‘Operasi Pesta Copet’: ‘TVC’ Pesta Pora yang Dibungkus Jadi Film
“Ini ni Bang, konser paling rame sekarang, gede ye, ini tiga hari ni Bang acaranya, Kemayoran, PRJ, (Pekan Raya Jakarta). Lu tahu enggak yang dateng berape?” kata Melodi (Kawai Labiba) kepada Ijal (Iqbal Ramadhan) dan Adut (Kristo Imanuel).
“Seratus ribu orang. Ini namanya Pesta Pora, tapi biasanya orang nyebutnya Pespor,” jawab Melodi.
Dialog ini tidak saya temukan di iklan saat menonton video YouTube, mendengarkan lagu dari layanan streaming tanpa langganan, atau di televisi. Percakapan Melodi, Ijal, dan Adut tentang betapa besar dan ramainya Pespor justru saya temukan di film layar lebar setelah membeli tiket seharga Rp30.000 karena menontonnya di hari biasa.
Tiket bertuliskan Operasi Pesta Copet saya beli setelah melihat berbagai kritik dan promosi atas film tersebut di media sosial. “Masa sih sejelek itu?” gumam saya saat kritik netizen tentang poin kemiskinan struktural yang berusaha disuarakan Operasi Pesta Copet lewat lini masa Instagram.
Rasa penasaran mendorong saya datang ke bioskop dan duduk selama satu setengah jam, menyaksikan television commercial (TVC) panjang yang berusaha menjadi film layar lebar.
Baca juga: Siapa Saja Massa yang Turun Aksi Hari Ini di DPR dan Apa Tuntutannya?
Cerita Copet
Setelah iklan layanan masyarakat yang menganjurkan penonton menyaksikan film sesuai usia dan beberapa trailer bermunculan di layar, Operasi Pesta Copet dimulai dengan Ijal yang sedang diwawancarai stasiun televisi di kantor polisi. Wartawan (Azizah Hanum) menanyakan motif Ijal dan teman-temannya mencuri.
Alur kemudian beralih ke kilas balik tentang latar belakang dan keadaan ekonomi Ijal. Diceritakan, Ijal adalah anak yatim yang tinggal bersama ibunya. Namun, karena punya pacar baru, ibu Ijal (Yeyen Lydia) menitipkannya kepada sang tante.
Setelah berbelas tahun menumpang di rumah tante, rasa tidak enak mendorong Ijal memulai hidup sendiri di sebuah kamar indekos kecil berdinding triplek. Ia bekerja di pabrik, tetapi terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Ijal kemudian ikut ayah temannya, Adut, menjadi badut ulang tahun.
Adut, ayahnya, dan Ijal menghibur anak-anak di pesta ulang tahun dengan upah yang sebenarnya tidak cukup untuk hidup. Perjalanan akhirnya membawa Ijal dan Adut bertemu dengan Silet (Fauzan Lubis), yang mengajak mereka menjadi copet.
Awalnya, gerombolan ini mencuri barang ibu-ibu yang berbelanja di pasar tradisional. Namun, kejahatan tersebut berhenti saat Silet ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Kembali menjadi badut, Ijal berkutat dengan rasa kesal akibat kemiskinan yang dialaminya.
Di suatu siang, Melodi meminta Ijal menemaninya ke konser musik. Awalnya ia menolak, tetapi berangkat setelah dijanjikan makan malam gratis. Melodi datang ke konser dan menyaksikan band yang tampil, tetapi Ijal justru melihat peluang mencuri handphone dari saku celana para penonton yang sedang asyik mendengarkan musik.
Melihat keberhasilan temannya mencuri tiga handphone seorang diri, Adut tertarik menjadi copet konser.
Namun, keduanya tak tahu konser mana yang paling ramai dan besar. Mereka pun menanyakan hal itu kepada Melodi. Pertanyaan tersebut kemudian menjadi pintu masuk dialog promosi Pesta Pora. Setelah adegan itu, alur cerita berubah menjadi TVC.
Baca juga: RUU Perampasan Aset Jadi Tuntutan Demo 27 Agustus, Kenapa Tuai Kritik
Nonton Iklan di Bioskop
Berselang dua menit dari dialog promosi, alur membawa Melodi meyakinkan Ijal dan Adut untuk ikut dalam kelompok copet. Namun lagi-lagi, persuasi yang dikeluarkan Melodi menjadi bagian dari promosi.
“Ini Pespor loh, lu enggak bisa main-main, bang. Itu penampilnya banyak banget, ratusan, panggungnya aja tuh sampai 17,” ungkapnya.
