February 24, 2024
Gender & Sexuality

Dicari: Edukasi Seksual Komprehensif untuk Orang Muda ‘Queer’

Walaupun orang muda menilai pendidikan seksual komprehensif penting, topik ragam identitas gender dan seksualitas dianggap tidak perlu diajarkan.

Avatar
  • December 22, 2021
  • 7 min read
  • 563 Views
Dicari: Edukasi Seksual Komprehensif untuk Orang Muda ‘Queer’

Sejak menduduki bangku SD, “Kinan” tahu dirinya menyukai sesama perempuan. Cinta monyet itu dimulai dengan perasaan senang ketika melihat teman yang disukainya lalu berharap bisa sekelas dengan orang tersebut setiap semester baru. Namun, karena berada di lingkup keluarga konservatif dan mengenyam pendidikan di pesantren yang tidak kalah ketatnya di Bogor, Kinan menolak mengakui sebagai lesbian

“Nah, namanya juga pesantren, jadi sering diomongin berbahaya (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) yang kemudian menyuburkan internalisasi homofobia saya,” ujar Kinan yang sekarang berusia 22 tahun kepada Magdalene, (20/12).  

 

 

Melihat kembali masa itu, kata Kinan, ada semacam situasi yang komikal: Seorang lesbian dalam masa denial yang 24/7 dikelilingi oleh perempuan. Kinan tetap butuh waktu cukup lama melunturkan internalisasi homofobianya dan anggapan ‘bisa sembuh’. Sampai akhirnya di tahun terakhir SMA dan merantau untuk kuliah, ia mulai merasa nyaman dengan dirinya dan bisa coming in. Prosesnya juga meliputi banyak membaca, menonton film, dan berdiskusi dengan orang sekitarnya. 

Namun, ia mengatakan, melunturkan homofobia itu bisa cepat diatasi jika keragaman identitas gender dan orientasi seksual dibahas dalam pendidikan Hak Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas Remaja (HKSR) di sekolah. Sayangnya, pendidikan formal belum mampu memberikan pengetahuan tersebut, kata Kinan. Pengetahuan yang ia terima saat sekolah terbatas seputar pubertas dan organ reproduksi di mata pelajaran biologi yang juga ditabukan oleh pengajar. 

“Sejak kecil kita diajarkan untuk menjadi queerphobic seolah-olah itu adalah default. Kalau sexual orientation gender identity and expression, and sex characteristic (SOGIESC) bisa diterapkan dari SD kita tidak akan ternodai (homofobia),” tandasnya. 

Baca juga: Seks Aman Remaha: Minim Edukasi, Terganjal Stigma

Ajak Orang Muda Mengenal Dirinya

Senada dengan Kinan, Sekretaris Nasional Youth Interfaith Forum on Sexuality Indonesia (YIFoS), Ael Napitupulu mengatakan, ketika menyorot topik edukasi seksual komprehensif harus membahas tentang sexual orientation, gender identity, gender expression and sex characteristics (SOGIESC). Pasalnya, topik tersebut mengajarkan orang muda untuk mengenal diri sendiri, tidak membenci dirinya akibat internalisasi homofobia, transfobia, dan bifobia, serta tidak ada yang salah dengan identitas gender serta seksualitas yang beragam. Selain itu, mengetahui ekspresi gender tidak selalu berkaitan dengan identitas gender maupun orientasi seksual seseorang. 

“Jadi, ada orang yang mengatakan SOGIESC itu super sensitif soal komunitas LGBT, padahal semua orang, terlepas dari orientasi seksual dan identitas gendernya, harus belajar tentang itu,” kata Ael kepada Magdalene, (21/12). 

Jika merujuk pada laporan International Technical Guidance on Sexuality Education oleh UNAIDS, UNFPA, Unicef, UN Women, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga ada delapan topik kunci untuk edukasi HKSR komprehensif. Tidak hanya isu pubertas, kesehatan reproduksi, dan relasi antara orang muda dan sekitarnya, tetapi juga hak, gender, budaya, dan seksualitas. Dalam laporan tersebut juga dituliskan topik dibahas secara bertahap sesuai usia 5 sampai di atas 18 tahun dengan kompleksitas yang semakin meningkat. 

“Laras”, remaja di Cimahi juga setuju dengan hal itu karena informasi keragaman gender dan seksualitas harus sepaket dengan edukasi seksual yang tidak fokus pada aspek biologis semata, tapi juga sosial. Namun, berada di lingkungan yang konservatif, pendidikan seksual diberikan berdasarkan jenis kelamin, perempuan hanya belajar tentang organ reproduksinya dan begitu pula dengan laki-laki. Orientasi seksual selain heteroseksual juga dinilai menyimpang. 

Minimnya informasi pendidikan formal membuat Laras beralih ke sumber lain, seperti artikel maupun jurnal yang dibarengi pendapat ahli, seperti psikolog untuk mengetahui tentang SOGIESC. Terlebih lagi, Laras sedang questioning atau mempertanyakan orientasi seksualnya. Saat SD, dia sempat tertarik secara romantis kepada seorang guru perempuan dan teman laki-lakinya. Namun, saat pubertas ia mulai merasakan ketertarikan seksual kepada laki-laki dan perempuan di sekitarnya. 

“Saya menyadari kalau saya tidak melihat gender atau orientasi seksual (seseorang) yang membuat saya tertarik. Saya juga berencana menikah dengan laki-laki. Hal itu yang membuat saya mempertanyakan terkait ketertarikan seksual saya,” ujar perempuan 18 tahun itu pada Magdalene, (21/12).

Tanpa pendidikan keragaman gender dan seksualitas itu, Laras berujar, sekolah menciptakan ruang yang tidak aman bagi orang yang dianggap ‘menyimpang’ oleh guru dan teman sebaya. Laras yang ekspresi gendernya maskulin dan cenderung bergaul dengan laki-laki sering dihukum sejak SD karena dianggap tidak berperilaku yang ‘sepantasnya’.

Senada dengan itu, Ael mengatakan: “(Tanpa pemahaman SOGIESC) orang-orang dengan orientasi seksual normatif, heteroseksual, yang tidak memahami tentang hal tersebut akan menyalahkan sampai merundung orang yang memiliki identitas gender dan orientasi seksual yang berbeda,”

Baca juga: Yang Ideal dari Pendidikan Seks Komprehensif Remaja

Tabu Bahas Ragam Gender dan Orientasi Seksual

Dewasa ini, orang muda juga menyambut dan menginginkan diajarkannya pendidikan HKSR yang komprehensif. Studi Penilaian Dasar Right Here, Right Now 2 yang dilakukan Unit Kajian Gender dan Seksualitas Universitas Indonesia menunjukkan 97,66 persen orang muda menganggap pengetahuan terkait HKSR sangat diperlukan. Survei tersebut melibatkan 300 responden dari Indramayu, Jombang, dan Langkat berusia 18 sampai 25 tahun. 

Meski demikian, orang muda memberikan syarat topik HKSR yang diajarkan tidak boleh mencakup tentang keragaman seksual sebanyak 71 persen dan kebebasan berekspresi gender dengan 76,33 persen. 

Peneliti dari Unit Kajian Gender dan Seksualitas UI, Sari Damar Ratri berujar, situasi itu adalah sebuah kontradiksi ketika menilai pentingnya edukasi seksual, tetapi menyaratkan apa saja yang bisa dibahas. Ia berujar, salah satu hal yang menyebabkan orang muda memandang tabu keragaman seksualitas dan kebebasan ekspresi gender karena tumbuh di lingkungan yang melihatnya sebagai sesuatu yang dilarang. 

Selain itu, tambah Sari, ada juga pengaruh dari orang tua sebagai sumber informasi pertama saat anak-anak. Namun, relasi orang muda dan orang dewasa tidak selalu linear dan orang muda bisa saja membuat pilihan untuk memandang hal itu tabu atau tidak di luar pengaruh orang tua.

“Ada juga pengaruh nilai dan norma patriarki struktural yang mewajarkan memandang perempuan sebagai objek seksual semata. Itu sudah mengakar dan bukan lagi bicara tentang relasi orang tua dan anak, tetapi bagaimana patriarki itu melanggengkan rape culture, juga nilai serta norma gender tradisional,” jelasnya kepada Magdalene, (20/12). 

Sari mengatakan, jika melihat isu pendidikan seksual ada narasi topik kesehatan organ reproduksi dipandang lebih dominan, sehingga memecah pembahasan tentang edukasi tersebut. Akibatnya ada aspek dalam pendidikan seksual yang belum bisa dikembangkan, dipikirkan, kemudian kritisi sebagai riset dan panduan pendidikan yang komprehensif. 

“Kalau kita bicara yang komprehensif (HKSR) tidak tentang perempuan dan laki-laki yang dilihat sebagai objek reproduksi semata, tapi, rezim (isu) reproduksi ini yang implikasinya dominan dan heteroseksual. Seksualitas dipandang dalam kacamata sempit, reproduksi saja,” kata Sari. 

Baca juga: Tiada Rotan akar pun Jadi, Dilema Remaja Belajar Seks Lewat Pornografi

Sumber Alternatif untuk Ragam Gender dan Seksualitas

Ael mengatakan, tabu di sekitar ragam identitas gender dan seksualitas yang bersifat sistemik tidak serta merta bisa runtuh, tetapi bisa dibongkar jika masyarakat membahasnya secara terbuka dan menjadikannya topik perbincangan sehari-hari.

“(Ini) juga bukan hal yang mudah karena mendorong sebuah perubahan kalau seksualitas tidak biner dan hitam atau putih, ada merah, biru, hijau, dan (warna) lainnya,” ujarnya. 

Selain itu, dia melanjutkan, jika pemerintah belum bisa mempertimbangkan pengetahuan SOGIESC dalam pembelajaran di dalam sekolah, maka bisa membuat program di luar sekolah dengan kurikulum terstruktur. Dalam menjalankannya pemerintah pun bisa berkaca pada organisasi yang bergerak di bidang edukasi seksual, seperti Aliansi Satu Visi dan program Semangat Masa Remaja (Setara) oleh Rutgers WPF Indonesia. 

Sementara Sari mengatakan, banyak sumber alternatif untuk edukasi seksual yang komprehensif dapat diakses melalui platform digital, seperti konten media sosial hingga artikel oleh media alternatif atau organisasi yang bergerak di isu hak asasi dan keragaman, misalnya Jakarta Feminis. 

“Sosial media memiliki potensi yang luar biasa karena menjadi ruang bebas bicara. Tapi ini kembali menekankan ada isu lain bahwa informasi tentang HKSR masih timpang (akses internet dan informasi) antara Jakarta dan wilayah kabupaten lainnya yang belum tersedia,” kata Sari. 

Terlepas dari itu, ia juga menekankan pendidikan HKSR tanpa bias dan stigma terhadap komunitas minoritas gender dan seksualitas juga diberikan kepada pengajar agar tidak bersikap homofobik terhadap pelajar. 

“Jadi dengan training yang sama antara orang muda dan orang dewasa, orang muda bisa menuntut akuntabilitas (lewat sebuah platform untuk melaporkan) orang dewasa ke institusi jika tidak sesuai dengan training,” tandasnya.


Avatar
About Author

Tabayyun Pasinringi

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *