Women Lead
September 27, 2021

‘Cats Against Catcalls’ Bukan Cuma Slogan, Kucing Memang Feminis

Cats Against Catcalls bukan sekadar slogan, tapi secara historis kucing memang feminis karena menemani perempuan melawan diskriminasi.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Lifestyle
Kucing_Pet_KarinaTungari
Share:

Setiap kali bertemu kucing di jalan rasanya sangat sulit menahan diri untuk tidak menarik perhatiannya. Entah berdecak-decak tidak jelas, seperti “ckckckck sini-sini,” atau menggosok-gosok jari seolah-olah kita punya makanan, padahal jelas-jelas sebaliknya. Intinya, kalau bertemu kucing rasanya tidak afdol kalau enggak catcalling

Bisa dibilang catcalling pada kucing adalah satu-satunya bentuk catcall yang dibolehkan asal kita memberikan makanan dan kasih sayang. Namun tetap saja, kucing juga korban catcall. Makanya, tidak heran jika feminis dan gerakan perempuan sering menggunakan cat against catcalls sebagai slogan. Hal ini menjadi semacam bentuk solidaritas antara perempuan dan kucing. 

Namun, hubungan tersebut tidak tiba-tiba muncul. Secara historis kucing memiliki keterikatan dengan perempuan dan dewa-dewa kuno. Mesir Kuno, misalnya, ada Dewi Bastet atau Bast yang memiliki kepala kucing dengan tubuh perempuan. Anak dari dewa matahari, Ra, itu disebut memberikan perlindungan untuk perempuan dan anak-anak, fertilitas, dan melawan energi atau roh jahat. 

Ada juga Dewi Sekhmet yang digambarkan sebagai setengah singa dan bertugas sebagai dewi peperangan. Selain itu, dalam mitologi nordik, Dewi Freya yang menggambarkan cinta, perang, dan kekayaan disebut memiliki kereta yang ditarik oleh dua kucing. 

Baca juga: Apakah Kucing Anjing Bisa Terinfeksi COVID-19 dan Menulari Manusia?

Sejak dahulu kucing dan perempuan sudah sangat dekat, tetapi kedekatan tersebut menjadi malapetaka ketika Gereja Katolik Roma di abad pertengahan ingin menghilangkan praktik penyembahan pada dewa-dewa kuno. Semua praktik keagamaan yang bukan Katolik dinilai sesat. Belum lagi Paus Gregory ke-IX mengatakan kucing adalah suruhan iblis, terutama kucing hitam pada 1230-an. 

Mengutip dari media KQED, Paus Gregory ke-XI juga menulis surat kepada Raja Henry ke-VII kalau menyaksikan sebuah ritual pengikut iblis yang menyembah patung kucing dan mencium pantatnya. Karenanya, kucing pun semakin dibasmi akibat dianggap sebagai sumber penyimpangan. Meskipun begitu, banyak sejarawan yang mengatakan pesan Paus Gregory ke-XI menekankan tentang sekte sesat. Tetapi pesan kucing adalah budak setan sudah menyebar di Eropa dan berujung pada pembunuhan kucing besar-besaran. 

Kucing yang dahulu dianggap sangat sakral kini memiliki citra buruk, situasi ini pun menimbulkan sebuah ironi. Pasalnya, kucing diagungkan karena kemampuan mereka menangkap tikus yang merugikan masyarakat, baik di Mesir dan Eropa. Namun, karena populasinya yang menurun tikus-tikus pun semakin berkuasa dan menyebarkan penyakit. Kurangnya jumlah kucing juga disebut sebagai penyebab kenapa wabah Maut Hitam di abad ke-14 mudah menyebar. 

Kebencian pada kucing pun semakin menjadi-jadi ketika mereka diafiliasikan dengan penyihir. Pada abad ke-15 sampai 17 perempuan yang dianggap tidak sesuai dengan standar masyarakat Puritan disebut sebagai penyihir. Kucing yang juga sudah distigma disebut sebagai familiar, semacam binatang pemberian iblis, untuk membantu mereka menjalankan tugas dari Lucifer. Akibatnya, perempuan dan kucing mengalami persekusi berbasis rasa ketakutan atas makhluk halus dan sihir. 

Berkaca dari situasi itu, kucing dan perempuan memiliki posisi yang sama: korban fitnah dunia. Karenanya, ketika kucing menjadi simbol dalam perlawanan perempuan, seperti cat against catcalls, memang tidak sekadar slogan saja. Kita dan kucing memang sudah lama menjalin sisterhood atau bergandengan tangan melewati diskriminasi dan naik turunnya sikap masyarakat. 

Baca juga: Bukan Budak Kucing, Rico Lebih dari Sekadar Keluarga

Stigma ‘Crazy Cat Lady’

Musisi Taylor Swift pernah mengatakan, memiliki dua kucing itu seperti berpesta, tapi tiga kucing sudah menjadi seorang cat lady. Saat ini Swift memiliki tiga kucing, Olivia Benson, Meredith Grey, dan Benjamin Button. Sementara itu, istilah cat lady sendiri adalah ungkapan seksis untuk mengejek perempuan yang dinilai menggantikan kasih sayang manusia dengan kucing. Cat lady yang juga biasa disebut crazy cat lady memiliki definisi yang sama ketika perempuan diejek sebagai perawan tua, atau tidak laku di antara laki-laki, makanya mereka beralih dengan kucing.  

Tidak bisa dipungkiri memang ada perempuan tidak menikah yang memiliki banyak kucing. Ada beberapa dari mereka yang bahkan berakhir tragis ketika mayatnya dimakan oleh kucing sendiri. Namun, stigma serupa tidak diberikan kepada laki-laki yang juga menyukai kucing. Frontman-nya band Queen, Freddie Mercury, yang seorang pecinta kucing bahkan menulis lagu tentang mereka, tidak disebut dengan ejekan semacam crazy cat lady

Baca juga: ‘June dan Kopi’, Cerita Hangat tentang Sahabat Setia Manusia

Ejekan untuk perempuan yang sangat ‘terobsesi’ dengan binatang juga hanya ada pada kucing. Lagi-lagi perempuan dan kucing tidak lepas dari diskriminasi dan stigma berabad-abad. Tidak ada yang namanya crazy dog lady untuk perempuan yang menggemari anjing atau binatang lain. 

Alasannya, karena anjing sering dikategorikan sebagai maskulin, sementara kucing adalah feminin. Oleh karena itu juga perempuan diseksualisasi, seperti kostum kucing ‘seksi’ yang dikhususkan untuk perempuan. Belum lagi mengidentikkan hal negatif lain terhadap perempuan dengan kucing, seperti pertengkaran remeh temeh antara perempuan. sebagai cat fight. 

Menurut Jackson Galaxy, pembawa acara My Cat From Hell dan pengamat kucing, anjing dikategorikan sebagai maskulin karena mereka berorientasi pada aksi dan tugas. Laki-laki cenderung menyukai anjing karena mereka mudah dilatih dan diminta melakukan banyak hal. Sedangkan kucing adalah kebalikannya. 

“Untuk sebagian besar, kucing tidak seperti itu. Kucing sulit dipahami. Saya menemukan, perempuan, lebih menyukai misteri daripada laki-laki,” ujarnya dikutip dari Esquire

Meskipun begitu, mengkategorikan kucing dan anjing sebagai feminin dan maskulin menjadi ironis karena dua hewan tersebut tidak paham konsep gender. Kucing atau anjing juga tidak seharusnya menjadi khusus laki-laki dan perempuan. Dikta, vokalis band Yovie & Nuno, seorang pecinta kucing yang sering memamerkan kucingnya, Jimbon, di media sosial.

Dewasa ini memang sudah ketinggalan zaman kalau terus menstigma perempuan dan kucing sebagai sesuatu yang negatif. Pasalnya, sudah banyak orang yang berbondong-bondong memamerkan anabul (anak berbulu) mereka di media sosial. Lisa dari BLACKPINK, misalnya, yang punya lima kucing dan sering tampil di Instagram pribadinya. Selain itu, perempuan juga semacam ‘merebut’ kembali rasa kecintaan pada kucing sebagai sesuatu yang dibanggakan, alih-alih melanggengkan stigma. Lagipula tidak ada salahnya memiliki teman berbulu dengan kuping lancip lucu melawan diskriminasi.

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.