5 Artikel Pilihan: #MerawatIngatan65, Review ‘Agensi Rumah Tangga’, hingga Hari Aborsi Aman Internasional
1. Mengapa ‘Agensi Rumah Tangga’ Belum Melihat PRT Sebagai Pekerja?
Belum lama ini, saya menonton wawancara sutradara Naya Anindita bersama Sam’s Studios, tentang film terbarunya Agensi Rumah Tangga (2026). Ia menyatakan pentingnya peran Pekerja Rumah Tangga (PRT), untuk mendukung kelangsungan rumah tangga. Terutama bagi keluarga double-income, yang harus mendelegasikan pengasuhan anak dan pekerjaan domestik kepada PRT.
Alasan itu juga memotivasi Naya untuk mengangkat kisah PRT, yang jarang dimanusiakan. Baginya, isu ini penting dibicarakan dan penonton akan relate dengan ceritanya.
Baca artikel selengkapnya di sini.
2. #MerawatIngatan65: Jalan-jalan ke ke Rumah Para Jenderal dan Sejarah yang Berhenti di Malam 30 September ’65
Tulisan “Monumen Pancasila Sakti Tutup Sementara” terpampang di samping gerbang megah yang diisi ukiran-ukiran kisah ‘Gerakan 30 September’ (29/9). Kata banner tersebut, monumen ditutup “dalam rangka persiapan peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2026.”
Ditutupnya Monumen Pancasila Sakti yang biasa disebut Museum Lubang Buaya menggagalkan rencana saya untuk berkunjung dan melihat sejarah G30S versi pemerintahan Orde Baru. Melansir RRI, museum ini diprakarsai oleh Brigjen TNI Prof. Dr. Nugroho Notosusanto disetujui oleh Menhankam/Pangab Jenderal TNI M. Yusuf dan Presiden Soeharto.
Baca artikel selengkapnya di sini.
3. #MerawatIngatan65: “Anak Orang Terlibat”: Saat Cinta dan Cita Terhalang Stigma Negara
Kakak tertua saya meninggal dunia enam bulan lalu. Entah mengapa, salah satu ingatan paling kuat tentangnya adalah cinta pertamanya yang berakhir tragis. Tiap kali keluarga kami berkumpul, kisah itu selalu menjadi topik pertama untuk dibahas lagi, sebelum kami mengingat kisah cintanya dengan perempuan yang kemudian menjadi istrinya.
Buat saya, kisah cinta pertama kakak saya sekaligus menyimpan memori tentang almarhum ayah, Desa Sukasari, dan PKI. Ya, Partai Komunis Indonesia. Penyebab kandasnya hubungan itu adalah sebuah sebutan yang dahulu menjadi teka-teki sekaligus momok bagi saya: Perempuan itu “anak orang terlibat”.
Terlibat apa? Terlibat dengan siapa?
Simak artikelnya di sini.
4. Sydney Sweeney Boleh Seksi, tetapi Tubuh Perempuan Bukan Umpan Judi
Saya menonton iklan Sydney Sweeney untuk Novig dan, jujur saja, ingin segera menutup layar. Bukan karena tubuh telanjangnya. Saya terganggu karena ini sudah 2026, tetapi industri olahraga masih memakai formula sekuno ini: laki-laki bermain, sementara perempuan telanjang untuk menarik perhatian mereka.
Dalam iklan platform pasar prediksi olahraga tersebut, Sweeney tampil nyaris tanpa busana. Bola basket, raket tenis, sarung tinju, dan perlengkapan olahraga lain ditempatkan untuk menutupi bagian tubuhnya. Ia mengucapkan kata “sports” berulang kali, seakan tubuh perempuan yang ditempeli atribut olahraga sudah cukup menjelaskan apa yang sedang dijual.
Baca artikel lengkapnya di sini.
5. Sudah Legal, Kenapa Aborsi Aman bagi Korban Kekerasan Seksual Masih Sulit Diakses?
Peringatan Pemicu: Artikel ini mengandung substansi terkait kekerasan seksual dan aborsi yang mungkin dapat memicu ketidaknyamanan bagi sebagian pembaca. Kebijaksanaan pembaca sangat diharapkan.
28 September diperingati sebagai Hari Aborsi Aman Internasional. Mengutip situs World Health Organization (WHO), peringatan ini bertujuan mendukung hak atas aborsi yang aman.
Di Indonesia, aborsi bagi korban kekerasan seksual diperbolehkan dalam kondisi tertentu. Meski begitu, akses terhadap layanan aborsi aman masih menghadapi berbagai hambatan, mulai dari keterbatasan tenaga kesehatan, stigma terhadap korban, hingga belum adanya pedoman teknis yang memberikan kepastian bagi tenaga medis..
Baca artikel selengkapnya di sini.





















