Siapa Hercules dan GRIB Jaya? Hubungan dengan Prabowo hingga Rekam Jejaknya
Nama Rosario de Marshal alias Hercules kembali menjadi sorotan setelah ormas yang dipimpinnya, Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya, muncul dalam sejumlah peristiwa kontroversial. Mulai dari penyegelan pabrik di Kalimantan Tengah, perseteruan dengan sejumlah tokoh, hingga kemunculannya dalam kericuhan setelah demonstrasi 27 Agustus 2026.
Hercules bukan nama baru dalam politik jalanan Indonesia. Jauh sebelum memimpin GRIB Jaya, ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang pernah menguasai kawasan Tanah Abang, Jakarta.
Lalu, siapa sebenarnya Hercules? Bagaimana hubungan masa lalunya dengan Presiden Prabowo Subianto? Dan seperti apa rekam jejaknya hingga akhirnya memimpin sebuah organisasi masyarakat yang memiliki jaringan di berbagai daerah?
Baca Juga: Sibuk Poles Citra Prabowo, Akun Seskab Rasa ‘Fanbase’
Dari Timor Timur hingga Tanah Abang
Hercules lahir dengan nama Rosario de Marshal di Ainaro, Timor Timur, yang kini menjadi bagian dari Timor-Leste. Ia menjadi yatim setelah kedua orang tuanya meninggal dalam konflik di Timor Timur pada 1978.
Dalam artikel Profil Hercules, Mantan Preman Tanah Abang yang Pimpin GRIB, IDN Times menulis bahwa Rosario kemudian menjadi Tenaga Bantuan Operasi (TBO) di lingkungan korps baret merah yang bertugas di Timor Timur.
Kisah masa mudanya juga dibahas dalam artikel BBC News Indonesia, Bakar mobil polisi, segel pabrik, hingga sebut Sutiyoso ‘bau tanah’ – Siapa Hercules, GRIB Jaya, dan apa hubungan dengan Prabowo Subianto?. BBC merujuk buku Politik Jatah Preman: Ormas dan Kuasa Jalanan di Indonesia Pasca Orde Baru karya Ian Wilson ketika membahas perjalanan Hercules.
Menurut Wilson, Hercules secara tidak resmi “dipungut” oleh militer Indonesia pada pertengahan 1980-an dan bekerja sebagai pembawa perlengkapan atau logistik bagi pasukan Indonesia di Timor Timur.
Pada periode tersebut, ia disebut memiliki hubungan dekat dengan Prabowo Subianto dan Mayjen Zacky Anwar Makarim. Hercules bahkan pernah mengatakan dirinya “berutang nyawa” kepada Prabowo.
Hubungan inilah yang kemudian menjadi bagian penting dari cerita tentang kedekatan Hercules dengan Prabowo hingga bertahun-tahun kemudian.
Setelah dibawa ke Jakarta, kehidupan Hercules berubah. Ia sempat bekerja di bengkel sebelum berjualan rokok di kawasan Tanah Abang. Dari sana, namanya perlahan dikenal dalam dunia premanisme.
Menurut Wilson yang dikutip BBC, Hercules kemudian membangun kelompoknya sendiri dan terlibat dalam berbagai aktivitas seperti jasa keamanan, penagihan utang, dan makelar tanah.
Hegemoninya di Tanah Abang akhirnya berakhir setelah konflik dengan kelompok lain. Ia terus membangun jaringan di luar kawasan tersebut.
Baca Juga: RUU Perampasan Aset Jadi Tuntutan Demo 27 Agustus, Kenapa Tuai Kritik
Pernah Berurusan dengan Hukum
Rekam jejak Hercules tidak berhenti pada cerita tentang masa lalunya sebagai tokoh dunia bawah tanah.
Ia beberapa kali berhadapan dengan proses hukum. Pada 2014, misalnya, Pengadilan Negeri Jakarta Barat menjatuhkan vonis tiga tahun penjara kepada Hercules dalam perkara pemerasan dan pencucian uang. ANTARA, Hakim vonis Hercules delapan bulan penjara, mencatat putusan tersebut juga disertai denda Rp50 juta.
Lima tahun kemudian, Hercules kembali divonis delapan bulan penjara dalam perkara penguasaan lahan PT Nila Alam di Kalideres, Jakarta Barat. Majelis hakim menyatakan ia terbukti melakukan tindak pidana memasuki pekarangan tertutup secara melawan hukum.
Perkara 2019 tersebut bermula ketika Hercules bersama sejumlah orang menduduki lahan PT Nila Alam. Dalam artikel Tanggapan Polisi Saat Hercules Marah Ketika Turun Mobil Tahanan, Tirto mengutip polisi yang menyebut kelompok tersebut juga meminta uang jasa pengamanan sebesar Rp500 ribu per bulan kepada perusahaan.
Catatan-catatan hukum tersebut menjadi bagian dari rekam jejak Hercules yang kemudian melekat ketika ia memasuki kehidupan organisasi masyarakat.
Namun, Hercules sendiri pernah mengatakan dirinya telah meninggalkan dunia premanisme. IDN Times mencatat ia mengaku bertobat pada 2006.
Dari Preman Menjadi Pemimpin Ormas
Setelah mengaku meninggalkan dunia premanisme, Hercules mulai membangun organisasi. Dari sinilah kemudian muncul GRIB, yang dalam perkembangannya dikenal sebagai GRIB Jaya.
Organisasi tersebut berkembang dengan jaringan di sejumlah daerah dan membuat posisi Hercules berubah. Ia tidak lagi hanya dikenal sebagai tokoh yang pernah berpengaruh di Tanah Abang, tetapi juga sebagai pimpinan organisasi masyarakat.
Perubahan itu tidak serta-merta menghapus kontroversi seputar dirinya.
Pada 2022, misalnya, Hercules diangkat sebagai tenaga ahli di Perumda Pasar Jaya. Namun, ada koreksi penting mengenai hal ini: pengangkatan tersebut bukan dilakukan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Dalam artikel Hercules Jadi Tenaga Ahli Pasar Jaya, Pemprov Bilang Bukan Wewenang Anies, Detik News melaporkan bahwa Pemprov DKI menyatakan pengangkatan tenaga ahli di bawah direksi merupakan kewenangan direksi Pasar Jaya, bukan gubernur.
Hercules sendiri mengatakan posisi tersebut merupakan bentuk penghargaan dan mengaitkannya dengan dukungannya kepada Anies.
Perjalanan ini menunjukkan bagaimana posisi Hercules berubah dari figur dunia bawah tanah menjadi tokoh yang berinteraksi dengan institusi politik dan pemerintahan.
Apa Hubungan Hercules dengan Prabowo?
Hubungan Hercules dengan Prabowo menjadi salah satu bagian paling banyak dibicarakan dari perjalanan hidupnya.
Menurut buku Ian Wilson yang dikutip BBC News Indonesia, keduanya sudah mengenal sejak Hercules berada di Timor Timur. Prabowo ketika itu merupakan perwira yang bertugas di wilayah tersebut.
Hubungan tersebut kemudian berlanjut setelah Hercules dibawa ke Jakarta.
Dalam artikel Bakar mobil polisi, segel pabrik, hingga sebut Sutiyoso ‘bau tanah’ – Siapa Hercules, GRIB Jaya, dan apa hubungan dengan Prabowo Subianto?, BBC mengutip sosiolog Universitas Indonesia Ricardi S Adnan yang mengatakan Hercules memiliki persepsi tentang kedekatan khusus dengan Prabowo dan merasa memiliki dukungan kuat. Namun, Ricardi juga menekankan bahwa persepsi tersebut merupakan pandangan Hercules dan GRIB, bukan bukti bahwa Prabowo memberikan perlindungan hukum kepada mereka.
Kabid Media dan Publikasi DPP GRIB Jaya Marcel Gual juga mengakui adanya hubungan emosional antara Prabowo, Hercules, dan GRIB Jaya. Namun, ia membantah organisasi tersebut menggunakan nama Prabowo sebagai beking.
Kedekatan tersebut kembali dibahas IDN Times dalam artikel Profil Hercules, Mantan Preman Tanah Abang yang Pimpin GRIB. Sosiolog Universitas Nasional Sigit Rochadi menyebut Hercules sudah dekat dengan Prabowo sejak masa di Timor Timur dan menilai perubahan situasi politik setelah Prabowo menjadi presiden membuka peluang bagi orang-orang di sekitar Prabowo untuk membangun jaringan yang lebih luas.
Yang perlu dibedakan adalah kedekatan personal, persepsi tentang dukungan politik, dan bukti adanya perlindungan dari kekuasaan. Ketiganya bukan hal yang sama.
GRIB Jaya dan Kontroversi di Era Prabowo
Di era pemerintahan Prabowo, GRIB Jaya beberapa kali menjadi sorotan.
