Issues Politics & Society

Dari Kasus Sambo Hingga Mario Dandy: Bukti Sindrom ‘Blame the Woman’ yang Merajalela

Masyarakat terjangkit sindrom Blame the Woman. Sindrom yang memandang perempuan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya kekerasan

Avatar
  • March 1, 2023
  • 6 min read
  • 1173 Views
Dari Kasus Sambo Hingga Mario Dandy: Bukti Sindrom ‘Blame the Woman’ yang Merajalela

Belakangan media sosial dan media massa di Indonesia heboh membicarakan kasus kekerasan yang yang dilakukan Mario Dandy, 20, anak eks pejabat pajak, kepada David. Kasus itu pertama kali mencuat setelah video kekerasan Mario yang kini berstatus sebagai tersangka tersebar di media sosial.

Dalam video, tampak Dandy menendang kepala dan leher korban, kendati David sudah tak sadarkan diri. Imbasnya serius, David koma dan mengalami diffuse axonal injury atau jenis cedera otak traumatis karena hantaman benda tumpul.

 

 

Tidak sendiri, AG, 15, kekasih Dandy juga terseret dalam kasus ini. Meskipun tak ikut memukuli David, banyak pihak menilai AG adalah “dalang” kekerasan. Dikutip langsung dari Berita Satu, Ketua Gerakan Pemuda Ansor DKI Jakarta Ainul Yakin AlhafidzIni bahkan meminta polisi segara menangkap dan menetapkan AG sebagai tersangka. Ini lantaran AG sempat mengadu kepada Mario kalau dirinya mendapat perlakuan tak baik dari David, sehingga membuat pacarnya langsung menghubungi David.

David yang tak kunjung menanggapi panggilan telepon membuat Mario dan AG lantas menyusun rencana untuk menjebak korban dengan dalih mengembalikan kartu pelajar. Selanjutnya, AG dan David sepakat untuk bertemu pada (20/2). Hari di mana David mengalami kekerasan beruntun. AG sendiri kini sudah ditingkatkan statusnya dari saksi ke tersangka.

Dianggapnya AG sebagai “dalang” penyiksaan David dikaitkan publik dengan kasus Ferdy Sambo dan pembunuhan Ade Sara oleh pasangan Hafitd-Assyifa pada 2014. Ketiganya punya kesamaan. Perempuan dalam tiga kasus tersebut dianggap punya andil besar menjadi api yang menyulut kasus-kasus kekerasan. Jika tidak ada mereka, laki-laki tak mungkin melakukan hal keji seperti itu.

Baca Juga:  ‘Restorative Justice’ dalam Pemerkosaan Anak Papua: Tak Sama dengan Jalur Damai

Sindrom Blame the Woman

Dianggapnya perempuan sebagai biang kerok sebenarnya bukan terjadi satu dua kali saja. Di luar negeri, hal ini pun sudah jadi fenomena umum dan dikenal sebagai sindrom Blame the Women. Bahkan orang Prancis memiliki ungkapan untuk sindrom ini: Cherchez la femme (look for the woman).

Dilansir dari The Washington Post, sindrom Blame the Woman adalah pelabelan negatif pada perempuan. Mereka dicap sebagai Bad Woman atau Bad Witches. Ciri utamanya, perempuan disebut-sebut punya kekuatan yang sangat besar sampai bisa memengaruhi orang lain berbuat kejahatan. Kelicikannya, kejahatannya, membuat perempuan layak dicap sebagai dalang atas segala kehancuran. Mereka juga pantas untuk dihakimi dan disalahkan.

“Ketika sesuatu yang buruk terjadi, kita menyalahkan perempuan,” kata psikiater forensik Elissa Benedek dari Universitas Michigan kepada The Washington Post.

Baca juga: Predator Seksual itu Berlindung di Balik Jubah Gereja

Ia menambahkan, “Ini adalah mitos lama bahwa perempuanlah yang bertanggung jawab. Perempuan itu provokatif, itulah sebabnya dia diperkosa. Perempuan itu sombong, itulah sebabnya dia dilecehkan. Dia tidak melakukan X, Y, atau Z, tapi dia tetap salah karena dia adalah ibu yang buruk. Ini adalah sebuah keberlanjutan dari pelabelan negatif tentang Bad Woman dan sulit untuk dihilangkan.”

Sulitnya label negatif ini hilang karena dalam tataran teologis, sindrom Blame the Woman muncul dan dilanggengkan dari kisah Adam dan Hawa. Adam dibuang ke Bumi karena ia telah memakan apel terlarang atau buah khuldi kendati sudah dilarang oleh Tuhan.  

Dalam berbagai tafsir agama, tindakan Adam ini adalah akibat langsung dari godaan Hawa yang sebelumnya sudah mencicipi buah itu terlebih dahulu karena bisikan setan. Ini disampaikan oleh Michelle Charness JD, mantan asisten jaksa wilayah Middlesex County, Massachusetts, Amerika dan Pekerja Sosial Klinis Berlisensi dalam artikelnya di Psychology Today.

