Women Lead
April 21, 2021

Saat Pacar Melela, Masihkah Kita Mencintainya?

Istri yang dibohongi suami queer dan suami queer yang harus menutupi identitas oleh masyarakat, keduanya adalah korban. Lalu harus bagaimana?

by Pratiwi Juliani
Issues // Gender and Sexuality
LGBT_Queer Love_KarinaTungari
Share:

Saya pro-queer. Bagi saya, semua manusia itu setara. Namun, saya sempat mempertanyakan dukungan saya pada para queer ketika seorang teman baik saya mengadu bahwa calon suaminya  membatalkan pernikahan mereka karena dia ingin menjadi transpuan.

Hari-hari berikutnya, obrolan kami diisi oleh ingatan teman saya tentang betapa bahagianya mereka dulu dan janji-janji tentang masa depan yang telah mereka sepakati. Berdasarkan keyakinannya akan kekuatan cinta mereka, teman saya berkeras ingin melanjutkan pernikahan. Sang calon suami sendiri masih berkeras untuk meneruskan hidup dengan identitas femininnya.

Tidak mudah bagi saya untuk mengarahkan teman saya agar mengikhlaskan saja janji-janji mereka. Meski saya tak akan mau mengecam seseorang karena melela, saya juga tidak bisa menutup mata dari apa yang teman saya alami. Untuk seorang yang mencintai dengan tulus tanpa ada prasangka apa pun selama bertahun-tahun, apa yang dialami teman saya terasa seperti penipuan. Ia merasa seperti dibiarkan bermimpi indah sangat panjang yang kemudian mendadak dibangunkan dalam neraka.

Kepalanya dipenuhi dengan pertanyaan, "Kalau memang dia merasa bahwa dia beridentitas feminin, mengapa tidak dia ungkapkan dari dulu? Mengapa sekarang dan mengapa saya yang jadi korban dari masalah pencarian jati dirinya?"

Teman saya benar, dia korban. Benar-benar korban sebuah peristiwa yang bisa terjadi pada siapa saja, tanpa perlu melakukan kesalahan apa-apa. Tapi apakah coming out atau melela itu sebuah kesalahan? Ya di negara ini, ya karena itu membuatnya harus mengingkari janji pernikahan mereka, tapi saya yakin secara kemanusiaan tidak.

Baca juga: Ketika Pria Gay Menikahi Perempuan: Egoisme yang Patut Dihindari

Queer Harus Menutupi Identitas

Hampir sebagian besar orang-orang queer di Indonesia menutupi identitas mereka. Jarang yang mengungkap identitas mereka kepada publik hingga sampai di titik mereka berada dalam situasi dan lingkungan yang mendukung mereka untuk melela. Pertanyaan "mengapa baru sekarang?", seperti yang terus didengungkan oleh teman saya itu kini bisa kita kembangkan menjadi, "Apa yang selama ini menghalangi mereka dari melela?”.

Ambil contoh, seorang teman queer saya mengatakan bahwa dia menyadari bahwa dirinya queer ketika ia duduk di Sekolah Menengah Pertama. Itu sangat dini. Namun hingga kini usianya 35 tahun, ia baru berani mengakuinya. Ia telah pula mencoba untuk menjadi maskulin dengan menjalin hubungan heteroseksual, namun tidak berhasil baginya. Itu berarti, ia telah menyimpan dan berusaha melawan jati dirinya selama lebih dari 20 tahun.

Pada artikel Memahami Gender dan Seksualitas dari Magdalene, saya mendapatkan pemahaman bahwa faktor internal dan eksternal sangat memengaruhi ragam gender dan seksualitas manusia. Jika selama ini kita tahu bahwa seksualitas dan gender ditentukan oleh faktor internal melalui ciri biologis seperti apakah mereka terlahir dengan penis atau vagina, maka ternyata faktor eksternal seperti sosial, ekonomi, politik, budaya, hukum, sejarah, agama, spiritual juga memengaruhinya juga. Saya menyebutnya pengalaman dengan jejak psikologis.

