Women Lead
August 20, 2021

‘Moxie’ dan Andai Saya Berani Melawan Sejak Dulu

Film ‘Moxie’ membuat penulis merefleksikan pengalamannya jadi korban diskriminasi gender dan kekerasan seksual di sekolah.

by Selma Kirana Haryadi, Reporter
Culture
Moxie
Share:

Semakin dewasa, dan semakin banyak terpapar pengalaman, kisah, juga literatur feminisme, semakin sering pula saya merefleksikan cara saya merespons pelecehan seksual zaman remaja. Ada banyak sekali penyesalan yang saya rasakan karena tak punya pemahaman sebanyak sekarang, sehingga tak memberikan respons yang seharusnya untuk melawan para pelaku.

Saya juga miris dengan pola pikir saya dulu, bahwa apapun kasusnya, dan seberapa sering saya mengalaminya, kalau saya melaporkan teman-teman laki-laki yang melecehkan saya, pasti saya yang akan disalahkan oleh guru, dosen, dan orang-orang dewasa di sekitar saya. Jadi, daripada tahu-tahu kasus saya tersebar ke penjuru sekolah dan kampus, dan saya dikenal jadi si korban pelecehan seksual yang tukang mengadu, saya lebih memilih diam dan menelan semua sendirian. 

Menonton film Moxie (2021), diangkat dari novel berjudul serupa karya  Jennifer Mathieu, membuat perjalanan refleksi saya semakin berwarna. Film itu membawa semangat yang reflektif dengan narasi dan penokohan yang berdaya dari keberanian para perempuan muda di sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) di Amerika Serikat. 

Sekilas tentang Moxie, film ini menceritakan kisah Vivian (Hadley Robinson), siswa perempuan yang cerdas namun pendiam dan tak banyak dikenal. Jiwa pemberontak Vivian mulai terpantik tatkala ia menyaksikan seorang anak baru bernama Lucy (Alycia Pascual-Peña) dirundung sekaligus dilecehkan oleh Mitchell (Patrick Schwarzenegger), atlet sekaligus bintang di sekolahnya. 

Baca juga: ‘City of Joy’: Ubah Luka Korban Pemerkosaan Jadi Kekuatan

Kemarahan Vivian semakin memuncak ketika dia mulai teliti memperhatikan berbagai kebijakan di sekolah sekaligus perilaku kepala sekolahnya yang seksis dan kerap mendiskriminasi perempuan. Vivian kebetulan memiliki sosok ibu (Amy Poehler) yang selalu menjadi tempatnya bercerita, termasuk soal ekosistem di sekolahnya yang tak bersahabat. Dari situlah Vivian tahu, sewaktu sekolah dulu, ibunya aktif menyuarakan isu-isu feminisme guna menghapuskan patriarki dari sekolah dan lingkungan sekitarnya. 

Vivian pun terinspirasi dari aktivisme sang ibu, dan mulai membuat zine berisi perlawanan terhadap kekerasan seksual di sekolah secara diam-diam, lalu menyebarkannya ke penjuru sekolah. Zine itu dinamainya Moxie. 

Kehadiran Moxie ternyata memantik para siswa perempuan di SMA Vivian untuk membentuk solidaritas perempuan, bersama mendiskusikan dan melawan kekerasan seksual, seksisme, dan diskriminasi gender yang terjadi di lingkungan sekolah mereka. 

Yang paling saya apresiasi dari film Moxie adalah pemilihan isunya yang dekat karena ada di sekitar kita, bahkan tak sedikit yang pernah saya alami sendiri. Meski ada beberapa kritik yang menyebut kebanyakan isu dalam film ini terlalu “putih” alias hanya dialami oleh orang kulit putih di Amerika Serikat.

Semua bermuara pada hal yang sangat fundamental, yaitu kebijakan sekolah yang sangat normatif, dan itu terbukti melahirkan aturan diskriminatif dan meminggirkan para siswa perempuan. Masih lekat di ingatan kita bagaimana berbagai kampus di Indonesia terjebak dalam narasi ingin mempertahankan “nama baik” kampus hingga menutup-nutupi kasus kekerasan seksual yang terjadi di dalam kampus, termasuk melindungi identitas pelaku kekerasan seksual dan tak memberikannya sanksi setimpal.

Alhasil, korban mengalami tekanan luar biasa, bahkan depresi dan gangguan kecemasan, karena merasa tidak mendapatkan keadilan, sementara pelaku masih berkeliaran bebas di luar sana. Padahal, tak ada nama baik tanpa keadilan yang tegak berdiri. 

Moxie berhasil menyoroti itu dengan isu-isu yang mudah ditemukan di keseharian. Misalnya, guru dan kepala di sekolah Vivian kerap menegur dan memulangkan siswa perempuan yang memakai tank top. Uniknya, hal itu tak berlaku bagi semua perempuan, melainkan hanya siswa perempuan yang memiliki payudara besar

Sumber: Netflix

Bila ditanya, itu diskriminatif terhadap apa? Ada banyak jawaban yang bisa diberikan. Diskriminatif terhadap perempuan, misalnya, karena laki-laki yang memakai pakaian terbuka tak pernah ditegur untuk memakai pakaian yang tertutup atau bahkan dipulangkan. 

