‘Potluck’, Cara Lama untuk Tetap Berkumpul di Tengah Hidup yang Makin Mahal
Bagi Abella, bertemu teman adalah salah satu cara menjaga kewarasan di tengah ritme hidup Jakarta yang serba cepat dan mahal. Namun, ruang untuk berkumpul sering kali datang dengan biaya yang tidak kecil. Sekadar nongkrong di kafe, misalnya, bisa membuat pengeluaran membengkak.
Karena itu, Abella dan teman-temannya memilih cara yang lebih sederhana: potluck. Setiap orang membawa makanan atau minuman untuk dinikmati bersama. Sebelum bertemu, mereka biasanya berdiskusi agar makanan yang dibawa bervariasi, lalu menentukan tempat berkumpul, sering kali di ruang terbuka seperti taman.
Untuk potluck, Abella biasanya mengeluarkan sekitar Rp30 ribu untuk membeli makanan yang bisa dibagi bersama. Jumlah itu terasa lebih masuk akal dibandingkan biaya makan sendiri di tempat komersial.
“Gue personally kadang males ke kafe karena kan mahal banget ya. Lo makan sendiri dengan porsi kecil bisa habis Rp40 ribu misalnya,” ujarnya.
Bagi Abella, praktik berbagi makanan seperti ini bukan sesuatu yang benar-benar baru. Di daerah asalnya, Belitung, ada tradisi bedulang, yaitu makan bersama menggunakan dulang atau nampan besar berbentuk bulat yang diisi beberapa piring lauk.
“Ada berbagai lauk di sana, sekitar empat sampai enam lauk. Satu dulang itu bisa untuk porsi empat orang,” jelas Abella.
Tradisi bedulang biasa ditemui saat pesta pernikahan atau perayaan hari besar seperti Idulfitri. Dari tradisi ini, Abella melihat kuatnya nilai komunal dalam masyarakat Belitung.
“Kadang kalau Idulfitri, enggak semua orang mampu membeli daging. Nah, dari bedulang, semua warga bisa menikmati,” tuturnya.
Pengalaman itu membuat Abella melihat potluck atau bedulang bukan sekadar acara makan bersama, melainkan cara berbagi beban agar semua orang bisa ikut menikmati. Di tengah biaya hidup yang semakin mahal, praktik seperti ini kembali terasa relevan. Orang tetap bisa berkumpul dan merawat relasi tanpa harus selalu bergantung pada ruang konsumsi seperti kafe atau restoran.
Baca juga: ‘Food Misogyny’: Bahkan Diskriminasi Gender juga Ada di Meja Makan Kita
Collective care dalam tradisi potluck lokal
Sejarawan makanan dari Universitas Padjadjaran, Fadly Rahman, mengatakan praktik makan bersama telah lama mengakar dalam tradisi di berbagai daerah di Indonesia.
“Di Jawa itu ada tradisi liwetan, kemudian di Jawa Barat ada tradisi ngabotram, terus di Bali ada megibung, di Sumatera Barat ada bajamba, di Lampung ada seruit,” papar Fadly.
Akar historis dari tradisi kolektif yang guyub ini dapat ditelusuri dari masyarakat agraris dan maritim Indonesia. Saat merayakan panen raya, masyarakat berkumpul untuk mengungkapkan rasa syukur, salah satunya melalui kegiatan makan bersama.
“Jadi ini satu bentuk budaya kolektif yang memang dilandasi oleh rasa syukur mereka terhadap apa yang mereka peroleh dari sumber daya alam yang mereka jadikan sebagai sumber penghidupan dan juga bahkan mata pencaharian,” ujarnya.
Dalam praktik-praktik tersebut, makanan menjadi medium untuk memperkuat ikatan sosial. Orang tidak hanya makan di ruang yang sama, tetapi juga berbagi cerita, tenaga, dan kepedulian. Ketika ada anggota masyarakat yang menghadapi keperluan besar atau musibah, warga lain akan bergotong royong membantu. Karena itu, tradisi makan bersama perlu dibaca lebih luas dari sekadar urusan hidangan. Ada nilai kebersamaan yang mengikat orang-orang di dalamnya.
Pandangan ini sejalan dengan penelitian Glacoman (2016) di Santiago, yang menemukan bahwa praktik makan bersama dalam komunitas dapat memperkuat kohesi sosial di antara anggota kelompok. Melalui makanan, orang membangun kedekatan dan rasa saling terhubung.
Dalam konteks hari ini, potluck bisa dibaca sebagai bentuk sederhana dari collective care. Di tengah kota yang sering membuat hubungan sosial terasa transaksional, potluck menawarkan ruang berkumpul yang lebih setara: tidak ada satu orang yang harus menanggung semua biaya, dan tidak ada keharusan membeli sesuatu yang mahal agar bisa ikut hadir. Setiap orang berkontribusi sesuai kemampuan, lalu menikmati hasilnya bersama-sama.
Baca juga: Dari Piring Melawan Perubahan Iklim
Melawan konsumsi berlebihan
Selain memperkuat kebersamaan, tradisi makan bersama juga menyimpan nilai anti-konsumerisme. Fadly menjelaskan, dalam konteks sejarah di Jawa, makanan memiliki posisi yang dimuliakan. Dalam tradisi kerajaan, misalnya, ketika ada jamuan atau kenduri, makanan yang tersisa dan masih layak tidak langsung dibuang, melainkan dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Kearifan ini relevan di tengah persoalan limbah makanan hari ini. Food loss and waste tidak hanya menyebabkan pemborosan ekonomi, tetapi juga berdampak pada lingkungan, mulai dari peningkatan emisi gas rumah kaca hingga penggunaan air dan lahan yang tidak efisien. Secara sosial, pemborosan makanan juga menjadi ironi ketika masih banyak orang menghadapi kerentanan pangan dan kekurangan gizi.
Mengutip GoodStats, laporan Food Waste Index Report 2024 dari United Nations Environment Programme (UNEP) mencatat Indonesia sebagai salah satu penghasil limbah makanan rumah tangga terbesar di Asia Tenggara, dengan estimasi 14,73 juta ton per tahun.
Di tengah kondisi ini, potluck semestinya tidak berhenti sebagai gaya berkumpul yang estetis untuk diunggah ke media sosial. Nilai terpentingnya justru terletak pada bagaimana makanan direncanakan, dibagi, dan dimanfaatkan bersama. Potluck bisa menjadi praktik kecil untuk menghindari pemborosan: peserta berdiskusi soal porsi, memastikan makanan yang dibawa beragam, dan membawa pulang sisa makanan yang masih layak.
Baca juga: Bagaimana Teknologi Populerkan Veganisme dan Gaya Hidup Ramah Iklim
Menurut Fadly, nilai seperti inilah yang perlu dihidupkan kembali dalam praktik potluck hari ini.
“Bahwa makanan itu tidak hanya sekadar untuk dikonsumsi saja, tapi juga ada nilai-nilai sosial di balik tradisi makan, itu juga perlu dipikirkan: bagaimana mereduksi makanan jangan menjadi sampah, tapi memaksimalkan makanan ini juga untuk mereka yang memerlukan,” pungkasnya.





















