25/09/2026
Issues Politics & Society

Dari ‘Pheromone Maxxing’ hingga Tren ‘If She Says No’: Cara Misogini dan Incel Mengakar Lewat Tren Gen Z

Tren terbaru pheromone maxxing hanya satu dari banyak tren yang sebenarnya berakar dari misogini yang mengakar hingga ke ruang digital. Tren-tren ini beranak-pinak dari para incel.

  • September 25, 2026
  • 9 min read
  • 31 Views
Dari ‘Pheromone Maxxing’ hingga Tren ‘If She Says No’: Cara Misogini dan Incel Mengakar Lewat Tren Gen Z

Bayangkan remaja laki-laki tanggung sedang bersiap untuk kencan. Alih-alih melangkah ke kamar mandi, menggosok tubuhnya dengan sabun dan menyemprotkan parfum, ia justru membongkar tumpukan cucian kotor dan mengenakan kembali kaus yang sudah ia pakai berolahraga selama tiga hari berturut-turut.

Di depan cermin, remaja itu tersenyum puas. Ia sangat yakin bahwa bau keringatnya yang menyengat adalah senjata rahasia yang tak tertandingi untuk menggaet perempuan yang hendak ia kencani.

Gambaran absurd ini bukan karya fiksi, tapi bagian dari tren pheromone maxxing yang kini menjangkiti sudut-sudut platform TikTok. Para pengikut tren ini yang mayoritas adalah laki-laki muda. Mereka percaya produk kebersihan modern seperti sabun dan deodoran mengurangi aroma maskulinitas alami laki-laki.

Dengan berhenti mandi, menghindari sampo, atau sengaja memakai baju kotor, mereka meyakini sedang mengumpulkan feromon—senyawa kimia yang konon dipercaya bisa membuat perempuan bertekuk lutut, kehilangan akal sehat, dan tunduk pada insting hewani mereka.

Berbagai kreator di TikTok dengan bangga memamerkan rutinitas anti-kebersihan mereka. Bahkan salah satu pengguna yang kini akunnya ditangguhkan TikTok sempat viral membagikan tips tidak mandi berhari-hari sebelum kencan demi menciptakan apa yang ia sebut sebagai “efek halo feromon”. 

“Biasanya aku suka enggak mandi selama tiga hari sebelum ketemu cewek dan memakai kaus yang sama seperti yang aku pakai sebelumnya. Jadi, hal itu menciptakan semacam ‘efek halo’ dari feromon. Karena cewek-cewek suka aroma feromon,” sebutnya sebagaimana dikutip oleh media digital Parents.

Kreator lain secara terbuka mencemooh laki-laki yang memakai parfum, mengklaim bahwa wewangian buatan adalah alasan para laki-laki gagal mendapatkan pasangan. Dalam laporan Vice, tren ini masuk ke tingkatan paling ekstrem ketika beberapa akun mulai mempromosikan praktik meminum air seni sendiri demi “mengeluarkan racun lewat keringat” agar feromon yang dihasilkan lebih murni dan kuat.

Baca Juga: Ketika Bapak Rumah Tangga Bicara Stigma hingga Omongan Tetangga 

Bagaimana Pheromone Maxxing Jadi Bagian dari Budaya Incel dan Berakar pada Misogini

Sekilas, menolak mandi demi menarik perhatian perempuan mungkin hanya terdengar seperti kebodohan remaja yang mengundang tawa. Namun, jika dikulik lebih jauh, pheromone maxxing adalah manifestasi nyata dari misogini yang jadi nafas utama budaya incel (involuntary celibate).

Tren ini pada dasarnya mereduksi perempuan menjadi sekadar makhluk biologis tanpa akal sehat. Bagi para incel, ketertarikan seorang perempuan tidak didasarkan pada kecerdasan emosional, kepribadian, rasa hormat, atau persetujuan yang rasional, melainkan murni reaksi hewani terhadap bahan kimia yang menguar dari tubuh laki-laki. Keyakinan ini melucuti agensi dan kemanusiaan perempuan karena tujuan tren ini adalah dominasi utuh laki-laki atas perempuan.

Pola pikir semacam ini tumbuh sangat subur di dalam manosphere–ekosistem online radikal yang mengajarkan bahwa hubungan antar-gender hanyalah transaksi di sebuah “pasar seksual” (sexual marketplace). Di dalam ekosistem ini, nasib romantis seorang laki-laki dianggap telah ditentukan secara genetis (determinisme biologis). Alih-alih mengembangkan empati, anak-anak muda ini dijebak dalam narasi pseudo-sains yang menyalahkan alam atas kegagalan sosial mereka.

Sebagaimana dijelaskan dalam UN Women Glossary on the Manosphere, komunitas ini mempopulerkan istilah Sexual Market Value (SMV), sebuah sistem pemeringkatan nilai manusia yang secara kaku menilai berharganya seseorang murni dari penampilan fisik, status sosial, dan kekayaan. 

