Women Lead
January 13, 2021

‘History of Swear Words’: Tontonan Wajib Buat yang Suka Sumpah Serapah

Serial ‘History of Swear Words’ menggambarkan sejarah umpatan dan sumpah serapah, serta bagaimana mengumpat itu bermanfaat.

by Candra Aditya
Culture
Share:

Saya suka sekali ngomong kasar.

Mungkin karena waktu saya remaja saya anaknya enggak macem-macem, jadi begitu dewasa akhirnya balas dendam. Waktu hijrah ke Jakarta dan tinggal sendiri, saya kemudian menemukan kenyataan yang pahit bahwa mengumpat itu enak banget. Mengumpat dan melontarkan sumpah serapah adalah bentuk ekspresi yang sangat underrated.

Ada semacam kepuasan batin ketika bisa teriak “anjing!”. Dan kata makian “anjing” ini bisa dipakai dalam segala situasi. Ketika sedang liat meme lucu. Waktu kaki kesandung ujung meja. Saat sedang sebal karena bos enggak pengertian. Ketika melihat bagaimana pemerintah menepuk pundak sendiri dalam menangani kasus COVID-19. Juga waktu melihat salah satu adegan drama Korea.

Terus terang awalnya saya mengumpat biar kelihatan “lebih Jakarta”. Saya enggak munafik, saya berusaha keras agar diterima ketika sampai di Jakarta. Sebagai seorang perantau, dianggap “orang desa” adalah salah satu mimpi terburuk saya (walaupun semakin dewasa saya semakin tersadar bahwa saya tidak peduli apa kata orang).

Tapi setelah mulai sering mengumpat, saya jadi ketagihan. Enak banget bisa memanggil “Heh, monyet” kepada teman yang sebenarnya saya sayangi. Kadang kalau saya melamun malam-malam saya suka berpikir dari mana sih asalnya kata-kata umpatan ini berasal.

Dan suatu hari lamunan saya dijawab oleh Netflix.

Netflix, salah satu ciptaan manusia paling berguna saat ini, memberitahu saya minggu lalu bahwa dia merilis serial komedi baru berjudul History of Swear Words. Dan sesuai dengan judulnya, serial ini bercerita tentang bagaimana sebuah kata makian, kata kasar, kata kotor, dan sumpah serapah berasal dan bagaimana ia berkembang di dunia. Karena yang bikin orang kulit putih, tentu saja kata-kata makian yang dibahas adalah umpatan-umpatan boso enggres. Tapi enggak apa-apa. Ini baru awal yang menarik.

Baca juga: Angkat Gelas Minuman Tinggi-tinggi untuk Lewati Tahun Paling Brengsek

Sejarah Umpatan yang Lucu dan Informatif

History of Swear Words adalah sebuah serial dokumenter Netflix yang menarik dan lucu, selain informatif tentunya. Pembawa acara ini adalah Nicolas Cage, boleh dibilang salah satu aktor terbaik di luar sana. Dude has range. Dia bisa memainkan peran serius dan membawanya ke panggung Oscar. Tapi dia tidak menganggap dirinya sekeren itu untuk menolak banyak proyek.

Cage sangat mencintai akting (atau mungkin uang), sampai semua tawaran yang datang ke dia langsung dia terima. Dia bisa main di filmnya Spike Jonze, dan pada saat yang bersamaan dia bisa berteriak-teriak halu di sebuah film yang sutradaranya asing dan ceritanya entah tentang apa.

History of Swear Words punya energi Nicolas Cage itu. Dia informatif dalam membahas hal yang sangat tidak penting (sejarah kata fuck, shit, bitch dan lain-lain). Kemudian ada akademisi bahasa yang menjelaskan dari mana kata-kata kasar ini berasal. Ada Benjamin K. Bergen yang merupakan profesor sains kognitif dari University of California; Mireille Miller-Young yang merupakan profesor kajian gender; sampai Elevis Mitchell, seorang kritikus film.

Pada saat yang sama, kita juga diajak melihat bagaimana komedian-komedian masa kini seperti Sarah Silverman, Nikki Glaser, Patti Harrison, Joel Kim Booster sampai Nick Offerman merespons dan berkomentar tentang kata-kata kotor yang sedang dibahas.

