Data Center dan Dampaknya terhadap Permukiman: Apa yang Perlu Diwaspadai?
Kebutuhan terhadap kecerdasan buatan (AI), layanan cloud, dan berbagai platform digital ikut mendorong pembangunan data center di berbagai negara. Fasilitas ini menjadi infrastruktur penting untuk menyimpan, memproses, dan mengirimkan data. Namun, pembangunannya juga memunculkan pertanyaan tentang dampak lingkungan dan kualitas hidup warga yang tinggal di sekitarnya.
Pada akhir September 2026, sebuah proyek data center senilai sekitar A$1,2 miliar atau Rp15 triliun di Sydney, Australia, dilaporkan dibatalkan setelah mendapat penolakan warga. CNBC Indonesia mengangkat kasus tersebut dalam artikel Demo Besar-Besaran Tolak Data Center, Proyek Rp 15 Triliun Gagal Total. Meski demikian, pembatalan proyek tidak bisa otomatis dianggap semata-mata akibat demonstrasi tanpa memeriksa faktor lain yang turut memengaruhi keputusan tersebut.
Kasus ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur digital juga berkaitan dengan kepentingan masyarakat di sekitar lokasi proyek. Kebutuhan teknologi memang meningkat, tetapi penggunaan air dan listrik, kebisingan, emisi, hingga perubahan tata ruang tetap perlu diperhitungkan.
Baca Juga: Grok, AI yang Tidak Netral, dan Budaya Pemerkosaan di Ruang Digital
Apa Itu Data Center dan Mengapa Kebutuhannya Meningkat?
Data center atau pusat data adalah fasilitas yang menampung server, sistem penyimpanan, jaringan, serta perangkat pendukung untuk memproses dan mengelola informasi digital. Layanan perbankan, aplikasi sehari-hari, platform streaming, penyimpanan cloud, hingga sistem AI bergantung pada infrastruktur semacam ini.
Meningkatnya penggunaan layanan digital ikut memperbesar kebutuhan kapasitas komputasi. Sistem AI, misalnya, membutuhkan sumber daya komputasi untuk melatih model dan menjalankan permintaan pengguna. Data center juga memerlukan pasokan listrik yang stabil serta sistem pendingin untuk menjaga perangkat tetap beroperasi pada suhu yang sesuai.
CBS News, Data centers are changing America’s landscape, report says, membahas perubahan lanskap di Amerika Serikat seiring perkembangan fasilitas data center. Sementara itu, World Resources Institute (WRI), melalui laporan From Energy Use to Air Quality, the Many Ways Data Centers Affect US Communities, menguraikan berbagai dampak yang perlu diperhatikan masyarakat, mulai dari kebutuhan energi hingga kualitas udara.
Temuan dari Amerika Serikat dapat menjadi bahan pembelajaran, tetapi tidak otomatis menggambarkan kondisi setiap negara. Dampak data center bergantung pada skala fasilitas, teknologi yang digunakan, sumber energi dan air, lokasi pembangunan, serta pengelolaan operasionalnya.
Bagaimana Data Center Bisa Memengaruhi Permukiman?
1. Kebutuhan Air dan Listrik
Server menghasilkan panas selama beroperasi sehingga data center membutuhkan sistem pendingin. Pada fasilitas yang menggunakan pendinginan berbasis air, kebutuhan air dapat menjadi perhatian, terutama jika lokasi proyek berada di wilayah yang pasokan airnya terbatas.
Besarnya kebutuhan tersebut tidak sama di setiap fasilitas. Teknologi pendingin, kondisi iklim, desain bangunan, dan pola operasional turut menentukan konsumsi air. Karena itu, dampak terhadap pasokan air warga perlu dinilai berdasarkan data proyek dan kondisi sumber air setempat, bukan diasumsikan terjadi pada semua data center.
Konsumsi listrik juga menjadi persoalan penting. Pasokan energi yang dibutuhkan fasilitas dapat menambah tekanan terhadap sistem kelistrikan, bergantung pada kapasitas dan kondisi jaringan di wilayah tersebut. Jika listrik berasal dari pembangkit berbahan bakar fosil, kebutuhan energi tambahan juga dapat berkaitan dengan emisi.
