Di sebuah desa, saya sedang memfasilitasi pelatihan membangun ketahanan ekonomi keluarga ketika seorang peserta laki-laki tiba-tiba melontarkan keberatannya.
“Apa-apa sekarang online. Beli sayur saja online. Ibu-ibu kemaruk belanja online,” ujarnya, mengarahkan komentar itu kepada kebiasaan baru sejumlah perempuan desa: membeli sayur matang lewat pesanan daring.
Ini bukan yang pertama kali saya dengar. Dalam hampir setiap pertemuan dengan komunitas akar rumput, ibu-ibu yang membeli sayur secara online untuk lauk keluarga mendapat cap negatif.
Kemaruk online. Sok gaya.
Saya kemudian menceritakan kebiasaan saya membeli buku secara online. Harganya sama, kadang ada potongan ongkos kirim, dan saya tidak perlu naik angkot ke Medan. Bagi saya, itu cara menghemat waktu dan biaya.
Seorang bapak menimpali dengan suara keras,
“Bedalah. Ibu kan beli buku untuk anak sekolah. Saya juga beli pancing, sekarang online. Lah, ini beli sayur pun online. Malas kali masak.”
Baca juga: Di Kasepuhan Gelaralam, Listrik Menyala karena Hutan Tetap Terjaga
Teknologi yang dinilai berbeda
Komentar itu memperlihatkan bahwa penggunaan teknologi dinilai dengan ukuran berbeda ketika berada di tangan perempuan. Membeli buku secara online masih dianggap masuk akal. Laki-laki membeli peralatan pancing secara online pun dianggap wajar karena bisa memilih, bisa mendapatkan barang berkualitas, dan menghemat waktu. Namun, ketika teknologi masuk ke dapur dan memberi perempuan kesempatan untuk sesekali tidak memasak, itu tak lagi dianggap wajar. Mereka disebut kemaruk dan malas.
Saya bertanya, apa sebenarnya yang menjadi masalah? Ternyata, bukan belanja online-nya, melainkan harapan lama bahwa istri yang baik harus memasak sendiri untuk keluarganya. Harapan itu tetap diberlakukan meskipun perempuan sedang bekerja, menunggu dagangannya, kurang sehat, merawat anggota keluarga, atau sekadar lelah. Keinginannya menghemat waktu dengan memanfaatkan teknologi tetap harus melewati pengadilan moral: rajin atau malas, sederhana atau sok gaya.
Teknologi memang membuka berbagai kemungkinan baru. Tetapi rupanya, teknologi tidak masuk ke ruang sosial yang netral. Di desa tempat pelatihan itu berlangsung, bias gender muncul dengan ejekan yang sangat akrab: “kemaruk online“. Teknologi tidak dipersoalkan ketika digunakan laki-laki untuk membeli alat pancing. Sinisme patriarki justru muncul ketika perempuan menggunakan teknologi untuk sekadar menjauh sebentar dari dapur dan kewajiban memasak, bahkan hanya untuk sesekali.
Baca juga: Yang Tumbuh dari Halaman Bukan Cuma Tanaman tapi Solidaritas Perempuan
Warung yang sepi tetapi pembelinya ramai
Percakapan itu mengingatkan saya kepada adik ipar yang tinggal di sebuah dusun di pinggiran perkebunan sawit swasta.
Suatu hari, anak perempuannya datang membawa nasi dengan lauk sayur lodeh, ayam goreng, dan sate Padang. Saya pikir mereka baru mengadakan arisan atau perwiritan kampung.
“Bukan, Bude. Sekarang Mamak jualan makanan,” katanya.
Saya terkejut. Rupanya, setiap Sabtu dan Minggu, adik ipar saya menjual sayur matang, bermacam lauk, dan paket nasi bungkus sesuai pesanan. Menunya tidak sedikit: sayur lodeh, urab, tauco bunga pepaya, ayam geprek, sambal teri kacang tanah, rendang jengkol, hingga sate Padang.
Ketika berkunjung ke sana, saya melihat rumah dan jalanan sepi. Hanya sesekali ada orang melintas — biasanya buruh perkebunan yang pulang kerja atau warga yang menuju desa sebelah. Adik ipar saya sendirian di dapur, masih membungkus makanan. Anak perempuannya membalas pesan di WhatsApp. Ternyata, ia mulai berjualan secara online setelah sinyal internet menjangkau dusun itu sekitar enam bulan lalu. Tetangga sekitar hanya sesekali membeli. Pembelinya justru datang melalui teknologi. Warung yang terlihat sepi dari jalan ternyata terhubung dengan pembeli di tempat lain.
Hari itu, suaminya sedang mengantarkan lauk makan untuk tiga pemesan. Menariknya, ketiganya adalah ibu yang rumahnya saling berdekatan. Mereka bertetangga dan memesan menu yang sama.
“Kerja di ladang mereka semua. Jadi, gak sempat masak lauk. Mereka pesan sayur lodeh sama ayam geprek,” jelas adik ipar saya.
Dari sini saya melihat teknologi bekerja bagi perempuan dalam dua posisi berbeda. Tiga perempuan pekerja ladang memperoleh lauk tanpa harus menyisihkan waktu untuk memasak. Perempuan penjual lauk membuat masakannya menjangkau pasar yang sebelumnya sulit dicapai. Para pembeli memperoleh sedikit waktu dan tenaga. Penjual memperoleh penghasilan. Namun, bias gender membuat para pembeli tetap dapat disebut malas, seolah pekerjaan mereka di ladang tidak dihitung sebagai kerja.
Baca juga: ‘Potluck’, Cara Lama untuk Tetap Berkumpul di Tengah Hidup yang Makin Mahal
Adik ipar saya menyusun menu, membeli bahan, memasak, dan menerima pesanan. Ia juga mempelajari menu-menu baru melalui kanal YouTube. Suami dan anaknya membantu mengantarkan pesanan kepada pembeli. Telepon genggam tidak bekerja sendirian; ia menghubungkan kerja bersama keluarga itu dengan pasar.
Bank Dunia mencatat bahwa 8,4 juta UMKM di Indonesia telah mengadopsi teknologi digital selama pandemi; 54 persen di antaranya dimiliki perempuan.
Warung adik ipar saya memang tampak sepi. Namun, melalui telepon genggam, masakannya berjalan dari satu rumah ke rumah lain. Di tangan perempuan desa, teknologi dapat membeli sedikit waktu sekaligus membuka pasar. Yang membuatnya tampak salah bukan teknologinya, melainkan ukuran lama yang terus mengontrol pilihan perempuan.
Payah ini, Mak. Gak kelar-kelar kita.
Ilustrasi oleh Karina Tungari





















