Foto: Juliana Tan/A Kind of Magic
Juliana Tan masih berusia 9 tahun sebelum dunianya berubah sepenuhnya, karena kerusuhan 1998. Saat itu, ia masih tinggal di Bandung, kota yang dikenangnya sebagai rumah penuh rasa bahagia.
Suatu hari, sepulang sekolah, Juliana melihat ibunya tergesa-gesa berkemas seadanya sebelum mereka bergegas menuju bandara.
Hari itu juga, mereka harus berangkat ke Singapura. Juliana menyaksikan bandara yang penuh dan sesak. Ia tidak paham mengapa begitu banyak orang ingin meninggalkan Bandung pada hari yang sama. Termasuk keluarganya.
Di tengah kesulitan itu, ayah Juliana hanya berhasil mendapatkan tiga tiket: untuk Juliana, istrinya, dan saudara laki-laki Juliana. Sang ayah terpaksa menetap di Bandung.
Juliana meninggalkan Bandung tanpa benar-benar memahami bahwa kepergian itu akan mengubah hidupnya. Ia mengira hanya akan pergi untuk sementara, sebelum akhirnya Singapura menjadi rumah baru tempat dia menjalani sebagian besar hidupnya.
“Aku tidak tahu apakah aku akan tinggal di sana selama sekitar dua minggu atau dua bulan, tetapi ternyata menjadi dua puluh tahun dalam hidupku,” kata Juliana kepada Magdalene.
Di Singapura, Juliana berkenalan dengan fotografi. Saat mulai bersekolah, ayahnya mengirimkan hadiah sebuah kamera. Sejak saat itu, Juliana merekam dan memfoto semua hal di sekelilingnya.
Kehilangan semua kontak temannya di Bandung, termasuk foto mereka, bikin Juliana tak mau mengulang kesalahan yang sama. Semua teman baru jadi mangsa mata kameranya.
Seiring bertambah usia, ketertarikan pada fotografi tumbuh jadi sesuatu yang lebih serius. Juliana mulai belajar, bereksperimen, dan perlahan menemukan caranya sendiri dalam bercerita. Setelah menempuh pendidikan di Nanyang Technological University, Juliana kemudian membangun karier sebagai fotografer editorial dan komersial yang karyanya sudah dipublikasi di berbagai media internasional.
Namun, sejauh apa pun perjalanan dan hidup membawanya pergi, ada satu kenangan yang tak kunjung hilang dalam benak Juliana: Bandung.
“Saya punya kenangan yang sangat romantis tentang Bandung. Masa kecil yang bagi saya sangat ideal. Namun, saya tahu, kota itu sudah tidak sama lagi,” kata Juliana.
Baca juga: Dari Rosa ke Ling Ling: Ingatan Seorang Anak di Era Soeharto
Kerusuhan 1998
Kepergian Juliana dari Bandung terjadi di tengah salah satu periode paling genting dalam sejarah Indonesia. Krisis finansial Asia yang mulai menghantam Indonesia pada 1997 perlahan menjelma jadi krisis ekonomi dan politik. Harga-harga melonjak, nilai rupiah merosot, sementara ketidakpuasan terhadap kesemena-menaan rezim Orde Baru Soeharto, yang telah berkuasa selama lebih dari tiga dekade, semakin tak terbendung.
Pada Mei 1998, gelombang demonstrasi mahasiswa meluas. Penembakan empat mahasiswa Universitas Trisakti pada 12 Mei menjadi salah satu titik balik. Sehari setelahnya, Jakarta terbakar oleh kerusuhan yang kemudian merambat ke sejumlah kota lain.
Di tengah kekacauan itu, warga keturunan Tionghoa menjadi salah satu kelompok yang disasar. Toko dan rumah mereka dirusak, dijarah, dan dibakar. Kekerasan seksual terhadap perempuan juga terjadi, sebagian besar menimpa perempuan dari komunitas Tionghoa.
Dalam laporan Tim Relawan Untuk Kemanusiaan Komnas Perempuan, disebut bahwa Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) mencatat lebih dari seribu orang meninggal dalam rangkaian kerusuhan tersebut, banyak di antaranya tewas setelah terjebak di dalam bangunan yang terbakar.

Namun, kekerasan terhadap warga keturunan Tionghoa bukanlah sesuatu yang tiba-tiba lahir pada Mei 1998. Ia tumbuh dari sejarah panjang politik, ekonomi, dan diskriminasi yang telah membentuk hubungan antara negara dan komunitas Tionghoa di Indonesia. Bandung pun tidak luput.
Human Rights Watch mencatat, sebelum kerusuhan Mei, pada Januari dan Februari 1998, kerusuhan telah terjadi di sejumlah wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung, dengan toko-toko milik warga keturunan Tionghoa menjadi sasaran.
Bagi keluarga Juliana, dan banyak keluarga lainnya, pindah dari Bandung setelah pecahnya kerusuhan pada Mei 1998 adalah soal pilihan hidup dan mati. Saat pergi, Juliana belum sepenuhnya memahami situasi itu. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres, tahu bahwa keluarganya harus pergi, tetapi belum mengerti mengapa rumah yang selama ini ia kenal harus ditinggalkan begitu saja.
“Pada usia sembilan tahun, kamu sebenarnya tahu (situasi genting), tapi kamu juga takut. Rasanya seperti kamu tidak punya kuasa, tapi kamu punya pengetahuan,” ujarnya.
Baca juga: Anak Muda Melawan Lupa: Gelar Pahlawan Soeharto adalah Penghinaan pada Korban
Menuju Pulih
Bertahun-tahun kemudian, rasa kehilangan mulai mendekati Juliana. Seiring usianya bertambah, ia kembali memikirkan sembilan tahun pertama hidupnya di Bandung.
Dia ingin menjawab pertanyaan yang terngiang-ngian dibenaknya selama ini, yakni apakah keberadaan kota yang penuh bahagia itu masih ada? Ataukah tertelan zaman dan kini menjadi kenangan?
Juliana memutuskan kembali ke Bandung. Mulai dari mengunjungi Jalan Pasteur, tempat kediamannya dulu berada, mengunjungi kantor ayahnya, salon langganan ibunya, hingga sekolah lamanya. Dia pun mulai memotret setiap sudut. Proses itu ia lakukan dalam kunjungan berulang selama lebih dari satu dekade
“Sebagai anak kecil di kota Bandung yang besar, aku tidak ingat banyak, yang aku ingat adalah semua tempat yang kontekstual. Semua ada hubungannya dengan keluargaku,” kata Juliana.
Dalam suatu imaji, Juliana menangkap foto sebuah ruang keluarga di rumahnya. Sebuah televisi terletak di atas kursi berlapis coklat yang sudah kusam dengan rangka besi krom. Televisi itu menyala dan menampilkan gambar yang buram.
Di belakang kursi dan televisi itu ada lemari berisikan trofi-trofi, di sebelahnya ada sofa kulit coklat terang. Tidak ada orang di sana, hanya benda-benda yang seperti membeku dalam waktu era 90-an.

Semua imaji yang dia tangkap di Bandung memiliki nuansa yang serupa. Sekilas, tanpa konteks, foto-foto itu tampak hanya seperti potongan kehidupan sehari-hari.
Misalnya, sebuah televisi lama, jendela kamar mandi bernoda, dan layangan yang nyangkut di pohon yang menjulang tinggi. Namun, dari ketiadaan manusia, ruang yang kosong, dan fokus pada beberapa benda dan sudut spesifik memunculkan perasaan tentang pencarian ingatan yang bisa kembali hadir dari cuplikan gambar.
Karena itu, foto-foto Juliana tidak terasa seperti upaya untuk menjelaskan masa lalu secara langsung. Ia lebih banyak membiarkan ruang dan benda yang berbicara. Penggunaan medium-format film turut memberi proyek ini karakter yang tenang dan intim. Cahaya, warna, waktu, dan detail menjadi bagian penting dari cara Juliana menyusun gambar.
Melalui imaji-imaji itu, Juliana berusaha menangkap apa yang dia sebut sebagai sebuah magis. Magis itu diartikan sebagai sebuah kenangan yang kembali hidup melalui foto-foto tersebut.
“Foto-foto itu terasa begitu hening. Ada rasa kehilangan, rasa rindu, dan nuansa nostalgia. (Dengan foto-foto itu) saya menceritakan kisah saya, yang sifatnya sangat personal dan sangat batiniah” jelas Juliana.
Juliana memahami, kisahnya ini berhubungan dengan sejarah gelap Indonesia di 1998. Kelamnya bab itu juga dirasakan banyak orang Indonesia, terutama berketurunan Tionghoa seperti dirinya. Maka dari itu, dia berharap ceritanya tidak hanya memberi cuplikan gambaran dari dampak 1998, namun juga medium para penyintas untuk berbagi dan bercerita, atau setidaknya sekadar merasa tidak sendiri.
“Berbicara soal itu sangat membantu saya untuk pulih. Saya bertemu dengan beberapa korban di kerusuhan 1998, mereka berkata pada saya bahwa apa yang saya alami penting untuk diceritakan. Memahami kenangan kelam, bisa jadi awal untuk memulihkan diri,” sebut Juliana.

Baca juga: Mengangkat yang Terkubur: Upaya Perempuan Tionghoa Angelina Enny Gali Akar Diskriminasi Rasial
Pada 2025, sekumpulan imaji Juliana soal kenangan Bandung-nya dijadikan buku foto berjudul A Kind of Magic. Dia sudah memamerkan cerita rindunya itu ke beberapa pameran di dunia.
Pada 2026 ini, A Kind of Magic hadir dalam pameran foto Jakarta International Photo Festival 2026 (JIPFest 2026) yang diadakan di Gedung Trisno Soemardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Indonesia pada 11-20 September.
A Kind of Magic jadi salah satu dari 22 proyek fotografi dan multimedia yang dipilih dari 408 karya yang masuk dari 58 negara. Tahun ini, JIPFest mengangkat tema Resilience, dengan Chelsea Chua dan Yoppy Pieter sebagai kurator.
Yoppy Pieter mengatakan tema Resilience dipilih mengingat situasi dunia yang semakin menekan berbagai komunitas-komunitas yang tersisihkan, dalam lini apa pun. Menurutnya, para fotografer yang dipilih berhasil menangkap ketangguhan para subjek yang difoto dalam bertahan menghadapi segala jenis tekanan. Chelsea Chua menambahkan, makna Resilience pun berbicara lebih jauh.
“Resilience bukan hanya soal bertahan hidup, namun juga soal bertumbuh,” jelasnya.
Karya Juliana hadir sebagai salah satu kumpulan foto yang berbicara soal Resilience yang juga berarti tumbuh. Dari foto-foto Juliana, upayanya untuk mengenang masa kecilnya yang tergores akibat kerusuhan 1998, kemudian mengantarnya menuju proses pulih. Namun, kata dia, itu bukan hanya satu-satunya tujuan dari proyek ini.
“Ini cara saya untuk mengklaim kembali narasi soal 1998 dari upaya penghapusan dan revisionis sejarah. Saya berharap ini juga dapat memberi pengakuan dan penghiburan bagi mereka yang melalui masa-masa sulit ini,” pungkas Juliana.





















