Women Lead
August 06, 2021

Cinta Bukan Segalanya: Kiat Hindari Fantasi Pernikahan Disney

Sebelum menikah, pasangan harus mempertimbangkan kesiapan finansial, emosional, dan mental agar tidak terjebak dalam ‘fantasi’ pernikahan ala Disney.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Lifestyle
tips untuk pasangan yang ingin menikah
Share:

Influencer ‘pernikahan’ sering mempromosikan hidup setelah menikah di usia muda adalah surga untuk berdua. Status suami dan istri menjadi cap absolut untuk hidup bahagia selamanya, seperti yang ditawarkan kisah-kisah romantis Disney. Namun, realitas pernikahan tidak semudah hidup 24/7 dalam bulan madu karena ada isu finansial hingga kerja keras agar kehidupan rumah tangga terus berjalan. 

Lex dePraxis, pendiri Kelas Cinta untuk konsultasi hubungan mengatakan, pasangan tidak perlu terburu-buru menikah. Selain itu, agar seseorang tidak terjebak dalam ‘fantasi’ pernikahan tersebut, maka harus mempertimbangkan kesiapan emosional sebelum menikah dari semua pihak. 

“Sebelum menikah gunakan waktu untuk mengenal pasangan. Umumnya karena cepat ingin menikah dan tidak terlalu mengenal pasangan akan bercerai. Siklus yang sama akan berulang jika landasannya hanya ingin cepat menikah,” ujar Lex dalam diskusi daring “Nikah Dulu atau Mapan Dulu” yang dilaksanakan perusahaan manajemen profesional speakers, Kencomm Indonesia (7/8).

Ia mengatakan, masa pacaran adalah waktu yang tepat menentukan prioritas atau tujuan setelah hidup bersama. Selain itu, untuk memikirkan apa saja konsekuensi menikah terburu-buru

Jangan sampai memutuskan menikah dengan sembarang orang hanya karena ingin menikah saja. Jika seseorang merasa belum nyaman atau meragukan bisa masuk ke tahap selanjutnya bersama pasangan, baiknya untuk tidak menikah walaupun telah bersama bertahun-tahun, ujarnya. 

“Orang yang tinggal serumah bisa banyak pertengkaran karena melihat keburukan dan kejelekannya apa. Ini yang perlu dipahami sebelum menikah. Coba kenali sifat buruk pasangan. Kedua, kenali sisi buruk diri sendiri agar bisa kuat dengan pasangan,” kata Lex. 

Selain itu, ia menambahkan, pasangan harus memikirkan dengan matang apakah hal-hal yang ingin dicapainya, seperti lanjut bersekolah bisa dikejar setelah menikah. Pertimbangan tersebut menjadi satu hal yang penting karena hidup rumah tangga menawarkan tantangan baru dan menguras energi, mental, dan sisi emosional. 

“Kalau terburu-buru tanpa manajemen emosi dan persiapan matang, biasanya tidak happily ever after. Menikah itu berisiko,banyak juga yang tidak berakhir bahagia. Bedakan hasrat ingin menikah dan kematangan siap menikah,” ujarnya.

Baca juga: Vlog Sabrina-Adhiguna: Jualan Dongen Kawin Anak di Era Digital

Beban Finansial Milik Berdua

Bareyn Mochaddin, perencana keuangan independen mengatakan, selain kesiapan emosional antarpasangan, sisi finansial menjadi satu aspek yang tidak boleh luput ketika mempertimbangkan pernikahan. Seseorang dapat dikatakan siap menikah jika telah mandiri secara finansial atau secara ekonomi tidak lagi bergantung kepada orang lain. Selain itu, mampu membiayai dirinya sendiri. 

Ia menambahkan, hal lain yang harus dipertimbangkan sebelum masuk ke jenjang pernikahan adalah kemampuan seseorang mengelola keuangan. Aspek seperti apakah pengeluaran lebih kecil daripada penghasilannya atau adakah uang yang disisihkan untuk ditabung menjadi krusial. Jika belum memenuhi syarat tersebut, ide untuk menikah sebaiknya ditunda saja. 

“Orang yang siap menikah juga harus cakap mengelola emosi finansial. Dia tahu mana yang menjadi prioritas, mampu bersabar untuk tidak mengutang dan bersabar jika belum memiliki uang (jika ingin membeli sesuatu,” ujar Bareyn. 

