Issues

Dari Pembacokan hingga Kasus Mario Dandy: Kenapa Remaja Lakukan Kekerasan?

Apakah benar orang tua menjadi satu-satunya pihak yang layak disalahkan dalam menjamurkan kasus kekerasan remaja?

Avatar
  • March 1, 2023
  • 8 min read
  • 343 Views
Dari Pembacokan hingga Kasus Mario Dandy: Kenapa Remaja Lakukan Kekerasan?

Jumat (10/3) adalah hari paling nahas untuk Arya Saputra, 16, siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bina Warga 1 di Bogor. Ia mendadak dibacok oleh tiga remaja tak dikenal kala menyebrang jalan di lampu merah Simpang Pomad, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor.

Kapolresta Bogor Kota, Kombes Pol Bismo Teguh Prakoso dikutip langsung dari Tempo mengungkapkan pada (14/3), pelaku pembacokan datang dari arah Cibinong. Dari atas motor mereka, salah satu pelaku menyabet Arya dengan senjata golok panjang.

 

 

Akibat sabetan itu, Arya luka cukup parah di rahang sebelah kiri dan leher, sehingga membuat nyawanya tak tertolong. Dua dari tiga pelaku kini telah ditangkap. Saat ditanya apa motif pembacokan, pelaku mengaku menyerang secara acak setelah melihat postingan tantangan baku hantam melalui media sosial Instagram oleh A, siswa lain di sekolah itu.

Kasus pembacokan Arya bukan yang pertama terjadi. Di Jogja, kekerasan remaja terekam dalam beberapa kasus klitih, yang menyerang orang secara acak dengan senjata tajam. Belum lagi kasus kekerasan oleh Mario Dandy kepada David hingga menyebabkan cedera otak traumatis (diffuse axonal injury). Mario Dandy sendiri jika mengacu pada Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) masih tergolong dalam usia remaja.

Pertanyaannya, mengapa kekerasan oleh remaja kerap terjadi? Lalu, mengapa kebanyakan dari mereka adalah remaja laki-laki?

Baca Juga: Femisida: Perempuan-perempuan yang Dibunuh Karena Gendernya

Pola Pengasuhan Berbasis Stereotip Gender yang Membahayakan

Sutarimah Ampuni, Kepala Unit Center for LifeSpan Development Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada dalam Podcast The Conversation SuarAkademia menawarkan alternatif jawaban. Menurutnya, kekerasan remaja, seperti yang dilakukan Mario Dandy masuk dalam kategori antisocial behaviour. Ini adalah perilaku ketika seseorang tidak mempertimbangkan norma dan melanggar hak orang lain.

Remaja yang memiliki perilaku ini umumnya sedikit bahkan tidak punya rasa bersalah serta tak bisa berempati. Mereka tidak bisa menempatkan diri atau punya takaran yang jelas untuk menganalisis risiko kekerasan pada orang lain dan dirinya sendiri.

Ampuni menjelaskan, sebagai perilaku menyimpang, antisocial behaviour berkembang sejak individu masih kecil. Itu terbentuk dari dalam diri, baik diwariskan secara biologis maupun pengalaman hidup. Karena itu, sebab terjadinya kekerasan oleh remaja tak pernah bisa diidentifikasi dalam satu atau dua faktor saja.

Salah satu faktornya adalah pola pengasuhan yang keliru. Unit Center for LifeSpan Development dalam penelitiannya tentang klitih mencatat, banyak pengalaman kurang baik pelaku remaja dalam masa pengasuhan. Ada orang tua yang tidak memerhatikan pertumbuhan emosional anak sejak kecil, sehingga anak tak berempati.

“Ini empatinya enggak kebentuk karena ketidakberfungsian keluarga. Anak-anak yang mengalami pengabaian atau abuse di dalam keluarganya sendiri. Padahal dalam hubungan antara anak dan orang tua harus terbentuk attachment atau kelekatan, dan kelekatan yang bagus itu secure attachment,” jelas Ampuni.

Secure attachment sendiri, imbuh, Ampuni adalah kondisi di mana mana anak dan orang tua membentuk relasi satu sama lain, sehingga terasa dekat. Saling membutuhkan, terbuka, mencari dukungan dan kenyamanan satu sama lain.

Ini ditambah dengan cara orang tua yang sering kali tidak mengakui atau memvalidasi emosi negatif anak. Gisella Tani, psikolog anak dan remaja dalam wawancaranya bersama Magdalene bilang, cara ini erat kaitannya dengan pola pengasuhan berbasis stereotip gender. Pengasuhan pada anak laki-laki umumnya masih dikaitkan dengan stereotip maskulin di mana mereka harus tegas dan tidak “lembek”.

Dengan stereotip ini, anak laki-laki diajarkan untuk menekan emosi mereka, termasuk emosi negatif: Marah, sedih, atau kesal. Jika anak lelaki menangis sebagai respons alamiah, orang tua justru balas mengomeli atau bahkan membentak. Pola pengasuhan ini sendiri berkaitan dengan budaya “man up, yang menekankan pada pentingnya laki-laki dalam menunjukkan ketangguhan atau keberanian ketika dihadapkan pada situasi sulit.

Dipaksa untuk tangguh, enggak boleh menangis, ujar Gisella, akhirnya anak laki-laki bisa mengalami tantrum. “Bisa tantrum atau pembiaran pada anak laki-laki untuk melakukan tindakan yang menyerang atau agresi. Ya karena mereka tidak diberikan kesempatan untuk belajar meregulasi emosinya.”

Pola pengasuhan berbasis stereotip gender sayangnya juga tak berakhir di orang tua. Gisella mengatakan, pola pengasuhan sebenarnya bermakna luas atau makro karena juga mencakup lingkungan eksternal anak laki-laki, seperti sekolah dan di mana mereka tinggal. Masalah besarnya, masyarakat masih melanggengkan dan mempraktikkan stereotip gender. Walhasil, banyak remaja laki-laki yang akhirnya cenderung permisif terhadap perilaku kekerasan.

“Anak atau remaja laki-laki ‘nakal” dilihat ya biasa, dianggap sebagai perkembangan yang normal. Maka kalau kita lihat secara luas dalam pola pengasuhan stereotip gender, tindakan-tindakan baik dan buruk ini blur. Tidak terlalu bisa terjelas dan membuat kesan pada anak atau remaja laki-laki it’s okay to do that,” tutur Gisella.

Baca Juga: Lagi, Pejabat Remehkan Kasus Pelecehan Seksual: Sudah Saatnya Berubah, Pak, Bu!

Maskulinitas Toksik yang Dipelihara

Tindakan permisif atau pembiaran terhadap perilaku agresi anak laki-laki sejak dini bisa berakibat fatal. Apalagi jika ditambah dengan lingkungan pergaulan yang mempraktikan maskulinitas toksik. Pergaulan yang biasanya ditandai dengan bergabungnya anak dan remaja laki-laki dalam kelompok geng berkekerasan.

G. Nokukhanya Ndhlovu, mahasiswa pascadoktoral dan Pius Tanga dari Universitas Fort Hare menulis di The Conversation, terdapat pelanggengan nilai-nilai toksik maskulinitas dalam kelompok geng yang membuat remaja mengembangkan perilaku agresi.

Hal ini karena geng menggunakan kekerasan untuk mendominasi dan menundukkan geng saingan. Tujuannya, guna mempertahankan posisi sebagai laki-laki “superior” dalam komunitas. Ini adalah praktik dari maskulinitas toksik yang nyata. Di antara anggota geng, tingkat kekerasan yang tinggi digunakan untuk membuktikan seberapa “hebat” dan “jantan” mereka. Kekerasan yang tinggi ini pula yang jadi alat bagi tiap individu untuk menghapus semua jejak feminitas atau kelemahan dalam diri mereka.

Di Indonesia sendiri penelitian tentang kekerasan oleh remaja dan kaitannya dengan maskulinitas toksik geng disampaikan dalam penelitian Irfan Rifai, Dosen Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Dalam penelitian bertajuk The Emergence of Youth Violence in Indonesia: A Socio-Historical Analysis (2016) disebutkan, remaja laki-laki di geng diberikan pemahaman tentang pentingnya memiliki “nama” atau jadi jagoan. Ini bukan hanya tentang prestise atau kehormatan, tetapi juga cara berebut kekuasaan untuk dapat mengendalikan orang dan wilayah.

Tentunya untuk bisa memiliki nama, remaja laki-laki harus membuktikan “kejantanannya”. Hal ini diukur dari kekerasan yang mereka lakukan baik lewat tawuran atau melakukan kekerasan acak pada sekolah lawan. Mirip seperti yang dilakukan tiga pelaku remaja pada Arya.

Di tengah gempuran media sosial, kekerasan ini pun dimediasi. Seringkali siswa yang terlibat dan terluka dalam tawuran sekolah mengunggah foto mereka di media sosial dengan tujuan untuk menyampaikan pesan bahwa mereka ada. Dengan cara ini, mereka berharap semua orang akan mengenali mereka hingga jadi cerita publik. Jika ini terlaksana, mereka telah berhasil mendapatkan nama untuk diri sendiri dan geng mereka.

