Women Lead
September 01, 2021

Dari Kesepian sampai Ditinggal Mantan: Alasan Salah untuk Menikah

Banyak orang menikah karena alasan-alasan absurd nan menyedihkan. Simak alasan-alasan menikah yang salah, sebagai pengingat untuk tak lagi mengglorifikasi pernikahan.

by Selma Kirana Haryadi, Reporter
Issues // Relationship
menikah karena ditinggal mantan
Share:

Masyarakat Indonesia punya beberapa nilai dan kebiasaan toksik yang tak mengamini otoritas diri manusia, salah satunya adalah mengglorifikasi pernikahan. Menikah dijadikan salah satu tujuan dalam hidup, dan mereka yang tidak menikah atau “telat” menikah, akan dianggap gagal, tidak utuh, dan dikaitkan dengan segelintir stigma soal melawan kodrat atau “tidak laku”. 

Tuntutan agar perempuan menikah lebih cepat daripada laki-laki juga kerap didorong alasan basi: Dianggap punya “expire date” alias khawatir semakin tua bakal sulit punya anak. Buat saya, itu mengeliminasi diskursus soal kebebasan perempuan untuk mempunyai atau tidak mempunyai anak, atau mempunyai anak lewat cara apapun.

Alhasil, banyak orang menikah karena alasan-alasan yang absurd dan sebenarnya memprihatinkan. Ini adalah pengingat kita untuk tak lagi menormalisasi menjadikan pernikahan sebagai tuntutan, apalagi aspek penentu keberhasilan seseorang dalam hidupnya. Kalau kamu sendiri merasa menemukan alasan-alasan di bawah ini, mungkin ini waktu yang tepat untuk kamu introspeksi diri dan mempertimbangkan ulang alasanmu untuk menikah. 

Baca juga: Menikah Itu Tidak Indah

1. Karena Dituntut Keluarga

Masih banyak keluarga yang menuntut anaknya untuk segera menikah, bahkan ketika sang anak sama sekali belum atau tidak punya kemauan dan kesiapan. Bila tuntutan itu terus-menerus ditunjukkan, tak menutup kemungkinan, lama-lama kita merasa jengah dan bilang, “Iya aja, deh. Biar cepat.” Akan tetapi, menikah hanya karena capek mendengar tuntutan keluarga bukanlah alasan yang tepat. Karena bukan kemauan sendiri, besar kemungkinan pernikahan nanti kita jalani setengah hati. Pun, karena terlampau terburu-buru, jadi tidak bisa mengalokasikan cukup waktu dan tenaga untuk memilih dan menilai pasangan yang baik dan sejalan dengan kita. 

2. Karena Kesepian

Saya sama sekali tak menyangkal menjadi orang dewasa itu luar biasa sepi. Semakin umur bertambah, semakin berubah pula kesibukan dan prioritas orang-orang di sekitar kita yang membuat hubungan jadi tak sedekat dan seintensif dulu. Di sinilah celah yang sering orang-orang jadikan alasan untuk menikah, yaitu ingin selalu ditemani 24/7.

Tak ada salahnya memang, karena pada akhirnya kita membutuhkan teman hidup. Namun, hal itu bisa menjadi alasan yang salah untuk menikah apabila tak disertai dengan kesadaran bahwa menikah juga bukan hanya tentang selalu berduaan dan memvalidasi istilah “dunia milik kita berdua, orang lain cuma ngontrak”.

Misalnya, bila sewaktu-waktu pasangan kita harus bekerja di tempat yang jauh, sehingga membuat kamu harus menjalani long distance relationship (LDR), kamu bisa merasa super kesepian dan berakhir melarang dia pergi jauh. Padahal, itu adalah kesempatan dia untuk melakukan aktualisasi diri dan mengembangkan kariernya, sebuah hal yang padahal bila didapatkan akan bermanfaat untuk kelangsungan rumah tanggamu juga. 

Baca juga: Menikah Tapi Tetap Bebas, Bagaimana Caranya?

3. Karena Ingin Ada yang Membahagiakan

Sering sekali kita dengar orang-orang yang beralasan, “Dia enggak bisa membahagiakan aku,” sebagai penyebab mereka putus dari hubungannya. Ini adalah bentuk kesalahan berpikir yang acapkali masih lestari sampai ke pertimbangan menuju pernikahan. Sebagai turunan dari mereka yang merasa kesepian, maka muncul harapan agar ada yang menemani sehari-hari dengan jalan menikah. Dalam hal ini, menikah dengan alasan ingin ada yang membahagiakan juga bukan hal yang tepat. Itu berangkat dari logika bahwa kebahagiaan kita adalah tanggung jawab diri kita sendiri, bukan orang lain, entah itu teman, keluarga, juga pasangan. Orang-orang terbaik di hidup kita memang bisa mendukung dan menemani kita dalam menjalani hari dan melewati berbagai permasalahan. 

