Women Lead
August 13, 2021

Tak Lagi Jadi Boneka Joker, Apakah Harley Quinn Feminis?

Harley Quinn mulanya disorot dengan male gaze pada film Suicide Squad pertama. Karakter sebagai anti-hero berubah jadi berdaya di film terbarunya.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Culture
harley quinn adalah feminis
Share:

Harley Quinn, si anti-hero favorit dari DC Comics, akhirnya bebas dari bayang-bayang mantan pacarnya, Joker. Ia memang sudah mendeklarasikan kemerdekaannya dari relasi penuh kekerasan dan manipulasi dalam film Harley Quinn: Birds of Prey (2020). Namun, kemerdekaan yang dimaksud masih setengah-setengah, karena ia masih bergulat dengan pencarian identitas diri.

Barulah pada film The Suicide Squad (2021) kedua, Harley Quinn dengan bangga menolak terjebak dalam relasi toksik dan segera ‘kabur’ jika calon pacar mulai mengibarkan red flags. ‘Kabur’ dalam kamus Harley Quinn adalah membunuh laki-laki itu. Keputusan tersebut memang sangat ekstrem, tapi watak macam ini bikin Harley Quinn makin dicintai penggemar.

Hubungan Joker dan Harley Quinn bisa dibilang cukup kompleks. Sejak kali pertama dikenalkan dalam episode “Joker’s Favor” pada serial Batman: The Animated Series dan komik The Batman Adventures seri ke-12, Harley Quinn berperan sebagai antek-anteknya Joker. Dia rela melakukan apa saja asalkan Puddin’ bahagia. Mantan psikiater di Gotham Asylum itu tidak bisa melepas obsesinya pada the clown prince of crime

Harley Quinn sendiri juga tidak sadar telah dimanipulasi Joker. Dalam komik Harley Quinn seri satu yang terbit awal 2000-an, Poison Ivy, sekutu sekaligus kekasihnya nanti, menyadarkan Harley Quinn tentang relasi kuasanya yang timpang bersama Joker. Tentu saja Harley Quinn mulanya tidak percaya tentang hal itu, sampai Joker menyerang Poison Ivy yang menyamar jadi dirinya. 

Baca juga: Putri Duyung Disney Berkulit Hitam, Kenapa Tidak?

Penggambaran berdasarkan obsesi itu tentu tidak jauh berbeda dengan versi film The Suicide Squad (2016) pertama. Karakter yang diperankan aktris asal Australia, Margot Robbie itu mempunyai tujuan utama untuk kembali bersama Joker dan mengokohkan takhta mereka sebagai raja dan ratu yang menguasai dunia kriminal Gotham. Di film tersebut, porsi Harley Quinn memang lebih banyak daripada Joker. Namun, lagi-lagi fokus ceritanya dimotori oleh relasi ‘toksiknya’ dengan tokoh yang diperankan Jared Leto itu.

Meski demikian, tidak berarti Harley Quinn adalah karakter perempuan yang selalu ada dalam posisi lemah. Perjalanannya jadi berdaya dengan melepaskan diri dari belenggu hubungan toksik patut kita apresiasi.

Dari Male Gaze ke Female Gaze 

Penggambaran karakter Harley Quinn berubah drastis. Selain dikisahkan sangat tergila-gila, Harley Quinn dalam film pertama sengaja diobjektifikasi secara male gaze. Mulai dari caranya berpakaian hingga kamera yang fokus pada lekuk tubuhnya. 

Belum lagi plot atau alur ceritanya yang sedikit awur-awuran. Untungnya karena menjadi favorit penggemar dan menciptakan sebuah fenomena ‘semua perempuan ingin menjadi Harley Quinn’ saat Halloween 2016, Harley Quinn tetap kembali ke layar lebar. 

Pada Birds of Prey, sorotan ‘kamera’ untuk Harley Quinn juga berbanding terbalik karena teropong yang dipakai adalah female gaze. Film yang disutradarai Cathy Yan itu juga digadang-gadang sebagai film dengan nilai feminis karena sebagai perempuan, Harley Quinn bersama Black Canary merebut kembali ‘agensi’ mereka.

Baca juga: Ini Alasan Kenapa Lara Jean dan Peter Kavinsky Layak Disebut ‘Power Couple’

Selain itu, Harley Quinn yang sedang dalam proses menjauhkan dan menenangkan diri dari bisikan manipulatif, juga membentuk solidaritas perempuan perkasa melawan Black Mask, seorang gangster jahat, dan kroni-kroni lelaki. Hal itu menjadi semacam simbol girl power versus tiga musuh utama perempuan: Seksisme, misogini, dan patriarki.

Sumber: IMBD

Dalam seri kedua The Suicide Squad, Harley Quinn tetap seorang psikotik ceria yang kadang menjalankan kebajikan dengan cara yang patut dipertanyakan. Misalnya, membunuh calon suaminya, diktator Corto Maltese, negara yang sangat membenci AS dan siap membunuh anak-anak untuk mencapai tujuannya itu.

Tidak bisa dipungkiri, Harley Quinn adalah bagian integral dari film Suicide Squad. Jika pembuat film memutuskan ‘membunuhnya’ di menit-menit pertama, seperti Captain Boomerang (jai Courtney), Javelin (Flula Borg), atau Blackguard (Pete Davidson) sama saja dengan menghapuskan aspek yang menjual film tersebut. 

Baca juga: Tokoh Perempuan Disney Masih Terjebak Stereotip Negatif Perempuan

Perlu digarisbawahi juga, dia memang bukan pemeran utama dan sempat ada momen Harley Quinn hampir menjadi damsel in distress, gadis yang harus diselamatkan karena sedang dalam bahaya. Namun, Harley Quinn tetap sosok yang berdaya dan bisa menyelamatkan diri sendiri. Hal itu buat saya jadi satu poin kecil tentang pengejawantahan feminisme.

Namun, nilai feminisme itu tetap patut kita kritisi  karena sutradaranya James Gunn memiliki sejarah menulis artikel yang dinilai seksis dan homofobik. Ia membuat artikel tentang 50 superhero yang bisa diajak berhubungan seksual. Selain itu, membuat topik sensitif, seperti pemerkosaan dan pedofilia sebagai bahan bercandaan. Hal itu juga yang membuatnya dipecat sebagai sutradara untuk The Guardians of The Galaxy 3 oleh Marvel. 

Lepas dari itu, karakter Harley Quinn tetap layak mendapat tepuk tangan karena perkara lepas dari jerat relasi toksik kadang memang harus berdarah-darah. Dalam hal ini, Harley Quinn bisa melewatinya hingga menjelma perempuan queer yang berdikari. Terus kamu kapan mau bebas?

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.