Women Lead
June 28, 2021

Kelas Cinta dan PR Besar Kursus Romansa

Jika tak berhati-hati, Kelas Cinta bisa terjebak dalam misogini yang sekilas tampak membantu perempuan.

by Purnama Ayu Rizky, Redaktur Pelaksana
Issues // Relationship
Share:

“Ani”, 29, sengaja datang jauh-jauh dari Jawa Tengah ke Hotel Grand Orchardz, Kemayoran, Jakarta Pusat, tempat kursus romansa Kelas Cinta digelar. Waktu itu tahun 2019, tepat setahun Ani bercerai dengan bekas suaminya. Gagal di perkawinan bukan satu-satunya pendorong ia rela membayar biaya Kelas Cinta yang dibanderol Rp2 juta itu.

Sesuai proposal yang ditawarkan Kelas Cinta, Ani mengaku ingin memoles dirinya, sehingga menjadi perempuan yang lebih berkualitas, bersinar, dan memesona.  Sebuah gagasan utopis yang turunan indikatornya sering kali berbeda-beda, tergantung siapa yang bilang. Dalam hal ini, pencipta indikatornya adalah trio Lex DePraxis, Jet Veetlev, dan Kei Savourie, lelaki pendiri Kelas Cinta. 

Selama 12 jam, Ani berkumpul bersama puluhan peserta perempuan lain untuk mengikuti kelas konsultasi percintaan satu-satunya di Indonesia ini. Tak hanya mendengar ceramah dari tiga pegiatnya, Ani juga terlibat diskusi dengan para perempuan yang hadir dari banyak kota di Indonesia. Bahkan, beberapa di antaranya perempuan Indonesia yang pernah atau sedang bermukim di Amerika Serikat, Kanada, Australia, hingga Uni Emirat Arab. Mereka adalah para perempuan dengan rentang usia 25 hingga 40 tahun, dari perkotaan, dan membawa masalah hidup masing-masing, mulai dari gagal menikah, diputus pacar, atau tidak nyaman dengan relasi mereka.

Lex DePraxis, salah satu pendiri Kelas Cinta, mengatakan bahwa secara sederhana kelas mereka ingin membantu lelaki dan perempuan untuk menjadi pribadi yang berkualitas. Tujuannya semata-mata bukan untuk menggaet pasangan, tapi demi membuat diri menjadi penuh terisi dan membuat hidup sendiri terasa menyenangkan, ujarnya.

“Kalau lihat video, judul artikel, atau publikasi buku kita, orang-orang mungkin akan menganggap bahwa Kelas Cinta bertujuan untuk mendapat pasangan lalu menyenangkan mereka,” kata lulusan Sastra Inggris Universitas Indonesia itu kepada Magdalene (24/6).

“Kami terpaksa menggunakan diksi-diksi seperti itu karena peserta datang ke kami dengan masalah yang kurang lebih seputar: Bagaimana cara mendapat pasangan, tips mesra, bagaimana cara membuat mantan kembali, dll.,” ia menambahkan.

Penggunaan istilah-istilah ini diakui Lex sebagai cara membuat orang tertarik datang ke kelasnya.

“Tak masalah kami dikritik, saya suka kritik bahwa Kelas Cinta dikesankan sebagai kelas yang mengajak pesertanya mencari pasangan. Makanya (kami) berkompromi dengan pasar dengan membuat pesan-pesan yang terlalu menyederhanakan. Namun, kami melakukan itu cuma demi membuat orang lain mengerti dan wacana soal pendidikan romansa pun bisa beredar makin luas dan tak terkonsentrasi di segelintir elite perkotaan saja,” tandasnya.

Baca juga: Mengapa Orang Bertahan dalam Hubungan Merugikan

Dalam praktiknya, pembelajaran di Kelas Cinta hanya diarahkan untuk memancing orang datang, bukan mengejar-ngejar. Dalam Kelas Cinta untuk lelaki, Hitman System, peserta diajari untuk mendekati. Sementara, perempuan di kelas Lovable Lady diajarkan bagaimana cara memancing lelaki tanpa terlihat agresif atau putus asa.

Lex mengatakan, meskipun tidak ada dalam kurikulum secara spesifik, perempuan akan diajari untuk meningkatkan prestasi diri, insiatif termasuk memulai mengajak kencan duluan, menjadi orang yang asertif dalam berkomunikasi, dan menciptakan batasan-batasan diri. 

Detail dari materi ini juga bertebaran di publikasi buku yang mereka buat, dari The Lovable Lady Formula, Glossy Gentlemen Guide, Buat Dia Melamar Kamu, hingga Dari Hati ke Hati. Pun di laman daring dan media sosial yang relatif rajin memperbarui konten.

Rupa-rupa Kursus Romansa Serupa

Di Indonesia, kursus romansa selain Kelas Cinta masih jarang ditemui. Namun di luar negeri, kelas khusus yang membahas soal relasi dan percintaan cukup marak. Pasangan Dr. Julie Schwartz Gottman, 70, and Dr. John Gottman, 79 mendirikan Gottman Institute, sebuah perusahaan di Seattle, Amerika Serikat yang membantu pasangan membangun dan memelihara hubungan yang sehat berdasarkan studi ilmiah.

Latar pendidikan keduanya adalah doktoral di bidang psikologi, sehingga pendekatan mereka ketika menganalisis problem dalam relasi cenderung ilmiah. Buat mereka, relasi dan percintaan bukan hal adiluhung yang tak bisa didekati dengan pengetahuan ilmiah. 