Tak sampai sepuluh menit setelah informasi tentang jumlah penonton, penampil, dan panggung Pespor disampaikan, penonton kembali disuguhi informasi yang sama. Kali ini, Ijal, Adut, dan Melodi ingin meyakinkan Tia (Zulfa Maharani) untuk ikut mencopet bersama mereka. Melodi kemudian mengulang poin tentang keriaan Pespor.
“Rencananya, saya, bang Adut, sama bang Ijal pingin ke konser musik, namanya Pesta Pora, kalau biasanya, orang-orang mah nyebutnya Pespor,” katanya. “Orang di Pesta Pora berapa Mel kasih tahu,” ujar Adut. “Oh, ribuan orang, banyak banget, ribuan,” jawabnya.
Dua puluh menit kemudian, penonton disuguhi ajakan Melodi untuk membuat lagu tema atau jingle. Adut, Ijal, dan Tia kebingungan mencari cara membuat jingle. Namun, Melodi langsung mengajukan solusi. “Dari Pespornya aja langsung,” katanya sembari memainkan lagu Pesta Pora.
“Oh… Pesta Copet, mari-mari berpesta-pesta Copet,” lantun empat copet dengan mengganti lirik asli jingle Pesta Pora.
Film kemudian membawa penonton melihat kelompok copet ini berlatih mencuri di konser-konser ‘kecil’. Hingga akhirnya mereka siap dan berangkat ke Pesta Pora dengan pengetahuan mendalam tentang konser musik. Cuplikan Pesta Pora 2025 pun bermunculan di layar.
Ramai dan meriah, dipenuhi penampil serta penonton yang antusias. Mendengar dialog dan menonton cuplikan keriaan ini, saya membanting ekspektasi menonton film di kepala. Ini lebih mirip iklan berdurasi hampir dua jam. Masalahnya, saya ada di Pespor 2025 dengan tiket yang dibeli, bukan didapat secara cuma-cuma.
Saya tahu di balik cuplikan-cuplikan acara tersebut ada kekecewaan penonton karena beberapa penampil menarik diri setelah mengetahui PT Freeport Indonesia (PTFI) mensponsori Pespor 2025. Harapan kami menonton beberapa band kala itu dicopet, seperti ekspektasi menonton film yang dicopet oleh berbagai dialog dan adegan promosi Pesta Pora.
Setelah iklan layanan masyarakat dan trailer film yang akan tayang, saya dan penonton lain disuguhi promosi hardsell dalam bentuk film berjudul Operasi Pesta Copet.
Baca juga: ‘Pati Pulang Dulu’: AMPB Pulang Bawa Komitmen RUU Perampasan Aset
Katanya Kemiskinan Struktural
Sutradara film ini, Edy Khemod, bilang pelaku kejahatan jalanan adalah produk dari kebijakan publik yang tidak berpihak kepada rakyat kecil. Mereka ialah hasil dari janji-janji soal kesejahteraan yang tidak terpenuhi.
“Namun, dalam konteks sosial yang lebih luas, mereka yang turun ke jalan menjadi copet sejatinya adalah korban dari sistem yang rusak. Selama negara tidak bisa menyelesaikan masalah dasar kesejahteraan, orang-orang seperti ini akan terus ada,” ucapnya, dilansir dari Mojok.co.
Pernyataan ini bagus diucapkan, tetapi akan lebih apik lagi kalau terlihat di layar lebar. Masalahnya, dialog film justru diisi ajakan Ijal untuk mencari “kerja yang benar”. Hingga di adegan akhir, Ijal diperlihatkan punya pekerjaan baru dan berhenti menjadi copet.
Kenyataannya, kemiskinan struktural bukan cuma tentang orang yang tidak mau mencari kerja. Problemnya lebih serius, mulai dari akses pendidikan yang tidak memadai, upah murah yang tidak cukup untuk hidup, hingga kelangkaan lapangan kerja.
Yang terakhir menjadi masalah serius. Melansir Kompas.id, data Survei Angkatan Kerja Nasional atau Sakernas per Mei 2026 menunjukkan lebih dari 1 juta orang lulusan sarjana, mulai S-1 hingga S-3, menyandang status pengangguran akibat sempitnya lapangan kerja yang tersedia.
Jika solusinya hanya mencari “kerja yang benar”, Operasi Pesta Copet gagal memotret kemiskinan struktural yang sebenarnya. Isu ini hanya terucap lewat dialog, tetapi tidak ditunjukkan di dalam alur.
Pertanyaannya, apakah memotret kemiskinan struktural secara keliru dan membuat film yang isinya iklan konser adalah “pekerjaan yang benar”? Seperti Ijal, mungkin pembuat film perlu mencari pekerjaan baru yang benar.