Women Lead
August 18, 2021

Kata Siapa Perempuan Selalu Benar: Kacamata 'Male Gaze' dalam Film ‘Selesai’

Film ‘Selesai’ adalah gambaran nyata ‘male gaze’ masih lestari dalam produk budaya pop. Bagaimana itu melanggengkan diskriminasi dan kekerasan perempuan?

by Selma Kirana Haryadi, Reporter
Culture // Screen Raves
Film Selesai Ariel Tatum
Share:

Saya selalu antusias tiap kali menyambut film-film karya sineas lokal Indonesia yang akan tayang. Terlebih, beberapa tahun belakangan jadi tahun gemilang untuk film-film Indonesia yang mulai bangkit dengan kisah beragam, termasuk isu kelompok minoritas. Meski tak sedikit pula yang masih saja menyuguhkan konflik tipikal yang menjual drama dan air mata, seks dan perempuan dari sudut pandang laki-laki alias male gaze.

Salah satu contohnya adalah Selesai (2021) yang langsung mengundang beragam kritik dari warganet begitu tayang perdana pada (13/8). Film ini dilihat dari kacamata dan diperuntukkan bagi laki-laki misoginis yang tak mengamini hak asasi manusia. Pasalnya, sebagai perempuan, saya tak mendapatkan nilai apapun dari film ini selain peran kaum kita sebagai pemuas hasrat seksual laki-laki.

Pengambilan gambar yang banyak menyoroti payudara, pinggang, pinggul, dan bokong pemeran utama Ayu (diperankan Ariel Tatum) dan pemeran pendukung Anya (diperankan Anya Geraldine), hanyalah satu dari banyaknya aspek bermasalah dalam film ini. 

Akademisi film Laura Mulvey dalam esai Visual Pleasure and Narrative Cinema (1975) memaparkan, male gaze mengobjektifikasi perempuan lewat lensa kamera dan menggambarkan karakternya untuk audiens laki-laki. Ini banyak ditemukan dalam film dalam budaya populer, yang kerap merekam perempuan sebagai objek pasif yang berkaitan dengan penerimaan kepuasan seksual audiens laki-laki dengan melihat orang lain sebagai objek erotis.

Baca juga: ‘Female Gaze’ dan Cara Pandang Dunia Lewat Lensa Perempuan 

Yang juga menarik bagi saya adalah bagaimana film ini justru merefleksikan berbagai cara pandang dan kebiasaan masyarakat modern yang masih menomorsekiankan perempuan, dan selalu memosisikan perempuan sebagai biang seluruh permasalahan dalam rumah tangga. Itu semua dilanggengkan oleh saluran yang sebenarnya punya pengaruh dan massa yang besar, yaitu budaya pop atau film populer. 

Inilah empat refleksi konflik dan realitas sosial yang banyak terjadi dan meminggirkan perempuan, yang dilanggengkan dengan begitu ciamik seolah tanpa rasa berdosa dalam film Selesai.

(Spoiler alert)

1. Perempuan Selalu Salah

Broto (diperankan Gading Marten) adalah tipikal laki-laki dan suami abusive, toksik yang menormalisasi berbohong dan tak menghargai istri maupun komitmen pernikahan. Ketika ketahuan selingkuh, bukannya mengakui kesalahan, mengintrospeksi diri, dan berkomitmen memperbaiki keadaan, dia malah berkilah bahwa sikapnya merupakan kesalahan sang istri, Ayu. Pokoknya, apapun sumber masalahnya, perselingkuhan akan jadi salah perempuan. 

Sumber: Bioskop Online

Saat ibu dan adik Broto hadir untuk memediasi konflik mereka pun, tak ada usaha yang jelas dari keduanya untuk mengevaluasi kesalahan Broto. Broto tak pernah mendapatkan dampak yang setimpal dari perilakunya. Terlebih lagi, resolusi sekaligus akhir cerita dalam film ini absurd dan terlalu menyederhanakan masalah. Tahu-tahu, Anya, selingkuhan Broto (diperankan Anya Geraldine), datang dan mengaku positif hamil waktu perdebatan Ayu dan Broto sedang panas-panasnya.

Ayu langsung bereaksi dan menangis hebat, karena selama menikah, ia dan Broto belum dikaruniai anak (entah karena pilihan atau alasan lainnya tidak diceritakan). Padahal, ibu mertuanya sudah mendorong Ayu untuk segera hamil, bahkan memberikannya berbagai tips yang bisa mempercepat proses kehamilan. Ini menunjukkan cara pandang yang memosisikan perempuan, terutama istri, sebagai alat reproduksi, sehingga ketika tak bisa memiliki anak, dia jadi tidak utuh dan harus menyalahkan diri sendiri.

