Women Lead
August 24, 2021

Bikin Tambah PD? Tidak Juga: Pengalaman Saya Seminggu ‘Full Make-up’

Lewat eksperimen memakai ‘full make-up’ selama satu minggu penuh, penulis menyadari ‘make-up’ hanyalah ilusi sementara yang tak seharusnya diandalkan buat menambah kepercayaan diri.

by Selma Kirana Haryadi, Reporter
Lifestyle
Share:

Saya pernah membaca sebuah satire di internet yang mengatakan, make-up atau riasan wajah adalah produk kapitalisme yang dibuat dan dipromosikan untuk meningkatkan rasa ketidakpercayaan diri perempuan. Sehingga, mereka terdorong untuk “memperbaiki” penampilan mereka secara sementara dan membeli produk-produk kosmetik yang harganya selangit. Pertama kali membaca itu, saya tergelak. Masa iya seekstrem itu? Namun, semakin hari dan semakin saya pikir-pikir, itu adalah ujaran yang masuk akal.

Dari mulai kulit putih mulus tanpa tekstur, bekas jerawat atau flek hitam yang tertutup sempurna, serta bulu mata lebat nan panjang, masyarakat selalu menuntut perempuan untuk mengikuti standar masyarakat yang super enggak masuk akal. Apalagi, tak semua fitur itu bisa dimiliki manusia secara alamiah atau bawaan lahir. Itu harus ditunjang dengan penggunaan berbagai produk make-up. 

Tak sedikit yang berakhir jadi ketergantungan make-up, dalam artian jadi kehilangan kepercayaan diri begitu harus berhadapan dengan orang banyak dengan wajah bare alias polos tanpa riasan. Inilah mungkin gambaran nyata dari satire yang saya baca tadi. Mengapa harus tak percaya diri dengan wajah asli kita, dan lebih percaya diri ketika wajah ditutupi serangkaian bahan kimia yang lumayan mengubah penampilan kita? 

Bukan hanya pada pembaca, saya juga mengatakan itu pada diri saya sendiri. Saya punya masalah ketidakpercayaan diri yang lumayan kronis sejak kecil sampai hari ini. Saya sendiri adalah pengguna make-up, meski intensitasnya jelas berkurang drastis selama work from home (WFH). Saya penasaran, apakah benar dengan memakai full make-up, saya jadi bisa merasa lebih percaya diri? 

Makanya, begitu rapat redaksi melempar usulan untuk menggarap eksperimen ini, dengan rasa semangat dan senang hati, saya menerimanya. Selama satu minggu kemarin, tepatnya (16/8) sampai dengan (22/8), saya memakai full make-up selama jam kerja dari pukul 9.00 WIB s/d 18.00 WIB, termasuk pada hari libur.

Baca juga: ‘Beauty Privilege’ di Tempat Kerja, Bukti Standar Kecantikan Tak Masuk Akal

Semakin Percaya Diri? Tidak juga 

Hari pertama dan kedua eksperimen mungkin yang paling terasa berbeda buat saya. Selama bekerja, sebentar-sebentar, saya membuka kamera depan handphone buat bercermin, antara memperhatikan atau mengagumi wajah saya yang kini jadi lebih mulus. Apalagi, tanda lahir kecil di bawah mata yang sebenarnya tak saya sukai, kini tersamarkan. 

Waktu itu, saya juga membatin, “Bagus juga, nih, bulu mata gue kalau sepanjang ini”, “Bagus, deh, kalau wajah alami gue se-glowing kayak pas pakai BB Cushion ini. Apa, ya, skincare yang bisa bikin kulit glowing?” dan banyak pengandaian-pengandaian lain yang terakomodir dengan hasil polesan kosmetik.

Tak lama kemudian, saya sadar itu hanya ilusi sementara. Setiap kali saya menghapus make-up dari wajah, saya jadi sering membanding-bandingkan fitur wajah saya ketika polos dan ketika dipoles make-up. Tak jarang saya jadi membenci wajah asli saya karena tak sebaik wajah saya versi dipoles. 

Apakah ber-make-up selama tujuh hari membuat saya semakin percaya diri? Sebenarnya, tidak sama sekali. Bicara soal kepercayaan diri, justru saya merasa bahwa sering-sering pakai full make-up ini tidak baik buat kulit wajah saya. Dari yang sebelumnya normal, belakangan jadi sedikit berminyak. Belum lagi, wajah saya jadi mudah berkomedo. Baru satu hari saja, blackhead dan whitehead sudah asyik bersarang di T-Zone. 

Ada juga bibit-bibit jerawat, yang saya yakin kalau tak segera saya obati, bisa jadi jerawat betulan. Alih-alih bikin percaya diri, memakai full-make-up justru bikin kepercayaan diri saya turun beberapa tahap gara-gara melihat wajah tak sesehat biasanya, juga setiap hari mengkhawatirkan, “Besok gue jerawatan enggak, ya?!” Masalah-masalah kulit wajah memang hal yang normal. Tapi, bagi saya yang jarang sekali jerawatan, hal ini lumayan bikin panik dan tertekan.

Baca juga: Mengapa Menjadi Cantik Penting di Media Sosial

Tapi, eksperimen ini setidaknya membawa satu hal baik untuk saya. Saya jadi sadar, selama ini, saya berada di lingkungan pertemanan yang sehat bersama orang-orang yang tidak hanya menilai seseorang dari penampilannya. Sewaktu saya bertemu mereka secara langsung dan virtual, saya berusaha mendapatkan respons mereka dengan memancing pertanyaan, “Gue pakai bulu mata baru, nih. Bagus enggak?

