February 4, 2023
Community Culture Instatree

‘Girl Crush’ di Industri K-Pop: Inspiratif tapi juga Jadi Modal Jualan

Buat banyak perempuan, konsep ‘girl crush’ di industri K-Pop menginspirasi, tapi apakah itu cukup?

Avatar
  • December 23, 2022
  • 8 min read
  • 260 Views
‘Girl Crush’ di Industri K-Pop: Inspiratif tapi juga Jadi Modal Jualan

Dari kecil, Firdha diajari ayah, sosok dominan dalam keluarganya, soal peran dan ekspektasi gender. Hal itu membuat ia kerap bertengkar dengan sang ayah. Menurut Firdha, pandangan ayahnya tak “masuk akal”. 

Bayangin dari Sekolah Dasar, aku pernah ngomong, ‘Kok abang (kakak sepupu laki-lakinya) boleh pulang malem, aku enggak?’ Terus Papaku bilang, ’Kamu cewek’. Aku bingung kenapa, sih emang kalau cewek?” ujarnya.

Setelah mengenal 2NE1, girl group legendaris dari Korea Selatan, ia makin sadar ada yang keliru dengan pandangan sang ayah. Beranggotakan CL, Dara, Minzy, dan Park Bom, 2NE1 berhasil merebut hati Firdha dengan konsep girl crush mereka. Sebuah konsep yang kala itu masih jarang diusung girl group yang debut pada generasi yang sama.

“Cuma 2NE1 yang membawa konsep strong, unique, not cute, but empower gitu loh. Lirik-lirik lagu mereka juga rata-rata kayak I Am The Bestbener-bener nunjukin they’re the best. Women are strong dan we can do anything,” ucapnya.

Dari mengikuti dan membaca lirik-lirik lagu mereka, Firdha akhirnya belajar tentang kesetaraan gender. Ia bahkah mengklaim ketertarikan untuk belajar feminisme muncul dari CL, leader 2NE1 yang terkenal kerap mendobrak bias dan ekspektasi gender di Korea Selatan. Dari 2NE1 juga, Firdha kemudian menemukan jawaban atas pertanyaannya di masa kecil. Girl group itu juga membantu dia untuk bisa mempertahankan keyakinannya tentang kesetaraan gender.

Baca Juga: Refund Sisters: Grup Idola K-Pop ‘Badass’ Lintas Generasi

Girl Group yang Memberdayakan Penggemarnya

Firdha tidak sendiri. Ternyata cukup banyak perempuan penggemar yang terinspirasi dan merasa “diselamatkan” oleh girl group yang mereka sukai. Apalagi jika girl group itu mengusung girl crush–konsep yang menekankan pada figur idola yang kuat, percaya diri, dan jujur.

Ini sejalan dengan survei dan wawancara JoongAng Ilbo pada Oktober lalu terhadap 100 perempuan penggemar girl group Korea Selatan. Di sana disebutkan, perempuan usia 20-an mayoritas merasa “kagum” terhadap girl grup. Apalagi jika girl group tersebut mengusung konsep girl crush seperti (G)I-DLE. Alasannya, menurut profesor psikologi Lim Myung-ho dari Universitas Dankook, perempuan Korea Selatan umur 20 hingga 30-an sudah lebih progresif. Mereka tidak lagi terlalu memusingkan peran dan ekspektasi gender, sehingga girl group dengan konsep ini mampu menarik hati mereka.

Dea, 25, penggemar 2NE1 juga (G)I-DLE adalah salah satunya. Sebagai penggemar (G)I-DLE (dibaca IDLE), Dea bilang (G)I-DLE sama menginspirasi seperti 2NE1. Lirik-lirik (G)I-DLE berani, progresif, dan kerap menantang cara pandang yang diskriminatif terhadap perempuan Korea.

Sebut saja, video musik (MV) atau performance (G)I-DLE saat membawakan lagu Lion, yang selalu sukses bikin Dea menangis. Lagu itu menegaskan agensi perempuan dan kemampuan mereka untuk mendobrak bias. Bagi Dea, Lion membuatnya serasa diingatkan tentang siapa ia sebenarnya dengan segala potensinya.

Tak hanya Lion, lagu (G)I-DLE yang lain, Tomboy juga mencoba melawan stereotip dan prejudice masyarakat Korea tentang gender biner. Hal yang selama ini juga ia alami dan lihat di masyarakat Indonesia.

“Aku suka IDLE karena merasa finally the idol I stan have same vision and mind like myself. Dengan IDLE aku mau hidup untuk diriku sendiri, untuk kebahagiaan diriku, bukan buat orang lain, termasuk orang tua aku,” jelasnya.

Girl group yang juga berhasil meningkatkan kepercayaan diri dan membuat penggemarnya berdaya adalah Mamamoo. Mamamoo memang sudah lama terkenal sebagai girl group dengan statement kuat terhadap isu pemberdayaan perempuanAgensi perempuan, kritik terhadap peran dan ekspektasi gender, serta solidaritas perempuan bertebaran di banyak lagunya. Tak heran, Moomoo (sebutan penggemar Mamamoo) didominasi oleh perempuan penggemar. Kerin, 31 adalah salah satunya.

Sebagai Moomoo, Kerin mengaku Mamamoo  berjasa dalam memaknai identitasnya sebagai perempuan di masyarakat patriarkal. Mamamoo membuatnya sadar, perempuan kerap kali dituntut untuk hidup sesuai kotak yang sudah ditetapkan kepada mereka. Akibatnya, perempuan seringkali dihakimi penampilan dan potensinya hingga tidak percaya diri. 

Dengan posisi perempuan yang terpinggirkan inilah, Mamamoo mendobrak bias dan merangkul sesama perempuan lewat lagu dan tindakannya. Ambil contoh Hwasa. Dengan tubuhnya yang cenderung berisi dan kulit coklat, ia kerap jadi bahan makian masyarakat Korea Selatan. Ia bahkan sempat jadi perbincangan panas tanpa henti karena cara berpakaiannya yang dianggap “tidak sopan”. Namun, Hwasa tak ambil pusing. Ia justru membalas segala makian lewat karya dan prestasinya.

“Sedikit banyak mereka menginspirasi aku sebagai perempuan untuk bisa percaya sama diri aku sendiri dan mandiri. Kadang kan kita suka membandingkan diri kita ya dengan segala macam target dan ekspektasi yang enggak sesuai. Tapi kalo ngeliat mereka, aku sadar, enggak melulu kamu harus sesuai standar dunia untuk bisa bahagia dan sukses. Kurang lebih gitu aku ngerasanya,” jelas Kerin.

Baca juga: Jisoo BLACKPINK dan Diskriminasi Atas Kemampuan Bahasa Inggris Idola K-Pop

Konsep Girl Crush yang Jadi Modal Jualan

Girl group dengan konsep girl crush memang punya daya tariknya sendiri. Ia berangkat dari situasi sosial politik masyarakat Korea yang semakin timpang dan tak ramah perempuan. Di tengah situasi itu, sosok idola perempuan kuat, independen, dan berani jadi diri sendiri jadi sangat penting. Seperti apa yang dikatakan Firdha, Dea, maupun Kerin, bahwa girl group dengan konsep ini punya peran besar dalam meningkatkan kepercayaan diri mereka di tengah masyarakat patriarkal.

Namun, di tengah narasi yang memberdayakan perempuan, konsep girl crush jadi perdebatan. Itu dianggap hanya sebagai bahan jualan agensi saja untuk mendulang keuntungan alih-alih mendorong pesan pemberdayaan betulan.

Kecurigaan ini muncul, terutama sejak menjadi tren di industri K-Pop pada 2015 hingga sekarang, jumlah girl group yang ramai-ramai mengusung konsep girl crush semakin banyak. Young-Dae Kim, kritikus musik berbasis di Seoul dalam wawancaranya bersama NYLON mengatakan,  perubahan ini terjadi karena ada pergeseran paradigma agensi K-Pop.

Ia menuturkan, grup generasi satu dan kedua mayoritas sengaja ditargetkan untuk penggemar laki-laki dalam kacamata male gaze. Karenanya, konsep ultra feminine (imut) atau hypersexualized (seksi) jadi andalan girl group kala itu. Sebaliknya, pada girl group generasi ketiga dan keempat, industri K-Pop mulai membangun basis penggemar perempuan. Utamanya dengan demografi perempuan di pertengahan 20-an, akhir 20-an, dan awal 30-an.

