23/07/2026
Environment Issues

Yang Tumbuh dari Halaman Bukan Cuma Tanaman tapi Solidaritas Perempuan

Program menanam di pekarangan mengubah lebih dari sekadar lanskap rumah. Dari kebun kecil, perempuan mulai membangun solidaritas, berbagi pengetahuan, hingga berani membicarakan relasi yang timpang di dalam keluarga.

  • July 23, 2026
  • 5 min read
  • 26 Views
Yang Tumbuh dari Halaman Bukan Cuma Tanaman tapi Solidaritas Perempuan

Saya selalu bersemangat ketika diajak mengikuti monitoring kegiatan di komunitas. Bahkan, ketika tidak diajak, saya menawarkan diri. Setiap kunjungan selalu menghadirkan perubahan. Kadang, perubahan itu bermula dari sesuatu yang tampak sederhana, yakni menanam di pekarangan.

Perubahan semacam itu saya temukan dalam cerita Siroh Harahap, 45, petani dari Rantau Prapat, Labuhanbatu. Sebagai petani dengan lahan yang cukup luas, dulu ia menganggap menanam merupakan hal biasa. Kini, kesibukannya tak lagi hanya mengurus tanaman. Siroh juga sibuk menghayo-hayokan (mengajak dengan semangat) tetangganya untuk ikut menanam, sambil membagikan hasil panen, bibit, tanah, dan polybag agar mereka tak punya alasan menunda.

Ketika saya melakukan monitoring minggu lalu, beberapa peserta justru berebut meminta rumahnya dikunjungi. “Ke rumahku la, Buk. Udah banyak yang kutanam, lho.” Padahal, sebagian dari mereka baru mulai menanam setelah program ini berjalan, bahkan setelah diumumkan akan ada kunjungan monitoring.

Saya pun bertanya mengapa mereka baru tertarik menanam sekarang. “Sering diajak Siroh, lama-lama pingin ikut nanam. Katanya ada yang mau datang, jadi kami berlomba, biar rumah kami yang ditengok.” Jawaban itu langsung disambut gelak tawa ibu-ibu. Saya ikut tertawa. Rupanya, keinginan untuk dilihat dapat menjadi alasan awal seseorang mulai merawat halamannya.

Melalui program Rumah Nutrisi Keluarga (Rumah NUSA), kegiatan menanam menjadi pintu masuk bagi komunitas perempuan akar rumput yang kami organisir. Program ini dirancang untuk membangun ketahanan iklim dan pangan berbasis rumah tangga. Pilihan itu berangkat dari kenyataan rumah masih menjadi ruang tempat perempuan paling banyak menjalankan kerja pangan dan perawatan, sekaligus memikul kelelahan yang sering dijalani sendirian.

Seiring kunjungan monitoring berlangsung, saya mulai memandang pekarangan rumah dengan cara berbeda. Yang tumbuh di sana bukan hanya tanaman. Ada solidaritas, rasa dihargai, dan ruang aman tempat perempuan mulai berani membicarakan pengalaman hidupnya.

Baca Juga: Dari Kompos ke Komunitas: Perempuan Petani Kota Menanam Harapan di Tengah Beton

Menanam Jadi Awal Perubahan

Mengajak perempuan menanam di pekarangan rumah ternyata bukan perkara mudah. Alasannya beragam. Ada yang merasa sayuran seharusnya ditanam di ladang, bukan di halaman sempit. Ada yang pernah mencoba, tetapi kapok karena tanamannya mati atau diserang hama. Sebagian lagi merasa tidak memiliki keahlian, sementara hasilnya dianggap tidak seberapa.

Di sisi lain, waktu dan tenaga mereka sudah habis untuk membereskan pekerjaan rumah tangga, mulai dari mengurus anak, memasak, membersihkan rumah, hingga merawat anggota keluarga yang sakit. Akibatnya, menanam kerap dipandang sebagai tambahan beban, bukan kegiatan yang dapat membantu kehidupan sehari-hari.

“Repot kali menanam. Beli di warung aja gampang. Nanti Along-along (tukang sayur keliling) juga lewat. Sayurannya segar-segar.” Kami sering mendengar ibu-ibu mengatakan hal itu sambil tertawa. Di tengah percakapan tersebut, satu atau dua orang biasanya mengingatkan kembali pengetahuan yang diwariskan dari generasi sebelumnya, yakni obat-obatan dapat tumbuh dari halaman dan bukan hanya beras yang membuat kenyang.

