Suatu hari, aku pernah demam tinggi. Kepalaku pusing dan badan terasa sangat lemas. Meski begitu, aku tetap bangun pagi, memasak untuk anak-anakku yang masih kecil, mencuci dan menjemur pakaian, menyapu, bahkan mencuci piring. Rasanya semua itu memang harus aku yang mengerjakan.
Pemandangan seperti itu sebenarnya sudah akrab sejak aku kecil. Ayahku seorang perantau, sehingga urusan rumah dan anak sepenuhnya ada di tangan ibuku. Saat aku masih SD, ibu juga membuka warung sembako kecil-kecilan untuk menambah penghasilan keluarga. Aku bisa membayangkan betapa lelahnya beliau waktu itu. Aku sendiri sering dititipi menjaga warung ketika ibu pergi ke pasar, sementara kakak-kakakku masih sekolah.
Awalnya aku hanya ingin membantu ibu. Lama-lama, bantuan kecil itu berulang: menyapu rumah, menjaga warung, mencuci pakaian, dan pekerjaan domestik lainnya. Waktu itu aku senang bisa membantu, dan sama sekali tidak merasa sedang belajar menjadi perempuan.
Tidak pernah ada yang berkata bahwa kelak semua pekerjaan rumah akan menjadi tanggung jawabku. Tetapi karena kebiasaan itu kulakukan sejak kecil, semuanya terasa wajar. Ketika dewasa dan menikah, aku tidak lagi bertanya mengapa begitu banyak pekerjaan rumah otomatis jatuh kepadaku.
Baca juga: Cerita tentang Kepala Perempuan Tak Pernah Benar-Benar Istirahat
Dari kebiasaan menjadi pertanyaan
Sejak kecil, aku juga tumbuh dengan kalimat-kalimat yang terdengar biasa saja. “Namanya juga anak perempuan, harus bisa masak.” “Kalau perempuan, ya harus bisa beres-beres rumah.” Kalimat itu tidak hanya datang dari ibuku, tetapi juga dari perempuan-perempuan dewasa lain di sekitarku. Aku bahkan pernah mendengar seorang ibu mengatakan hal serupa kepada anak perempuannya. Tidak ada yang mengucapkannya dengan marah. Semuanya terdengar seperti nasihat wajar, dan karena sering mendengarnya, aku tidak pernah merasa ada yang perlu dipertanyakan.
Belakangan aku menyadari bahwa cara pandang tentang peran perempuan bisa diwariskan lewat kalimat-kalimat semacam itu. Sejak saat itu aku mulai bertanya: apakah perempuan memang harus menanggung lebih banyak pekerjaan domestik daripada laki-laki?
Di rumah, kita sering menganggap pekerjaan domestik sebagai kodrat perempuan. Padahal, tradisi Islam sendiri punya teladan tentang suami yang ikut mengerjakan urusan rumah. Aku pernah membaca hadis riwayat Aisyah yang ditanya tentang apa yang dilakukan Nabi di rumah. Aisyah menjawab bahwa Nabi membantu pekerjaan keluarganya, dan ketika waktu salat tiba, beliau pergi untuk salat (Sahih al-Bukhari). Kalau teladan itu sudah ada lebih dari 1.400 tahun lalu, mengapa sampai sekarang masih banyak keluarga yang menganggap pekerjaan rumah sepenuhnya tugas perempuan?
Setiap kali membaca ulang hadis itu, pertanyaan tersebut selalu muncul lagi.
Tentu, tidak semua keluarga seperti itu. Ada keluarga yang membagi pekerjaan rumah tanpa melihat gender, yang penting semua anggotanya saling membantu agar rumah tetap rapi dan bersih. Seorang tetangga pernah berkata sambil tertawa, “Anak laki-lakiku nggak kaku. Bisa masak, nyuci piring, nyapu.” Aku tahu ia bermaksud memuji, dan aku tidak langsung menanggapi. Tetapi kalimat itu terus kupikirkan: kalau anak perempuan yang bisa memasak dan menyapu dianggap biasa, mengapa anak laki-laki yang melakukan hal yang sama layak dipuji, seolah ia pengecualian?
Seiring bertambahnya usia, aku juga makin merasakan beratnya urusan domestik jika hanya ditanggung perempuan, apalagi bila hanya ada satu perempuan di rumah itu. Berbeda dari banyak pekerjaan lain yang bisa ditunda sampai besok, pekerjaan rumah sering menuntut segera diselesaikan. Anak-anak tetap harus makan, piring bersih bisa habis, dan lantai kamar mandi yang licin tetap perlu dibersihkan. Ketika semuanya bertumpuk pada satu orang, wajar kalau lelah.
Baca juga: Kemaruk ‘Online’: Kenapa Teknologi di Tangan Perempuan Selalu Dicurigai?
Dari situ aku bertanya: apakah kebiasaan ini harus terus diwariskan, atau kita bisa mewariskan kebiasaan yang berbeda kepada anak-anak kita? Aku pun mulai mengajarkan tugas domestik kepada anak-anakku sejak kecil. Meski anakku laki-laki, aku mengajarinya mencuci piring bekas makannya sendiri, menyapu rumah, dan membersihkan kamar mandi saat libur sekolah. Aku melakukannya bukan semata-mata untuk mengurangi beban rumah tanggaku, tetapi agar ia terbiasa mandiri. Aku berharap kebiasaan itu terbawa sampai dewasa, sehingga ia bisa meringankan beban pasangannya kelak dan meneladani apa yang dicontohkan Nabi.
Aku tidak tahu seperti apa rumah tangga yang akan dibangun anak-anakku nanti. Namun, aku berharap mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa rumah adalah tanggung jawab bersama. Memasak, membersihkan rumah, atau mencuci piring bukan pekerjaan yang membuat seseorang kurang laki-laki ataupun kurang berharga. Semua itu bagian dari saling menjaga orang-orang yang kita cintai.
Rumah yang hangat tidak dibangun oleh satu orang yang memikul semuanya sendirian, melainkan oleh mereka yang mau bekerja sama.
Rosani W. adalah penulis yang gemar mengangkat pengalaman sehari-hari menjadi refleksi tentang perempuan, keluarga, dan relasi. Ia percaya bahwa hal-hal yang tampak sederhana sering kali menyimpan pertanyaan yang lebih besar tentang kehidupan.




















