Women Lead
April 20, 2021

Biaya Mahal, Stigma Persulit Pasien Gangguan Jiwa di Indonesia

Besarnya biaya pengobatan masalah mental membuat banyak orang tidak berobat sama sekali atau tidak melanjutkan konsultasi ke psikolog atau psikiater.

by Irma Melyani Puspitasari
Lifestyle // Health and Beauty
Mental Health Illness Depresi_KarinaTungari
Share:

Pandemi COVID-19 meningkatkan risiko orang terkena masalah kesehatan mental. Sebelum hal ini melanda saja, satu dari empat orang di seluruh dunia sudah berpotensi mengalami masalah kesehatan tersebut dalam perjalanan hidupnya.

Pada 2018, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia, depresi menjadi kasus kesehatan mental terbanyak (300 juta orang) di seluruh dunia. Lalu, disusul gangguan kecemasan (200 juta orang), gangguan bipolar (60 juta), serta skizofrenia dan psikosis lainnya (23 juta).

Di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar menyatakan bahwa gangguan jiwa pada penduduk berusia 15 tahun ke atas naik dari 6 persen pada 2013 menjadi 9,8 persen pada 2018. 

Dari angka tersebut, 6 persen adalah depresi, sementara sisanya termasuk gangguan bipolar dan kecemasan. Dengan angka kasus skizofrenia pada usia 15 tahun ke atas mencapai 7 per mil, maka 7 dari 1.000 rumah tangga memiliki anggota dengan skizofrenia atau setara dengan sekitar 470.000 orang.

Masalahnya, selain jumlah masalah kesehatan jiwa yang tergolong besar, biaya pengobatannya juga tidak murah. Riset saya dan kolega memperkirakan biaya pengobatan secara nasional untuk keempat jenis gangguan jiwa (skizofrenia, gangguan bipolar, depresi, dan gangguan kecemasan) di negeri ini mencapai Rp87,5 triliun setahun.

Walau saat ini biaya pengobatan untuk gangguan jiwa dapat ditanggung oleh BPJS Kesehatan, pasien dan keluarga tetap harus menanggung biaya transportasi dan biaya lainnya untuk menuju ke tempat layanan kesehatan.

Untuk mengurangi risiko masalah kesehatan mental, setiap individu, keluarga, masyarakat dan pemerintah perlu meningkatkan deteksi dini gangguan kesehatan mental. Pasien perlu dibantu untuk berobat sampai sampai sembuh.

Biaya Pengobatan Kesehatan Mental Mahal

Penelitian kami memperkirakan biaya pengobatan berdasarkan biaya langsung per tahun, dengan anggapan bahwa pasien patuh pada pengobatan. 

Biaya langsung mengacu pada biaya yang terkait dengan diagnosis dan pengobatan. Sedangkan hilangnya pendapatan akibat kematian, kecacatan, dan pencarian perawatan, termasuk kerugian produktivitas karena absen kerja atau pensiun dini kerap disebut sebagai biaya tidak langsung.

Dengan menggunakan data dari rumah sakit rujukan nasional di Indonesia pada 2016-2018, riset ini menentukan profil pengobatan dan memperkirakan biaya pengobatan pasien skizofrenia, gangguan bipolar, depresi, dan gangguan kecemasan di Indonesia.

Baca juga: Jangan Tekan Kecemasan: Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Krisis Corona

Skizofrenia adalah gangguan kejiwaan kompleks yang ditandai dengan perubahan perilaku, pola pikir kacau, delusi, halusinasi, dan disfungsi psikososial. Sedangkan depresi merupakan penyakit mental yang ditandai dengan suasana hati yang menurun, kehilangan minat, perasaan bersalah, nafsu makan menurun, tidur terganggu, dan konsentrasi rendah.

Adapun gangguan bipolar merupakan gangguan mood yang ditandai dengan episode mania atau hipomania yang muncul secara bergantian atau bersamaan dengan episode depresi. Sedangkan gangguan kecemasan melibatkan rasa takut yang berlebihan dan tidak rasional. Gangguan ini dianggap sebagai gangguan kejiwaan yang paling umum, dan ditandai dengan gejala fisik seperti kelelahan.

Dari data riset ini, tampak bahwa setiap pasien mengunjungi rumah sakit hanya 2-3 kali setahun. Temuan ini sesuai dengan data Riset Kesehatan Dasar 2018 yang melaporkan hanya 9 persen pasien depresi di Indonesia yang berobat.

Dari sistem informasi rumah sakit, data menunjukkan rata-rata biaya pengobatan per pasien per tahun yang beragam. Untuk pasien skizofrenia, diperlukan biaya Rp3.307.931, Rp17.978.865 untuk pasien gangguan bipolar, Rp1.601.850 untuk pasien depresi, dan Rp1.190.563 untuk pasien gangguan kecemasan.

Dengan asumsi bahwa semua pasien mengikuti perawatan medis dalam setahun, biaya langsung yang tertinggi secara nasional adalah pengobatan gangguan bipolar, mencapai Rp62,9 triliun.

Biaya pengobatan untuk kondisi depresi per tahun juga tinggi, yakni Rp18,9 triliun. Sedangkan biaya untuk mengatasi gangguan kecemasan dan skizofrenia, masing-masing Rp4,2 triliun dan Rp1,5 triliun.

Banyak Pasien Kesehatan Mental Tidak Lanjut Berobat

Menurut World Economic Forum pada 2011, beban ekonomi gangguan kejiwaan di seluruh dunia diperkirakan akan mencapai US$6 triliun pada 2030.

Gangguan kesehatan mental merupakan salah satu penyebab utama dari keseluruhan beban penyakit (burden of disease atau BOD) sedunia. BOD juga dikenal sebagai biaya penyakit (cost of illness atau COI), mencakup berbagai aspek dampak penyakit pada hasil kesehatan di suatu negara, wilayah tertentu, komunitas, dan bahkan individu.

Baca juga: Ruang (Ny)aman Soroti Gangguan Kesehatan Mental Perempuan

Sekitar sepertiga dari BOD kesehatan mental menjadi penyebab hilangnya produktivitas, termasuk yang terkait dengan pengangguran, kecacatan, dan kinerja kerja yang rendah.

Dalam konteks Indonesia, kurangnya wawasan mengenai pentingnya penanganan kesehatan jiwa yang berkelanjutan, stigma negatif terhadap pasien, dan biaya yang mahal merupakan masalah yang menyulitkan untuk mengatasi gangguan jiwa.

Pada level individu, faktor-faktor ini juga mempengaruhi kepatuhan pengobatan pasien. Dampaknya, banyak pasien yang tidak patuh terapi sehingga masalahnya berlarut-larut. Bahkan banyak dari mereka yang tidak mencari pertolongan untuk mengatasi kondisi tersebut.

Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat harus bekerja sama dalam upaya pencegahan dan penguatan pelayanan kesehatan jiwa dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang sifatnya menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan.

Kombinasi Obat dan Psikoterapi untuk Masalah Kesehatan Mental

Pengobatan masalah kesehatan mental membutuhkan terapi berkelanjutan. Pada terapi skizofrenia, obat golongan antipsikotik adalah pilihan utama. Selain itu, terapi perilaku kognitif (CBT) adalah salah satu intervensi non-obat pertama yang termasuk dalam pedoman pengobatan untuk skizofrenia.

CBT membantu mengubah pola pikir, perasaan, dan perilaku yang tidak diinginkan, serta dapat mengurangi perilaku tidak teratur yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari.

Untuk gangguan bipolar, pengobatan bertujuan untuk memperbaiki gejala mania atau depresi pada pasien, sehingga memungkinkan tercapainya suasana hati yang stabil (euthymia). Terapi utama untuk episode mania maupun episode depresi pada gangguan bipolar adalah obat untuk menstabilkan mood, agen antipsikotik, atau kombinasi keduanya.

Sementara itu, depresi biasanya diobati dengan antidepresan, psikoterapi, atau kombinasi keduanya. Bagi pasien gangguan kecemasan, terapi lini pertama yang disarankan adalah antidepresan, dengan tujuan mencegah kekambuhan dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Secara keseluruhan, mengingat kasus-kasus gangguan kesehatan jiwa yang semakin meningkat setiap tahun dan biaya yang tinggi, maka pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia harus terlibat untuk mengatasi masalah ini.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Ilustrasi oleh Karina Tungari 

Irma Melyani Puspitasari adalah associate professor di Universitas Padjadjaran.