25/09/2026
Community Update Culture

Sankai Juku Ajak Penonton Berefleksi Lewat ‘Kosa’ di Salihara

Siapa sangka bahasa tubuh yang bertutur dengan cara abstrak bisa mengajak penonton berefleksi tentang diri sendiri?

  • September 24, 2026
  • 4 min read
  • 164 Views
Sankai Juku Ajak Penonton Berefleksi Lewat ‘Kosa’ di Salihara

Foto: Komunitas Salihara

Laki-laki bertubuh putih akibat dilumuri tepung, berkepala botak plontos, dan pinggang ke bawah terikat kain, bergerak perlahan dengan sinkron di Black Box Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan (29/8). Musik lembut di udara bagaikan menyelimuti gerakan mereka yang mengikuti tempo dengan sangat halus. 

Tubuh para lelaki itu jadi media untuk menceritakan kisah abstrak melalui gerak. Seluruh bagian tubuh bermain. Tangan digerakkan mengikuti koreografi yang memanjakan mata, kaki dipakai berjalan atau sesekali memasang kuda-kuda, bahkan ekspresi wajah selalu diisi dengan air muka yang berbeda-beda. 

Musik pun ikut membangun suasana panggung yang berbeda-beda. Meski didominasi latar yang halus nan indah, musik menjadi tegang dan gelap dalam beberapa waktu. Pergantian nuansa ini berlangsung selama satu setengah jam, hanya gerak tanpa dialog. Bahasa tubuh jadi satu-satunya narasi yang dinikmati penonton dalam pertunjukkan ini. 

Penonton mungkin tak akan mengingat seluruh gerak tubuh dan adegan, tetapi kesan untuk kekuatan visual yang indah tergambar dalam riuhnya tepuk tangan dan sorak-sorai setelah pertunjukkan berakhir. Tujuh penari dari sanggar seni Jepang, Sankai Juku membungkuk di hadapan hadirin dengan senyum yang mirip mannequin. 

Pertunjukkan tari bertajuk KOSA: Between Two Mirrors jadi penutup festival seni dua tahunan yang diselenggarakan Salihara, Salihara International Performing Arts Festival (SIPFest) 2026. Menghadirkan seniman dari berbagai negara, tari butoh dari Jepang yang hening dan kontemplatif ini jadi puncak acara yang berhasil memanjakan visual para pengunjung. 

Baca juga: ‘NADIRAH’: Cinta di Persimpangan Iman dan Identitas Komunal

‘Intersectional’: Pertemuan antara yang Baru dan yang Lama

KOSA merupakan kolase penampilan Sankai Juku yang disusun ulang menjadi karya yang utuh dan dipentaskan pertama kali pada 2022. Karya ini berupaya menyoroti esensi artistik gerak dan ciri khas karya pendiri sekaligus direktur artistik Sankai Juku, Ushio Amagatsu. 

Gerakan tari butoh yang bertutur, lengkap dengan musik pengiring yang ikut membangun cerita, jadi karya kedua terakhir Amagatsu sebelum meninggal pada 2024. Diciptakan atas permintaan khusus sejumlah teater dan festival internasional di Amerika Latin, tema ini dibawakan pertama kali sebagai respon dunia pasca-pandemi.

“Saat pandemi, ada masa ketika orang-orang tidak bisa datang ke teater. Tapi pas pandemi berakhir, mulai banyak tawaran yang datang dari berbagai tempat untuk bikin karya baru. Saat itulah amagatsu bikin karya ini, Kosa,” kata Asisten Sutradara Sankai Juku Semimaru, Semimaru kepada penonton seusai pertunjukkan. 

Semimaru bilang, Amagatsu ingin menciptakan pertunjukkan yang mampu membuat penonton berefleksi. Penonton lama, jelasnya, bisa mengingat kembali serpihan gerakan yang pernah mereka lihat sebelumnya. Membandingkan pengalaman menonton Kosa dan rasa yang didapat saat menyaksikan pertunjukkan-pertunjukkan sebelumnya. 

“Kemudian untuk para penonton yang mungkin baru menonton, akan melihat diri yang baru ketika mereka menonton Kosa,” tuturnya. 

Selain itu dalam pertunjukan ini juga kita akan banyak bertemu dengan orang-orang baru, yang akan menimbulkan banyak interseksi ruang dan waktu di mana antara orang baru dengan orang baru, orang lama dengan orang lama, baik orang lama dengan orang baru. Itulah yang dimaksud kosa, bahasa Jepang yang artinya interseksi.

Pertemuan antara yang lama dan baru dalam satu ruang, menurutnya, diwakilkan sejak dalam judul. Dalam bahasa Jepang, Kosa berarti intersectional atau pertemuan antara keberagaman. Pemikiran dan kesan yang beragam tentang tarian ini menghasilkan interaksi.  

“Itulah yang akan menimbulkan banyak interseksi ruang dan waktu di mana antara orang baru dengan orang baru, orang lama dengan orang lama, orang lama dengan orang baru. Itulah yang disebut dengan Kosa,” ungkapnya. 

Baca juga: Menggemburkan Tanah, Menggemburkan Pembaca

Di Luar Jangkauan Manusia 

Cara bertutur tentang hal abstrak menggunakan bahasa tubuh jadi ciri khas Amagatsu dalam berkarya. Setelah belajar berbagai bentuk seni, dari ballet hingga akting, ia mendirikan Sankai Juku dan menetapkan butoh sebagai identitas sanggarnya, pada 1975. 

Pada awal berdiri, kesenian mereka juga terpengaruh oleh genre erotisme dan kekerasan yang sedang menjamur kala itu. Seiring berjalannya waktu, Amagatsu mencari tema yang fundamental. Ia tertarik pada topik-topik yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang dan tak masuk nalar manusia. 

“Misalnya kayak tentang kehidupan, tentang hidup dan mati, kemudian hubungan antara manusia dengan alam. Kebanyakan hal yang bersifat abstrak dan berada di luar manusia,” kata Semimaru. 

Tak hanya dalam substansi tarian, wujud para penampil yang menyerupai mannequin pun masih menjadi misteri. Semimaru bilang sejak awal bergabung, kepala botak plontos dan tubuh yang dilumuri tepung sudah menjadi template. Amagatsu tidak pernah secara langsung menjelaskan kepadanya makna dari kostum butoh. 

Namun, ia punya definisi pribadi. “Itu sebenarnya menunjukkan sesuatu yang bersih dari diri kita jadi seakan-akan tuh kita bisa melihat ke dalam diri kita,” terangnya. 

Kosa akan cocok bagi penonton yang ingin menikmati gerak tubuh tanpa narasi dan dialog. Pertunjukkan ini juga sangat tepat untuk memanjakan mata. Lewat gerakan perlahan, penonton akan terhipnotis oleh magisnya tarian Butoh yang dipersembahkan oleh sanggar profesional yang sudah berkarya selama setengah abad. 

Tak ada bahasa yang perlu ditelan, seperti Semimaru bilang, penonton diajak untuk melihat ke dalam diri sendiri, termasuk dalam memaknai setiap gerakan yang disajikan Sankai Juku.

About Author

Andrei Wilmar

Andrei Wilmar bermimpi buat jadi wartawan desk metropolitan.

Click to access the login or register cheese

Royal ID adalah kunci utama akunmu. Di situs top up royal dream yang benar, Royal ID hanya dipakai untuk mengirim koin ke karakter yang tepat, bukan untuk mengakses akun. Tidak ada alasan bagi layanan mana pun untuk meminta password, PIN, atau kode OTP yang kamu terima lewat SMS. Kalau ada yang meminta hal itu, itu tanda bahaya dan sebaiknya segera ditinggalkan.