Bareyn menekankan, pasangan harus saling memastikan keduanya siap secara finansial dan harus transparan soal isu keuangan. Jangan sampai ketika sudah menikah salah satu dari pasangan baru terbuka tentang utang yang dimilikinya. Hal itu akan menimbulkan masalah besar dalam sebuah relasi.

“Harus terbuka, apakah ada tagihan kartu kredit, utangnya besar atau kecil. Selain itu, bagaimana dengan cash flow apakah berimbang dan apakah pasangan memiliki tanggungan (keluarga yang dibiayai) karena tidak sedikit pasangan yang kecewa saat tahu pasangan menyokong orang lain,” jelasnya. 

Baca juga: Hal-hal yang Tak Pernah Dikampanyekan Gerakan Menikah Muda

Ketika kedua pasangan telah transparan tentang situasi finansial, kata Bareyn, penganggaran untuk biaya pernikahan juga harus jelas. Banyak pasangan yang ingin memiliki pernikahan mewah karena hari istimewa, tapi dari segi finansial kantong mereka tidak mencukupi. Untuk menyelesaikan masalah itu, pasangan harus siap melakukan pengorbanan agar saat membangun rumah tangga masih memiliki dana simpanan. 

“Misalnya memotong baya dekorasi bunga, tidak perlu membuat baju bride’s maid, tidak ada foto pre-wedding. Jangan mengandalkan angpao hadiah pernikahan karena biasanya tidak setimpal dengan pengeluaran,” ujarnya. 

Upaya untuk berhemat dan memiliki dana simpanan menjadi krusial ketika pasangan menikah ingin memiliki anak. Biaya pengeluaran untuk bayi hingga sekolah anak tidak kecil. Karenanya, penganggaran sejak dini juga dibutuhkan, tandasnya. 

“Harus mempertimbangkan biaya anak yang terus bertambah. Selain itu, beban finansial juga bisa dibagi dua jika pendapatan lebih dari satu. Misalnya, laki-laki yang membayar tagihan listrik, sementara perempuan mengeluarkan untuk hiburan, seperti makan di luar, Netflix, dan sebagainya,” kata Bareyn.  

Resep Langgeng, Perbaiki Kesalahan untuk Pasangan

Lex mengatakan, agar hubungan bisa langgeng atau membangun rasa percaya, pasangan harus siap memperbaiki kesalahan yang dilakukan dan membalasnya dengan aksi positif. Misalnya, pasangan melupakan janji temu atau terlambat, maka harus meminta maaf dan melakukan hal-hal yang menyenangkan hati, seperti bercanda, membuka diri, dan makan bersama. 

Hal seperti itu juga dapat dilakukan setelah menikah. Tetapi butuh usaha yang lebih keras dan niat untuk menyiapkan waktu karena hidup setelah menikah dapat bicara 20 menit menjadi hal langka. Terlebih lagi jika sudah memiliki anak, durasi waktu untuk bersama semakin menipis. Maka dari itu, menyisihkan waktu dan bersama-sama melakukan hal positif sebagai hadiah untuk satu sama lain harus diusahakan, ujarnya. 

Baca juga: Tren Menikah Muda, Mencari Jalan Ke Surga

“Laki-laki dan perempuan sama-sama berupaya untuk berkembang menjadi yang baik. Belajar bersama tentang komunikasi, tanggung jawab, keterampilan, dan pemberdayaan. Bisa coba juga dengan masa evaluasi, jika enam bulan pertama masih belum ada perubahan, putuskan saja,” jelas Lex. 

Ia menambahkan, situasi tentu jauh berbeda jika kesalahan yang dilakukan pasangan adalah kekerasan fisik, psikis, maupun verbal. Kekerasan tidak dapat diperbaiki atau ditebus dengan melakukan hal positif kepada pasangan. 

“Untuk situasi seperti itu pasangan yang harus berubah. Misalnya, dia dipengaruhi oleh lingkungan yang buruk karena teman atau lingkungannya. Dia harus memiliki niat untuk berubah dan meninggalkan lingkungan karena kesalahannya tidak bisa selesai hanya dengan ditebus minta maaf,” ujarnya. 

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.