Baca juga: Predator Seksual itu Berlindung di Balik Jubah Gereja

Solusi: Jangan Cuma Salahkan Kemiskinan Orang Tua

Pola pengasuhan orang tua memang punya peran penting untuk mencegah anak terlibat dalam perilaku agresi. Namun menurut Gisella, tak semua orang tua bisa melakukan hal ini, salah satunya karena juga ada kaitan erat antara kekerasan oleh remaja dan kemiskinan struktural.

Di banyak kasus kekerasan, remaja tinggal dalam rumah tangga dengan status sosial ekonomi menengah ke bawah. Mereka umumnya punya akses yang terbatas dalam ekonomi, sosial, media, sehingga membuat kapasitas orang tua dalam pola pengasuhan jadi minim.

Jika orang tua hidup dalam kemiskinan, mereka harus memperjuangkan banyak hal. Dengan level pendidikan rendah, mereka harus bekerja dengan jam kerja panjang dan pendapatan sedikit. Ini membuat waktu dan energi mereka tersita hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga, sehingga berdampak langsung pada pengasuhan anak yang tak maksimal.

Pernyataan Gisella diperkuat oleh penelitian Poverty, Inequality, and Youth Violence (2000) yang ditulis oleh Ron Kramer, profesor sosiologi dari Western Michigan University. Ia menjelaskan, kemiskinan menciptakan banyak tekanan yang merusak kemampuan orang tua untuk membesarkan anak dengan penuh perhatian dan efektif.

Kemiskinan, lanjutnya, melahirkan kejahatan dengan merusak kemampuan orang tua untuk memantau dan mengawasi anak-anak. Dibandingkan dengan orang tua dengan status ekonomi menengah atas, orang tua dalam kemiskinan jauh lebih tidak mampu menyediakan sumber daya, peluang, dan dukungan kepada anak-anak. Ini membuat anak-anak rentan tumbuh di luar pengawasan atau mengalami pengabaian.

Namun sekali lagi, kita tak perlu mengantagonisasi kemiskinan orang tua sebagai penyebab tunggal. Karena itu menurut Kramer, untuk mencegah kekerasan remaja, dibutuhkan dua cara yang ia sebut sebagai primary prevention dan secondary prevention. Primary prevention mencakup perbaikan struktural, seperti kemiskinan dan ketimpangan sosial ekonomi. Sementara, secondary prevention, melibatkan institusi keluarga, sekolah, dan masyarakat serta proses perkembangan yang terjadi di dalamnya.

Pendekatan secondary prevention terhadap kekerasan remaja akan menunjukkan perlunya membuat program intervensi anak usia dini untuk anak-anak berisiko tinggi dan keluarganya, menginvestasikan sumber daya yang serius untuk mencegah kekerasan dan penelantaran anak, memperbaiki nilai dalam sistem pendidikan (bisa lewat kebijakan untuk bisa mengakomodasi dan mensosialisasikan anak-anak dalam nilai-nilai, keyakinan, dan komitmen. Terakhir, berinvestasi pada program-program peningkatan keterampilan untuk remaja yang rentan.

World Health Organization (WHO) juga punya beberapa solusi dalam pendekatan secondary prevention. Di antaranya:

1.  Program prasekolah yang memberikan keterampilan akademis dan sosial kepada anak-anak pada usia dini

2.  Pendekatan terapeutik untuk kaum muda yang berisiko tinggi terlibat dalam kekerasan

3.  Program keterampilan hidup dan pengembangan sosial yang dirancang untuk membantu anak-anak dan remaja mengelola kemarahan, menyelesaikan konflik, dan mengembangkan keterampilan sosial yang diperlukan untuk memecahkan masalah

4.  Pendekatan sekolah secara keseluruhan untuk pencegahan kekerasan di fasilitas pendidikan.

Dalam cakupan secondary prevention, Gisella menambahkan, untuk level keluarga sendiri memberikan pengasuhan setara gender yang tidak menguatkan nilai-nilai maskulinitas toksik sangat penting. Hal ini karena dalam pengasuhan setara gender, anak laki-laki diajarkan untuk jadi manusia seutuhnya. Mereka punya sisi emosi, boleh memperlihatkan kerentanannya, dan itu wajar. Pada gilirannya, anak-anak laki-laki tumbuh dengan regulasi emosi yang lebih baik.

Namun, sebelum bisa memberikan pengasuhan setara gender, Gisella menekankan orang tua sendiri harus bisa merefleksikan diri.

“Bagaimana mereka menyerap norma-norma gender stereotip, sejauh mana mereka punya konsep bias gender itu harus direfleksikan orang tua dulu baru mereka bisa memberikan pengasuhan yang lebih setara gender,” jelas Gisella.

Ilustrasi oleh: Karina Tungari


Avatar
About Author

Jasmine Floretta V.D

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *