Women Lead
June 02, 2021

Hadapi ‘Ageism’, Ini Cara Idola Perempuan Bertahan dalam Industri K-Pop

Idola perempuan K-pop perempuan yang berusia 30 tahun punya strategi tertentu untuk menghadapi diskriminasi soal usia dalam industri hiburan.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Culture // Korean Wave
BlackPink_Kpop_Girlband_KarinaTungari
Share:

Saat Yuna, anggota grup idola Brave Girls, tampil di sebuah program musik televisi Yoo Hee Yeol’s Sketchbook Maret tahun ini, ia mendapat komentar-komentar dari warganet yang menghina usianya. Perempuan berusia 28 tahun itu diberi label ahjumma, yang biasa diberikan pada perempuan paruh baya atau ibu-ibu, dan dianggap sudah terlalu tua untuk menjadi idola.

Ageism atau diskriminasi soal usia memang marak di industri K-pop, di mana para idola sudah “dikarbit” sejak usia semuda 12 tahun. Diskriminasi ini terutama ditujukan untuk perempuan. Youngheun, dari kelompok BLACKSWAN, menyebutkan, bahkan ada komentar terhadapnya yang menyebutkan bahwa usia 26 sudah terlalu tua untuk jadi anggota girl group.

Diskriminasi ini membuat para idola perempuan di negara itu memiliki kekhawatiran memasuki usia yang dinilai “tua”. Anggota grup idola Girl’s Day, Sojin, yang saat ini berusia 35 tahun, sempat mengatakan bahwa ia takut menginjak usia 30 tahun. Grupnya sendiri kemudian memang bubar pada 2017.

Lee Taek-gwang, kritikus budaya dan akademisi Kyung Hee University di Seoul, mengatakan bahwa usia muda dianggap krusial bagi perempuan di industri hiburan Korea Selatan, untuk mempertahankan citra imut-imut seorang idola. Hal itu berpengaruh pada usia grup idola perempuan yang relatif lebih singkat dibandingkan grup idola laki-laki, ujarnya seperti dikutip The Korea Herald.

Baca juga: ‘Quarter Life Crisis’: Kita Semua Bingung, Lalu Bagaimana?

Dari Idola Jadi Aktor dan ‘Gasu’

Sejumlah penggemar telah menyoroti isu ageism ini di media sosial. Mereka juga bersemangat mengelu-elukan ketika idola perempuan yang usianya menjelang atau lebih dari 30 tahun masih terus populer dan berkarier, seperti penyanyi solo IU (28 tahun), Taeyeon (32), dan keempat anggota grup Refund Sisters (berusia 25-51 tahun).

Ashanti Widyana, akademisi Pendidikan Bahasa Korea di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung, mengatakan sejumlah anggota grup idola perempuan K-pop biasanya banting setir menjadi gasu (penyanyi solo) atau aktor. Para idola yang pindah jalur ini termasuk para anggota grup idola Girls’ Generation, termasuk Taeyeon dan Yoona, serta Bae Suzy dari grup Miss A.

Berbeda dengan menjadi idola, dua profesi tersebut lebih fleksibel dan tidak terlalu mematok usia seseorang, ujarnya.

“Menjadi idola K-Pop bisa dibilang ada masa expire-nya. Kalau gasu tidak ada, selama dia masih bisa produktif dan orang senang dengan lagunya. Gasu seperti IU terus disukai karena musiknya yang disenangi masyarakat luas Korea Selatan” ujarnya kepada Magdalene baru-baru ini.

Selain isu usia, perbedaan antara idola dan penyanyi solo adalah penggemar yang tidak “terkungkung” dengan konsep fandom atau kolektif penggemar protektif. Meski demikian, masih ada isu standar kecantikan Korea Selatan yang mencekik dan dinilai sebagai kebutuhan penting tetap menjadi tantangan, terutama bagi perempuan di dunia hiburan.

“Orang Korea melihat fisik, terutama untuk gasu perempuan. Makanya perawatan untuk anti-aging sangat lancar. Mereka bisa dihujat jika tidak kelihatan ‘muda’ dan menarik,” ujar Ashanti.

Baca juga: BTSxARMY: Gelombang Protes Global Melawan Rasisme

Diskriminasi Usia dan Budaya Korea Selatan

Ashanti mengatakan, diskriminasi usia adalah sebuah paradoks dalam budaya Korea yang menjunjung tinggi hierarki berdasarkan umur dan selalu mendahulukan orang yang lebih tua.

“Kalau mau makan dan orang yang lebih tua belum mengangkat sendoknya kita tidak boleh makan dulu. Saat menuangkan minuman harus menengok ke arah samping tidak boleh langsung di depan muka,” jelasnya.

Diskriminasi usia yang digabung seksisme itu tidak hanya berlaku untuk idola K-pop, tetapi juga dihadapi pekerja perempuan yang berusia lebih dari 50 tahun. Kesempatan bekerja mereka terbatas, umumnya pada bidang-bidang yang tidak memerlukan kinerja intelektual.

Untuk menjawab isu tersebut pada 2009 pemerintah Korea Selatan mengesahkan Undang-Undang tentang Larangan Diskriminasi Usia dalam Pekerjaan, yang tidak mengizinkan diskriminasi usia dalam perekrutan, upah, kenaikan pangkat, dan pemutusan hubungan kerja.

“Orang yang lebih tua mendapat kesulitan untuk bekerja, karena pekerjaan yang tersedia adalah yang membutuhkan tenaga fisik, seperti petugas kebersihan. Harusnya di masa tua lebih bisa istirahat akhirnya bekerja karena tuntutan hidup,” kata Ashanti.

Baca juga: Jisoo BLACKPINK dan Diskriminasi Atas Kemampuan Bahasa Inggris Idola K-Pop

Ageism di Kalangan Penggemar

Tidak hanya terhadap idola, diskriminasi usia juga melanda para penggemar K-pop yang sudah berusia lebih dari 30 tahun. Hal ini juga terkait dengan stigma negatif terhadap penggemar K-pop, yang umumnya dianggap cewek-cewek remaja yang kekanak-kanakan dan histeris, dan persepsi bahwa K-pop hanya menyasar remaja dan anak kecil.

Ageism masuk ke fans Korea juga. Ini menjadi hal ironis karena konsepnya sama saja dengan orang lain yang menyukai sesuatu, seperti sepak bola. Tidak ada batasan untuk menyukai K-pop,” kata Ashanti.

Astari Laksmiwati, seorang pegawai swasta berusia 35 yang juga anggota penggemar BTS (BTS ARMY), mengatakan bahwa suka ada ejekan “tante girang” terhadap para penggemar K-pop berusia di atas 30 tahun.

“Ejekan itu tidak perlu dihiraukan karena yang memberi komentar tidak berkontribusi pada fandom dan kehidupan pribadi. Memang tante-tante dan happy. Own it saja,” ujarnya dalam acara Bisik Kamis The Joy of Fangirling in Your 30s di akun Instagram Magdalene.

Seorang ARMY di AS, Nan Patruzo, bahkan membentuk grup Facebook Bangtan Moms & Noonas dengan usia peserta berkisar antara 20 hingga 60 tahun.

“Para penggemar di usia 30 tahun ke atas ini punya kesempatan bertemu dengan pekerja profesional dari berbagai bidang dan penggemar aktivis. Selain itu, fandom juga menjembatani jarak antar generasi muda dan tua, sehingga ia bisa paham lelucon, lingo, dan hal-hal yang relevan dengan anak muda,” ujar Astari.

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.