Setiap kali ada isu sosial yang ramai, biasanya ada satu hal yang ikut muncul di media sosial: ajakan untuk berdonasi.
Ada penggalangan dana untuk korban bencana, bantuan untuk orang yang kehilangan tempat tinggal, dukungan bagi kelompok rentan, sampai kampanye yang meminta kita menyisihkan uang untuk sebuah gerakan. Buat orang yang sedang punya uang lebih, berdonasi mungkin terasa seperti cara paling mudah untuk ikut membantu.
Tapi bagaimana kalau kondisi keuangan kita sendiri sedang pas-pasan?
Mungkin kita sebenarnya ingin ikut membantu, hanya saja ada kebutuhan yang harus didahulukan. Uang untuk makan, membayar kos, transportasi, biaya kesehatan, atau sekadar menjaga tabungan tetap aman. Dalam situasi seperti ini, tidak ikut berdonasi bukan berarti kita tidak peduli.
Sebab, mendukung isu sosial tidak selalu harus dilakukan dengan uang.
Ada banyak hal lain yang bisa diberikan: waktu, tenaga, keahlian, perhatian, bahkan kemampuan untuk menyebarkan informasi yang benar. Kontribusi tersebut mungkin tidak selalu terlihat sebesar nominal donasi, tetapi tetap bisa dibutuhkan oleh organisasi, komunitas, maupun orang-orang yang sedang memperjuangkan sebuah isu.
Baca Juga: Saya Mencari Informasi Abu Vulkanik Krakatau, Malah Disuguhi Wajah Menteri
Donasi Bukan Satu-satunya Bentuk Dukungan
Uang memang merupakan sumber daya penting bagi organisasi sosial. Namun, sebuah gerakan tidak berjalan hanya dengan dana.
Ada kampanye yang membutuhkan orang untuk menulis, menerjemahkan, membuat desain, mengedit video, mengelola media sosial, melakukan riset, mendokumentasikan kegiatan, atau mengurus administrasi. Ada pula kegiatan yang membutuhkan relawan untuk mendampingi peserta atau membantu pekerjaan di lapangan.
Dalam Skills-based volunteering: A systematic literature review of the intersection of skills and employee volunteering, ScienceDirect, peneliti membahas skills-based volunteering, yakni bentuk kerelawanan yang menggunakan keahlian khusus seseorang untuk membantu organisasi nonprofit. Studi tersebut meninjau 36 artikel ilmiah tentang praktik ini.
Bayangkan sebuah komunitas sedang membuat kampanye tentang akses pendidikan. Mereka mungkin membutuhkan uang untuk menjalankan program. Tetapi mereka juga bisa membutuhkan seseorang yang mampu membuat materi Instagram, mengedit video, menerjemahkan dokumen, atau merapikan data.
Jadi, kalau kamu belum punya uang untuk disumbangkan, bukan berarti kontribusimu otomatis tidak berarti.
Kenali Sumber Daya yang Kamu Punya
Salah satu alasan orang enggan terlibat dalam isu sosial adalah karena mereka merasa tidak punya cukup sesuatu untuk diberikan.
Tidak punya uang. Tidak punya banyak waktu. Tidak punya pengalaman menjadi relawan.
Padahal, sumber daya yang kita punya tidak selalu berbentuk uang.
Mungkin kamu punya kemampuan desain, bisa menulis, menguasai bahasa asing, jago mengelola spreadsheet, paham media sosial, bisa memotret, atau punya jaringan pertemanan yang cukup luas.
Semua itu bisa menjadi sumber daya.
Kalau bekerja di bidang digital, misalnya, kamu bisa membantu organisasi mengecek SEO situs, membuat kalender konten, menyunting artikel, atau mengolah data. Kalau punya kemampuan fotografi, kamu bisa membantu dokumentasi kegiatan. Kalau terbiasa menjadi moderator, kemampuan berbicara di depan publik juga bisa berguna.
Yang penting, jangan langsung menganggap sebuah organisasi membutuhkan keahlianmu. Tanyakan terlebih dahulu apa yang memang mereka perlukan.
Waktu Juga Punya Nilai
Selain keahlian, waktu juga bisa menjadi bentuk kontribusi. Kamu tidak harus menjadi relawan setiap akhir pekan atau terlibat dalam kegiatan sosial berbulan-bulan.
Kalau hanya punya beberapa jam dalam sebulan, misalnya, kamu bisa mencari kegiatan yang memang sesuai dengan waktu tersebut. Membantu satu acara, ikut kegiatan di lingkungan sekitar rumah, mengurus administrasi komunitas, atau mengerjakan tugas tertentu secara daring juga bisa menjadi pilihan.
