Women Lead
September 22, 2021

Tak Melulu Soal Seks, 4 Alasan Serial ‘Sex Education’ Makin Layak Ditonton

Serial Sex Education tidak melulu tentang hubungan seks, tapi identitas gender, orientasi seksual, dan relasi keluarga dengan sentuhan komedi.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Culture // Screen Raves
Share:

Peringatan spoiler

Setelah setahun menunggu, serial televisi yang bisa buat KPI ketar-ketir, Sex Education, akhirnya ‘kembali’ pekan lalu. Kali ini Otis (Asa Butterfield), Maeve (Emma Mackey), Eric (Ncuti Gatwa), dan kawan-kawan membawa isu identitas gender, orientasi seksual, dan intimasi pasangan yang beragam. Serial itu pun membuktikan edukasi seksual tak sama dengan promosi seks bebas. Mengutip perkataan Otis, tidak memberikan edukasi yang benar, malah berbahaya karena sarat akan homofobia, memudahkan terjadinya penularan penyakit seksual dan kehamilan remaja. 

Musim ketiga serial ini memang tidak fokus tentang cara pasangan melakukan hubungan seksual. Namun, serial yang diciptakan Laurie Nunn tersebut tidak menyisihkan kekhasannya menampilkan adegan seks secara komikal, alih-alih disorot sebagai sesuatu yang ‘sensual’. Pilihan itu memang tepat, mengingat ceritanya tentang anak-anak remaja Inggris yang kurang edukasi seksual. Akan sangat mengerikan jika adegan itu dibingkai dengan sangat vulgar.

Cara penggambaran itu yang membuat Sex Education berbeda dengan serial remaja lain. Euphoria, misalnya, menampilkan isu relasi dan seks remaja AS dengan ‘warna’ lebih gelap. Karenanya, plot cerita kadang dinilai lebih cocok jika diperankan orang dewasa muda di universitas. Di sisi lain, Sex Education membawa isu kehidupan remaja dengan ringan dan renyah yang membuat kita bisa binge watching serial dalam sehari. 

Sex Education juga bisa dibandingkan dengan Glee, serial musikal dramedi (drama komedi) yang jaya awal 2010-an. Di musim awal, Glee memang bercerita tentang keragaman hidup anak remaja AS. Ada isu tentang orientasi seksual, kehamilan remaja, minimnya edukasi seksual sampai percaya seseorang bisa hamil jika ejakulasi di jacuzzi. Namun, semakin lama asiknya Glee yang komikal makin terkikis seiring bertambahnya drama setiap perpanjangan musim serial itu. 

Harapannya Sex Education tidak mengikuti langkah Glee yang kehilangan nyawa karena drama percintaan yang tidak ada habisnya. Kita semua memang ingin Maeve dan Otis jadi endgame, singkatnya pacaran. Apalagi setelah drama Isaac (George Robinson) naksir Maeve di akhir musim kedua yang bikin pusing. Namun, jika tarik ulur drama percintaan itu dibawa terlalu lama akhirnya bisa bosan dan menuntut Mave dan Otis untuk move on. Terlebih lagi ada dinamika dan perkembangan lucu antara Ruby (Mimi Keene) bersama Otis dan Maeve dengan Isaac. 

Yah, dalam season ketiga klinik yang menyatukan dua protagonis utama memang sudah hancur, tapi ship-nya Otis dan Maeve bisa berlayar. Sayangnya harus menunggu musim keempat untuk mengupas lebih lanjut hubungan mereka. Namun, sebelum berfantasi lebih jauh soal ‘bagaimana sih kelanjutan Sex Education nantinya,’ ada empat isu penting yang dikemas dengan ciamik, sebagai berikut:

1. Remaja ‘Non-binary’ yang Dikotakkan

Tampaknya sudah menjadi pola Sex Education memperkenalkan karakter baru setiap musim. Jika season kedua ada Rahim (Sami Outalbali) yang karismatik dan Vivienne Odusanya (Chinenye Ezeudu) yang ambisius, kali ini ada Cal remaja non-biner pindahan dari AS. Kedatangan Cal ini sangat bertepatan dengan upaya pembaruan citra ‘buruk’ Moordale Secondary School sebagai sekolah seks. Kepala sekolah baru, Hope--yang ternyata tidak membawa harapan--mengharuskan semua siswa menjadi ‘seragam’. 