Itu juga diskriminatif terhadap ragam bentuk tubuh perempuan, karena perempuan yang memiliki payudara, bokong, atau pinggul besar sering dianggap “mengundang” secara seksual, sehingga harus memakai pakaian lebih tertutup. Apa yang lebih buruk dari fakta bahwa cara pikir seperti ini ada di instansi pendidikan?

Masih melekat betul di ingatan saya hari-hari ketika duduk di bangku SMA, rasanya satu sekolah melihat saya dari kacamata seks, seks, dan seks setiap hari. Nyaris semua siswa perempuan di sekolah saya memakai seragam yang ukurannya pas badan, tapi hanya saya yang berkali-kali ditegur, tak jarang disindir orang-orang, dari mulai guru, teman, sampai staf administrasi dan tata usaha, hanya gara-gara payudara saya besar.

Moxie memberikan ruang bagi isu ragam bentuk tubuh perempuan, dan bagaimana kacamata masyarakat yang normatif sering meminggirkan mereka yang dinilai berbeda. Solidaritas Moxie, berisi Vivian dan teman-temannya, kemudian melawan narasi tersebut dengan secara bersamaan memakai tank top keesokan harinya, dan itu berhasil membuat banyak guru tercengang, tapi juga tak bisa melakukan apa-apa. 

Juga ketika semakin banyak siswa perempuan yang mengaku pernah jadi korban kekerasan seksual dari Mitchell sang bintang sekolah, solidaritas Moxie turut melawan dan berdiri bersama korban.

Baca juga: 'Tocil', Pasar: Selalu Ada yang Salah dengan Bentuk Tubuh Perempuan

Kenyataan: Nihil Solidaritas Perempuan

Kembali ke perkara seragam dan payudara, di Indonesia, nilai yang normatif itu juga diperparah dengan bias agama dan religiusitas. Sekolah saya adalah sekolah negeri yang mayoritas siswa dan gurunya beragama Islam. Otomatis, semua sindiran dan peminggiran pada saya ujung-ujungnya bermuara pada ceramah soal keharusan perempuan menutup aurat. Saya dilimpahkan standar ganda sebagai perempuan dan sebagai orang yang lebih muda—sudah melawan agama, melawan guru pula. 

Semua nilai diri saya seolah jadi hilang di mata mereka karena identitas tersebut. Saya selalu mendapatkan rangking lima besar di kelas, juga sering memenangi berbagai lomba. Namun, tak sekalipun itu jadi pertimbangan sekolah dalam menilai saya, hanya karena tubuh dan penampilan saya tak serupa dengan siswa perempuan lainnya, dan saya menolak manut-manut saja ketika ditindas.

Sekelompok siswa laki-laki di sekolah yang selalu melecehkan saya sepanjang kami bersekolah pun tak pernah mendapat ganjaran apa-apa, sekalipun perilaku amoral itu mereka lakukan di hadapan para guru dan orang dewasa lainnya.

Kalau di film Moxie, ada solidaritas perempuan yang berupaya melawan ekosistem seksis sekolah, juga para pelaku pelecehan seksual yang bertebaran, dalam kasus saya, itu adalah hal yang tak pernah saya dapatkan. Hal inilah yang membuat ada rasa bahagia yang menyeruak dalam diri saya selama menonton Moxie. 

Baca juga: Bagaimana Ciptakan Kampus Aman dari Kekerasan Seksual

Saya berbahagia untuk semua korban kekerasan seksual dan diskriminasi dalam film itu karena mendapatkan support system juga pendampingan yang tak pernah menghakimi dalam perjalanan mereka sembuh dan bangkit dari peristiwa yang menimpa mereka.  

Moxie bahkan berhasil menguak peristiwa pemerkosaan yang dilakukan Mitchell. Tapi, kritik terbesar saya pada film ini juga berasal dari peristiwa ini. Tak ada scene yang secara eksplisit membahas sanksi apa yang diberikan sekolah pada lelaki itu.

Kendati buktinya sudah jelas, film Moxie berakhir pada adegan di mana sang kepala sekolah memanggil Mitchell yang sedang belajar di dalam kelas, lalu kamera menyoroti ekspresi wajahnya yang ketakutan. Padahal, menjelaskan apa sanksi yang Mitchell dapatkan bisa meyakinkan penonton bahwa film ini benar-benar berpihak pada korban dan tak menoleransi kelakuan si pelaku.

Ada penyesalan karena saya yang dulu tak se-“galak” sekarang dalam menindak laki-laki (dan perempuan) yang melecehkan saya, juga tak seberani sekarang untuk menanggung “malu” bila tahu-tahu nama saya dikenal sebagai korban pelecehan seksual, apalagi yang melaporkan kasusnya. Andai saya seberani Vivian, andai saya punya kontrol sosial sebesar Moxie, dan andai-andai lainnya memenuhi kepala saya sepanjang menonton film ini. 

Saya berharap, ada Moxie dan semangatnya di setiap sekolah dan kampus, agar korban tak merasa sendiri, dan mereka yang menindas sadar, perilaku mereka tak pernah memberi dampak signifikan apapun selain memberi makan ego dan kebodohan mereka sendiri. 

Selma adalah penyuka waktu sendiri yang masih berharap konsepsi tentang normalitas sebagai hasil kedangkalan pemikiran manusia akan hilang dari muka bumi.