Saya kira, identitas manusia yang paling murni adalah apa yang berhasil berkembang dan berakar padanya secara psikologis, mengingat bahkan ciri biologis seperti jenis kelamin pun ternyata tidak bisa sepenuhnya akurat mencerminkan identitas seksual dan gender manusia itu sendiri. Ini sebenarnya bisa dijadikan dasar utama bahwa manusia seharusnya berhak menentukan sikap seksual dan gender mereka secara bebas setelah mereka berhasil mengidentifikasi kecenderungan diri mereka pribadi, bukan ditentukan oleh masyarakat ketika seorang bayi berhasil diketahui jenis kelamin mereka seperti yang jamak kita percaya hingga hari ini.

Sayangnya, negara tidak mau mengakui secara resmi gender selain feminin dan maskulin hingga hari ini. Bayangkan, bagaimana jika seandainya seseorang yang berpikiran dan beridentitas feminin dicap dan diharapkan tumbuh sebagai maskulin hanya karena jenis kelamin, sosial, budaya, hukum, dan agama menghendakinya demikian?

Semuanya akan berjalan mulus jika kebetulan kita adalah cisgender: identitas seksual dan gender kita kebetulan tak bertentangan dengan ciri biologis dan faktor eksternal lain hadir untuk mendukung. Namun pada mereka yang trans, kejadian seperti yang dialami oleh teman saya di awal tulisan jelas merugikan kedua belah pihak.

Teman saya merasa tertipu oleh kekasihnya yang akhirnya melela. Sementara kekasihnya yang melela, barangkali juga telah tertipu seumur hidupnya sebab selama ini ia diberi tahu keluarga dan lingkungannya bahwa ia adalah dan harus, mutlak menjadi seorang maskulin karena ia terlahir dengan penis tidak peduli apakah secara psikologis dia terlahir, atau dalam perjalanannya terbentuk menjadi seorang feminin. Pada akhirnya, mereka berdua adalah korban dari kekakuan konsep pengaturan kehidupan manusia yang lucunya justru jauh dari kelenturan nilai kemanusiaan yang terus berkembang setiap harinya.

Baca juga: Laki-laki Gay Jadi Bunglon Sosial Lewat Pernikahan Heteroseksual

Berdamai dengan Identitas Queer

Akar masalah kita berada pada pengotakan gender berdasarkan ciri anak ketika dilahirkan. Bermodalkan penis atau vagina yang mereka pikir hanya berguna untuk kencing, anak dengan sendirinya tidak diberi pilihan berekspresi di luar ciri biologis mereka itu oleh orang dewasa di sekitar mereka. Padahal, pengalaman dengan jejak psikologis anak berkembang jauh melewati batas jenis kelamin anak itu sendiri, yang kelak akan membawa mereka pada kecenderungan cis atau trans.

Pengotakan gender feminin atau maskulin berdasarkan jenis kelamin tentu bukan menjadi masalah bagi kaum cis, namun bagi mereka yang trans berarti harus menghadapi pengotakan itu sebagai tekanan besar dan menyeluruh. Trans yang mempercayai bahwa pengotakan itu benar akan berusaha tetap pada kotaknya sembari menunjuk dirinya bersalah. Yang sedari awal tidak setuju atau akhirnya sampai pada keyakinan tidak setuju pada pengotakan gender akhirnya akan melela.

Seorang teman perempuan saya yang lain memiliki satu anak berjenis kelamin laki-laki yang sangat menyukai boneka Barbie. Selain itu, ia juga suka diam-diam menggunakan peralatan make-up ibunya. Teman saya mencintainya dengan gembira, meskipun suaminya yang merupakan ayah anak itu sering memaksakan penerapan perilaku maskulin kepadanya. Teman saya bercerai kemudian demi kebebasan hak anaknya dan menghindarkan anaknya dari tekanan ayahnya sendiri.