Baca juga: ‘365 Days’ Terlalu Problematik untuk Dibilang Seksi 

2. Kita Meminggirkan Orang dengan Gangguan Kesehatan Mental

Akhir film ini juga bermuara pada kesimpulan Ayu ternyata memiliki gangguan kesehatan mental, tapi hal itu dibuat sebagai pembenaran atas konflik rumah tangga yang tercipta, bahkan jadi alasan dari perselingkuhan Broto. Padahal, kalau dipikir dengan logis, tak menutup kemungkinan bahwa gangguan kesehatan mental yang Ayu alami merupakan buah dari hubungan toksiknya bersama Broto, juga sikap Broto yang tak pernah menghargai dirinya dan kerap main perempuan.

Tahu-tahu, Ayu dikisahkan jadi pasien rumah sakit jiwa. Ini juga terlalu menyederhanakan masalah karena alih-alih menunjukkan dimensi yang kompleks mengenai kesehatan mental, upaya konsultasi psikologis maupun psikiatris yang dilakukan, juga pentingnya dukungan orang-orang dan ekosistem sekitar, malah langsung lompat ke muara akhir yang melanggengkan stigma bahwa orang dengan gangguan kesehatan mental sama dengan orang gila.

Di tengah banyaknya gerakan sosial, bahkan produk budaya pop, yang berupaya keras meruntuhkan stigma terhadap gangguan kesehatan mental, film ini hadir mengumpulkan puing-puing itu dan membangunnya kembali. 

Baca juga:‘Malcolm & Marie’ Soroti Eksploitasi, Hubungan Toksik'

3. Standar Ganda Perempuan Pekerja 

Sosok Mbak Yani, pekerja rumah tangga (PRT) di kediaman Ayu dan Broto, sudah mencuri perhatian saya sejak awal film. Karakter yang kocak dan ceplas-ceplos, ditambah dengan akting ciamik Tika Panggabean, membuatnya jadi tokoh yang sebenarnya paling punya warna dan agensi dalam film ini. Dia juga adalah sosok perempuan pekerja keras, yang giat bekerja dan menabung agar bisa mewujudkan cita-cita hidup bahagia di kampung halaman sembari membuka usaha makanan.

Yani adalah representasi banyak perempuan pekerja yang merantau ke Ibu kota dari kampung di berbagai daerah. Mereka harus bekerja keras karena berperan sebagai tulang punggung keluarga, dan kiriman uang tiap bulan ke kampung lah yang membuat keluarganya bisa bertahan hidup. 

Ketika pacar Yani, Bambang mulai tinggal di tempat Yani secara diam-diam, pengisahan keseharian mereka sendiri merupakan hal yang banyak kita temukan di keseharian: perempuannya bekerja, laki-lakinya bersantai di rumah, ngopi, merokok, sembari menunggu dilayani, diambilkan makanan, dipijit, juga berhubungan seksual.  Bahkan, ketika Yani menolak berhubungan seksual karena sedang sibuk bekerja, Bambang marah sambil berkata, “Sia-sia, dong, aku nyamperin kamu ke sini.” 

Ini menunjukkan standar ganda yang dialami perempuan pekerja. Di satu sisi harus bekerja guna mencari nafkah bagi keluarga, di sisi lain harus melayani suami dan keluarga dengan kerja-kerja perawatan (care works). Dan itu semua dilakukannya seorang diri tanpa bantuan laki-laki yang jadi pasangan.

Luar biasanya lagi, semua tabungan yang Yani kumpulkan di boks kecil di dalam kamarnya kemudian dicuri Bambang, yang sebenarnya sudah berkeluarga di kampungnya sana.

4. Rentannya Perempuan Jadi Objek Seksual

Kapan pun, di mana pun, dan bagaimana pun situasinya, perempuan selalu saja jadi objek seksual tanpa persetujuan. Bukan hanya dari orang-orang yang dia kenal, tapi dari orang asing sekali pun. Itu ditunjukkan dengan perilaku cringe dan tak beradab Bambang, yang ketika ditolak berhubungan seksual oleh Yani, malah melakukan masturbasi sambil membayangkan sosok Ayu yang kebetulan sedang berdiri membelakanginya di seberang jendela.

Tanpa penjelasan lebih lanjut bahwa kelakuan Bambang dan makhluk-makhluk sejenisnya ini sungguh amoral, film ini menormalisasi pelaku predator seksual yang tak bisa mengendalikan nafsu dan hanya memandang orang lain sebagai objek tak bernyawa, selama bisa memuaskan hasrat seksualnya.

Selma adalah penyuka waktu sendiri yang masih berharap konsepsi tentang normalitas sebagai hasil kedangkalan pemikiran manusia akan hilang dari muka bumi.