Baca juga: Kekerasan dalam Pacaran: Bukan Tanggung Jawab Kita untuk Perbaiki Pasangan

Itulah sebabnya, penulis buku Eight Dates: Essential Conversations for a Lifetime of Love tersebut mendesain metode pembelajaran Gottman Institute dengan pendekatan terapi pasangan yang mencakup penilaian menyeluruh terhadap hubungan pasangan, dan mengintegrasikan intervensi berbasis penelitian berdasarkan Sound Relationship House Theory—teori yang mereka ciptakan sendiri.

Masih di Amerika, kelas romansa lainnya dilakukan oleh Make Women Great Again, sebuah konferensi misoginis yang menjanjikan perempuan bisa merebut kehebatannya kembali. Mengutip The Independent, kelas itu panen kritik karena semua pematerinya adalah lelaki, tanpa latar psikologi atau ilmu relasi sama sekali, dibanderol dengan ongkos mahal US$999, dan perempuan diajarkan untuk melawan feminisme dan menjalani peran-peran tradisional: Menjadi istri dan ibu dari bayi yang tak terbatas jumlahnya.

Misogini Terselubung dan Kritik Lainnya

Konteks kemunculan Make Women Great Again sendiri berbarengan dengan kemunduran hak-hak perempuan baik di Eropa hingga Amerika. Ini berkelindan dengan ideologi berbahaya yang mempromosikan superioritas ras, gender, dan pelanggaran hak asasi manusia. 

Kelas Cinta menolak disamakan dengan Make Women Great Again, meskipun secara sepintas, modelnya tampak mirip: Pengajar laki-laki, bukan berasal dari latar pendidikan yang nyambung, dan peserta diharapkan memenuhi peran tradisional untuk menarik perhatian lawan jenis. Namun, para pendiri Kelas Cinta menandaskan, mereka tak merasa sejalan dengan semangat yang dibawa oleh kelas konservatif Amerika tersebut.

Lex mengatakan, meskipun tidak didukung keilmuan dari lembaga pendidikan formal, para pengajar lumayan aktif mengikuti pelbagai kelas non-formal untuk mendukung kemampuan mengajari mereka. Para mentor di Kelas Cinta konon memang kerap ikut kelas konseling, coaching, hingga ilmu romansa dari Gottman Institute yang sohor di Amerika Serikat.

“Saya bahkan punya target harus ikut sekian kelas atau kursus tiap tahunnya,” ungkap Lex.

Dikaitkan dengan tudingan tak ada intervensi gender dari komposisi pengajarnya, Lex mengamini itu. Ia mengaku kesulitan mencari perempuan pengajar yang kompeten, baik psikolog maupun orang mempelajari ilmu romansa. Sementara ini, ujarnya, yang bisa dia lakukan adalah menggandeng para psikolog, termasuk psikolog perempuan untuk ikut dalam webinar yang kerap mereka buat selama pandemi.

“Kadang-kadang isu yang sama jika yang ngomong lelaki disebut mainsplaining, tapi jika pesan yang sama disampaikan oleh perempuan, orang biasa saja,” kata Lex.

Baca juga: Benarkah Perempuan Berpendidikan Lebih Tinggi Selalu Susah Menikah?

Aktivis gender Tunggal Pawestri mengatakan, kehadiran pengajar perempuan pun tak akan cukup jika perspektifnya masih begitu-begitu saja. Yang tak boleh hilang justru adalah ruang diskusi yang sehat untuk mendobrak sistem yang tak adil untuk perempuan dalam konteks berelasi, ujarnya.

“Saya enggak memungkiri, banyak di antara kita memiliki kebutuhan untuk memiliki relasi yang sehat dan baik. Buat yang belum punya pasangan, pasti ingin cari pasangan yang diimpikan, yang sudah punya pasangan pasti ingin memperbaiki kualitas hubungannya. Sah-sah saja jika ada kelas-kelas partikelir yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan orang-orang ini,” ujar Tunggal.

Namun, perlu dipastikan, kelas-kelas ini jangan justru memperkuat stereotip perempuan atau laki-laki dalam sebuah hubungan, ujarnya.

“Wajib dipastikan bahwa nilai patriarki tidak jadi nilai utama yang disampaikan dan akhirnya hanya memperkokoh mode relasi tradisional (dan heteronormatif), di mana laki-laki harus memimpin dan perempuan harus mengalah,” kata Tunggal.

“Kelas-kelas romansa ini haruslah menjadi ruang untuk mendiskusikan soal kesetaraan, mendobrak stereotip biner lelaki harus begini, perempuan harus begitu,” ia menambahkan.

Masalahnya, apakah Kelas Cinta sudah melakukan itu? Sebab, dalam konteks ini, misogini bisa saja menyamar dalam ajakan untuk merayakan “feminitas”, termasuk privilese (bikinan) bahwa perempuan mudah menggoda lelaki dengan elegan. Jangan sampai seperti ajakan Make Women Great Again yang mengajak perempuan menggaet lelaki dengan menghapus tato, bebas utang, punya fisik kurus, memakai sepatu hak tinggi, lalu meningkatkan feminitasnya hingga di taraf ajaib 500 persen.

 

 

 

Jadi wartawan dari 2010, tertarik dengan isu gender dan kelompok minoritas. Di waktu senggangnya, ia biasa berkebun atau main dengan anjing kesayangan.