Ini tentu dua kasus yang berbeda, tapi landasannya adalah satu: cinta. Cinta orang tua pada anaknya, cinta seorang pada kekasih. Cinta bisa membebaskan, bisa pula memenjarakan seseorang. Tak banyak orang tua yang membiarkan anaknya melela. Sebagian besar menerjemahkan cinta mereka dengan cara memaksa anak masuk ke dalam pengotakan gender berdasarkan jenis kelamin. Bagi mereka, gender selain feminin atau maskulin adalah salah, dan cinta tidak akan membiarkan orang yang dicintainya melakukan kesalahan.

Setelah pemikiran ini, saya memberanikan diri merefleksikan diri. Seandainya kelak anak saya, atau keluarga saya, atau bahkan kekasih saya, sampai pada akhir pencarian jati diri mereka dan mereka melela, apakah saya masih tetap mencintainya? Saya tahu ini akan berat, tetapi ya. Saya barangkali tidak bisa berbuat banyak tapi ya, saya tidak akan menghalanginya apalagi memusuhinya.

Baca juga: Pria Gay Bersembunyi di Balik Tudung Rohani

Tak banyak queer yang berani melela. Sama seperti kita yang mengutamakan hubungan baik, saya kira, mereka pun telah berusaha keras memukul mundur identitas mereka sendiri demi tidak perlu ada kekerasan dan air mata. Mereka menyadari, orang-orang yang menyayangi mereka kemungkinan besar tak akan setuju jika mereka melela. Taruhannya adalah kekerasan, kesedihan mendalam, dan rasa bersalah berkepanjangan.

Melela dianggap akan menjadikan mereka orang jahat sebab akan muncul banyak korban: orang tua, keluarga, kekasih yang tidak berprasangk,a dan lingkungan secara luas. Padahal, tidak ada korban jika tidak ada harapan besar tentang gender yang muncul dari jenis kelamin.

Saya bertanya pada teman saya yang berkeras ingin melanjutkan pernikahan. "Jika iya kalian menikah, apakah kamu tidak masalah dengan identitas femininnya? Apakah tidak apa-apa bagimu jika kelak kalian berdua berjalan bergandengan tangan dengan warna lipstik yang sama?"

Teman saya dengan tegas menjawab, "Saya akan menerima, meskipun ini bahkan pengalaman pertama saya dengan queer. Selama dia masih mencintai saya, saya akan mencintainya tanpa syarat apa-apa."

Saya memahami betapa hancur perasaan teman saya saat ini, tapi sungguh, saya demikian bangga ketika mengetahui ia akan membiarkan orang yang dia cintai melela.  Namun, jika kelak dia harus membebaskannya demi tercapainya kesempurnaan identitas orang yang dicintainya, saya tahu ia pun pasti akan melepaskannya.

Perkara hati yang patah, ayo, kita mampu membalutnya sendiri. Di depan, kesempatan penuh kebahagiaan lain menunggu, bahkan yang lebih besar dari hari ini, sebab kita juga telah berhasil memenangkan pertarungan dengan ego dan kesalahan pengotakan gender yang telah berakar. Sebab di dunia yang harus dibayar dengan kegetiran demi tercapainya sebuah pengetahuan akan kemanusiaan yang luhur, kita tahu, kita telah berdamai.

Ilustrasi oleh Karina Tungari 

Pratiwi Juliani lahir di Kalimantan Selatan, memiliki taman baca gratis yang bergerak dalam misi mengenalkan dan meningkatkan minat baca untuk anak dan perempuan di desa-desa terpencil di provinsi tersebut. Telah menerbitkan dua buku “Atraksi Lumba-lumba dan Cerita Lainnya” (KPG) dan “Dear Jane” (KPG). “Dear Jane” menjadi satu-satunya naskah novel yang lolos kurasi Ubud Writers and Readers Festival 2018.