Sumber: Netflix

Adegan ketika semua siswa duduk dengan seragam abu-abu mereka sekilas mengingatkan pada video ‘keseragaman’ orang-orang Korea Utara yang membuat bulu tengkuk saya berdiri. Keharusan untuk menjadi sama tersebut tentunya membuat Cal dan remaja non-biner lainnya tertekan. Mereka ‘boleh’ menjadi diri sendiri tapi harus ‘berkompromi’ dengan memakai seragam sekolah yang ada atribut khas laki-laki atau perempuan. Bagi Cal, aturan dan pemikiran sarat cis-gender itu menghapuskan identitasnya. 

2. Bongkar Hubungan Gay yang Stereotipikal

Isu tentang identitas gender dan orientasi seksual disentil dengan ceritanya Adam yang telah melela sebagai laki-laki biseksual. Musim pertama dan kedua menyorot pergulatan Adam mengenal dirinya sendiri dan cara keluar dari cangkangnya. Perjalanannya pun terus berlanjut sampai musim ketiga. Namun, kali ini Adam harus belajar cara menyampaikan hal yang dirasakannya kepada orang lain, khususnya Eric. 

Layaknya laki-laki yang tumbuh di lingkungan toksik, tidak hanya soal maskulinitas dan keluarga, Adam mengalami konstipasi emosional dan komunikasi. Tetapi, ketika dia bisa mengungkapkan dan tahu apa yang diinginkannya, Adam satu langkah lebih berani. Pasalnya, hal itu juga yang mengantar hubungannya dengan Eric naik satu level.

Meskipun saya tidak menyukai plot jatuh cinta kepada perundungmu, Eric dan Adam menunjukkan mereka bukan pasangan gay stereotipikal yang sering digambarkan orang-orang heteroseksual. Sebagai laki-laki kemayu, Eric semacam ‘ditetapkan’ sebagai bottom dan Adam yang ‘maskulin’ tentu saja top. Namun, mereka versatile dan mengotakkan preferensi seseorang berdasarkan caranya menampilkan diri adalah hal yang konyol. 

3. Kehamilan Perempuan Usia Tua

Tentunya Sex Education tidak melulu tentang kehidupan remaja, tapi juga orang dewasa di sekitar mereka. Jean Milburn (Gillian Anderson), ibunya Otis, mengalami kehamilan di usia yang relatif tua. Karenanya, ia menghadapi beberapa tantangan, seperti waktu melahirkan yang prematur dan pendarahan saat bersalin. 

Namun, isu yang tidak kalah penting juga terjadi ketika Jean melakukan pemeriksaan kandungan dan mengalami diskriminasi dari dokter laki-laki karena usianya. Perempuan yang sudah tidak lagi ‘muda’ dianggap lancang ketika mengandung di masa kadaluarsanya. Pemikiran seperti itu, apalagi dari tenaga kesehatan, memang sudah sepatutnya disorot karena sangat tidak pantas untuk diucapkan. 

4. Relasi Orang Tua dan Anak

Otis dan ibunya memiliki hubungan yang sedikit rumit. Sejak musim pertama hubungan mereka diuji ketika ibunya terus menembus batasan yang dibuat Otis. Tetapi, mereka selalu dekat, lagipula secara tidak langsung ibunya memiliki pengaruh besar dalam bakat Otis menjadi terapis. 

Relasi kekeluargaan itu tidak hanya tentang mereka berdua tetapi menjadi lebih luas ketika Ola dan ayahnya, Jakob menjadi anggota baru keluarganya. Belum lagi Jean dan Jakob mengalami gesekan karena perbedaan pandangan soal isu gender. Dinamika baru keluarganya Otis memang dicoba. Tapi, perasaan sayang, kebersamaan, dan proses adaptasi ditunjukkan dengan kesediaan menerima satu sama lain. 

Sumber: Netflix

Ada juga tentang Adam dan ayahnya, Mr.Groff, dengan relasi mereka yang tegang. Rupanya, Mr.Groff juga memiliki trauma masa kecil karena perundungan dari ayah dan kakak laki-lakinya. Akibatnya, dia juga membesarkan Adam dengan cara dingin. Mr. Groff yang mencoba untuk bangkit kembali menunjukkan orang tua pun harus pulih dan berdamai dengan dirinya sendiri. 

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.