Harus diperhatikan, apakah mereka sudah dilatih oleh para pelatih yang memiliki pengetahuan terbaik yang mampu menciptakan program latihan yang meningkatkan performa? Apakah dukungan dokter, psikolog, konselor yang bisa membantu mereka beradaptasi sudah tersedia?”

“Apabila dia mempercayai pelatih, partner, tim, penggemar, ditambah dengan persiapan yang baik dan fasilitas yang baik, performa bisa jadi maksimal. Dia juga jadi bisa beradaptasi dengan baik dengan segala tantangan dan hambatan.”

Atlet Terdampak Situasi Pandemi

Pandemi COVID-19 mempengaruhi keseharian atlet secara signifikan. Jadwal olahraga dan latihan fisik yang biasa jadi rutinitas terpaksa terhenti atau mengalami penurunan intensitas berkat kebijakan pembatasan sosial dan imbauan berkegiatan dari rumah. 

Baca juga: Perempuan Indonesia Catat Sejarah, Emas buat Apriyani-Greysia

Riset Komite Olimpiade Internasional (IOC) pada Mei 2020 mengungkapkan, sebanyak 56 persen atlet mengalami kesulitan untuk bisa berlatih secara efektif selama pandemi COVID-19. Separuh responden juga mengaku mengalami kesulitan untuk menjaga semangat dan motivasi bertanding. Dua tantangan terbesar yang dihadapi atlet selama pandemi masa pandemi ialah kesehatan mental (32%) dan kesulitan mengatur pola makan (30%). Riset itu dilakukan dengan melibatkan lebih dari 4.000 atlet yang tersebar di 135 negara.

Rasa stres dan tertekan juga turut dirasakan oleh Indri. 

“Aku kangen latihan, merasa stres diam di rumah terus. Apalagi atlet olahraga tim (seperti basket) yang jadi tidak bisa berlatih secara tim (bersama-sama), stresnya bertambah,” kata Indri.

Menurut Kurniati, masa pandemi melahirkan beberapa hal yang bisa mengganggu kondisi psikis atlet, seperti terputusnya atlet dengan rutinitas sehari-hari akibat pembatasan waktu berlatih dan berkumpul dengan orang-orang penting dalam pelatihannya, juga ketidakpastian masa depan yang meliputi pemenuhan nafkah.

“Selain itu, banyak atlet yang mengalami kegagalan rencana mencapai target-target kejuaraan tertentu. Ini berarti disrupsi terhadap rencana karier mereka, yang bisa mengarah ke kekecewaan mendalam, marah pada keadaan, yang bila berkepanjangan dapat mengarah pada stres dan gangguan kesehatan mental lainnya.”

Selma adalah penyuka waktu sendiri yang masih berharap konsepsi tentang normalitas sebagai hasil kedangkalan pemikiran manusia akan hilang dari muka bumi.