Transparansi mengenai proyeksi konsumsi air dan listrik penting agar masyarakat dapat menilai apakah pembangunan berpotensi bersaing dengan kebutuhan permukiman dan aktivitas ekonomi lain.
2. Kebisingan dan Emisi
Sistem pendingin, kipas, pompa, dan generator cadangan dapat menghasilkan suara selama operasional data center. Jika kebisingan berlangsung terus-menerus dan menjangkau rumah warga, kenyamanan sehari-hari dapat terganggu. Dampaknya bergantung pada intensitas suara, jarak dari permukiman, desain fasilitas, serta efektivitas peredam kebisingan.
Generator cadangan berbahan bakar diesel juga dapat menghasilkan emisi ketika digunakan. Selain itu, kendaraan berat dan aktivitas konstruksi berpotensi menimbulkan debu serta polusi udara selama pembangunan.
Namun, potensi gangguan tidak sama dengan bukti bahwa setiap fasilitas telah menyebabkan pencemaran atau masalah kesehatan. Penilaian perlu didasarkan pada pengukuran kebisingan, kualitas udara, frekuensi penggunaan generator, dan kondisi lingkungan sekitar.
3. Perubahan Tata Ruang dan Lalu Lintas
Pembangunan data center membutuhkan lahan untuk gedung, perangkat pendukung, sistem pendingin, dan infrastruktur kelistrikan. Jika lokasinya berada di dekat permukiman, pembangunan dapat mengubah karakter kawasan, termasuk penggunaan lahan dan ruang terbuka.
Aktivitas konstruksi juga bisa meningkatkan lalu lintas kendaraan berat, debu, dan gangguan akses jalan. Seberapa besar dampaknya bergantung pada skala proyek, durasi pembangunan, serta pengaturan jalur kendaraan.
Perencanaan lokasi perlu mempertimbangkan jarak dari rumah, sekolah, fasilitas kesehatan, sumber air, dan ruang terbuka. Pengaturan lalu lintas serta langkah pengendalian dampak lingkungan perlu disiapkan sesuai kondisi setempat.
Baca Juga: #VampirData: Mengapa Banyak Negara Tolak Infrastruktur AI?
Siapa yang Mendapat Manfaat Ekonominya?
Kehadiran data center dapat membawa investasi dan membuka pekerjaan selama konstruksi maupun operasional. Namun, manfaat tersebut tidak otomatis dirasakan secara merata oleh warga sekitar.
Sebagian pekerjaan membutuhkan keterampilan khusus, sementara kebutuhan tenaga kerja setelah fasilitas beroperasi bisa lebih kecil dibandingkan masa pembangunan. Karena itu, nilai investasi yang besar belum tentu berarti banyak pekerjaan jangka panjang tersedia bagi masyarakat setempat.
Di sisi lain, warga yang tinggal paling dekat dengan fasilitas mungkin menghadapi kebisingan, perubahan lingkungan, atau lalu lintas proyek. Jika gangguan tersebut tidak ditangani, masyarakat berisiko menanggung beban yang tidak sebanding dengan manfaat ekonomi yang mereka terima.
Dampak terhadap harga properti pun tidak bisa digeneralisasi. Investasi dan infrastruktur baru mungkin meningkatkan daya tarik ekonomi suatu kawasan, tetapi gangguan lingkungan juga dapat memengaruhi persepsi calon pembeli atau penyewa. Perubahan harga bergantung pada kondisi pasar, lokasi, dan karakteristik proyek. Tanpa data lokal, tidak tepat menyatakan bahwa data center pasti menaikkan atau menurunkan harga rumah.
Karena itu, evaluasi proyek perlu mencakup distribusi manfaat ekonomi, kebutuhan tenaga kerja lokal, keterbukaan informasi, serta mekanisme pengaduan warga. Program tanggung jawab sosial perusahaan juga tidak boleh menggantikan kewajiban pengelola untuk mematuhi aturan dan menangani dampak lingkungan.
Apakah Data Center Bisa Mengganggu Kesehatan?
Kebisingan yang berlangsung terus-menerus berpotensi mengganggu tidur dan kenyamanan, sementara emisi serta debu dapat memengaruhi kualitas udara. Namun, dampak kesehatan spesifik tidak boleh disimpulkan hanya dari keberadaan data center.