Dalam kerangka kerja transaksional ini, hubungan manusia tidak lagi dilandasi oleh empati, kecocokan emosional, atau rasa saling menghargai, melainkan direduksi menjadi untung-rugi. Perempuan ditempatkan sebagai konsumen yang dianggap manipulatif, sementara laki-laki dipaksa bersaing dalam hierarki maskulinitas yang dangkal namun sangat menekan.

Dampak destruktif dari teori pasar seksual ini diperparah oleh cara komunitas manosphere mengolah informasi di dalam ruang gema mereka. Tinjauan akademis tentang budaya  ini memaparkan bahwa para pengikutnya secara aktif memelintir riset-riset psikologi evolusioner untuk melegitimasi kebencian mereka.  Mereka menciptakan dogma distortif seperti “aturan 80/20″—keyakinan bahwa 80 persen perempuan hanya mengejar 20 persen laki-laki paling tampan dan kaya (kelompok “Chad”). 

Laporan tersebut menunjukkan bahwa ketika dinamika sosial dibingkai secara absolut sebagai pasar yang curang. Penolakan romantis tidak lagi dilihat sebagai hal biasa, melainkan dianggap sebagai bentuk penindasan sistemik oleh perempuan. Akibatnya, rasa terasing yang dialami anak-anak muda ini tidak diselesaikan dengan pembenahan diri yang sehat, melainkan diubah menjadi keputusasaan kolektif (black pill) dan kebencian mendalam yang membenarkan perilaku misoginis.

Baca Juga: 4 Cara Kapitalisme Diuntungkan oleh Kerja Domestik Perempuan 

Tren atau Hal “Sepele” yang juga Bagian dari Misogini

Pheromone maxxing hanyalah bagian kecil dari maraknya tren di media sosial yang sekilas tampak menggelikan, sepele, atau sekadar lelucon konyol. Di balik kemasannya yang dianggap tidak berbahaya, ada berbagai hal di sekitar kita secara halus terus menyelundupkan ideologi incel yang misoginis.

1. Tren Looksmaxxing

Berawal dari forum internet pinggiran, tren looksmaxxing kini meledak di platform media sosial arus utama. Sekilas, tren ini terlihat seperti sekadar usaha anak laki-laki untuk merawat diri agar tampil lebih tampan, mulai dari menata rambut hingga berlatih postur rahang (dikenal dengan mewing). 

Seiring waktu tren ini berevolusi menjadi obsesi ekstrem. Pemuda didorong untuk melakukan praktik berbahaya seperti bone smashing (memukul tulang wajah dengan palu agar tumbuh lebih maskulin) dan membedah struktur wajah mereka menggunakan skala penilaian numerik yang brutal.

Tren ini berakar kuat pada ideologi incel yang meyakini bahwa perempuan secara biologis hanya akan memilih laki-laki dengan genetika tulang wajah yang sempurna (sang “Chad”). Sebuah laporan resmi dari Centre for Young Lives dengan tegas memperingatkan bahwa tren looksmaxxing yang beracun ini mendorong anak laki-laki menuju obsesi tubuh yang ekstrem, dan tindakan melukai diri sendiri.

Laporan tersebut juga memaparkan data bahwa algoritma media sosial sengaja membanjiri beranda para remaja laki-laki dengan konten yang mengkapitalisasi rasa insecure mereka. Ketika usaha mereka mengubah bentuk fisik gagal menarik perhatian, narasi looksmaxxing segera membelokkan rasa frustrasi tersebut menjadi kebencian lebih mendalam terhadap perempuan, yang dianggap terlalu dangkal dan kejam. 

2. Tren “Unboxing” Malam Pertama

Berawal dari Malaysia lalu merambah ke Indonesia, media sosial kerap diramaikan oleh sebuah tren “lucu-lucuan” di antara pasangan yang sudah menikah, yakni tren “unboxing” malam pertama. Dalam video-video viral di TikTok maupun Instagram, pihak laki-laki terlihat merekam momen di mana ia membuka banyak jarum pentul, melepaskan hiasan rambut, atau membantu melepas gaun pengantin istrinya. Tidak sedikit, dalam konten-konten ini pihak laki-laki memakai ekspresi wajah birahi.

Tren yang diposisikan sebagai lelucon ringan ini sebenarnya menyimpan akar misogini. Penggunaan istilah “unboxing” yang secara harafiah mengacu pada tindakan membuka kemasan barang konsumsi seperti gadget atau pakaian baru adalah bentuk dehumanisasi. Istilah ini secara eksplisit mereduksi nilai seorang perempuan dari individu menjadi sekadar barang milik (property) yang siap dikonsumsi.

Logika ini melanggengkan budaya patriarki yang mengukur kehormatan perempuan berdasarkan mitos keperawanan. Feminis Naomi Wolf dalam bukunya Vagina (2012) menjelaskan bagaimana dalam konstruksi berpikir semacam ini, tubuh perempuan yang belum tersentuh dianggap seperti komoditas bermerek yang masih memiliki “segel” pabrik. 

Nilainya dianggap utuh hanya selama ia belum dibuka, dan hak kepemilikan sah atas “barang” tersebut secara resmi berpindah tangan kepada laki-laki saat “segel” itu dibuka pada malam pertama. 

3. Dari Kaos “Mokondo” hingga Label Baju G-Dragon

Fesyen sering kali jadi kanvas untuk berekspresi, namun buat para pembenci perempuan ia juga jadi medium pelanggengan misogini yang berlindung di balik kedok humor edgy. Baru-baru ini, media sosial Indonesia digegerkan oleh kemunculan unggahan tentang kaos menampilkan tulisan-tulisan yang merendahkan dan melecehkan perempuan secara seksual, seolah itu adalah sebuah lelucon tongkrongan yang wajar. 

Salah satu tulisan yang jadi perhatian warganet adalah balasan laki-laki yang tersinggung dengan istilah mokondo lalu menempatkan perempuan sebagai alat transaksi seksual. “When she says mokondo. Boys can say m*m*k lu sini gue Qris.”

Di kancah internasional, bahkan bintang sebesar G-Dragon dari BIGBANG pernah memicu kontroversi ketika merek pakaiannya. Soompi, media digital yang memberitakan budaya pop Korea Selatan pernah melaporkan pada 2016 bahwa G-Dragon lewat bisnis fesyennya Peaceminusone, merilis pakaian dengan label instruksi cuci bertuliskan: “Do not laundry, do not bleach… just give it to your mother”.

Kedua contoh tersebut memperlihatkan bagaimana fesyen dimanfaatkan untuk menormalisasi misogini. Penggunaan narasi seksual ekstrem pada kaos “balasan mokondo” menunjukkan bagaimana rasa tersinggung laki-laki dengan cepat tereskalasi menjadi bentuk pelecehan seksual. Pelecehan seksual ini sengaja dilakukan untuk merendahkan martabat perempuan, suatu hal yang sangat khas dari misogini.

Sementara itu, label pakaian milik G-Dragon melanggengkan stereotip gender bahwa tugas domestik yang kotor dan melelahkan adalah tanggung jawab otomatis perempuan. Ketika figur publik berskala global melegitimasi pesan ini di bawah label estetika streetwear yang edgy, publik didorong untuk menganggap diskriminasi gender sebagai lelucon yang tak perlu diartikan serius. 

Baca Juga: Berbagi Peran Domestik: Lebih Banyak Dibahas Daripada Dilakukan

4. Tren “If She Says No”: Ketika Ancaman Kekerasan Fisik Dijadikan Lelucon Viral

Bentuk lain dari misogini ekstrem juga dilihat dari tren TikTok belakangan viral Amerika Selatan. Di Brasil, ribuan anak muda mengikuti tren video “If she says no” (Jika dia bilang tidak). 

Dalam video tersebut, para laki-laki dengan bangga menirukan gerakan fisik sedang mencekik, memukul, atau menahan seorang perempuan imaginer yang diskenariokan menolak cinta atau lamaran laki-laki. Tren ini berkembang begitu masif hingga pemerintah Brasil secara resmi menuntut penjelasan dan tindakan tegas dari TikTok.

Tren ini memakai kerangka berpikir misogini karena perempuan tidak dipandang sebagai manusia bebas yang berhak membuat keputusan atas tubuh dan hatinya sendiri. Ketika seorang perempuan mengucapkan kata “tidak”, kata tersebut tidak dibaca sebagai batas konsen yang sah, melainkan dianggap sebagai bentuk pembangkangan atau kejahatan terhadap ego laki-laki yang merasa berhak atas tubuh perempuan tersebut. 

Normalisasi kekerasan akibat penolakan ini bukan sekadar omong kosong. Pasalnya, angka pembunuhan perempuan (femicide) di dunia nyata masih mengkhawatirkan. Laporan dari UN Women dan UNODC pada 2025 mencatat secara global ada 83,000 perempuan yang dibunuh secara sengaja dan 60 persen di antaranya tewas di tangan pasangan intim atau anggota keluarga mereka sendiri. 

Di Brasil sendiri, data dari Fórum Brasileiro de Segurança Pública menunjukkan fenomena femisida yang ekstrem, di mana setidaknya satu perempuan dibunuh setiap empat jam, sering kali dipicu oleh insiden sederhana seperti korban yang memutuskan hubungan atau menolak ajakan pelaku. 

Salah satu kasus nyata yang mengguncang publik adalah penyerangan terhadap Helena Anizio Rosak, perempuan berusia 20 tahun yang ditikam hampir 50 kali di rumahnya sendiri hanya karena menolak ajakan pacaran dari seorang pria. Fenomena ini membuktikan bahwa tren internet yang terkesan “cuma main-main” adalah cermin dari realitas kekerasan terhadap perempuan di dunia nyata.

Ilustrasi oleh Karina Tungari

About Author

Jasmine Floretta V.D

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.

Click to access the login or register cheese

Royal ID adalah kunci utama akunmu. Di situs top up royal dream yang benar, Royal ID hanya dipakai untuk mengirim koin ke karakter yang tepat, bukan untuk mengakses akun. Tidak ada alasan bagi layanan mana pun untuk meminta password, PIN, atau kode OTP yang kamu terima lewat SMS. Kalau ada yang meminta hal itu, itu tanda bahaya dan sebaiknya segera ditinggalkan.