Tas Darurat untuk Perempuan: Barang Apa Saja yang Perlu Disiapkan?
Kabar erupsi Gunung Anak Krakatau pada Rabu (9/9) jadi pengingat bahwa kesiapsiagaan bencana sebaiknya tidak baru dimulai ketika situasi sudah mendesak. Dalam laporan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi Hari Ini, Durasi 28 Detik, Detik News melaporkan erupsi terjadi pukul 00.47 WIB selama 28 detik. Masyarakat diimbau tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Kesiapsiagaan tidak selalu berarti bersiap menghadapi skenario terburuk. Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah menyiapkan tas darurat atau Tas Siaga Bencana (TSB), berisi kebutuhan penting untuk beberapa hari pertama ketika situasi belum sepenuhnya normal.
Bagi perempuan, ada sejumlah kebutuhan personal yang layak masuk ke dalam tas tersebut. Pembalut, pakaian dalam, perlengkapan kebersihan, obat pribadi, hingga kebutuhan kehamilan atau menyusui mungkin tidak selalu tercantum dalam daftar perlengkapan darurat yang bersifat umum.
Persiapannya pun tidak perlu rumit. Prinsipnya adalah membawa barang yang memang dibutuhkan, mudah digunakan, dan sesuai dengan kondisi masing-masing.
Baca Juga: Perempuan Lebih Rentan Jadi Korban Bencana Alam, Ini Solusinya
Mengapa Tas Darurat Perlu Disesuaikan dengan Kebutuhan Perempuan?
Dalam situasi darurat, kebutuhan setiap orang tidak selalu sama. Perempuan yang sedang menstruasi, hamil, menyusui, atau baru melahirkan memiliki kebutuhan yang berbeda.
Hal ini juga tercermin dalam kebijakan penanggulangan bencana. Peraturan BNPB Nomor 2 Tahun 2026 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Penanggulangan Bencana menyebut penanggulangan bencana perlu memperhatikan perbedaan pengalaman, kebutuhan, kapasitas, dan kerentanan perempuan dan laki-laki. Peraturan tersebut berlaku sejak 6 Juli 2026.
Sebelumnya, BNPB juga menjelaskan pentingnya kebutuhan spesifik perempuan dan anak dalam situasi bencana. Dalam artikel Perlindungan Perempuan dan Anak dalam Penanggulangan Bencana, BNPB menyebut kebutuhan seperti layanan bagi ibu hamil dan melahirkan serta fasilitas yang mendukung keamanan di tempat pengungsian perlu diperhatikan.
Artinya, memasukkan pembalut atau pakaian dalam tambahan ke tas darurat bukan berarti berlebihan. Barang tersebut memang bisa menjadi kebutuhan dasar ketika akses terhadap toko, kamar mandi, apotek, atau rumah untuk sementara terbatas.
Baca Juga: Perempuan Paling Rentan Bencana, Tapi Luput dari Kebijakan
Tas Darurat Sebaiknya Disiapkan untuk Beberapa Hari
Tas darurat bukan koper untuk membawa seluruh barang dari rumah. Fungsinya membantu memenuhi kebutuhan penting ketika seseorang perlu berpindah tempat atau ketika fasilitas belum bisa diakses seperti biasa.
Dalam Buku Pedoman Keluarga Siaga Bencana, Perpustakaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, BNPB menyarankan Tas Siaga disimpan di tempat yang mudah dijangkau, dekat pintu keluar, tidak terkunci, dan diperiksa secara berkala. Panduan tersebut juga mencantumkan kebutuhan air minum minimal 2 liter per orang per hari.
Sementara itu, buku saku BNPB Tanggap Tangkas Tangguh Menghadapi Bencana memasukkan kebutuhan untuk sekitar tiga hari, mulai dari dokumen penting, pakaian, makanan tahan lama, air minum, obat-obatan, alat penerangan, uang tunai, peluit, masker, perlengkapan mandi, hingga ponsel atau radio.
Jumlah tersebut tetap bisa disesuaikan dengan kondisi rumah, akses terhadap air, jumlah anggota keluarga, dan kemampuan membawa tas saat harus berpindah.
Isi Dasar Tas Darurat yang Perlu Disiapkan
Sebelum menambahkan kebutuhan khusus perempuan, pastikan tas sudah memiliki perlengkapan dasar. Dalam materi BNPB, beberapa barang yang disarankan antara lain:
- Air minum dan makanan tahan lama
- Pakaian dan pakaian dalam
- Obat pribadi dan perlengkapan P3K
- Ponsel, charger, dan power bank
- Senter atau headlamp beserta baterai cadangan
- Peluit
- Masker
- Perlengkapan mandi
- Uang tunai secukupnya
- Dokumen penting dalam pelindung kedap air
Daftar serupa dimuat Detik Edu dalam artikel 11 Isi Tas Siaga Bencana yang Perlu Disiapkan, Resmi dari BNPB yang terbit 7 September 2026. Artikel tersebut merangkum kebutuhan Tas Siaga Bencana berdasarkan buku saku BNPB.
Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, tas bisa disesuaikan dengan kebutuhan personal.
Barang Khusus Perempuan yang Bisa Masuk Tas Darurat
Tidak semua perempuan membutuhkan barang yang sama. Karena itu, daftar berikut lebih baik diperlakukan sebagai checklist yang bisa dipilih, bukan daftar belanja yang harus dibawa seluruhnya.
1. Pembalut atau Produk Menstruasi yang Biasa Digunakan
Jika masih menstruasi, masukkan pembalut atau produk menstruasi yang memang biasa digunakan sehari-hari.
Tidak perlu mengganti produk hanya karena sedang menyiapkan tas darurat. Justru lebih praktis membawa produk yang sudah diketahui cocok dan nyaman digunakan.
Jumlahnya bisa disesuaikan dengan pola menstruasi masing-masing, dengan tambahan cadangan untuk mengantisipasi akses toko yang belum normal.
Artikel Detik Edu, Isi Tas Siaga Bencana, Siapkan Ya!, juga memasukkan pembalut sebagai salah satu perlengkapan yang dapat ditambahkan ke Tas Siaga, bersama tisu basah dan tisu kering.
Jika menggunakan tampon atau menstrual cup, bawa perlengkapan yang memang biasa digunakan. Tambahkan kantong plastik atau ziplock untuk menyimpan barang bekas maupun pakaian yang perlu dipisahkan dari barang lain.
2. Pakaian Dalam dan Pakaian Ganti
BNPB memasukkan pakaian dalam sebagai bagian dari pakaian yang perlu disiapkan untuk beberapa hari dalam Tas Siaga Bencana.
Untuk kebutuhan personal, kamu bisa menambahkan beberapa pakaian dalam yang nyaman, kaus, celana, kaus kaki, dan pakaian luar sesuai kondisi lingkungan.
Tidak perlu membawa terlalu banyak. Pilih pakaian yang ringan, mudah dilipat, dan nyaman digunakan jika harus berada di tempat pengungsian atau berpindah lokasi.
3. Perlengkapan Kebersihan
Sabun kecil, sikat gigi, pasta gigi, hand sanitizer, tisu kering, tisu basah, handuk kecil, sisir, dan kantong sampah dapat membantu menjaga kebersihan ketika fasilitas mandi tidak tersedia seperti biasanya.
Dalam artikel BPBD Kabupaten Bogor, Pengarustamaan Gender Dalam Penanggulangan Bencana, BNPB juga mencontohkan hygiene kit yang mencakup pakaian dalam dan pembalut sebagai salah satu bentuk kesiapsiagaan yang responsif gender.
Untuk perempuan dengan rambut panjang, ikat rambut atau jepit sederhana juga boleh dimasukkan. Barang kecil ini tidak membutuhkan banyak ruang, tetapi bisa membantu kenyamanan selama berada di kondisi darurat.
4. Obat Pribadi dan Kebutuhan Kesehatan
P3K penting, tetapi obat pribadi sebaiknya mendapat tempat tersendiri dalam tas.
Jika rutin mengonsumsi obat tertentu, siapkan persediaan sesuai kebutuhan dan pastikan masih dalam masa berlaku. Sebaiknya obat tetap berada dalam kemasan atau wadah berlabel agar tidak membingungkan ketika dibutuhkan.
Kebutuhan yang berkaitan dengan menstruasi juga bisa disesuaikan. Jika biasanya mengalami keluhan tertentu saat haid dan memiliki produk yang biasa digunakan, pertimbangkan untuk memasukkannya.
Tujuannya bukan membuat apotek mini, melainkan memastikan kebutuhan kesehatan yang paling personal tidak terlewat.
Kalau Sedang Hamil, Menyusui, atau dalam Masa Nifas
Kebutuhan tas darurat akan berubah ketika kondisi tubuh berubah.
Perempuan yang sedang hamil dapat mempertimbangkan membawa dokumen pemeriksaan kehamilan, informasi kontak tenaga kesehatan, obat atau suplemen yang memang digunakan, serta pakaian yang nyaman.
Jika usia kehamilan sudah mendekati persalinan, kebutuhan terkait persalinan juga perlu dipertimbangkan berdasarkan kondisi masing-masing. Konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan barang yang relevan.