Kunjungan monitoring juga memperlihatkan orang sering kali mulai menanam bukan karena ceramah panjang tentang krisis iklim. Mereka tergerak karena ada kawan yang tidak bosan mengajak, menerima hasil panen dan bibit dari tetangga, melihat halaman sekitar mulai menghijau, atau sekadar ingin rumahnya ikut dikunjungi.

Alasan-alasan sederhana itu justru membuka jalan bagi lahirnya kebiasaan baru. Monitoring pun berubah menjadi pemicu semangat kolektif. Semangat itu tumbuh dari ajakan yang terus diulang, tanaman yang dirawat bersama, serta kegembiraan ketika usaha seseorang mendapat perhatian.

Baca Juga: Perempuan Pengusaha Aborigin Bantu Komunitasnya Lewat Teknologi VR

Ketika Pekarangan Menjadi Ruang Aman

Percakapan di halaman rumah ternyata tidak berhenti pada urusan tanaman. Pelan-pelan, topiknya bergeser ke pembagian peran di dalam keluarga. Ada peserta yang bercerita suaminya mulai ikut menanam, menyiapkan media tanam, menyiram tanaman, hingga membersihkan halaman yang kini berubah menjadi kebun kecil keluarga.

Saya kemudian menyelipkan pertanyaan, apakah para suami juga bersedia membantu pekerjaan rumah tangga. Beberapa ibu antusias menceritakan perubahan yang mereka rasakan dalam relasi suami istri. Suaminya tidak lagi sungkan membantu membersihkan rumah, mencuci piring, hingga mengangkat jemuran.

Namun, seorang ibu tiba-tiba menyela dengan suara lantang. Ia mengatakan suaminya belum mau membantu pekerjaan rumah tangga dan masih bersikap seperti “raja”. Kalimat itu kembali disambut gelak tawa anggota komunitas lainnya. Saya pun ikut tertawa, bahkan memintanya mengulang frasa “seperti raja”.

Di balik tawa tersebut, saya menyadari halaman rumah telah berubah menjadi ruang tempat perempuan berani mengucapkan sesuatu yang mungkin sulit disampaikan di dalam rumahnya sendiri. Keberanian mengungkapkan pengalaman itu menjadi penting karena menunjukkan proses mengenali relasi kuasa yang tidak adil di dalam keluarga, bukan sekadar mengeluhkan pasangan atau membuka aib rumah tangga.

Ketika pengalaman itu dibagikan di ruang komunitas, cerita yang sebelumnya mungkin hanya beredar sebagai bisik-bisik berubah menjadi percakapan bersama. Perempuan lain mendengar, tertawa bersamanya, lalu menyadari mereka tidak harus memikul beban itu sendirian.

bell hooks menyebut percakapan semacam ini sebagai proses penyadaran kritis. Pengalaman yang semula dianggap urusan pribadi mulai dikenali sebagai bentuk ketimpangan yang juga dialami perempuan lain. Inilah community care yang kami pelajari. Ia tumbuh dari tempat yang paling sederhana, yakni halaman rumah.

Dari halaman itulah bibit berpindah tangan, hasil panen dibagikan, dan cerita-cerita perempuan didengarkan. Pelan-pelan, mereka saling menguatkan agar beban hidup tidak terus dipikul sendirian.

Joan Tronto, melalui Moral Boundaries: A Political Argument for an Ethic of Care (1993), mengajak kita melihat kerja merawat bukan sebagai urusan pribadi perempuan semata. Merawat juga merupakan kerja sosial dan politik untuk menjaga kehidupan bersama.

Pekarangan itu mungkin tetap tampak biasa. Namun, yang tumbuh di sana kini jauh lebih besar daripada tanaman. Ada solidaritas, kepedulian, dan keberanian perempuan untuk saling merawat kehidupan bersama.

About Author

Laili Zailani

Lely adalah fasilitator pemberdayaan perempuan, pendiri HAPSARI dan Rumah Kata. Fellow Ashoka Indonesia (2000), serta penulis yang percaya bahwa cerita adalah alat perubahan.