Women Lead
November 24, 2020

Guru BK Berperan Penting dalam Mendeteksi Depresi Siswa

Masalah depresi pada siswa adalah jamak, namunguru BK memiliki keterbatasan untuk mendeteksi masalah kesehatan mental ini.

by Jane Fisher dkk.
Issues
Mental Health_Depression_Anxiety_SarahArifin
Share:

Berdasarkan laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2014, tingkat bunuh diri di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, adalah yang tertinggi di dunia, yaitu mencapai 20 per 100.000 orang. Tingkat bunuh diri global diperkirakan 10,5 per 100.000 orang.

Di Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, enam persen penduduk Indonesia memiliki gangguan mental-emosional seperti gangguan suasana hati, kecemasan, psikosis, dan adiksi. Lebih lanjut, diperkirakan 185 dari 1.000 orang dewasa di negara ini punya masalah kesehatan mental. Remaja dan anak-anak juga mengalami masalah sama: Sekitar 140 dari 1.000 remaja di bawah usia 15 tahun dan 104 dari 1.000 anak-anak berusia antara 5 dan 14 tahun juga memiliki masalah kesehatan mental.

Untuk mengatasi masalah ini, akses ke layanan kesehatan mental untuk remaja harus ditingkatkan. Namun tidak hanya itu, guru bimbingan konseling (BK) di sekolah, dokter umum, dan perawat juga harus dilengkapi dengan alat untuk mendeteksi gejala masalah kesehatan mental.

Baca juga: Jadi Pendengar yang Baik Saat Teman Ingin Bunuh Diri

Antara Januari dan Juli tahun 2018, kami sekelompok peneliti dari Australia dan Indonesia, meneliti untuk menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia instrumen untuk mendeteksi gejala depresi. Kami juga menguji untuk memastikan hasil terjemahan dapat dengan mudah dipahami dan diterima oleh pemuda Indonesia.

Tidak mudah dideteksi

Praktisi kesehatan mental terlatih untuk mendiagnosis orang dengan depresi. Mereka biasanya menggunakan wawancara klinis dalam diagnosisnya. Masalahnya, bagi banyak orang, perjalanan mencari bantuan untuk mengatasi masalah kesehatan mental biasanya sangat panjang.

Ada stigma seputar gangguan emosi yang mencegah orang mencari bantuan. Kebanyakan orang sering tidak tahu bahwa mereka, teman-teman, atau keluarga mereka memiliki gejala depresi.

Sekolah adalah tempat yang ideal untuk mempromosikan aspek kesehatan mental remaja, terlebih pada level pendidikan dasar yang menjadi wajib bagi anak-anak Indonesia. Mereka menghabiskan enam hingga delapan jam sehari di sekolah, membuat para guru mampu mengenali masalah emosi dan perilaku siswa. Namun sayangnya, guru bimbingan konseling (BK) di sekolah dasar di Indonesia tidak memiliki alat untuk membantu mereka mendeteksi masalah kesehatan mental.

Baca juga: Riset di Aceh: Trauma Perundungan dari SD Terbawa hingga Dewasa

Alat untuk mendeteksi depresi

Mendeteksi depresi dan kecemasan pada remaja tidak mudah dan sering terlambat. Kita dapat melihat ini di laporan media tentang kasus bunuh diri remaja.

Peneliti kesehatan medis Indonesia memiliki alat mendeteksi gejala depresi yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Misalnya, MINI Kid (Mini-International Neuropsychiatric Interview For Children And Adolescents), sebuah pedoman wawancara semi terstruktur untuk mendiagnosis gangguan mental pada anak-anak dan remaja, termasuk psikosis, depresi, dan kecemasan. Tapi, alat ini lebih umum digunakan untuk tujuan penelitian. Untuk pemeriksaan klinis, pemeriksaan psikiatri dan wawancara jauh lebih diterapkan untuk mendiagnosis gangguan mental termasuk depresi.

Itu sebabnya kami menerjemahkan instrumen yang dapat digunakan oleh dokter umum, perawat dan guru BK untuk membantu mereka mendeteksi kecemasan dan depresi di kalangan siswa berusia sekitar 16-18 tahun.

Untuk penelitian kami, kami menerjemahkan Skala CESD-R (Center for Epidemiologic Studies Depression) dan Kessler Psychological Distress Scale - 10 item (K10). Instrumen ini berbentuk kuesioner yang diisi sendiri. Meskipun instrumen tidak spesifik untuk populasi remaja, tetapi di banyak negara lain instrumen ini berguna untuk mendeteksi gejala awal depresi dan kecemasan pada remaja.

Deteksi dini dapat membantu remaja untuk mendapatkan tata laksana yang lebih awal seperti medikasi serta manajemen psikososial seperti psikoedukasi, konseling, serta terapi kognitif perilaku.

Daripada menilai atau melabeli mereka sebagai “siswa bermasalah”, kita harus mendengarkan, berempati, mendukung, dan membantu mereka mencari bantuan profesional jika diperlukan.

Menerjemahkan alat pendeteksi kesehatan mental

Untuk penelitian kami, dua penerjemah dwibahasa, yang berbahasa ibu bahasa Indonesia, menerjemahkan kuesioner asli secara independen. Para penerjemah adalah psikiater yang tidak terlibat dalam studi lapangan.

Kami kemudian mempelajari hasil terjemahan dan memutuskan terjemahan yang sesuai untuk setiap item sesuai dengan bahasa asli dari instrumen.Terjemahan kembali ke bahasa Inggris dilakukan oleh penerjemah profesional tersumpah dari pusat bahasa di Universitas Indonesia. Para ahli di Australia mengevaluasi terjemahan kembali untuk memastikan bahwa pernyataan dalam versi bahasa Indonesia mirip dengan versi aslinya.

Kami menguji versi terakhir dari kuesioner kepada 10 anak berusia 16-18 di Jakarta pada Februari 2018. Dari uji coba, semua pasien setuju bahwa kuesioner yang diterjemahkan CESD-R dan K-10 dapat dengan mudah dipahami.

Kami juga melakukan studi validasi, untuk membandingkan versi Indonesia dari CESD-R dengan alat lain, yang disebut MINI Kid, yang juga telah diterjemahkan ke Indonesia.

Sekitar 196 siswa SMA yang berusia 16-18 tahun di Jakarta berpartisipasi dalam studi validasi. Para siswa menyelesaikan versi Bahasa Indonesia penilaian CESD-R dan MINI Kid dan kami membandingan untuk melihat apakah hasil dari CESD-R mirip dengan pengukuran yang valid (MINI Kid).

Baca juga: 4 Cara Ajari Murid Keterampilan Menangkal Hoaks

Melalui analisis statistik yang mengukur atau membandingkan CESD-R dan K-10, kami menemukan bahwa semua skala memiliki validitas yang baik untuk mendeteksi depresi dan kecemasan.

CESD-R 75 persen sensitif, yang berarti dapat mendeteksi 75 persen orang dengan depresi dan hampir 80 persen spesifik untuk mendeteksi gejala depresi seperti gangguan suasana hati, masalah tidur, nafsu makan yang buruk atau masalah dalam interaksi sosial; sedangkan instrumen K-10 85,7 persen sensitif dan 74,7 persen spesifik untuk mendeteksi kecemasan.

Guru BK, perawat atau dokter dapat dilatih untuk menggunakan instrumen-instrumen ini untuk mendeteksi gejala depresi. Pemerintah juga harus memperkuat sistem rujukan dengan melatih dokter umum untuk mengelola atau merujuk kasus.

Penting untuk meningkatkan kesadaran publik tentang masalah kesehatan mental terutama pada anak dan remaja oleh karena mereka merupakan generasi penerus bangsa. Seluruh komunitas harus mendukung anak dan remaja yang berjuang dengan kecemasan, gangguan suasana hati, dan depresi.

Daripada menilai atau melabeli mereka sebagai “siswa bermasalah”, kita harus mendengarkan, berempati, mendukung, dan membantu mereka mencari bantuan profesional jika diperlukan. Ini akan mengurangi stigma dan membantu anak-anak muda Indonesia menghargai kesejahteraan mental mereka sendiri.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Jane Fisher adalah profesor dan direktur Jean Hailes Research Unit, School of Public Health & Preventive Medicine, Monash University. Fransiska Kaligis adalah pengajar di Divisi Psikiatri Anak dan Remaja, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia. Thach Tran adalah research Fellow di School of Public Health and Preventive Medicine, Monash University. Tjhin Wiguna adalah konsultan di Departemen Psikiatri Anak dan Remaja, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.