Dengan durasi cuman 20 menit per episode, History of Swear Words memaparkan dengan jelas topik yang dibahas. Episode paling keren barangkali Episode 3 dan 5 yang membahas kata bitch dan pussy. Asyik sekali menyaksikan pembahasan bagaimana dua kata yang sering dijadikan makian karena mereka berkonotasi feminin dan peyoratif itu kemudian berevolusi menjadi kata-kata yang sering dipakai untuk memberdayakan perempuan satu sama lain.

Baca juga: Mimpi Buruk dalam ‘I’m Thinking of Ending Things’

Kata Kasar Tanda Sayang

Selesai menonton History of Swear Words saya bertepuk tangan dengan semangat (yang membuat kucing saya menatap saya dengan heran). Ada banyak hal dalam serial ini yang saya setuju. Seperti misalnya, bagaimana mengumpat itu bermanfaat karena dapat membuat kita dapat menahan sakit atau penderitaan lebih lama. Atau bagaimana mengumpat bisa digunakan sebagai cara untuk menunjukkan kedekatan kita terhadap orang lain. Melontarkan “lonte bangsat” kalau kepada sahabat kita sendiri bisa dianggap sebagai tanda cinta. Konteks sangat penting. Kepada siapa kata-kata itu ditujukan.

Sayangnya, kita tinggal di negara yang sangat menjunjung tinggi moralitas. Di negara di mana tokoh penting bisa dipolisikan cuma karena dia nge-like video bokep di Twitter, hobi mengumpat saya ini kadang lebih membawa banyak masalah daripada inspirasi. Sering sekali orang-orang menoleh ke arah saya dan teman-teman saya ketika kami bertemu di tempat umum. Karena orang-orang tersebut akan mendengar semua isi kebun binatang dan kata-kata makian lainnya berhamburan di setiap kalimat yang kami sebut.

“Ah, tapi zaman sekarang kan Gen-Z pada suka ngomong kasar supaya keliatan edgy. Udah bukan barang baru, ah. Indonesia udah lebih selow sekarang.”

Bitch, no.

Baca juga: Buat yang Belum Bisa ‘Move On’: ‘Start-Up’ Episode 17

Sumpah Serapah Disensor

Saya mau kasih contoh betapa negara ini terobsesi dengan moralitas lewat hal yang saya kuasai: film. Di Amerika Serikat ada Motion Pictures Association of America (MPAA) yang kerjanya mengategorikan film sesuai dengan batasan umur. Dan semuanya jelas. Film yang bisa ditonton semua orang tidak boleh ada kata umpatan. Film untuk 13 tahun ke atas hanya boleh mengucapkan kata “fuck” maksimal dua kali. Film yang berperingkat dewasa boleh menggunakan segala macam kata umpatan.

Untuk film Indonesia, hal ini tidak ada dan tidak jelas.

Saya pernah menonton Django Unchained dan ada bagian di mana karakter Jamie Foxx terbalik dan saya bisa melihat dengan jelas bijinya. Ini belum termasuk penggunaan kata-kata makian yang berhamburan di mana-mana. Namanya juga film Tarantino, kan. Tapi film tersebut bisa ditonton semua orang.

Sementara itu, dalam The Raid 2: Berandal, ada adegan di mana karakter Iko Uwais dan Arifin Putra nongkrong di tempat karaoke, dan ada dialog yang dipotong. Ternyata ketika saya melihat versi internasionalnya, bagian yang dipotong itu adalah ketika karakter Arifin Putra mengucapkan kata “ngentot”.

“Ngentot” doang. Dipotong. Dan rating filmnya sendiri padahal sudah ditetapkan untuk penonton dewasa.

Anyway, saya cuma mau mengakhiri tulisan ini dengan pernyataan bahwa mengumpat itu enak. Mengumpat pada tempatnya, kepada orang yang tepat, sesuai konteks yang pas itu enak banget. Sebagai orang yang suka ngomong “tot”, saya tahu benar dalam kondisi apa dan dengan siapa saya bisa mengucapkan kalimat itu. Misalnya, saya enggak bakalan bilang kata itu ketika saya sedang berbicara dengan orang yang saya enggak kenal. Meski demikian, saya mau mengajak kalian untuk lebih berekspresi karena bisa bebas berekspresi, termasuk mengumpat, itu enak banget, Njing.

History of Swear Words bisa ditonton di Netflix.

Candra Aditya adalah penulis, pembuat film, dan bapaknya Rico. Novelnya ‘When Everything Feels Like Romcoms’ dapat dibeli di toko-toko buku.