Dalam artikel Giving time or giving money? On the relationship between charitable contributions di ScienceDirect, Marcus Dittrich dan Bianka Mey membahas bagaimana orang memberikan kontribusi sosial dalam bentuk uang, waktu, atau keduanya. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kontribusi tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama. Ada orang yang lebih banyak memberikan uang, ada yang memberikan waktu, dan ada pula yang melakukan keduanya.
Jadi, tidak perlu merasa harus mengikuti pola kontribusi orang lain. Kalau uang sedang terbatas tetapi kamu punya waktu, gunakan waktu yang memang tersedia. Kalau waktu juga terbatas, kamu bisa memilih bentuk dukungan lain yang lebih realistis.
Yang penting, jangan menjanjikan waktu yang sebenarnya tidak kamu punya. Komunitas membutuhkan relawan yang bisa diandalkan, bukan orang yang hanya semangat ketika mendaftar lalu menghilang ketika pekerjaan mulai berjalan.
Baca Juga: Perempuan Lebih Rentan Jadi Korban Bencana Alam, Ini Solusinya
Bagikan Informasi, tapi Jangan Asal Share
Media sosial membuat kita bisa ikut menyebarkan isu yang mungkin tidak pernah kita temui secara langsung.
Satu unggahan tentang bencana, kekerasan, diskriminasi, atau penggalangan dana dapat menjangkau banyak orang dalam waktu singkat. Karena itu, membagikan informasi yang kredibel juga bisa menjadi bentuk dukungan.
Namun, ada syaratnya: cek dulu sebelum membagikan.
Pastikan informasi berasal dari sumber yang jelas. Cari tahu siapa yang membuatnya, kapan informasi tersebut dipublikasikan, dan apakah ada sumber utama yang bisa diperiksa. Jangan hanya mengandalkan screenshot, potongan video, atau caption yang terdengar meyakinkan.
Hal ini juga berlaku untuk informasi donasi.
Dalam artikel Digital Users Perceptions of Philanthropic Donations Across Social Media and Institutional Websites di Journal of Philanthropy, peneliti dari Universitas Trunojoyo Madura dan Universitas Airlangga menemukan bahwa 78 persen dari 585 responden yang pernah berdonasi setelah melihat unggahan organisasi filantropi di media sosial terlebih dahulu mengunjungi situs organisasi tersebut. Mereka mencari informasi mengenai kredibilitas, legalitas, program, dan transparansi penyaluran dana.
Jadi, kalau belum mampu berdonasi, kamu tetap bisa membantu dengan tidak ikut menyebarkan informasi yang belum jelas.
Kalau sebuah unggahan menyangkut korban atau kelompok rentan, pertimbangkan juga privasinya. Tidak semua foto, nama, atau cerita seseorang boleh disebarkan hanya karena tersedia di internet.
Dukung Komunitas Lewat Hal-hal Kecil
Dukungan juga tidak selalu harus datang dalam bentuk kerja sukarela yang besar.
Kamu bisa mengikuti akun komunitas yang kerja mereka kamu percaya, membaca newsletter, menghadiri acara gratis, membagikan kegiatan kepada orang yang mungkin tertarik, atau memperkenalkan karya mereka kepada teman.
Penelitian Yuni Rimawati, Isnalita, dan Noorlailie Soewarno dalam artikel Philanthropic Organizations Posted on Social Media: What Important Values Make Netizens React and Donate? di Journal of Nonprofit and Public Sector Marketing melihat berbagai respons pengguna terhadap unggahan organisasi filantropi. Studi terhadap 583 responden menemukan bahwa share dapat terdorong oleh respons emosional, sementara kepercayaan, transparansi, dan informasi tentang penerima manfaat berperan dalam keputusan untuk berdonasi.
Artinya, interaksi di media sosial memang bukan pengganti kerja nyata. Namun, ia bisa menjadi salah satu cara sebuah isu ditemukan dan mendapat perhatian lebih luas.
Mulai dari Lingkungan Terdekat
Isu sosial sering terasa terlalu besar. Kemiskinan, ketidaksetaraan gender, perubahan iklim, akses pendidikan, kekerasan, dan diskriminasi memang bukan persoalan yang bisa diselesaikan satu orang.
Tetapi kontribusi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Kamu bisa membantu kegiatan di lingkungan tempat tinggal, mengumpulkan buku untuk perpustakaan komunitas, membantu tetangga lansia menggunakan layanan digital, atau ikut kerja bakti.