Pergeseran paradigma ini tercermin pada strategi SM Entertainment dalam menggaet perempuan penggemar pada girl grup naungan mereka, Red Velvet dan Aespa. Mantan Direktur Visual & Seni yang kini adalah CEO ADOR, Min Hee Jin sempat membincangkan soal strategi fandom SM di The Unanswered SBS Korea.

“Target utama kami bukanlah laki-laki di usia remaja, dua puluhan, atau tiga puluhan. Fanbase laki-laki akan mengikuti apapun yang terjadi. Secara keseluruhan, target utama kami sekarang adalah perempuan di usia remaja dan dua puluhan. Untuk mendapatkan minat mereka, kami memberikan citra girl group yang percaya diri dan modern,” jelasnya dikutip dari SBS.

Pergeseran paradigma ini pun hadir bukan tanpa alasan. Aja Romano, pakar budaya fandom yang menulis untuk Vox mengatakan pada Billboard, industri K-Pop sudah menyadari buying power yang dimiliki oleh perempuan penggemar. Ini adalah kekuatan yang selama ini diremehkan bahkan dianggap rendah oleh masyarakat. Padahal itu punya peran besar pada stabilitas karier berbagai figur idola dan profit perusahaan yang menaunginya.

“Ada elemen yang kita lihat di seluruh budaya di mana daya beli laki-laki lebih dihargai dibandingkan perempuan. Namun, sekarang berada di saat di mana di seluruh dunia, budaya pop dan produser media berkata, ‘Tunggu, mengapa kita tidak memberikan hal-hal yang disukai perempuan dan membiarkan mereka membelanjakan uang untuk hal-hal yang mereka sukai?’” jelasnya.

Dengan pemikiran inilah, tak heran akhirnya industri K-Pop jadi berbondong-bondong mendebutkan girl group dengan konsep girl crush bahkan mengubah konsep girl group lama seperti Apink. Konsep yang akhirnya jadi modal jualan ini pun sayangnya tidak dicoba rebut ulang oleh beberapa girl group bersangkutan. Mereka berkarier dalam bayang-bayang ketakutan anti feminisme.

Kritikus musik dan jurnalis Park Hee-a dalam wawancaranya bersama Korea joongAng Daily menuturkan, bangkitnya gerakan feminisme di Korea Selatan mempersulit posisi girl group. Anggota girl group jadi harus lebih berhati-hati agar tidak menyinggung penggemar, terutama penggemar laki-laki yang membenci gerakan feminisme. 

“Kamu bisa menghadapi hinaan dan ejekan selama bertahun-tahun hanya dengan membaca buku yang salah,” kata kritikus tersebut, mengacu pada insiden pada 2018 lalu ketika Irene dari girl grup Red Velvet dibombardir dengan komentar jahat setelah ia mengaku baru saja membaca novel feminis Kim Jiyoung, Born in 1982.

Baca juga:  6 Lagu Perempuan Idola K-Pop yang Menguatkan Sesama Perempuan

Kasus serupa juga terjadi pada 2019 pada penyanyi HA:TFELT, yang sebelumnya dikenal sebagai Yeeun dari Wonder Girls. Setelah Yeeun secara terbuka mengungkapkan dia adalah feminis, banyak orang membombardir dengan komentar kebencian di Instagramnya.

Kasus-kasus inilah yang menurut Hee-a membuat beberapa girl group akhirnya bermain aman. Kendati mereka sudah menargetkan perempuan sebagai pasar, penggemar laki-laki masih punya peranan dalam keberlangsungan mereka. Terlebih bagi girl group yang masih punya penggemar laki-laki yang cukup tinggi.

Sehingga, meski anggota girl grup adalah feminis, mereka tetap tidak bisa menunjukkannya secara terang-terangan ke publik. Konsep girl crush pun dalam hal ini hanya jadi modal jualan saja tanpa makna. Apalagi buat girl group yang masih belum mempunyai daya tawar di agensinya sendiri.

Baca artikel part 1 nya disini


Avatar
About Author

Jasmine Floretta V.D

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *