5 Artikel Pilihan: Mengolok-olok Pakar, ‘Pheromone Maxxing’, hingga DPR Sahkan RUU Agraria
1. Mengolok-olok Pakar Cuma Memperkuat Label “Anti-Ilmu Pengetahuan” di Rezim Ini
Presiden Prabowo Subianto lagi-lagi melawan balik kritik publik terhadap pemerintah. Kali ini, ia mengaku tidak mau mendengarkan kritik pakar dalam pidatonya di peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN), Jakarta, Jumat (18/9).
“Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya jadi goblok,” ujar Prabowo dalam pidatonya.
Omongan itu bukan pertama kali Prabowo mereduksi kritik. Sebelumnya, ia memberi stempel antek asing dan londo ireng pada jurnalis serta Non-Government Organization (NGO). Kali ini sebutan ‘goblok’ digunakannya untuk menggambarkan pakar yang ia anggap harus jujur dalam berpendapat.
Baca artikel selengkapnya di sini.
2. DPR Sahkan RUU Agraria Hari Ini, Koalisi Masyarakat Sipil: Ini Terlalu Terburu-buru
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pengaturan Reforma Agraria menjadi Undang-Undang siang ini, Selasa, 22 September. Keputusan itu diambil dalam Rapat Paripurna ke-6 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026-2027, di gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat.
Dipimpin langsung oleh Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad, pengesahan itu dilangsungkan dengan penyampaian laporan oleh Badan Legislasi (Baleg) DPR terlebih dahulu. Kemudian, pimpinan rapat menanyakan persetujuan para peserta rapat paripurna.
Baca artikel selengkapnya di sini.
3. Dari ‘Pheromone Maxxing’ hingga Tren ‘If She Says No’: Cara Misogini dan Incel Mengakar Lewat Tren Gen Z
Bayangkan remaja laki-laki tanggung sedang bersiap untuk kencan. Alih-alih melangkah ke kamar mandi, menggosok tubuhnya dengan sabun dan menyemprotkan parfum, ia justru membongkar tumpukan cucian kotor dan mengenakan kembali kaus yang sudah ia pakai berolahraga selama tiga hari berturut-turut.
Di depan cermin, remaja itu tersenyum puas. Ia sangat yakin bahwa bau keringatnya yang menyengat adalah senjata rahasia yang tak tertandingi untuk menggaet perempuan yang hendak ia kencani.
Gambaran absurd ini bukan karya fiksi, tapi bagian dari tren pheromone maxxing yang kini menjangkiti sudut-sudut platform TikTok.
Simak artikelnya di sini.
4. Ketika Premanisme Dipelihara Negara, Pakar: Upaya ‘Shifting The Blame’ dan Praktik Rezim Militeristik
Masih ingat dengan kemunculan personil GRIB Jaya dalam Demonstrasi 27 Agustus lalu? Dari laporan Tempo, Rosario de Marshal alias Hercules, Ketua Umum Grib Jaya, terlihat hadir di sekitar kawasan demonstrasi di kawasan Slipi, Jakarta. Kepala Divisi Hukum Dewan Pimpinan Pusat GRIB Jaya, Wilson Colling, bilang Hercules hadir untuk melihat situasi keamanan. Ia tidak berniat untuk memperkeruh keadaan, apalagi melakukan provokasi.
“Kehadiran tersebut merupakan bagian dari upaya persuasif untuk memantau keadaan dan menjaga kondusivitas lingkungan, bukan untuk memperkeruh keadaan, melakukan provokasi, ataupun terlibat dalam benturan fisik,” kata Wilson (29/8).
Baca artikel lengkapnya di sini.
5. Kebijakan yang Memihak Kwir Adalah Pencegahan Bunuh Diri Terbaik
September dirayakan sebagai bulan pencegahan bunuh diri. Bagi individu gay seperti “Ran” (22), bulan ini jadi momentum penting untuk membahas kesehatan mental kwir, yang tak bisa dilepaskan dari isu struktural.
Sedari remaja, Ran telah mengalami diskriminasi karena ekspresi gendernya yang lebih feminin dibandingkan laki-laki lain. Ran sempat meyakini dirinya salah, sebab lingkungan sekitar Ran mengajarkan bahwa di dunia ini: laki-laki diciptakan berpasangan dengan perempuan, dan menjadi laki-laki berarti menjadi maskulin.
Baca artikel selengkapnya di sini.




