Dari situ, mereka jadi sadar, make-up saya jauh lebih tebal dari biasanya. Respons mereka lumayan membuat saya terharu. Mereka menanyakan, apakah penampilan ini membuat saya lebih bahagia dan lebih mencintai diri saya sendiri? Ketika saya jawab, “Iya”, mereka memuji saya atas pilihan yang saya buat untuk membuat diri saya lebih bahagia, bukan hanya memuji penampilan baru saya.

Habiskan Waktu yang Tak Berguna

Selama tujuh hari itu, saya teringat akan sebuah pengalaman. Sewaktu hendak pergi ke luar pulau beberapa waktu lalu, saya sempat melihat seorang pramugari yang sedang berdandan sembari menyanggul rambutnya di toilet bandara. Mungkin lebih dari sepuluh produk dan tools make-up bertebaran di hadapannya, bersama dengan puluhan jepitan rambut dan hairspray. Padahal, itu masih pagi buta sekali, sekitar pukul tiga sampai dengan empat dinihari. Usai buang air kecil, sebelum meninggalkan toilet, saya masih melihat sang pramugari di posisi yang sama. 

Sekitar dua puluh menit kemudian, saya kembali ke toilet itu buat mencuci tangan. Terheran-heranlah saya melihat sang pramugari masih ada di tempat yang sama, belum selesai mengaplikasikan riasan wajahnya. Empat puluh, atau mungkin lebih waktu yang pramugari itu habiskan untuk memakai make-up sama sekali bukan waktu yang sedikit. Banyak sekali hal yang bisa kita lakukan dengan waktu selama itu. 

Baca juga: Apa Salahnya ‘Make Up’ Walaupun di Rumah Saja?

Dalam melakukan eksperimen ini, waktu yang saya habiskan untuk mengaplikasikan make-up berkisar antara 15 sampai dengan 20 menit, tak selama sang pramugari. Produk yang saya gunakan dimulai dari moisturizer, primer, foundation/BB cushion/BB cream, bedak, blush-on, contour, highlighter, eyeliner, eye shadow, sampai bulu mata palsu beserta lemnya yang luar biasa bikin mata sulit melek itu. 

Namun, apakah itu berarti sebenarnya saya rela membuang waktu 20 menit yang berharga hanya untuk mengaplikasikan make-up? Jawabannya, jelas tidak! Selama seminggu ini, saya harus bangun jauh lebih pagi hanya untuk memakai make-up. Biasanya, saya bangun pukul delapan pagi, satu jam sebelum jam kerja dimulai. Saya biasa memanfaatkan waktu senggang itu untuk duduk santai sambil minum kopi, baca berita, rebahan, atau tidur lagi sampai pukul 8.30-8.45.

Karena eksperimen ini, saya terpaksa kehilangan waktu senggang tersebut. Saya jadi tak bisa tidur lagi. Bahkan, untuk sekadar membuat dan minum kopi rasanya tak seleluasa dulu karena dihantui pikiran, “Pakai eyeshadow warna apa hari ini? Bulu mata palsu nanti masih mencong kayak kemarin enggak, ya?” 

Belum lagi, mengaplikasikan make-up sambil setengah mengantuk benar-benar bukan hal yang menyenangkan. Rasanya, mata saya seperti disengat lebah ketika mengaplikasikan eyeliner dan bulu mata palsu.  Dampaknya, sering kali saya jadi merasa kurang fit saat mulai bekerja, entah karena kurang waktu tidur, atau karena pagi-pagi sudah dibuat panik dengan tuntutan full make-up ini.

Hal ini, juga pengalaman menyaksikan pramugari tadi, menyadarkan saya, selama ini saya mempunyai privilese karena tak wajib memakai make-up saat bekerja dan berkegiatan sehari-hari. Seperti pramugari tadi, masih banyak perempuan pekerja lain yang dituntut untuk selalu memakai full make-up selama bekerja. Belum lagi, seragam dan sepatu hak tinggi yang kerap membuat mereka tak leluasa bergerak. 

Semoga saja, perusahaan yang masih memberlakukan standar penampilan yang tak masuk akal begini, apalagi yang sampai menyulitkan para pegawainya, segera sadar dan menghapuskan kebijakan itu. 

Tulisan ini bukan dimaksudkan buat mengecilkan mereka yang suka ber-make-up. Pengalaman ini mengajarkan saya, ber-make-up atau tidak, bahkan produk apa saja yang kita pilih untuk gunakan, adalah pilihan individu. Mereka yang memutuskan buat memakainya tidak lebih baik, dan mereka yang memutuskan buat tak memakainya juga tidak lebih buruk. 

Saya juga memetik pelajaran penting untuk diri saya sendiri. Saya harus meluruskan niat saya dalam memakai make-up sehari-hari. Ketidakpercayaan diri saya lahir dari perasaan bahwa penampilan saya tak sesuai standar kecantikan masyarakat Indonesia

Bila saya memakai make-up untuk menutupi ketidakpercayaan diri itu, padahal ujung-ujungnya itu merepotkan dan menyiksa saya sendiri, saya harus mengkaji ulang kebiasaan memakai make-up ini layak dilanjutkan atau tidak. Saya sadar, saya ingin memakai make-up untuk membuat diri saya merasa lebih bahagia, tapi harus sama bahagianya dengan ketika saya tak memakai make-up.

Selma adalah penyuka waktu sendiri yang masih berharap konsepsi tentang normalitas sebagai hasil kedangkalan pemikiran manusia akan hilang dari muka bumi.