Sebesar apapun dukungan yang mereka berikan tak akan pernah membuat kita bahagia bila kita tidak membahagiakan diri kita sendiri. Ingin dibahagiakan juga adalah sebuah hal yang egois, karena itu berarti menuntut orang lain untuk selalu mengikuti kemauan kita. Jadi, bila kamu ingin bahagia, lebih baik tanyakan dulu pada dirimu sendiri, sejauh mana kamu bisa mensyukuri kehadiran orang-orang di sekitarmu dan usaha mereka untuk menjadi rekan yang baik bagimu? Terlebih lagi, menikah bukan hanya perkara senang-senang.

Ada banyak hal yang harus didiskusikan dan disepakati yang tak jarang melahirkan konflik akibat perbedaan pendapat. Apakah itu berarti kebahagiaanmu jadi hilang? Bila iya, kamu harus mengaji ulang apakah kamu benar-benar ingin menikah, atau hanya ingin dituruti semua kemauannya?

Baca juga: Keluarga Menuntut Resepsi Pernikahan Mahal, Bagaimana Menolaknya?

4. Karena Minder Lihat Orang Lain Sudah Menikah (Apalagi Mantan)

Saat kita menginjak usia 20-an, mungkin sudah tiba waktu di mana tiap minggu ada saja teman yang menikah. Kadang kita dapat undangannya, kadang kita saksikan di unggahan media sosial orang-orang. Pernah, bahkan, di suatu hari Minggu, ada lima orang teman dan kenalan saya yang menikah. Wajah mereka terlihat bahagia sebagai pasangan baru, dengan dekorasi pernikahan yang cantik nan mewah, serta doa-doa romantis yang dipanjatkan mereka yang mengucapkan. Apalagi, kalau yang sudah menikah adalah mantan pacar kita, atau jadi satu-satunya yang belum menikah di peer group. Ada kemungkinan kita merasa tertinggal dan minder.

Masalahnya, tertinggal dari apa sebenarnya? Apakah keberhasilan orang lain dalam satu aspek bisa dijadikan tolak ukur keberhasilan diri kita? Tentu saja tidak. Tak perlu merasa takut tertinggal atau minder. Semua orang memiliki kesiapan dan pertimbanganya masing-masing dalam membuat keputusan soal menikah. Menikah lebih dulu juga tak jadi jaminan kebahagiaan, sebagaimana menikah belakangan tak jadi tolak ukur kalau kita enggak laku atau lantas jadi merana pernikahannya. Daripada berlomba-lomba soal siapa yang paling cepat menikah, lebih baik mematangkan kedewasaan diri dan pasangan supaya bisa jadi mitra yang baik untuk satu sama lain, bukan?

5. Karena Butuh Uang (dan Jadi Satu-satunya Alasan)

Baru kenal sama seseorang, tahu-tahu gaji dia sudah dua digit, padahal masih 25 tahun. Langsung, deh, kamu kepincut dan membayangkan kesejahteraan rumah tanggamu bila menikah dengan dia. Apalagi, kondisi keuanganmu sendiri sedang buruk, ditambah dengan tagihan yang menggunung dan pola hidup yang cenderung boros. Bila kondisi keuangan seseorang jadi alasanmu ingin menikahi dia, dan itu jadi satu-satunya alasan, mungkin sebaiknya kamu memikirkan ulang keputusanmu. 

Memang, uang adalah hal yang jadi keniscayaan dalam hubungan pernikahan dan keluarga untuk memenuhi berbagai kebutuhan yang tidak sedikit. Namun, menikahi seseorang hanya karena uangnya menunjukkan cara berpikir yang pendek dan materialistis.

Itu juga mencerminkan ketidaksetaraan hubungan yang bisa berdampak buruk terhadap kehidupan rumah tangga di masa depan. Baik laki-laki ataupun perempuan memiliki hak yang sama untuk dinilai secara utuh, bukan hanya dinilai berdasarkan kapasitas ekonominya. Lagipula, alangkah baiknya bila persoalan uang dalam pernikahan itu jadi tanggung jawab bersama, sebagaimana urusan-urusan lain dalam rumah tangga.

Selma adalah penyuka waktu sendiri yang masih berharap konsepsi tentang normalitas sebagai hasil kedangkalan pemikiran manusia akan hilang dari muka bumi.