Badan Pusat Statistik melalui metadata variabel Partisipasi dalam kegiatan sosial bersama memasukkan kegiatan seperti membangun fasilitas umum, kerja bakti, dan siskamling sebagai contoh keterlibatan langsung dalam kegiatan bersama untuk kepentingan umum.
Jadi, kontribusi sosial tidak harus selalu punya nama organisasi atau kampanye yang viral.
Kadang bentuknya justru sesuatu yang sangat biasa dan tidak masuk Instagram Story siapa pun.
Kepedulian Juga Bisa Masuk ke Kebiasaan Sehari-hari
Ada bentuk dukungan lain yang tidak membutuhkan kita bergabung dengan organisasi mana pun: mengubah kebiasaan sendiri.
Kalau peduli pada isu lingkungan, misalnya, kamu bisa mengurangi pembelian barang yang tidak dibutuhkan, menggunakan kembali barang yang masih layak, atau memperpanjang usia pakai sesuatu sebelum menggantinya.
Kalau peduli pada kesetaraan gender, kamu bisa memperhatikan pembagian pekerjaan domestik, cara bercanda tentang perempuan, atau bagaimana merespons komentar seksis di lingkungan pertemanan.
Tidak semuanya akan terlihat seperti aktivisme.
Tetapi bukan berarti tidak ada artinya.
Kamu juga enggak harus langsung mengubah banyak hal. Pilih saja yang paling mungkin kamu lakukan sekarang. Kalau baru bisa mengubah satu kebiasaan, tidak masalah. Yang penting, kepedulian itu tetap punya tempat dalam keseharianmu, bukan cuma muncul ketika sebuah isu sedang ramai.
Jangan Sampai Kepedulian Berhenti di Tren
Ketika sebuah isu sedang viral, wajar kalau perhatian publik ikut meningkat. Media sosial memang bisa membuat persoalan yang sebelumnya tidak banyak dibicarakan menjadi terlihat.
Masalahnya muncul ketika keterlibatan berhenti pada menunjukkan bahwa kita peduli.
Istilah performative activism digunakan untuk mengkritik bentuk keterlibatan yang lebih berfokus menunjukkan dukungan daripada ikut mendorong perubahan yang menjadi tujuan sebuah gerakan. Dalam artikel Social Media Activism is Not Enough di Journal of Society, Politics, & Ethics, Bobby Bellen mengkritik keterlibatan di media sosial yang berhenti pada unggahan tanpa diikuti tindakan lain.
Bukan berarti setiap orang harus melakukan sesuatu yang besar setelah mengunggah sebuah isu. Tidak semua orang punya kapasitas yang sama.
Sebelum ikut menyebarkan sebuah isu, ada baiknya cek dulu sumbernya. Kalau memang ingin terlibat lebih jauh, cari tahu juga siapa yang sudah bekerja di isu tersebut dan apa yang sedang mereka butuhkan. Dengan begitu, dukunganmu enggak berhenti di satu unggahan saja.
Baca Juga: Tas Darurat untuk Perempuan: Barang Apa Saja yang Perlu Disiapkan?
Kamu Tidak Harus Membantu Semua Isu
Ada begitu banyak persoalan sosial yang muncul setiap hari. Bencana belum selesai, sudah ada berita PHK. Belum selesai membicarakan isu kekerasan, muncul persoalan lingkungan. Di media sosial, satu kampanye bahkan belum selesai dibicarakan ketika isu lain sudah mengambil perhatian.
Kalau semuanya ingin diikuti, lama-lama capek juga.
Kamu enggak harus tahu atau terlibat dalam semua isu. Kalau ada satu persoalan yang memang ingin kamu pahami lebih jauh, mulai dari sana. Cari tahu apa yang sedang terjadi, dengarkan orang-orang yang terdampak, lalu lihat apakah ada komunitas atau organisasi yang bisa kamu dukung.
Bentuk dukungannya pun bisa disesuaikan dengan kondisi. Kalau punya uang lebih, kamu bisa berdonasi. Kalau punya waktu, kamu bisa menjadi relawan. Kalau punya keahlian tertentu, tawarkan kemampuanmu. Kalau belum bisa melakukan semuanya, membantu menyebarkan informasi yang benar pun sudah menjadi salah satu cara untuk ikut terlibat.
Kamu enggak perlu memaksakan diri hanya supaya terlihat peduli. Ada kebutuhan dan batas yang juga perlu kamu perhitungkan dalam hidupmu sendiri.
Yang penting, ketika memang ingin membantu, lihat apa yang bisa kamu berikan sekarang. Enggak harus banyak. Yang penting memang dibutuhkan.
Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.





