Salah satunya adalah penyegelan sebuah pabrik di Barito Selatan, Kalimantan Tengah. GRIB Jaya mengklaim aksi tersebut dilakukan karena ada kewajiban pembayaran Rp1,4 miliar kepada seorang warga. Namun, Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menolak tindakan tersebut dan mengingatkan bahwa Indonesia memiliki konstitusi. Kapolda Kalteng juga menyatakan aksi tersebut menyimpang dari aturan hukum. Hal ini diberitakan BBC News Indonesia dalam artikel yang sama tentang Hercules dan GRIB Jaya.
Hercules sendiri juga sempat menuai kritik setelah mengancam mengerahkan puluhan ribu anggota ke Gedung Sate sebagai respons terhadap rencana Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membentuk satuan tugas anti-premanisme.
Pernyataan lainnya ditujukan kepada mantan Kepala Badan Intelijen Negara Sutiyoso. Hercules menyebut Sutiyoso “bau tanah” setelah Sutiyoso mengkritik penggunaan atribut ormas yang dianggap terlalu menyerupai militer.
Pernyataan tersebut memicu respons sejumlah purnawirawan TNI. Hercules kemudian meminta maaf kepada Sutiyoso.
Nama GRIB Muncul Setelah Kericuhan 27 Agustus
Nama Hercules dan GRIB Jaya kembali muncul setelah kericuhan yang terjadi pascademonstrasi 27 Agustus 2026.
Dalam kericuhan tersebut, Bambang Setiyawan, warga Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, meninggal setelah diduga menjadi korban pengeroyokan di kawasan Pejompongan.
Kemunculan Hercules di sejumlah titik kericuhan kemudian memunculkan dugaan keterlibatan GRIB Jaya. Namun, dugaan tersebut belum dapat disebut sebagai fakta.
BBC News Indonesia melaporkan polisi masih menyelidiki kematian Bambang. Sementara itu, GRIB Jaya membantah terlibat dalam kematian tersebut.
Dalam artikel Sekjen GRIB Jaya Klarifikasi soal Kematian Bambang di Pejompongan: Bukan Kami yang Mukulin, iNews melaporkan Sekjen GRIB Jaya Zulfikar membantah anggotanya terlibat dan menyebut pelaku merupakan massa demonstran.
Divisi Hukum DPP GRIB Jaya juga mengatakan anggota mereka berada di kawasan Slipi, bukan Pejompongan. Bantahan serupa diberitakan Okezone dalam artikel Grib Jaya Bantah Terlibat Kematian Bambang saat Demo 27 Agustus: Kami Tak Sampai Pejompongan.
Karena penyelidikan masih berjalan, keterkaitan GRIB Jaya dengan kematian Bambang perlu ditempatkan sebagai dugaan yang masih diperiksa.
Baca Juga: Rangkuman Demo Pati: Pajak yang Naik 250 Persen sampai Tuntutan Pemakzulan
Hercules, GRIB, dan Warisan Dunia Premanisme
Perjalanan Hercules memperlihatkan perubahan posisi yang cukup jauh: dari seorang pemuda Timor Timur yang menjadi TBO, kemudian dikenal sebagai tokoh preman Tanah Abang, berhadapan dengan hukum, hingga memimpin organisasi masyarakat dengan jaringan nasional.
Kedekatannya dengan Prabowo juga menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Hubungan yang berawal sejak masa di Timor Timur terus disebut oleh Hercules dan orang-orang di sekitarnya hingga ketika Prabowo menjadi presiden.
Namun, kedekatan itu tidak dengan sendirinya membuktikan adanya perlindungan politik terhadap seluruh tindakan Hercules atau GRIB Jaya.
Di sisi lain, rekam jejak hukum Hercules dan kontroversi yang melibatkan GRIB Jaya menunjukkan mengapa sosoknya tetap menjadi perhatian. Pertanyaan yang lebih besar bukan hanya siapa Hercules, tetapi juga bagaimana figur dengan sejarah panjang dalam dunia kekerasan jalanan dapat bertransformasi menjadi pemimpin organisasi yang berinteraksi dengan kekuasaan dan institusi negara.
Pada titik itulah kisah Hercules menjadi lebih dari sekadar cerita tentang seorang mantan preman. Ia juga memperlihatkan bagaimana jaringan personal, politik, organisasi masyarakat, dan warisan kekuasaan masa lalu dapat bertemu dalam politik Indonesia hari ini.
Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.





