Meskipun kisah Adam dan Hawa ini sudah mengalami banyak penafsiran ulang yang lebih progresif, dalam tafsir agama Islam, termasuk Buya Hamka, pandangan bahwa Adam melakukan dosa karena godaan Hawa masih jadi tafsir dominan di masyarakat. Itu diajarkan dari generasi ke generasi menjadi mitos dan jadi bagian tak terpisahkan dalam berbagai cerita rakyat.

Sayangnya, bagi sebagian orang, menyalahkan perempuan memang jadi cara untuk mempertahankan cerita rakyat. Menyalahkan perempuan juga menawarkan kelegaan yang cepat bagi masyarakat yang cemas akan masa depannya. Pun, menyalahkan perempuan itu mudah dilakukan apalagi karena masih ada pandangan kaku terhadap perempuan di masyarakat.

Dilansir dari The Swaddle, pandangan kaku ini tak lain adalah beban gender yang diberikan kepada perempuan. Dalam masyarakat, perempuan dituntut jadi “baik” dan terhormat. Tiap gerak-gerik dan perilakunya diamati agar sesuai dengan standar dari peraturan tak tertulis ini. Sehingga, jika perempuan gagal memenuhi standar, mereka akan didakwa atas tindakannya. Bahkan ketika perbuatan buruk tak benar-benar ia lakukan.

Kasus AG yang Punya Lapisan Tambahan

Theresia Iswarini, Komisioner Komnas Perempuan mengatakan kepada Magdalene, anggapan publik tentang keterlibatan AG sebagai dalang kekerasan perlu dicermati lebih lanjut. Menurutnya, kasus AG ini cukup kompleks lantaran melibatkan peran masyarakat yang otomatis menyalahkan perempuan. Pun, secara usia dalam Undang-Undang Perlindungan Anak, AG masih dikategorikan sebagai anak-anak.

Karena usianya ini, muncul indikasi bahwa ada lapisan relasi kuasa antara AG dengan kekasihnya, Mario Dandy. Anak-anak yang memiliki relasi romantis dengan orang dewasa sebenarnya berada dalam ruang dan kendali besar pasangan dewasanya. Ini sangat memungkinkan anak-anak mengalami manipulasi dan intimidasi dalam relasi.

Psikolog klinis dan konseling dan CEO Relationships Australia NSW, Elisabeth Shaw dikutip dari Abc News mengungkapkan, relasi romantis antara anak perempuan dan laki-laki dewasa dalam kondisi terburuknya bisa bersifat predator. Kerentanan mereka sebagai anak-anak membuat laki-laki dewasa cenderung lebih banyak mempraktikkan kekuasaan.

Baca Juga: Lagi, Pejabat Remehkan Kasus Pelecehan Seksual: Sudah Saatnya Berubah, Pak, Bu!

“Apakah benarkah dia yang menyulut, memprovokasi? Kita harus memahami dua hal. Masyarakat masih patriarkis, masih melihat bahwa ruang besar itu sentral pada laki-laki. Dengan ruang ini mereka (laki-laki) punya kuasa lebih dan sebenarnya mampu melakukan keputusannya sendiri,” tukas Theresia.

Lalu secara undang-undang, imbuhnya, AG masih berada di bawah pengampuan dan perwalian untuk membuat keputusan atau menyatakan sesuatu di hadapan hukum.

“Tapi kok ini justru narasinya dikendalikan anak perempuan? Situasi ini yang harusnya dipahami publik. Tentang pandangan masyarakat soal perempuan dan posisi anak,” ujarnya lagi.

Theresia bilang, dibandingkan dengan melakukan witch hunting terhadap AG yang keterlibatannya saja masih belum jelas, ia meminta masyarakat untuk menahan diri dalam membuat penyimpulan sepihak terhadap kasus tersebut.

“Tugas kita sebagai orang dewasa adalah memosisikan diri sendiri melindungi anak, dalam hal ini dari stigma. Dampak dari apa yang terjadi pada AG, anak perempuan yang bahkan hingga kita belum clear keterlibatannya,” jelasnya.

Theresia juga melanjutkan agar masyarakat tak lagi dibelenggu oleh mindset Blame the Women, memang perlu usaha-usaha ekstra yang dilakukan dalam level struktural. Mengingat mindset ini sebenarnya adalah wujud lain dari ketidakadilan gender yang berakar dari pikiran misoginis. Karenanya, menurut Theresia, banyak pihak yang harus terlibat dalam perubahan mindset ini.

Mulai dari orang tua yang mengajarkan budaya keadilan gender sejak dini, lewat pengenalan pekerjaan domestik yang dibagi rata antara anak laki-laki dan perempuan karena sifatnya genderless. Lalu, disusul dengan sekolah yang bisa jadi ruang pendidikan bertahap perkenalan keadilan gender lewat kurikulum atau materi yang menormalisasi materi tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi. Terakhir, bisa lewat institusi keagamaan yang harus bisa melakukan penafsiran ulang terhadap ayat-ayat yang dianggap tidak adil gender dan membumikannya ke masyarakat luas.

Harapannya dengan ini semua, ketidakadilan gender baik dalam perilaku dan cara pandang bisa sedikit demi sedikit terkikis, dari level keluarga hingga negara.

Ilustrasi oleh Karina Tungari


Avatar
About Author

Jasmine Floretta V.D

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *