15/09/2026
#WaveForEquality Issues Politics & Society

3 Tips ‘Parenting’ Sederhana untuk Cegah Anak Terpapar Ideologi Incel

Konten incel bisa masuk ke kehidupan anak lewat media sosial. Dua orang tua membagikan cara sederhana untuk membangun kesetaraan sejak di rumah.

  • September 15, 2026
  • 6 min read
  • 619 Views
3 Tips ‘Parenting’ Sederhana untuk Cegah Anak Terpapar Ideologi Incel

Serial Adolescence yang dirilis pada 2025 silam banyak membuka percakapan terkait involuntary celibate (incel) yang kian marak di internet.

Mengutip laporan Magdalene, incel merupakan komunitas di internet yang membenci perempuan karena meyakini dirinya tidak cukup menarik atau “sempurna” untuk mendapatkan perhatian perempuan. Mereka ramai-ramai menyalahkan dan menganggap perempuan sebagai penyebab utama dari segala masalah yang mereka hadapi.

Jumlah incel semakin meningkat setelah peristiwa pembunuhan oleh Elliot Rodger pada 2014 lalu yang merenggut nyawa enam orang. Setelah melakukan pembunuhan, Elliot membunuh dirinya sendiri dengan meninggalkan pesan bahwa pembunuhan itu adalah bentuk “pembalasan” terhadap perempuan yang menolaknya. Ia bilang, para korban merupakan tipe gadis yang ia inginkan tetapi tak bisa ia miliki.

Setelah peristiwa itu, Elliot dianggap pahlawan oleh para pengikut incel. Setahun berselang, Alek Minassian, laki-laki yang juga terpapar paham incel, melakukan pembunuhan massal di Toronto, Kanada, dan menewaskan sepuluh orang.

Kasus-kasus tersebut menunjukkan incel tak sebatas berhenti pada sikap membenci perempuan. Ideologi ini dapat berujung pada femisida atau pembunuhan perempuan karena gendernya.

Masalahnya, seperti digambarkan di serial Adolescence, internalisasi incel kerap terjadi secara diam-diam pada anak atau remaja laki-laki melalui algoritma media sosial.

Mengutip tulisan di Zero Tolerance, gerakan incel memanfaatkan kecemasan para laki-laki muda seputar penolakan dan tekanan yang mereka rasakan untuk menjadi tipe lelaki tertentu, seperti berotot atau memiliki banyak uang. Di komunitas ini, para laki-laki akan menemukan validasi atas perasaan mereka dan tempat untuk merasa diterima.

Lantas, bagaimana caranya agar anak laki-laki dapat terlindungi dari ideologi incel? Tua Maratua dan Raya, orang tua yang memiliki anak laki-laki sekaligus penerima Fellowship Berbagi Beban oleh Magdalene dan Wave for Equality, membagikan pengalaman mereka dalam mendidik anak agar tidak terjebak dalam lingkaran incel.

Pengalaman tersebut disampaikan dalam sesi “NGOPI: Parenting di Tengah Gempuran Komunitas Incel” di Sisterhood (5/9), yang diselenggarakan oleh Magdalene bekerja sama dengan Women News Network (WNN) dan International Media Support (IMS).

Baca juga: Bahaya Incel dan Femisida: Percakapan Penting Setelah Nonton ‘Adolescence’

1. Menghapus Bias Gender Anak

Mengutip artikel Maryn dkk. (2024), norma maskulinitas menjadi pintu masuk bagi incel untuk memengaruhi laki-laki.

Norma-norma maskulinitas mencerminkan harapan masyarakat patriarkis tentang bagaimana laki-laki seharusnya berpikir, berbicara, dan bertindak agar sesuai dengan peran gender yang diberikan kepada mereka. Misalnya, ada gagasan laki-laki harus tangguh, tidak emosional, dominan, dan menghindari sifat feminin.

Kepatuhan yang kaku terhadap norma-norma ini dapat membahayakan kesehatan mental dan fisik laki-laki. Namun, norma gender maskulin juga menjadi penghalang saat laki-laki membutuhkan bantuan untuk mengatasi masalah emosional atau sosial.

Sebab, norma maskulinitas menuntut laki-laki untuk mandiri dan tangguh. Hal ini dapat menyebabkan laki-laki menghadapi krisis maskulinitas.

Banyak laki-laki enggan meminta bantuan profesional dan malah mencari bantuan di platform daring. Tetapi, pencarian bantuan dapat mengarahkan laki-laki muda ke kelompok incel daring yang melanggengkan norma maskulin yang membahayakan kesehatan.

Karena itu, bagi Tua yang merupakan seorang ayah, penting untuk mematahkan norma maskulinitas lewat kehidupan sehari-hari. Hal yang Tua lakukan misalnya memperbolehkan sang anak mengoleksi dan bermain boneka, atribut yang selama ini dilekatkan dengan femininitas.

“Jadi anak saya ini sangat suka mengoleksi banyak boneka-boneka beruang … itu dibawa ke mana-mana. Selama itu masih bisa dimainkan. selama itu masih bisa menghasilkan hal yang positif. Kita lihat apa sih dampaknya ke seorang anak ketika bermain dengan boneka? Bisa meregulasi emosi misalnya, menjadi lebih tenang, apalagi kalau misalnya bonekanya yang lembut bisa belajar motorik juga,” terang Tua.

Sama dengan Tua, Raya, seorang ibu tunggal, membebaskan anak laki-lakinya memilih pakaian yang menurut anaknya nyaman meskipun tidak sesuai dengan norma gender yang berlaku.

“Jadi kalau saya pribadi juga enggak pernah ngelarang dia untuk milih baju warna pink karena menurut dia bagus. Nah, menurut saya ya enggak apa-apa kalau dia nyaman,” ucapnya.

Baca juga: Di Sini Incel, di Sana Incel: Pengalamanku Seminggu Selami Komunitas Pembenci Perempuan

2. Menguatkan Nilai Kesetaraan

Dikutip dari National Women’s Law Center, kelompok incel memiliki keyakinan bahwa perempuan tidak dapat dipercaya dan karena itu harus dikendalikan oleh laki-laki. Mereka juga memiliki visi untuk merampas hak-hak perempuan.

Untuk menangkalnya, Tua memberikan edukasi kepada anaknya bahwa semua gender setara. Hal sederhana yang ia lakukan di rumah yakni mempraktikkan pembagian tugas rumah tangga secara setara dengan istri agar anak melihat pekerjaan rumah tangga tidak terikat pada gender tertentu.

“Ketika saya dan istri kebetulan sama-sama bekerja, ketika pulang kita bagi-bagi tugas. Misalnya saya akan temenin anak ngerjain PR. Nah, nanti kebalikan ketika misalnya sudah selesai semuanya mungkin saya akan masak dan juga akan mencuci, … jadi kita enggak mencoba untuk melekatkan satu kegiatan rumah tangga kepada saya doang atau kepada istri saya doang,” ujar Tua.

Hal serupa disampaikan Raya. Menurutnya, kesetaraan dapat diajarkan dengan membiasakan anak laki-laki menghormati pendapat perempuan di rumah.

“Jadi sebenarnya anak-anak itu adalah peniru ulung dari apa yang dia lihat. Kita bisa nyontohin di meja makan misalnya, cara mengambil keputusan itu ternyata harus mendengarkan juga gimana pendapat ibunya, dan membuat keputusan itu bersama ibunya,” ujar Raya.

Baca juga: Anak Lelaki yang Dibesarkan Algoritme, Incel, dan Peran Pengasuhan Ayah

3. Mengawasi dengan Tetap Jadi Ruang Aman

Raya dan Tua memahami bahwa ideologi incel tumbuh subur di internet. Mengutip Magdalene, forum incel di Reddit sempat memiliki lebih dari 40.000 anggota sebelum ditutup pada 2017.

Meskipun begitu, menurut penelitian Universitas Portsmouth, kini banyak akun incel menyebarkan ideologinya melalui platform arus utama. Selama 25 bulan, tim peneliti menghimpun 332 unggahan video dari TikTok serta sejumlah tagar dan metrik penayangan dari platform media sosial tersebut.

Oleh karena itu, menurut Raya dan Tua, pengawasan media sosial anak menjadi hal yang penting di tengah gempuran komunitas incel di media sosial. Raya mengatakan, ia menerapkan aturan bahwa ponsel anaknya yang masih remaja tidak boleh dikunci atau diberi kata sandi.

“Jadi, kebetulan juga saya udah bilang pokoknya selama dia masih tinggal sama saya tuh handphone enggak boleh dikunci, enggak boleh pakai password gitu ya. Jadi kapan aja kita mau lihat bisa,” ujar Raya.

Bersamaan dengan itu, Raya juga mengikuti tren di media sosial yang sedang berkembang di kalangan remaja agar memahami dunia sang anak. Menurutnya, orang tua perlu mengetahui hal-hal yang sedang ramai di TikTok dan media sosial lainnya.

“Nah, kitanya jadi orang tua juga jangan sampai enggak update nih apa sih yang lagi viral, apa sih yang lagi ramai di TikTok atau di media sosial gitu,” paparnya.

Raya menekankan pengawasan harus dibarengi dengan rasa aman agar anak dapat terbuka untuk bercerita dan berdiskusi saat ragu terhadap hal yang ditemuinya di internet ataupun dalam kehidupan sehari-hari.

“Jadi dia kadang ngebahas itu sama kita. Ada ruang aman buat bercerita. Kadang-kadang dia bahkan nanya, ‘Mah, menurut Mama ini beneran enggak sih?’ gitu,” ungkapnya.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Tua. Ia dan istri membangun ruang aman dengan membiasakan anak bercerita soal kesehariannya agar mereka dapat memantau perkembangan sang anak.

“Jadi ketika dia pulang sekolah biasanya kita tanyakan hari ini bermain dengan siapa, bermain apa, dan lain-lain sebagainya,” kata Tua.

Kendati demikian, Raya menuturkan hal terpenting dalam mendidik anak adalah kemauan orang tua untuk terus belajar. Sebab, tidak ada kata sempurna dalam mendidik anak.

“Karena pasti kita jadi orang tua itu kan perjalanan belajar seumur hidup. Bahkan di setiap fase umur kita harus belajar lagi. … Setidaknya saya berusaha cari tahu, mengedukasi diri saya sendiri, melihat konten-konten edukasi tentang bagaimana parenting untuk usia remaja, kayak gitu,” pungkasnya.

About Author

Muhammad Rifaldy Zelan

Muhammad Rifaldy Zelan adalah penyuka makanan pedas tapi gak suka berkeringat. Ia juga suka duduk-duduk di taman dengan pikiran kosong.