Bagi ibu menyusui, perlengkapan seperti bra menyusui, breast pad, pompa ASI jika memang digunakan, dan kebutuhan bayi dapat dimasukkan sesuai situasi.
Untuk perempuan yang baru melahirkan, kebutuhan masa nifas juga berbeda dari kebutuhan menstruasi biasa. Produk kebersihan yang sesuai dan pakaian dalam yang nyaman mungkin lebih berguna dibanding membawa produk menstruasi dalam jumlah banyak.
Prinsipnya, isi tas mengikuti kondisi orang yang membawanya.
Bagaimana Memilih Tas Darurat?
Tas yang digunakan sebaiknya cukup kuat, nyaman dibawa, dan tidak membuat pemakainya kesulitan bergerak.
Tas punggung atau backpack bisa menjadi pilihan praktis jika kamu perlu membawa tas sambil bergerak. Jika memungkinkan, pilih bahan yang tahan air atau gunakan pelindung tambahan.
Namun, ukuran besar bukan berarti lebih baik. Tas yang terlalu besar justru bisa membuat kita memasukkan terlalu banyak barang.
Untuk kebutuhan perempuan, satu pouch kecil khusus menstruasi, satu pouch untuk obat, dan satu pouch perlengkapan kebersihan bisa membantu menjaga isi tas tetap rapi.
Jangan Lupa Tas Darurat di Tempat Kerja atau Kendaraan
Kesiapsiagaan tidak selalu harus berpusat di rumah. Aktivitas sehari-hari membuat seseorang bisa saja sedang berada di kantor, kampus, kendaraan, atau tempat lain ketika kondisi darurat terjadi.
Karena itu, kebutuhan yang lebih sederhana dapat disiapkan di tempat yang sering digunakan. Misalnya, pouch kecil berisi pembalut, pakaian dalam, obat pribadi, tisu, hand sanitizer, dan charger bisa disimpan di laci meja kerja atau tas yang biasa dibawa.
Tidak perlu membuat duplikat seluruh Tas Siaga Bencana. Fokus pada barang personal yang paling sulit dicari ketika dibutuhkan mendadak.
Cara Menyusun Tas agar Tidak Merepotkan
Tas darurat akan lebih berguna kalau isinya mudah ditemukan.
Kelompokkan barang berdasarkan fungsi. Misalnya:
- Pouch menstruasi: pembalut atau produk menstruasi, tisu, dan kantong plastik.
- Pouch kesehatan: obat pribadi dan perlengkapan P3K.
- Pouch kebersihan: sabun, sikat gigi, pasta gigi, hand sanitizer, dan perlengkapan kecil lain.
- Pouch dokumen: salinan dokumen dan daftar nomor kontak penting dalam pelindung kedap air.
Barang yang mungkin dibutuhkan segera sebaiknya diletakkan di bagian yang mudah dijangkau. Barang cadangan dapat ditempatkan di bagian lain.
Dengan sistem ini, kamu tidak perlu mengeluarkan seluruh isi tas hanya untuk mencari satu barang.
Baca Juga: Cerita Perempuan Relawan Bencana Aceh: Melihat Derita yang Tak Masuk Layar
Kapan Tas Darurat Perlu Diperiksa?
Tas darurat bukan sesuatu yang selesai dibuat sekali lalu disimpan bertahun-tahun.
Makanan dan obat memiliki masa kedaluwarsa. Baterai bisa habis. Pakaian mungkin sudah tidak sesuai ukuran atau kondisi. Nomor telepon dan kebutuhan pribadi juga bisa berubah.
BNPB dalam Buku Pedoman Keluarga Siaga Bencana menyarankan Tas Siaga diperiksa minimal setiap enam bulan.
Pemeriksaan berkala bisa sekaligus menjadi kesempatan untuk menyesuaikan isi tas dengan kondisi terbaru. Jika sedang hamil, misalnya, kebutuhan personal bisa berubah. Jika baru memiliki bayi, perlengkapan bayi perlu ditambahkan. Jika obat rutin berubah, isi pouch kesehatan juga perlu diperbarui.
Tas darurat yang baik bukan yang paling penuh, melainkan yang isinya benar-benar berguna untuk orang yang membawanya.
Menyiapkannya pun tidak harus dilakukan sekaligus. Kamu bisa mulai dari satu tas, pakaian ganti, air minum, obat pribadi, perlengkapan kebersihan, dan dokumen penting. Setelah itu, tambahkan kebutuhan lain sesuai kondisi.
Kesiapsiagaan pada dasarnya bukan soal menunggu bencana terjadi. Ia lebih mirip kebiasaan kecil untuk membuat kebutuhan dasar tetap bisa terpenuhi ketika rutinitas sehari-hari berubah.
Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.





