Laporan WRI, From Energy Use to Air Quality, the Many Ways Data Centers Affect US Communities, membahas jalur dampak lingkungan yang berkaitan dengan fasilitas tersebut di Amerika Serikat. Laporan itu dapat membantu mengidentifikasi aspek yang perlu dipantau, tetapi tidak membuktikan bahwa semua data center menimbulkan dampak kesehatan yang sama.
Penilaian terhadap suatu lokasi membutuhkan data yang sesuai, seperti hasil pengukuran kebisingan dan kualitas udara, informasi operasional generator, serta penelitian yang mempertimbangkan faktor lain. Pemantauan berkala dan mekanisme pengaduan yang responsif tetap diperlukan agar gangguan dapat diketahui dan ditangani sejak awal.
Pelajaran dari Penolakan Warga di Negara Lain
Kasus Sydney memperlihatkan bahwa penerimaan masyarakat dapat menjadi salah satu persoalan dalam pembangunan data center. Dalam artikel Demo Besar-Besaran Tolak Data Center, Proyek Rp 15 Triliun Gagal Total, CNBC Indonesia melaporkan pembatalan proyek senilai sekitar Rp15 triliun setelah muncul penolakan warga. Untuk memahami penyebab pembatalan secara utuh, faktor kebijakan, perizinan, dan keputusan pengembang juga perlu diperiksa jika tersedia dalam laporan yang relevan.
Di Amerika Serikat, CBS News lewat artikel Data centers are changing America’s landscape, report says dan WRI, From Energy Use to Air Quality, the Many Ways Data Centers Affect US Communities menunjukkan bahwa perkembangan pusat data memunculkan perdebatan tentang perubahan lanskap dan dampak lingkungan.
Pengalaman tersebut bukan berarti setiap proyek pasti merugikan masyarakat. Namun, kasus-kasus itu menegaskan pentingnya keterbukaan sejak tahap perencanaan. Warga perlu memperoleh informasi yang cukup mengenai kebutuhan air dan listrik, potensi kebisingan, emisi, serta perubahan tata ruang sebelum pembangunan berjalan terlalu jauh.
Baca Juga: #VampirData: AI Perburuk Krisis Iklim, Berdampak Politis
Apa yang Perlu Disiapkan Indonesia?
Indonesia perlu memastikan bahwa ekspansi infrastruktur digital berjalan dengan memperhatikan daya dukung lingkungan dan kepentingan masyarakat sekitar.
Pertama, informasi tentang kebutuhan air dan listrik, emisi, kebisingan, drainase, serta perubahan penggunaan lahan perlu tersedia bagi publik. Persyaratan dokumen dan proses lingkungan harus mengikuti ketentuan yang berlaku serta disesuaikan dengan karakteristik proyek.
Kedua, pemilihan lokasi tidak cukup didasarkan pada ketersediaan lahan dan akses listrik. Jarak dari permukiman, sekolah, fasilitas kesehatan, sumber air, dan ruang terbuka juga perlu diperhitungkan. Langkah pengendalian kebisingan, pengelolaan air, dan pengaturan lalu lintas harus disesuaikan dengan risiko yang teridentifikasi.
Ketiga, pemantauan harus berlanjut selama operasional. Pengelola perlu memiliki prosedur untuk mengukur dampak lingkungan dan menindaklanjuti keluhan masyarakat. Hasil pemantauan sebaiknya disampaikan secara transparan agar warga dapat mengetahui apakah persoalan yang mereka laporkan ditangani.
Keempat, masyarakat perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan, dengan akses terhadap informasi dan kesempatan menyampaikan keberatan sebelum keputusan penting dibuat.
Pembangunan data center tidak harus dipertentangkan dengan kepentingan warga. Infrastruktur digital memang menopang banyak layanan yang digunakan sehari-hari, tetapi manfaatnya perlu berjalan bersama pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab.
Kebutuhan komputasi mungkin terus meningkat. Yang perlu dipastikan adalah bahwa warga di sekitar fasilitas tidak kehilangan hak untuk mengetahui risiko, menyampaikan keluhan, dan meminta pertanggungjawaban atas dampak yang mereka alami.
Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi





















